Friday, April 17, 2015

Not His Story: Another Field Trip Experience

Been away for too long, huh?

Maafkan lah komitmen yang terlalu minim untuk mengisi blog ini. Belakangan memang kesibukan sebagai mahasiswa semester 6 dan kewajiban sebagai kepala divisi di himpunan mahasiswa menjadi prioritas utama dalam kehidupan gue. Bahkan, upaya untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap fit menjadi lebih merosot dibandingkan tahun lalu. No wonder berat badan saya menjadi stabil diangka 83-84......padahal ekspektasi gue adalah adanya penurunan...yaaa maksimal 80 Kg udah bagus banget lah ya. 

Sedikit bercerita tentang sejumlah pengalaman turun lapangan demi data-data berharga yang menunjang sejumlah tugas kuliah rasanya gak pernah ada salahnya. Semester ini, sudah ada dua mata kuliah yang menuntuk dilakukannya kegiatan turun lapangan a.k.a. turlap. Mata kuliah pertama adalah Antropologi Kependudukan, dimana gue dan 3 orang anggota kelompok harus mewawancarai pegawai kelurahan dan memperoleh data tentang kependudukan disana. Bersama ketiga orang partner in crime ini gue mendapat tugas (lebih tepatnya memilih) untuk datang ke Kelurahan Menteng yang letaknya (ternyata) tidak terlalu jauh dari stasiun Cikini dan tidak jauh juga dari Taman Proklamasi dan Freedom Institute yang merupakan salah satu lokasi 'bersejarah' dalam kehidupan perkuliahan gue dahulu kala. Setiap kunjungan kami bertiga selalu dihiasi dengan wisata. Pada perjalanan pertama, untuk menanyakan kebutuhan surat izin, kami sempat bermain ke Taman Proklamasi dan Freedom Institute dan mengakhiri perjalanan di J.CO stasiun Kota sambil berdiskusi. Perjalanan terakhir kami ke Kelurahan Menteng-pun nggak kalah seru karena setelah memperoleh data yang dibutuhkan, kami (akhirnya) merasakan berkeliling daerah Jakarta dengan City Tour Bus, bus dua tingkat yang tidak dipungut biaya. Rutenya adalah dari halte Juanda - Monas - Bundaran HI - Pasar Baru - Juanda. Karena merasa kurang, mengingat memang kami dikejar waktu untuk pulang ke Depok, beberapa minggu kemudian kami sengaja untuk menggunakan bus tersebut demi berkunjung ke Museum Nasional a.k.a. Museum Gajah. Sebelumnya, kami bertiga menikmati es-krim Ragusa dan asinan Juhi, one of my favorite dish
The famous Banana Split and Tutti Frutti by Ragusa Ice Cream

Me and my partner in crime, ki-ka: yuni, myself, nadya, and wulan

Too excited for Asinan Juhi! (taken by Wulan)


Perjalanan lainnya yang tak kalah seru adalah terkait dengan mata kuliah Penelitian Etnografi dan Metode Penelitian Antropologi, dimana gue dan teman-teman satu kelas akan stay in selama 14 hari di rumah warga untuk melakukan penelitian antropologi. Pada awal perkuliahan Metode Penelitian Antropologi, memang clue tentang lokasi persis penelitan masih bertebaran, sehingga gue memutuskan untuk berjalan-jalan ke kawasan Sawah Besar, dimana pada saat itu telah terjadi kebakaran. Lokasi yang rasanya kurang pas akhirnya mendorong gue dan sejumlah teman untuk main-main ke kawasan Penjaringan, Jakarta Utara. Jujur saja, saat kami kesana, tidak ada petunjuk pasti, benar-benar meraba-raba kondisi. Pada hari itu, kami akhirnya berkunjung ke kawasan Teluk Gong dan berbincang dengan salah satu penjaga warung di dekat 711. Ia bercerita tentang kondisi tempat tinggalnya yang memang rawan banjir. Secara pribadi, Teluk Gong bukanlah lokasi yang gue bayangkan. Akhirnya disusunlah rencana untuk main-main ke kawasan Muara Baru, Penjaringan. Satu hari sebelum perjalanan ke Muara Baru, gue mendapatkan informasi bahwa penelitian akan dilakukan di wilayah Marunda, tepatnya RT 001 RW 007 dekat STIP Marunda. Pada hari Selasa, minggu lalu, gue dan 12 orang teman yang akan ikut dalam penelitian yang sama berkunjung ke lokasi yang dimaksud. Berbekal informasi dari teman-teman yang sudah mengunjungi wilayah itu sehari sebelumnya, kami siap berangkat. Sangat bersyukur bahwa banyak pertolongan Tuhan buat kami semua, mulai dari cuaca yang bersahabat dan angkot yang menawarkan jasanya untuk mengantarkan kami sampai tujuan, meskipun lokasi itu diluar trayek si abang angkot. Bahkan untuk pulang pun, kami diantarkan hingga Stasiun Kota. Jujur saja, lokasi penelitian di Marunda itu kurang mampu memenuhi bayangan gue, meskipun lokasi itu memberikan rasa tenang terkait dengan tempat tinggal selama penelitian. Perjalanan menuju lokasi itu-pun bisa dikatakan menakjubkan, karena gue banyak bertemu truk-truk container yang termasuk jarang gue temui. Bagian yang menarik dari perjalanan itu adalah ketika pulang ke Stasiun Kota. Di perjalanan angkot kami 'tertabrak' oleh truk container yang hendak belok. Untungnya kami selamat dan korban yang jatuh hanya spion angkot. It was unforgettable karena pada akhirnya lokasi penelitian kami semua diganti lagi :") what a life!

Kegiatan turun lapangan itu berhasil membuat gue lupa tentang berat badan, sebuah isu yang jadi pemikiran gue belakangan ini. Keinginan untuk olah raga atau diet berkurang karena gue harus fokus dengan kehidupan akademis. Lari pagi-pun baru mulai diaktifkan kembali hari Minggu kemarin saat Car Free Day. Mungkin untuk mengurangi berat badan adalah sesuatu yang mudah dilupakan, tapi tidak dengan menjaga kesehatan tubuh. Belakangan mulai mudah sakit menjadi pertanda bahwa gue benar-benar butuh olah-raga. Sebatas jalan cepat atau lari menjadi cara yang lumayan efektif bagi gue untuk memperoleh ketenangan diri, kalau berat badan bisa berkurang itu adalah bonus. Sebagai wanita plus-size olah raga tetap dibutuhkan, setidaknya untuk alasan kesehatan pernafasan dan kelancaran aliran darah supaya kita bisa tetap berfikir dengan baik. 


Mungkin sekian dulu sepenggal kisah dari perjalanan turun lapangan yang gue lakukan beberapa waktu terakhir ini. Semoga masih ada banyak kesempatan untuk turun lapangan dan membagi cerita gue di blog ini :D 

Ps: I'll post about plus-size fashion after this!