Tuesday, June 19, 2018

Sending Positive Vibes through Responding to Comment


"Na, inget timbangan...nanti rusak. Jangan makan banyak-banyak!"


How's your Lebaran so far? Sudah lewat beberapa hari, tapi vibe Idul Fitri masih terasa banget hingga hari ini. Jakarta yang masih terasa super lengang dan masih banyak kosongnya tempat parkir di mall jadi indikator bahwa semangat Idul Fitri masih cukup menggema. Mungkin masih ada juga yang berkeliling ke rumah keluarga untuk saling maaf memaafkan atau sekedar berkumpul sambil nostalgia masa kecil. 

Bertemu keluarga di Hari Raya ini pastinya meninggalkan kesan tersendiri bagi kita, sebabnya? Beragam! Mulai dari kesempatan untuk catching up dengan keluarga yang tinggal berjauhan, menikmati hidangan khas lebaran yang hanya bisa dinikmati sekali setahun, memenuhi kantong dengan uang THR pemberian om dan tante (yang tak dapat lagi ku rasakan tahun ini hahaha), dan yang gak ketinggalan, kesempatan untuk menguji kesabaran saat mendengar komentar-komentar dari keluarga kita tentang kehidupan kita saat ini baik tentang karir, pendidikan, hingga yang agak sensitif seperti....bentuk dan ukuran tubuh. Yaaa sepenggal percakapan yang gue tulis di awal tulisan ini adalah contohnya.

Bagi mereka yang memiliki tubuh dengan size yang 'berbeda' dari masyarakat pada umumnya, percakapan diatas sudah sering didengar tiap tahunnya. Bahkan, tak perlu menunggu moment lebaran, dalam kehidupan sehari-hari pun, komentar-komentar tentang penampilan juga biasa kita dengar dan baca lewat media sosial, baik untuk diri kita sendiri ataupun dari pengalaman orang lain. Menghadapi kondisi seperti ini, sometimes i wish people could stop commenting about other's physical appearance and be nice both in real and virtual life. 

Agak sulit dipungkiri bahwa penampilan fisik adalah topik yang mudah untuk membuka suatu percakapan dengan orang lain. Untuk gue pribadi, don't judge book by its cover is pretty hard thing to do, karena halaman depan dari buku-lah yang paling mudah untuk dilihat dan jadi referensi awal kita untuk menilai. 

I think it's natural for human being to believe what they see first and once they want to know more, they dig deeper. The main challenge here is to keep the thought about what you've seen inside your mind  first instead of saying it out loud without having enough reference that could support your judgement. 

For me, komentar soal penampilan fisik itu bikin aura-aura buruk terasa lebih kuat dan sangat berdampak pada mood gue saat itu, apalagi kalau sudah bernada negatif. Meminta orang lain untuk berhenti membahas penampilan fisik punya tantangan tersendiri. I personally believe, you can't change the world without changing yourself first. Di saat kita tidak dapat mengubah atau menghentikan orang lain untuk berkomentar tentang penampilan fisik kita, kenapa kita tidak mencoba mengubah cara kita menanggapi komentar dari mereka?

Sunday, February 25, 2018

Plus-size Woman, Unite!

After all, you are not alone in this world.

Sudah menjadi sifat dasar manusia untuk hidup berkelompok...untuk bisa hidup bersama-sama dengan orang lain yang memiliki nilai-nilai yang sama atau sesuai dengan nilai yang kita yakini. We will do anything to be fit in, right? People that don't have similarity will be excluded and created another group with that has mutual interest and so on.

When I was younger (and before social media), it's hard to fit in. Gue pernah ada di dalam suatu peer group yang sebenarnya punya mutual interest, but I didn't feel 100% belong only because of my body. They can easily use each other clothes because they have similar body size, but I can't do that because i have bigger figure than them. When people talk about our group, I never heard my name as a person that other people perceive as beautiful because I have bigger body than the others.  I have no idea how many time boys saying that they want to be my boyfriend as long as I reduce my weight. Their words affected me and lead me to un-healthy diet only to feel belong...to be beautiful by having slimmer body. You know what? that diet didn't work and I ended up feeling sick and unhappy. I'm 100% sure, that feeling...that condition won't happened if I believe on what I believe right now: beauty can't be measured by your body size.

Gue rasa, hal ini gak hanya dialami oleh gue seorang. Ada satu (or more) orang-orang yang merasa insecure dengan tubuhnya sendiri dan end-up can't fit into a group. But before the 'social media' era, it's hard to find people with similar experience yang bisa diajak curhat or benar-benar memahami apa yang gue hadapi. 

with Ririe Bogar, initiator of Indonesia Plus Size Festival.

Di era media sosial ini, tak lagi sulit untuk menemukan orang-orang yang punya pengalaman yang sama dengan kita, punya cara pandang yang serupa dengan kita dan untuk bisa masuk ke dalam kelompok yang sesuai with our belief. Jika bicara tentang pengalaman menghadapi body image issue, rasanya event yang gue hadiri kemarin malam adalah salah satu bukti bahwa you're not alone in 'fighting' against the beauty standard. Indonesia Plus Size Festival adalah sebuah event yang didedikasikan bagi wanita bertubuh besar.....a simple event that remind everyone to celebrate their own size.....an event where woman support each other to be more confidence and loving their body. Salah satu penggagasnya adalah Ririe Bogar, an influencer and also a motivator who wrote a book called 'Cantik ejaannya bukan K.U.R.U.S.' Event-nya sendiri berlangsung pada tanggal 17 & 24 Februari dan 3 & 10 Maret di SQ Dome, Jakarta Selatan dan terdapat serangkaian kegiatan, such as fashion show, talkshow, zumba & yoga class and some performances from plus-size women. 

For me, this event is a way to celebrate our size and share the perception about your size doesnt define who you are and your beauty. Lewat fashion show misalnya, it show the audience (and soon...the world) that your body size can't stop you to be involved in fashion world...can't stop you to wear anything that you love to see on magazine and tv. Lewat kegiatan talkshow, kita berkesempatan untuk mendengar dan belajar dari pengalaman orang lain agar kita yang tadinya gak PD dengan bentuk tubuh dan merasa tidak bisa produktif karena ukuran tubuh menjadi sosok yang lebih menghargai tubuh kita dan tentunya jadi semangat untuk lebih produktif lagi. This event is something that we need, especially if you have body image issue. 

With the designer of Koozel, Diana.
Di hari kedua ini gue sempatkan untuk hadir menyaksikan fashion show dari salah satu plus-size fashion brand yang dapat dibilang cukup baru, Koozel. The designer, Diana, was very kind enough to sent me a clothes from her collection as her support for plus-size woman that believing in the same value in helping woman to be confidence with her body. I came to the event simply to say hi to her and thanking her for the clothes and the spirit that kinda inspire me to write again today. Tidak hanya itu, gue juga bertemu dengan Panda, a designer from Malang that has the same spirit with Diana and reflect it through the clothes she designed. The fact that she wants to bring the same euphoria of celebrating your size to Malang is inspiring. Tak lupa, I also met Ririe Bogar, the initiator of this event and thank her directly for the event that empower plus-size women to be confidence and feeling beautiful. It excited me to meet and have small talk with people that believing similar value with me. Because of these kind of people, woman who has self-confidence issue because of their body no longer feel lonely. 

My hope is that by having this event as annual activity, a lot of women out there doesn't have to feel lonely in 'fighting' against body image issue....a lot of girl out there can be proud of themselves no matter what size they wear....a lot of people can share body positive vibe to each other so no more bullying and no more ED issue need to be happened in Indonesia. It's time to celebrate who you really are!

and it's time for me to write more about body positive :p






Tuesday, January 2, 2018

Take a break to get ready for 2018!

If you are losing your leisure, look out; you may be losing your soul - Logan Pearsall Smith

Menjelang tanggal libur akhir tahun, kota Jakarta mendadak kehilangan penghuninya dan 'macet' tak lagi jadi alasan atas keterlambatan di setiap aktivitas kita. Sebagian besar penduduk ibukota memberikan hadiah untuk dirinya, dan keluarganya, atas kerja keras selama satu tahun belakangan dengan pergi berlibur. I'm lucky enough to have day off for 7 days from work (+2 alteration days karena harus bertugas saat weekend) di akhir tahun ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, berlibur akhir tahun yang ideal untuk gue adalah stay in Jakarta, menikmati lancarnya jalanan ibukota sebelum harus menghadapi another traffic on another day. Dan staycation di hotel jadi ide yang menarik untuk menghabiskan tahun 2017 dan menyambut tahun baru 2018 dengan semangat baru.

After scrolling through Booking.com (my favorite site/apps to find great hotel with great price), I choose Mercure Simatupang as the place for  NYE staycation. Gue cukup beruntung untuk bisa mendapatkan Privilege Double Room dengan harga lebih murah Rp 500.000,00 dari harga normalnya (for two nights), meski tidak mendapatkan breakfast di harga promo tersebut.


Proses check-in di malam tahun baru tidak berjalan terlalu lancar karena ruangan non-smoking di tipe kamar tersebut telah full booked. But the staff offered to set-up the room sesuai dengan preferensi ruangan yang gue pesan, which is non-smoking. Karena sudah cukup lelah setelah perjalanan ke daerah Jakarta Timur & Bekasi seharian, I said yes and the team worked quickly to set up the room. My room was on 7th floor, lantai yang memang khusus menyediakan kamar bagi para perokok. Saat masuk kamar, bau rokok masih cukup kentara namun perhatian gue langsung teralihkan dengan view kamar yang cukup menarik, which is jalur MRT Jakarta & jalan tol Simatupang. I also can see some buildings & residences around Lebak Bulus from my room...so the smell of smoke not bothering me at all.

Selain pemandangan dari kamar, gambar yang terletak di atas tempat tidur juga menarik perhatian gue. It wasn't just a picture, but a cartoon that describe the life in Jakarta: mulai dari tugu Monas yang menjadi icon Jakarta, masyarakat yang sedang unjuk rasa, pedagang kaki lima, hingga anak-anak yang asik bermain. Kursi dan bantal di workstation area di kamar ini juga tak kalah unik, yaitu bergambar bajaj, salah satu alat transportasi di Jakarta.



Life in Jakarta on the wall

Kamar yang gue tinggali selama dua malam itu memiliki fasilitas yang cukup lengkap; mulai dari flat-screen tv, workspace area, toiletries dengan packaging yang menarik, hingga setrika pakaian yang terletak di lemari. This room is definitely my #roomgoals.

The packaging...i can not



Awalnya, gue berniat langsung beristirahat setelah masuk ke kamar. But I got distracted by some great movies on tv and stay awake until new year eve. Since there's not many buildings around the hotel, I can see a lot of fireworks on the dark sky and it was beautiful! Perfect picture of NYE!

Pagi harinya, mengingat kamar yang gue booking tidak termasuk breakfast, I decided to order American Breakfast through room service instead. Menu American Breakfast sendiri terdiri dari egg ( I chose omelette), beef (I chose sausage), hasbrown, breads, orange juice, selected fruit, and tea/coffee and it cost me 150.000-ish. Satu porsi American Breakfast cukup untuk berdua kok, tapi yaa kalau emang lagi laper berat sepertinya sih ngepas banget :p. Kalau prefer untuk breakfast on the resto juga bisa kok, cukup menambahkan Rp 157.000 per-orang.

American Breakfast by Mercure

Bicara tentang fasilitas, di hotel ini memiliki gym room (yang hanya dapat digunakan mulai jam 6-8 pagi), cafe & resto bernama Biztro Graffiti, Karumba Rum bar, dan kolam renang yang terletak di lantai yang sama dengan Gym dan Karumba Rum Bar. I spent my first sunset in 2018 on the 19th floor...the place of gym, swimming pool, and Karumba. The bar is pretty and of course, instagram-worthy. Untuk ke lantai 19 ini tidak wajib menginap di hotel kok, bisa juga datang untuk menikmati sajian dari bar-nya. Bagi kalian yang suka berenang ( by it, i mean real swimming), gue tidak merekomendasikan untuk berenang di hotel ini karena ukuran kolam renangnya yang tidak besar. Tapi if you want to chill by the pool side, foto-foto cantik, atau bawa anak kecil, the swimming pool will work just fine.


View from 19th Floor

 Oh ya, seperti hotel berbintang lainnya, di Mercure juga tersedia layanan pijat & spa yang dapat dibook via room service. Harganya mulai dari Rp 300.000,00 untuk 60 menit. Untuk yang mau staycation yang 100% relaxing, massage and spa will be great idea! Berhubung gue gak suka dipijat, I had to skip that facility :p

Overall, it was a pleasant staycation at Mercure Simatupang. The room is clean (and quite instagramable i would say), fasilitasnya terbilang cukup lengkap for short getaway in the city, great room view, great food, and also great service. Cocok untuk kalian yang mau staycation di sekitaran Jakarta, business stay, or looking for instagramable hotel.

Semoga di tahun 2018, I can explore more hotel in Indonesia (and perhaps, other country as well). Have a great new year people!








Saturday, December 30, 2017

2017: 12 Months, 12 (big) Things that I'm Grateful at

"Be thankful of what you have; you will end up having more. If you concentrate on what you don't have, you will never, ever have enough" - Oprah Winfrey

Tahun 2017 akan berakhir dalam hitungan hari dan tentunya, merenungkan kehidupan kita selama kurang lebih 365 hari belakangan menjadi salah satu rutinitas yang dapat dilakukan sebagai persiapan di tahun yang baru. Melihat kembali tahun 2017, ada banyak cerita kehidupan, baik yang gue alami sendiri ataupun mendengar dari orang lain, yang memberikan kesan dan tentunya pelajaran berharga. Mulai dari pengalaman yang menggembirakan, membanggakan, menyenangkan, hingga yang menyedihkan, membuat marah dan terkesan suram berhasil menorehkan cerita dan ilmu tersendiri buat gue.

Before this year ends, I would like to share 12 things that i'm really grateful at that happened this year and share you a lil bit about the lesson i learnt.

  1. Had chance to learn from one of the biggest FMCG company in Indonesia & found out what I want for my career: As you know, I had an amazing 6 months internship on HR Department/Function in Unilever Indonesia. Setelah lulus kuliah, I thought I want to be a writer for magazine or online media. Tetapi dari pengalaman magang itulah, gue menemukan my true 'WHY' (also introduced me with Simon Sinek's Start with Why) for life and lead me to human resource (esp. on talent development) world for my career. 
  2. Hit the rock bottom to finally feel sure about the future: 2017 is definitely the rock bottom of my relationship with the man I love since 2008. We fight quite a lot in the first 6 month of 2017 but then we both realized what we really want  and create more concrete plan for our future, together.
  3. Had experienced living away from home and learned how to manage my life: Meski tidak benar-benar 'living away from home' karena masih sering dijengung oleh nyokab, but most of the time, I live alone during my internship programme. Selama ini, dari masa sekolah, gue selalu pulang-pergi dan gak pernah yang sampai nge-kos. So that moment was priceless karena gue dituntut harus bisa me-manage keuangan dengan baik, begitu juga waktu untuk kerja dan mengurus keadaan tempat tinggal.
  4. Learnt about self-control and earning someone's trust : Dari sejumlah pengalaman yang gue jalani di tahun 2017 ini, gue masih memiliki kesempatan untuk belajar tentang mengendalikan diri, mengendalikan emosi, mengendalikan ego yang selama ini terlalu bebas. 
  5. Got my first (permanent) job on my 24th birthday: This is probably the highlight of 2017. Tanggal 6 Juni 2017, gue diundang untuk interview oleh a start-up company named Kalibrr as the final process of my application to be an intern. At night, just before the day ended, i received an offering letter for a permanent position as Client Success Associate. It was the best gift I ever received and can't stop saying Alhamdulillah for that.
  6. Had chance to sharpen my saw through my current job and help more people: Bekerja di Kalibrr as Client Success Associate membuka banyak kesempatan untuk gue mengasah kemampuan gue di dunia human resource lewat day-to-day job & proyek-proyek yang ada. The best part of it, I can help more people to get the job they wanted & company to get the right people to work for them.   
  7. Got chance to read more books this year (mostly) about self-improvement & leadership: Bisa dibilang, tahun ini gue cukup aktif untuk membaca buku jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Senang rasanya bisa membeli buku-buku bagus dengan uang hasil keringat sendiri dan dapat menyelesaikan buku-buku tersebut sambil merasa inspired by the story. I've finished Game Changer at the Circus by Jean-Francois Cousin, A New Model by Ashley Graham, Start with Why by Simon Sinek, and some other books. 
  8. Finally able to buy the device that I've been wanting since junior high school: Saat SMP dulu, gue mengidam-idamkan bisa punya macbook karena di masa itu, gue lagi super seneng ngedit foto dan buat poster via photoshop and from what I heard, macbook is the device that I really need. Setelah hampir 11 tahun, I finally able to buy one!
  9. Able to conquer my fear of starting : 2011-2012 was a roller coaster for me dan menjadi salah satu periode yang mempengaruhi munculnya anxiety of starting new thing. Alhamdulillah, setelah bertahun-tahun harus merasa insecure ketika memulai hal baru, tahun ini ketakutan itu semakin berkurang. and I feel more confidence to start somethin new.
  10. Meet a lot of people and have chance to learn from them: Beside from work, gue juga berkesempatan untuk ketemu dan belajar dari beberapa inspirational person from a conference & some classes I attended this year. 
  11. Have more time to spend with people that I love in 2017: especially my mom. Mengingat lokasi kantor yang masih possible kalau gue harus pulang pergi, my mom always there to drop me to the nearest transjakarta station and I'm so happy to spend more time with her, listening to her story from work and what she experienced that day. 
  12. Still have things to be grateful at every single day: Menghabiskan 1/3 hari gue di jalanan memberikan waktu khusus untuk gue merenung dan reflect back. Knowing that I still have a lot of things to be grateful at every single day, make me feel blessed and of course, grateful. Meski di hari itu gue mengalami rough day, senang rasanya bisa merenung sejenak di perjalanan pulang dan merasa bersyukur. 

So that's all....12 things that I'm grateful at this year & also a summary of my life in 2017. For next year, I hope I can keep the positive vibe in my life by being grateful of life and share the same vibe for people around me.

Don't forget to stay positive & be grateful!




Saturday, December 9, 2017

Body Positivity: Self-love and gratitude

2018 is getting closer, and December always be the month of reflection to me. I've experienced a lot of things this year, dari yang baik...hingga yang menantang. Whatever happened, I can't stop saying Alhamdulillah, because I still have the opportunity to learn and be a better version of myself in the end of the day.

For some people, I'm a positive person...always see the bright side of every darkness...always find the reason to be grateful no matter how tough the life is. But the truth is, I'm not always that positive...I'm not always a grateful person. Selalu ada saat dimana gue melupakan prinsip gue: whatever happened, life is a bless. Time is always be the best slapper for me...mungkin butuh beberapa waktu untuk gue menyadari bahwa hal-hal yang burukpun wajib disyukuri karena menjadi kesempatan untuk selalu belajar. 

Speaking about being grateful, setiap Senin pagi, my director always ask the team to mention at least 3 things that we grateful at during the week. Sound easy right? It actually is! Rutinitas tersebut-lah yang mengilhami gue untuk kembali menulis seputar body positive saat ini (after such a looong...loong break from blogging). Why? Because 'gratitude' is the reason why i write about body positive at the beginning.


Saturday, September 23, 2017

A Trip to Talassophile Paradise in Jakarta



Musim hujan sudah menunjukkan batang hidungnya, so i guess this is the time to say good bye to the summer. But before that, let me share my experience in visiting a paradise during my summer break. Spoiler alert, the paradise only 2 hours away from Jakarta!

For those who live in Jakarta, mall-hoping adalah hal yang sangat wajar untuk dilakukan sebagai pelepas penat setelah lima hari bekerja untuk mendapatkan sesuap nasi dan satu iPhone terbaru. Namun, ada kalanya berlibur di mall menjadi penambah kepenatan. Di Jakarta, sebenarnya cukup banyak tempat yang bisa dikunjungi during weekend, salah satunya adalah kawasan Kepulauan Seribu. As a Thalassophile (someone who love the sea), kawasan tersebut adalah alternatif untuk melepas kerinduan akan indahnya lautan luas dan me-refresh pikiran yang semakin penuh. Hanya berjarak 2 jam dari kota Jakarta, kawasan Kepulauan Seribu menawarkan kegiatan berbeda untuk mengisi weekend atau hari libur lainnya, seperti island hoping atau my favorite thing to do: snorkeling. 

Dari banyaknya pulau yang ada di kawasan Kepulauan Seribu, gue memilih menghabiskan long weekend di tanggal 17-19 Agustus silam di Pulau Harapan. Setelah sebelumnya pernah mengunjungi Pulau Pari di tahun 2014 (click here to read about that trip), Pulau Harapan adalah destinasi yang tak kalah menarik untuk ditelusuri. 

Untuk mengunjungi pulau-pulau di Kepulauan Seribu, kita bisa mengurus itenerary dan akomodasi sendiri ataupun dengan bantuan travel/tour agent yang ada, online maupun offline. Belajar dari perjalanan gue ke Pulau Pari sebelumnya, kunjungan ke Pulau Harapan lebih mudah jika gue serahkan kepada tour agent ketimbang mengurus semuanya sendiri. Kalau misalnya kalian ada kenalan yang tinggal di kawasan Kepulauan Seribu, mungkin lebih mudah dan murah. Tapi if you're like me.....better trust an expert. I have to say that I'm really happy to find Travelogy team on instagram (check their update on @travelogy.id ) that could help me with the itinerary and accommodation during the trip. They're really really helpful and successfully made my Pulau Harapan trip so memorable. If you want to visit Pulau harapan, open trip or private trip, you definitely can count on Travelogy.

Pulau Harapat at glance

Perjalanan ke Pulau Harapan di mulai dari Marina Ancol pada pukul 8 pagi. I have to say, menunggu kapal di Marina Ancol memang lebih nyaman dan friendly for all ages. Tak hanya itu, kapal yang digunakan juga speed boat yang jauh lebih nyaman ketimbang kapal tradisional yang biasa mengangkut penumpang ke kawasan Kepulauan Seribu dari Angke. Namun, kamu harus rela menempuh waktu sedikit lebih panjang karena biasanya speed boat dari Marina akan berhenti di sejumlah pulau, salah satunya adalah Pulau Pramuka. Butuh sekitar 2.5 jam perjalanan dari Ancol untuk bisa sampai di Pulau Harapan. Jujur, gue agak sedikit kaget ketika melihat Pulau Harapan because I thought it was going to look like Pulau Pari yang tidak terlalu ramai, tidak banyak masyarakat yang tinggal di situ, dan memiliki pantai sendiri. Ya...di Pulau Harapannya sendir tidak terlalu banyak tempat menarik untuk dikunjungi karena memang pulau ini adalah pulau yang ditinggali oleh masyarakat dan memiliki fasilitas yang gak jauh beda dengan di Jakarta. Di pulau ini ada berbagai fasilitas, seperti ATM DKI, kantor pemerintahan dan puskesmas yang menurut gue, sangat sangat bagus. For a while, I forgot that I actually at an island.....far away from the city.

Selama tiga hari di Pulau Harapan, gue tinggal di salah satu rumah warga yang memang didedikasikan untuk tempat tinggal para wisatawan. Rumah tersebut cukup besar untuk bisa menampung 7 orang dari pesertra trip yang semuanya adalah keluarga gue :p. First thing that we did at Pulau Harapan was having seafood for lunch, provided by the Travelogy. Usai makan, kami semua langsung menuju dermaga untuk kemudian dibawa ke spot snorkeling yang pertama dan kedua dengan menggunakan kapal nelayan. 

Untuk bisa sampai di spot snorkeling yang pertama, it took 10-15 minutes trip. Selama perjalanan tersebut, gue hanya bisa mengucap rasa kagum atas ciptaan Tuhan yang begitu indah dan membuat gue jatuh cinta. I got time to feel relax and refresh my mind also. Rasa kagum dan cinta gue semakin besar ketika akhirnya sampai di tempat snorkeling dan berhasil mengatur nafas menggunakan peralatan snorkeling dengan baik tanpa harus menelan terlalu banyak air laut hehehe. Beruntung di hari itu tidak turun hujan sehingga gue bisa melihat kekayaan laut Indonesia tanpa gangguan pengelihatan. Kegiatan foto di bawah laut bersama dengan para ikan juga bisa terlaksana dengan baik. Bagi yang tidak memiliki kamera underwater atau kamera yang tahan air, gue sangat menyarankan untuk ikut trip dengan tour agent karena biasanya mereka sudah menyediakan peralatan foto yang cukup untuk bisa mengabadikan perjalanan kita saat snorkeling. 

happy face...happy place. Can I stay?

Setelah sekitar 30-45 menit bermain dengan ikan, gue dibawah oleh guide ke spot snorkeling berikutnya dan sebuah pulau kecil bernama Pulau Perak. Di pulau ini, gue dan sepupu-sepupu gue yang sudah 'kenyang' bermain dengan ikan, memutuskan untuk memenuhi rasa lapar dengan menyantap satu cup pop mie dan menikmati kesegaran air kelapa langsung dari buahnya. Tak lupa juga mengabadikan kebahagiaan lewat sesi foto yang kami buat sendiri. Di Pulau Perak, pantainya cukup bersih dan tersedia beberapa ayunan yang sangat instagramable. Kalau kalian search Pulau Harapan di Instagram, banyak dari foto-foto berlatar pantai diambil di pulau ini, termasuk salah satu foto yang gue unggah di Instagram beberapa waktu lalu.




Bisa dibilang, Pulau Perak adalah salah satu daya tarik dan tempat yang wajib dikunjungi ketika berlibur di Pulau Harapan. Kalau bisa, sampaikan ke guide untuk mengantarkan kalian ke pulau ini terlebih dahulu sebelum snorkeling ya...supaya outfit untuk berfoto ria di pulau ini lebih maksimal :p.

Waktu sudah semakin mendekati petang, oleh tour guide kami dibawa ke sebuah pulau tak berpenghuni lainnya bernama Pulau Bulat. Memasuki kawasan pulau ini, ada kesan haunted timbul. Bagaimana tidak, masuk ke kawasan ini terdapat semacam gerbang yang sudah cukup hancur. Belum lagi terdapat sebuah bangunan yang sudah tak terawat. Usut punya usut, pulau tersebut dulunya adalah pulau pribadi milik presiden ke-dua Indonesia, Suharto. Berbeda dengan Pulau Perak, pantai di Pulau Bulat dipenuhi dengan sisa-sisa terumbu karang yang terhempas di kawasan ini. Meski terkesan haunted, menikmati senja di pulau ini sangatlah indah dan tidak seram sama sekali (mungkin karena masih ada cahaya matahari kali ya...). I took a lot of beautiful pictures during our stop in that island. 



Puas menikmati matahari tenggelam di Pulau Bulat, kami kembali ke Pulau Harapan untuk beristirahat dan menikmati santapan makan malam. What excited me that dinner was the calamary! Dari perjalanan ke Pulau Pari beberapa tahun yang lalu, gue sudah jatuh cinta dengan sajian cumi goreng tepung di wilayah tersebut. This is one of the reasons why I wanna go back again to Kepulauan Seribu :p

A post shared by Fikriana Kusuma Andini (@fkrnand) on


Berhubung hari kedua kunjungan gue ke Pulau Harapan jatuh di hari Jum'at, kami semua sepakat untuk memulai perjalanan setelah sholat Jum'at. Karena, jika dimulai dari pagi hari dikhawatirkan para pria tidak sempat untuk Sholat Jum'at. So, we all decided to explore Pulau Harapan. Rupanya, di Pulau Harapan, ada pulau lain yang bernama Pulau Kelapa. Pulau tersebut adalah tempat tinggal dari banyak pemilik homestay yang biasa digunakan oleh para wisatawan. Jadi kurang lebihnya, Pulau Harapan adalah pulau bagi (mayoritas) para turis, dan Pulau Kelapa adalah pulau bagi para penduduk asli. Untuk mempermudah mobilitas, warga di Pulau Harapan dan Pulau Kelapa menggunakan sepeda, becak, ataupun motor untuk beraktifitas. Di sekitaran dua pulau ini, juga cukup banyak pembangunan untuk mengembangkan industri pariwisata di wilayah ini.

Sekitar pukul 1 siang, kami semua menuju ke dermaga dan memulai perjalanan di hari kedua. Mengingat mayoritas dari peserta trip ini adalah perempuan yang suka foto-foto, we told the tour guide to take us to beaches first before snorkeling agar foto-foto kami terlihat lebih menarik. Berhubung gue males ribet, akhirnya gue hanya perlu menambahkan kaos dan oversized outerwear sebagai properti sesi foto. 

Pulau pertama yang kami kunjungi di hari itu adalah Pulau Dolphin. Tidak ada lumba-lumba di wilayah ini, namun keindahan pulau yang dimiliki oleh Jaya Ancol tiada tara. Pulau tersebut berukuran kecil dan biasa digunakan untuk camping. Menariknya, di pulau yang kecil ini, ada wilayah yang mendapatkan sinyal kuat, ada juga yang tidak mendapat sinyal sama sekali. What I love about this island is the gradation of the water. Bisa dilihat di foto gue, gradasi warna air laut di Pulau Dolphin sangatlah indah dan superb instagramable. 

dat color tho!

Pulau kedua yang kami kunjungi, and so far the most beautiful place, adalah Pulau Tongkeng. Awalnya gue agak malas mengunjungi pulau ini karena sudah tidak sabar untuk snorkeling. Namun, karena penasaran, pulau ini tetap dikunjungi. Begitu sampai di dermaga, gue langsung jatuh hati pada pemandangan yang ada di tempat ini. Belum sampai di pulaunya saja, gue sudah tidak bisa berhenti untuk mendokumentasikan pemandangan tersebut. Airnya yang jernih dan warna dermaga yang sangat menarik membuat gue enggan pulang. Sayangnya, keinginan untuk snorkeling lebih besar ketimbang menghabiskan waktu di pulau ini dan akhirnya kami semua-pun langsung beranjak ke spot snorkeling.

click!

so into my feed!

Kunjungan ke spot ketiga dan keempat selama trip di Pulau Harapan ini bisa dibilang sangat menyenangkan dan unforgettable. Kenapa? Karena gue berkesempatan untuk menjelajahi kawasan konservasi terumbu karang. It was breathtaking, guys! Perjalanan tersebut juga kali pertama untuk gue benar-benar berenang di lautan lepas. It was one of the highlight of that trip. 

please ignore the wrong date on this picture, where I become the fishes' escort


Menjelang Maghrib, kami dibawa kembali ke Pulau Harapan untuk menyantap makan malam dan menikmati seafood barbecue di dekat dermaga.

There are some points about the trip that I want to share with you, in case you wanna visit this paradise,
  • Trip ke Kepulauan Seribu biasanya ada dua jenis: open trip dimana kunjungan kamu akan dilakukan bersama dengan peserta lainnya dan private trip yang sifatnya ekskusif untuk kamu dan keluarga/teman/pacar kamu. Kelebihan ikut open trip adalah harga lebih murah dan bisa mendapat kenalan baru, sedangkan untuk private trip kamu bisa lebih dekat dengan orang-orang terdekatmu meski harus mengeluarkan biaya lebih besar (terutama kalau kamu naik kapal dari Marina Ancol).
    • For this trip, I took 3D2N private trip for 7 and it cost IDR 1.070.000/pax
    • Alternatively, you can take 2D1N open trip that only cost you less, around IDR 370.000/pax
  • Peralatan snorkeling seringkali disediakan oleh penyelenggara/tour agent dan tentunya pernah digunakan oleh orang lain. Kalau kamu orangnya cukup higienis, better bawa sendiri dari rumah
  • Don't touch the coral and wear long swimming suit. Terumbu karang itu terbilang sensitif kalau diganggu oleh manusia dan akan lebih rentan kalau kamu sentuh. Baiknya, leave it alone. Untuk pemakaian baju renang, saran gue pakai yang tertutup untuk meminimalisir luka karena bergesekan dengan terumbu karang
  • As I mentioned earlier, kalau kamu mau befoto-foto terlebih dahulu sebelum snorkeling, baiknya sampaikan keinginan kamu itu ke tour guide-nya ya. Kalau kamu ikutan open trip, pastikan semuanya sepakat.
  • Enjoy the scenery and try not too focus to take great photo for only the sake of great insagram feed. 
  • Beberapa saran pulau yang cocok untuk purpose kunjungan kamu ke Kepulauan Seribu, based on my point of view:
    • Kalau mau berlibur cantik atau membawa keluarga yang mungkin akan ribet kalau stay di rumah warga, better visit Pulau Putri karena tempat penginapannya lebih cocok
    • Kalau mau berlibur tanpa harus khawatir hilang sinyal, try Pulau Pramuka
    • Kalau mau camping, try Pulau Dolphin
    • Kalau mau merasakan kehidupan ala masyarakat lokal, bisa ke Pulau Harapan
    • Kalau mau merasakan kehidupan masyarakat lokal sambil jalan-jalan sendiri ke pantai, better ke Pulau Pari
Semoga penggalan cerita dari kunjungan gue ke Pulau Harapan bisa menambah referensi kamu untuk berlibur di Jakarta ya!


Saturday, September 16, 2017

The Way We Judge from its Cover

A picture is worth thousand words

Melihat konten visual memang lebih menarik dan simpel untuk kita pahami ketimbang membaca suatu tulisan, terutama pada generasi milenials (those who born between 1981-1998). Dalam suatu artikel yang gue baca tentang how to attract milenials, menambahkan konten visual diyakini akan efektif untuk menarik perhatian mereka. No wonder, menelusuri instagram menjadi lebih populer ketimbang membaca blog di kalangan gen Y ini (including me!).

It's true that a picture could summarize the what happened when the picture was taken/created, tetapi hanya sebatas permukaan saja. And I personally believe that to really have understanding on something, we have to go deeper. Karena lebih mudah untuk dipahami, banyak orang langsung memberikan judgment berdasarkan apa yang mereka lihat lewat visual content...not what they understand. Butuh contoh?

Have you ever seen bad comment on your favorite celebgram account? I believe that the 'haters' sent that negative comment because they only judge her/him based on the uploaded picture instead of really knowing the story. Padahal kalau dicermati, terkadang di caption foto-foto tersebut, ada penggalan cerita yang bisa menambah pengetahuan kita tentang orang tersebut dan probably, could change our perspective about them.

Gue jadi teringat cerita yang gue peroleh tahun lalu, dari salah satu selebgram bertubuh plus-size di Indonesia saat gue mengumpulkan data untuk skripsi. She told me that she got a hate message from one of her followers via snapchat. Padahal, sang selebgram dan sang follower tidak mengenal satu sama lain. I mean..how can you hate someone that you never meet or interact with? So I conclude that the hatred came from the follower's judgment upon the celebgram photo/instagram update.

It’s so interesting to see how people react after judging only from the cover nowadays, especially on social media.

Bagi gue, punya judgement terhadap seseorang atau sesuatu adalah hal yang sangat manusiawi. Tidak ada salahnya memiliki pendapat atas sesuatu yang baru kita lihat atau hanya sebatas tampak depannya saja yang kita lihat. Namun, yang bisa jadi salah adalah how we react.

Tidak pernah ada salahnya berusaha memahami apa yang kita lihat terlebih dahulu sebelum mengutarakan judgement kita ke ranah publik. Caranya bagaimana untuk memahami? As simply as adding a break between an action (in this case, what we see on social media) and a reaction (judgement, for example). Manfaatkan jeda itu untuk membaca kondisi,  berupaya menempatkan diri di posisi orang yang hendak kita berikan judgement, atau jika kembali kepada kegiatan bermedia sosial, membaca caption yang ditulis sebagai pelengkap foto yang orang tersebut unggah. Dengan begitu, kita bisa mendapatkan informasi lebih banyak (and possibly deeper) that could lead us to more effective result.

Mungkin saja, jika sang follower dari plus-size celebgram tidak lupa untuk membaca caption, membaca hashtag, membaca pola pesan yang sang celebgram coba kemukakan, ia gak akan mengirimkan hate message via social media. Instead of sharing hate, that person might get inspired and  collaborate to share same message to the world.

Jika setelah berupaya membaca cerita di balik apa yang telah dilihat kita masih merasa harus memberikan judgement/opini, that's definetely ok! Tapi gue percaya, dengan memberikan jeda untuk membaca situasi, pendapat kita bisa disampaikan dengan cara yang lebih baik dan lebih efektif....ketimbang dengan menuliskan komentar negatif di media sosial.

I know it’s really hard to not judging, tapi akan lebih baik dan lebih efektif jika kita punya pengetahuan tentang the story behind what we have seen. Untuk bisa meminimalisir, atau mungkin lebih tepatnya membuat judgement yang lebih efektif, butuh latihan dalam waktu tertentu. Percaya, kalau kita tidak pernah memulai, kita gak akan pernah tahu hasil akhirnya. 

I'm still on my way to be more effective social media user. Pernah suatu saat gue hampir saja mau langsung bereaksi instead of try to understand what i have seen. Sekitar tahun lalu, di akun salah seorang penulis/entertainer yang banyak membahas isu plus-size dari Indonesia, sang pemilik akun mengunggah sebuah video singkat yang berisikan pesan kepada wanita bertubuh besar agar tidak lebay dalam berpakaian. Jujur saja, setelah melihat video tersebut gue agak terganggu dengan cara penyampaian pesan dari sang pemilik account. Kenapa? Karena isi pesan tersebut kontradiktif dengan pesan-pesan positif yang selalu dirinya share di media sosial hampir setiap saat. Setelah melihat video, gue langsung memberikan reaksi dengan men-klik kolom komentar dan menuliskan pendapat gue yang berlandaskan satu unggahan video. But then, i took my time to think: apakah baik langsung memberikan komentar tanpa berusaha tau alasan kenapa sang pemilik akun membuat video tersebut? Mungkin saja, memang itu cara dia berbicara....mungkin saja, itu hanya bercanda. Setelah berfikir sejenak, i hit the back button and leave her page....dengan pemikiran bahwa it's not effective to be angry or saying bad words for something that i dont really understand. (Meskipun pada akhirnya ada orang yang berpendapat sama dengan gue memberikan komentar sih di unggahan tersebut :p )


Since then, I believe that by doing this, our life will be more useful...lebih berfaedah....dan menjadi lebih bahagia. Nilai tambahnya lagi, dengan mulai memahami apa yang kita lihat di media sosial, kita juga berkontribusi pada kebahagiaan orang lain. No more hate is very possible if we can control ourself in judging others.