Skip to main content

Not His Story: 10 Minutes in Brow Bar by Benefit Plaza Senayan

To be honest, waxing isn't something that I would choose when it comes to hair removal technique. I definitely will choose shaving instead of waxing. But when it comes to my eyebrow, waxing is the only choice that I have.

Satu tahun yang lalu, gue menantang diri sendiri untuk memperindah alis dengan metode waxing pada sebuah event make over yang diadakan oleh ahlinya eyebrow, Benefit Cosmetics, bersama sejumlah fashion brand lainnya (in case you wanna know about the make over, click here). Mungkin karena tidak terbiasa, gue gak begitu menikmati post-waxing sensation-nya, which is gatal ketika rambut mulai tumbuh kembali. Sebetulnya rasa gatal ketika rambut tumbuh itu biasa gue rasakan setelah shaving bagian kaki, tapi ketika rasa itu muncul di wajah, duh ganggu abis! Sejak itu gue semacam membulatkan tekat untuk jauh-jauh dari yang namanya waxing.

Beberapa waktu yang lalu, gue mulai berfikir untuk kembali melakukan waxing untuk bagian alis mengingat tampilannya yang sudah mulai gak karuan. Belum lagi, gue merasa gak paham sama bentuk alis gue setiap gue mau mencoba menggunakan eyebrow pencil saat belajar dandan. Satu kejadian yang membuat gue merasa memang harus waxing adalah saat gue dengan bodohnya mencoba merapikan alis dengan bantuan gunting dan menyebabkan sedikit kebotakan di alis gue. Hasil akhir dari eksperimen bodoh itu sangat sangat mengganggu dan akhirnya semakin membulatkan tekad mengunjungi Beneft Store terdekat.

Senin lalu (24 Oktober 2016), setelah makan siang, gue menuju Plaza Senayan, tempat salah satu outlet dari Benefit berada. Letak pasti dari toko Benefit ini adalah di lantai dua, di balik The Body Shop. Saat gue datang, gue berfikir bisa langsung melakukan brow waxing. Ternyata, gue harus mengantri terlebih dahulu karena ada satu customer yang sudah booking terlebih dahulu. Tapi gak lama kok jarak antara appointment gue dengan client sebelumnya, hanya sekitar 20 menit. Sambil menunggu, gue sempatkan sholat sebentar dan kembali lagi ke store Benefit. Rupanya, saat gue kembali, client pertama sudah beres dan gue bisa langsung melakukan brow waxing di brow bar dari Benefit.
The Waxing Corner

Tahap pertama yang dilakukan adalah membersihkan sisa-sisa make-up dan kotoran di bagian alis dengan cairan dari Benefit sambil menentukan bentuk alis yang diinginkan. Pilihannya ada dua: mengikuti bentuk alis yang ada atau punya special request. Karena masih newbie soal alis-alisan, gue bermain aman dengan mengikuti bentuk alis yang sudah ada, tetapi dengan satu special request: not to do anything with my unibrow. Kalau buat sebagian besar orang, unibrow merupakan bentuk alis yang harus dihindari, but not for me. Unibrow gue gak lebat sih, jadi gak ganggu juga. Meskipun bisa dihilangkan, gue lebih suka untuk membiarkannya untuk dua alasan: mencegah tumbuh yang lebih lebat kalau di cukur/di wax dan karena itu adalah ciri khas gue. 
BROWVO! by Benefit Cosmetics. Harga di Sephora Indonesia Rp 460.000,-
ka-Brow by Benefit Cosmetics. Harga di Sephora Indonesia Rp 390.000,-
Setelah sepakat untuk membuat alis sesuai bentuk yang ada, pegawai dari Benefit akan menentukan tiga titik untuk membentuk frame alis dengan bantuan eyebrow pencil. Ketika frame tersebut jadi, langsung den proses waxing dilakukan. Cairan lilin yang hangat akan dibaurkan di bagian di luar frame lalu rambut-rambut yang tertutup cairan tersebut akan diangkat dengan menggunakan semacam kain gitu (or plester maybe? i didn't see it). Hal tersebut dilakukan di bagian bawah dan atas alis, baik kiri dan kanan. Setelah itu, untuk merapikan bentuknya, alis kita akan dipotong dengan gunting khusus agar bentuknya lebih jelas dan rapi tentunya. Setelah beres, alis kita akan diberikan semacam gel untuk mengurangi after effect dari waxing, which is gatal dan ada sedikit bentol gitu. Berhubung ada bagian alis gue yang botak, mbak-mbak dari Benefit (i forgot to ask her name, sorry) membantu gue dengan menunjukkan cara menyamarkan kebotakan itu dengan produk eyebrow gel  mereka bernama Ka-Brow! Warna yang dipilih adalah coklat tua dan menurut mbak-mbak Benefit, itu warna yang pas untuk gue (and it is!). Gue juga sempat menanyakan cara menumbuhkan alis kepadanya, dan rupanya, Benefit juga punya produknya loh! Namanya Browvo! Fungsi produk tersebut ga hanya untuk menumbuhkan alis loh, tapi juga dapat berfungsi sebagai primer untuk alis kita.

Final Result

in detail. Coba tebak alis sebelah mana yang botak?
Hanya butuh sekitar 10 menit untuk merapikan alis dengan metode waxing di Brow Bar by Benefit Cosmetic. Untuk biayanya sendiri, gue perlu merogoh kocek sebesar Rp160,000,-. Agak mahal sih buat gue yang pengangguran belum punya uang sendiri, tapi hasilnya worth it kok. Selain brow wax, Brow Bar juga bisa me-waxing kumis-kumis tipis dan rambut-rambut halus di bagian pipi juga loh!
The Services


Kalau ditanya kekurangannya, hemmm mungkin ini karena memang sudah ada perubahan sih...karena setelah waxing gue tidak mendapatkan sample product seperti yang gue pernah baca di blog orang lain. Yaa bisa jadi memang program tersebut sudah gak ada, atau memang masih ada tapi guenya aja gak hoki hehe. Overall, gue puas dengan service dan hasilnya.

Di Jakarta, Brow Bar by Benefit yang jadi satu dengan store-nya hanya ada di tiga tempat: Plaza Senayan, Grand Indonesia, dan Plaza Indonesia. Coba bisa juga main-main ke Sephora karena di beberapa lokasi, ada pop-up brow bar-nya juga. 

Oh ya, menurut mbak-mbak Benefit, ada baiknya kalau melakukan eyebrow waxing itu secara rutin satu bulan sekali. Well, for me...probably will do it once or twice a year aja hehehe :p

Semoga sedikit cerita dari gue ini membantu kalian yang mau coba-coba brow waxing di Benefit yaaa :)



Popular posts from this blog

Being Plus-Size Woman: in Indonesia

Apa sih sebenarnya Plus-Size? Bertubuh besar? or else?
Berhubung di dalam blog ini gak bisa terlepaskan dari istilah 'plus-size', rasanya penting banget buat terlebih dulu tahu apa yang dimaksud dengan plus-size, atau secara lebih spesifik 'plus-size clothing'. 
Gue masih ingat kalau zaman sd (early 2000), dan bahkan sampai saat ini, wanita dengan ukuran tubuh yang lebih dari normal (not skinny, but average body size) sering disebut gendut. Gak sedikit yang menganggap kata tersebut cukup menyakitkan, bahkan buat mereka yang badannya gak tergolong gendut. Oh ya, gendut disini bisa gue kategorikan sebagai orang-orang yang menggunakan pakaian dengan size XL keatas loh ya...atau size 12 and above kalau ngikutin standart baju-baju  dari Amerika Serikat. Bagi mereka yang masih bisa pake baju ukuran L kebawah, don't you dare to call your self a fat girl! Buat mempermudah, bisa dilihat di chart yang ada dibawah:

Istilah plus-size kemudian gue gunakan untuk memperhalus apa …

Not His Story: From The Heart of Japan

Ohayou!
Maafkan minimnya komitmen saya dalam membagi cerita di halaman blog ini. Percaya-lah, semakin mendekati UAS, semakin saya malas untuk menulis di sini...karena terlalu banyak makalah yang harus dibuat demi menyelesaikan kuliah 4 tahun! 
Gak terasa hari ini adalah hari terakhir di bulan Mei..yang artinya besok sudah masuk ke tengah tahun 2015 yang baik ini. Juni selalu jadi bulan favorite gue untuk beragam hal, salah satunya adalah liburan panjang. Meskipun tahun ini, liburan panjang akan diisi dengan mempersiapkan proposal untuk Pelatihan Etnografi ke Desa Aweh, Rangkas Bitung, Banten. Well, setidaknya ada kegiatan yang jelas di liburan nanti sambil menikmati puasa Ramadhan. Wew...sebentar lagi puasa...waktunya membayar puasa yang bolong tahun lalu!

Di akhir bulan ini, gue menghabiskan waktu di sebuah mall baru dengan konsep yang rasanya belum pernah ditemukan di Indonesia. Yap! I visited AEON MALL BSD CITY sejak grand opening-nya kemarin. Kalau diminta 3 kata untuk menggambark…

Fashion Addiction: Plus-Size Clothing Shop in Indonesia

Berkaca pada sejumlah komentar yang gue peroleh di 'Being Plus-Size Woman: in Indonesia', banyak yang memberikan saran kepada gue seputar toko-toko yang menjual pakaian untuk wanita bertubuh besar. Pada tulisan gue itu, memang gue mengungkapkan salah satu kesulitan menjadi wanita plus-size di Indonesia adalah memperoleh pakaian yang tidak hanya cukup di tubuh tapi juga tetap terlihat stylist.So, i guess it's kinda important to help fellow plus-size woman in Indonesia for that problem by give you some references where to shop. Because i do believe, plus-size woman can be fashionable! Oh ya, semua toko yang gue jadikan referensi di sini belum tentu semuanya sudah gue datangi dan berbelanja di sana ya.

(ps: kalau kamu terlalu malas untuk banya postingan ini, I made a video about it on my youtube channel, check it out!)


Gue akan membagi dua kategori dalam tulisan ini, yang pertama adalah offline shop a.k.a. toko-toko fisik yang bisa kita langsung datangi untuk mencari baju ya…