Showing posts with label travelling. Show all posts
Showing posts with label travelling. Show all posts

Saturday, September 23, 2017

A Trip to Talassophile Paradise in Jakarta



Musim hujan sudah menunjukkan batang hidungnya, so i guess this is the time to say good bye to the summer. But before that, let me share my experience in visiting a paradise during my summer break. Spoiler alert, the paradise only 2 hours away from Jakarta!

For those who live in Jakarta, mall-hoping adalah hal yang sangat wajar untuk dilakukan sebagai pelepas penat setelah lima hari bekerja untuk mendapatkan sesuap nasi dan satu iPhone terbaru. Namun, ada kalanya berlibur di mall menjadi penambah kepenatan. Di Jakarta, sebenarnya cukup banyak tempat yang bisa dikunjungi during weekend, salah satunya adalah kawasan Kepulauan Seribu. As a Thalassophile (someone who love the sea), kawasan tersebut adalah alternatif untuk melepas kerinduan akan indahnya lautan luas dan me-refresh pikiran yang semakin penuh. Hanya berjarak 2 jam dari kota Jakarta, kawasan Kepulauan Seribu menawarkan kegiatan berbeda untuk mengisi weekend atau hari libur lainnya, seperti island hoping atau my favorite thing to do: snorkeling. 

Dari banyaknya pulau yang ada di kawasan Kepulauan Seribu, gue memilih menghabiskan long weekend di tanggal 17-19 Agustus silam di Pulau Harapan. Setelah sebelumnya pernah mengunjungi Pulau Pari di tahun 2014 (click here to read about that trip), Pulau Harapan adalah destinasi yang tak kalah menarik untuk ditelusuri. 

Untuk mengunjungi pulau-pulau di Kepulauan Seribu, kita bisa mengurus itenerary dan akomodasi sendiri ataupun dengan bantuan travel/tour agent yang ada, online maupun offline. Belajar dari perjalanan gue ke Pulau Pari sebelumnya, kunjungan ke Pulau Harapan lebih mudah jika gue serahkan kepada tour agent ketimbang mengurus semuanya sendiri. Kalau misalnya kalian ada kenalan yang tinggal di kawasan Kepulauan Seribu, mungkin lebih mudah dan murah. Tapi if you're like me.....better trust an expert. I have to say that I'm really happy to find Travelogy team on instagram (check their update on @travelogy.id ) that could help me with the itinerary and accommodation during the trip. They're really really helpful and successfully made my Pulau Harapan trip so memorable. If you want to visit Pulau harapan, open trip or private trip, you definitely can count on Travelogy.

Pulau Harapat at glance

Perjalanan ke Pulau Harapan di mulai dari Marina Ancol pada pukul 8 pagi. I have to say, menunggu kapal di Marina Ancol memang lebih nyaman dan friendly for all ages. Tak hanya itu, kapal yang digunakan juga speed boat yang jauh lebih nyaman ketimbang kapal tradisional yang biasa mengangkut penumpang ke kawasan Kepulauan Seribu dari Angke. Namun, kamu harus rela menempuh waktu sedikit lebih panjang karena biasanya speed boat dari Marina akan berhenti di sejumlah pulau, salah satunya adalah Pulau Pramuka. Butuh sekitar 2.5 jam perjalanan dari Ancol untuk bisa sampai di Pulau Harapan. Jujur, gue agak sedikit kaget ketika melihat Pulau Harapan because I thought it was going to look like Pulau Pari yang tidak terlalu ramai, tidak banyak masyarakat yang tinggal di situ, dan memiliki pantai sendiri. Ya...di Pulau Harapannya sendir tidak terlalu banyak tempat menarik untuk dikunjungi karena memang pulau ini adalah pulau yang ditinggali oleh masyarakat dan memiliki fasilitas yang gak jauh beda dengan di Jakarta. Di pulau ini ada berbagai fasilitas, seperti ATM DKI, kantor pemerintahan dan puskesmas yang menurut gue, sangat sangat bagus. For a while, I forgot that I actually at an island.....far away from the city.

Selama tiga hari di Pulau Harapan, gue tinggal di salah satu rumah warga yang memang didedikasikan untuk tempat tinggal para wisatawan. Rumah tersebut cukup besar untuk bisa menampung 7 orang dari pesertra trip yang semuanya adalah keluarga gue :p. First thing that we did at Pulau Harapan was having seafood for lunch, provided by the Travelogy. Usai makan, kami semua langsung menuju dermaga untuk kemudian dibawa ke spot snorkeling yang pertama dan kedua dengan menggunakan kapal nelayan. 

Untuk bisa sampai di spot snorkeling yang pertama, it took 10-15 minutes trip. Selama perjalanan tersebut, gue hanya bisa mengucap rasa kagum atas ciptaan Tuhan yang begitu indah dan membuat gue jatuh cinta. I got time to feel relax and refresh my mind also. Rasa kagum dan cinta gue semakin besar ketika akhirnya sampai di tempat snorkeling dan berhasil mengatur nafas menggunakan peralatan snorkeling dengan baik tanpa harus menelan terlalu banyak air laut hehehe. Beruntung di hari itu tidak turun hujan sehingga gue bisa melihat kekayaan laut Indonesia tanpa gangguan pengelihatan. Kegiatan foto di bawah laut bersama dengan para ikan juga bisa terlaksana dengan baik. Bagi yang tidak memiliki kamera underwater atau kamera yang tahan air, gue sangat menyarankan untuk ikut trip dengan tour agent karena biasanya mereka sudah menyediakan peralatan foto yang cukup untuk bisa mengabadikan perjalanan kita saat snorkeling. 

happy face...happy place. Can I stay?

Setelah sekitar 30-45 menit bermain dengan ikan, gue dibawah oleh guide ke spot snorkeling berikutnya dan sebuah pulau kecil bernama Pulau Perak. Di pulau ini, gue dan sepupu-sepupu gue yang sudah 'kenyang' bermain dengan ikan, memutuskan untuk memenuhi rasa lapar dengan menyantap satu cup pop mie dan menikmati kesegaran air kelapa langsung dari buahnya. Tak lupa juga mengabadikan kebahagiaan lewat sesi foto yang kami buat sendiri. Di Pulau Perak, pantainya cukup bersih dan tersedia beberapa ayunan yang sangat instagramable. Kalau kalian search Pulau Harapan di Instagram, banyak dari foto-foto berlatar pantai diambil di pulau ini, termasuk salah satu foto yang gue unggah di Instagram beberapa waktu lalu.




Bisa dibilang, Pulau Perak adalah salah satu daya tarik dan tempat yang wajib dikunjungi ketika berlibur di Pulau Harapan. Kalau bisa, sampaikan ke guide untuk mengantarkan kalian ke pulau ini terlebih dahulu sebelum snorkeling ya...supaya outfit untuk berfoto ria di pulau ini lebih maksimal :p.

Waktu sudah semakin mendekati petang, oleh tour guide kami dibawa ke sebuah pulau tak berpenghuni lainnya bernama Pulau Bulat. Memasuki kawasan pulau ini, ada kesan haunted timbul. Bagaimana tidak, masuk ke kawasan ini terdapat semacam gerbang yang sudah cukup hancur. Belum lagi terdapat sebuah bangunan yang sudah tak terawat. Usut punya usut, pulau tersebut dulunya adalah pulau pribadi milik presiden ke-dua Indonesia, Suharto. Berbeda dengan Pulau Perak, pantai di Pulau Bulat dipenuhi dengan sisa-sisa terumbu karang yang terhempas di kawasan ini. Meski terkesan haunted, menikmati senja di pulau ini sangatlah indah dan tidak seram sama sekali (mungkin karena masih ada cahaya matahari kali ya...). I took a lot of beautiful pictures during our stop in that island. 



Puas menikmati matahari tenggelam di Pulau Bulat, kami kembali ke Pulau Harapan untuk beristirahat dan menikmati santapan makan malam. What excited me that dinner was the calamary! Dari perjalanan ke Pulau Pari beberapa tahun yang lalu, gue sudah jatuh cinta dengan sajian cumi goreng tepung di wilayah tersebut. This is one of the reasons why I wanna go back again to Kepulauan Seribu :p

A post shared by Fikriana Kusuma Andini (@fkrnand) on


Berhubung hari kedua kunjungan gue ke Pulau Harapan jatuh di hari Jum'at, kami semua sepakat untuk memulai perjalanan setelah sholat Jum'at. Karena, jika dimulai dari pagi hari dikhawatirkan para pria tidak sempat untuk Sholat Jum'at. So, we all decided to explore Pulau Harapan. Rupanya, di Pulau Harapan, ada pulau lain yang bernama Pulau Kelapa. Pulau tersebut adalah tempat tinggal dari banyak pemilik homestay yang biasa digunakan oleh para wisatawan. Jadi kurang lebihnya, Pulau Harapan adalah pulau bagi (mayoritas) para turis, dan Pulau Kelapa adalah pulau bagi para penduduk asli. Untuk mempermudah mobilitas, warga di Pulau Harapan dan Pulau Kelapa menggunakan sepeda, becak, ataupun motor untuk beraktifitas. Di sekitaran dua pulau ini, juga cukup banyak pembangunan untuk mengembangkan industri pariwisata di wilayah ini.

Sekitar pukul 1 siang, kami semua menuju ke dermaga dan memulai perjalanan di hari kedua. Mengingat mayoritas dari peserta trip ini adalah perempuan yang suka foto-foto, we told the tour guide to take us to beaches first before snorkeling agar foto-foto kami terlihat lebih menarik. Berhubung gue males ribet, akhirnya gue hanya perlu menambahkan kaos dan oversized outerwear sebagai properti sesi foto. 

Pulau pertama yang kami kunjungi di hari itu adalah Pulau Dolphin. Tidak ada lumba-lumba di wilayah ini, namun keindahan pulau yang dimiliki oleh Jaya Ancol tiada tara. Pulau tersebut berukuran kecil dan biasa digunakan untuk camping. Menariknya, di pulau yang kecil ini, ada wilayah yang mendapatkan sinyal kuat, ada juga yang tidak mendapat sinyal sama sekali. What I love about this island is the gradation of the water. Bisa dilihat di foto gue, gradasi warna air laut di Pulau Dolphin sangatlah indah dan superb instagramable. 

dat color tho!

Pulau kedua yang kami kunjungi, and so far the most beautiful place, adalah Pulau Tongkeng. Awalnya gue agak malas mengunjungi pulau ini karena sudah tidak sabar untuk snorkeling. Namun, karena penasaran, pulau ini tetap dikunjungi. Begitu sampai di dermaga, gue langsung jatuh hati pada pemandangan yang ada di tempat ini. Belum sampai di pulaunya saja, gue sudah tidak bisa berhenti untuk mendokumentasikan pemandangan tersebut. Airnya yang jernih dan warna dermaga yang sangat menarik membuat gue enggan pulang. Sayangnya, keinginan untuk snorkeling lebih besar ketimbang menghabiskan waktu di pulau ini dan akhirnya kami semua-pun langsung beranjak ke spot snorkeling.

click!

so into my feed!

Kunjungan ke spot ketiga dan keempat selama trip di Pulau Harapan ini bisa dibilang sangat menyenangkan dan unforgettable. Kenapa? Karena gue berkesempatan untuk menjelajahi kawasan konservasi terumbu karang. It was breathtaking, guys! Perjalanan tersebut juga kali pertama untuk gue benar-benar berenang di lautan lepas. It was one of the highlight of that trip. 

please ignore the wrong date on this picture, where I become the fishes' escort


Menjelang Maghrib, kami dibawa kembali ke Pulau Harapan untuk menyantap makan malam dan menikmati seafood barbecue di dekat dermaga.

There are some points about the trip that I want to share with you, in case you wanna visit this paradise,
  • Trip ke Kepulauan Seribu biasanya ada dua jenis: open trip dimana kunjungan kamu akan dilakukan bersama dengan peserta lainnya dan private trip yang sifatnya ekskusif untuk kamu dan keluarga/teman/pacar kamu. Kelebihan ikut open trip adalah harga lebih murah dan bisa mendapat kenalan baru, sedangkan untuk private trip kamu bisa lebih dekat dengan orang-orang terdekatmu meski harus mengeluarkan biaya lebih besar (terutama kalau kamu naik kapal dari Marina Ancol).
    • For this trip, I took 3D2N private trip for 7 and it cost IDR 1.070.000/pax
    • Alternatively, you can take 2D1N open trip that only cost you less, around IDR 370.000/pax
  • Peralatan snorkeling seringkali disediakan oleh penyelenggara/tour agent dan tentunya pernah digunakan oleh orang lain. Kalau kamu orangnya cukup higienis, better bawa sendiri dari rumah
  • Don't touch the coral and wear long swimming suit. Terumbu karang itu terbilang sensitif kalau diganggu oleh manusia dan akan lebih rentan kalau kamu sentuh. Baiknya, leave it alone. Untuk pemakaian baju renang, saran gue pakai yang tertutup untuk meminimalisir luka karena bergesekan dengan terumbu karang
  • As I mentioned earlier, kalau kamu mau befoto-foto terlebih dahulu sebelum snorkeling, baiknya sampaikan keinginan kamu itu ke tour guide-nya ya. Kalau kamu ikutan open trip, pastikan semuanya sepakat.
  • Enjoy the scenery and try not too focus to take great photo for only the sake of great insagram feed. 
  • Beberapa saran pulau yang cocok untuk purpose kunjungan kamu ke Kepulauan Seribu, based on my point of view:
    • Kalau mau berlibur cantik atau membawa keluarga yang mungkin akan ribet kalau stay di rumah warga, better visit Pulau Putri karena tempat penginapannya lebih cocok
    • Kalau mau berlibur tanpa harus khawatir hilang sinyal, try Pulau Pramuka
    • Kalau mau camping, try Pulau Dolphin
    • Kalau mau merasakan kehidupan ala masyarakat lokal, bisa ke Pulau Harapan
    • Kalau mau merasakan kehidupan masyarakat lokal sambil jalan-jalan sendiri ke pantai, better ke Pulau Pari
Semoga penggalan cerita dari kunjungan gue ke Pulau Harapan bisa menambah referensi kamu untuk berlibur di Jakarta ya!


Thursday, June 18, 2015

Not His Story: Becoming 'Bolang' for DO-FUN!

Selamat Datang, Ramadhan! 
Selamat berpuasa bagi umat Muslim yang sedang membaca tulisan ini. 

Bulan suci ini rasanya selalu punya cerita yang menarik setiap tahunnya, apa lagi ketika gue sudah menjadi seorang mahasiswi karena yaaa...selalu bertepatan dengan libur semester yang super panjang hehehe. Kalau Allah berkehendak, semoga saja tahun ini jadi tahun terakhir merasakan bulan Ramadhan sebagai mahasiswi, Aamiin.

Bukan tentang Ramadhan yang akan gue bahas kali ini, melainkan what did i do a day before Ramadhan, 1st. Seperti yang gue lakukan di H-1 Ramadhan tahun lalu, I spent my day with my cousin. Kalau tahun lalu, tepat sehari sebelum bulan puasa, gue dan sejumlah sepupu dari keluarga bokap menghabiskan hari dengan berenang dan nonton Transformer di Blitz Megaplex, Grand Indonesia. Bagaimana dengan tahun ini?

WE WENT TO DUFAN!
Hello, Dunia Fantasi!

Ya, akhirnya gue berhasil mengunjungi salah satu lokasi wisata di Jakarta tersebut. Sebenarnya keinginan untuk main ke theme park ini sudah ada dari setelah lebaran tahun lalu. Tapi terkalahkan oleh kesepakatan bersama (dan promo FLAZZ BCA) untuk mencoba Jungle Land di Sentul Selatan. Memang, sudah kurang lebih dua bulan belakangan ini, gue dan my partner in crime, Dyah, pengen banget melepas penat dunia perkuliahan yang makin seru ini. Keinginan tersebut akhirnya dapat terpenuhi tanggal 17 Juni kemarin.

Banyak rintangan setiap mau jalan ke dufan. Mulai dari jarak, transportasi, biaya tiket masuk, dan waktu. Beruntung sekali, puasa tahun ini mulai tanggal 18 Juni instead of 17, karena Dyah memang sedang libur dari tanggal 17, sedangkan gue sudah hampir seminggu menikmati liburan semester (YAY!). Niat awalnya, di tanggal 17 Juni, kita berdua mau berenang di Talavera, kemudian gue mendapatkan semacam kegilaan dengan mengajak Dyah main ke dufan. Berhubung kita berdua belum ada yang bisa nyetir dengan baik, maka kami putuskan untuk berkunjung dengan memanfaatkan transportasi umum dan Trans Jakarta adalah solusi dari permasalahan transportasi kami. Awalnya, kami mau menggila memanfaatkan fasilitas Go-Jek dari Cinere-Dufan, mumpung promo hanya Rp10.000,-. tapi...YA KALI DEH, kasihan abang ojeknya :(.

Back to the story, kami berdua akhirnya berangkat dari Cinere dengan kendaraan pribadi, kebetulan orang tua kami sering berangkat bersama ke kantor, jadi bisa nebeng setidaknya sampai daerah Blok M yang merupakan halte trans jakarta koridor 1 paling pertama. Dari blok M, kami menempuh perjalanan hingga halte Monumen Nasional (Monas) untuk pindah koridor Harmoni-Pulo Gadung. Tidak terlalu lama menunggu, bus trans Jakarta arah Pulo Gadung datang dan kami menikmati perjalanan dengan bus versi lama hingga halte Senen. Dari halte tersebut, kami pindah ke halte Sentral Senen yang bisa dituju dengan melalui jembatan yang ada dan tanpa harus keluar halte terlebih dahulu. Dari halte Sentral Senen, kami hanya perlu menunggu bus trans jakarta yang mengarah ke halte Ancol. Kami berangkat dari blok M jam 9 pagi dan sampai di halte Ancol sekitar pukul setengah 11. Halte Ancol tidak terlalu jauh dari tempat pembelian tiket Dunia Fantasi, kira-kira 100-150 meter. Oh ya! Begitu sampai di halte Ancol, kita akan diarahkan ke loket masuk Ancol. Berhubung sedang peak season, kami berdua kena charge Rp50.000,- untuk masuk kawasan Ancol (each: Rp25.000,-). Kirain gak bakalan kena charge karena naik trans jakarta..HUFTS.

Setelah berjalan selama kurang dari 5 menit, akhirnya kami membeli tiket Dunia Fantasi dengan harga peak season sebesar Rp 260.000,-/orang. Mahal? Tunggu dulu! Kami berdua gak beli tiket dengan harga tersebut untuk satu hari saja, tapi untuk SATU TAHUN! Yap, annual pass dufan di musim liburan ini harganya sama dengan harga kalau beli hanya untuk satu hari. Jadi kami berdua gak mau merugi hehehe. Promo tersebut hanya berlaku untuk pembelian dari tanggal 1 Juni hingga 30 Juni saja. Ketika beli tiket ini, gue sempat mengalami kepanikan. Jadi ceritanya, gue sok-sok-an mau bayar pakai debit card  BCA dengan tujuan supaya uang yang kepakai dari tabungan gak berlebihan, jadi di dompet hanya bawa uang Rp 200.000,- untuk makan dan uang pegangan aja. Saat sampai di loket pembelian tiket, ternyata BCA gak bisa digunakan! Jenis kartu yang bisa digunakan hanya yang memiliki logo VISA dan/atau MASTERCARD. Makin panik lagi karena gue lupa nge-check saldo yang ada di kartu debit cadangan, yg merupakan kartu mastercard, ada berapa. Dengan pasrah, gue menyodorkan kartu debit cadangan tersebut ke mbak penjaga loket, dan berhasil...artinya saldo gue masih mencukupi. Setelah melakukan pembayaran, kita akan memperoleh tiket kertas dengan tulisan 'ANNUAL PASS' untuk ditukarkan di arena dufan dengan kartu member. Tentunya kita berdua sangat bahagia akhirnya bisa main di dufan setelah mendapat tiket tersebut.

So excited to swing the problems away!
Taken by Dyah Ayu
We had fun! And looking for more!

Memasuki kawasan dufan, kami berdua mengikuti petunjuk arah tempat penukaran kartu annual pass yang letaknya di sebelah kiri pintu masuk. Tahap pertama yang dilakukan adalah mengambil dan mengisi formulir. Setelah selesai, kita harus mengantri untuk membuat kartu tersebut. Berhubung ngantrinya lumayan panjang, dan ternyata masih bisa melakukan penukaran hingga jam 5 sore, kami berdua mengurungkan niat untuk ikut antri buat kartu dan memutuskan untuk mengantri demi wahana yang ada. Dufan kemarin dapat dikategorikan sepi, karena gak banyak wahana yang 'memaksa' kami berdua untuk mengantri. Tujuan pertama kami adalah ontang-anting. Di kawasan tempat ontang-anting, halilintar, pontang-panting, berada, masih sangat sedikit pengunjung sehingga terasa seperti taman milik sendiri. Ontang-anting bisa dibilang wahana yang cukup ramai tapi tidak terlalu mengantri panjang. Kami berdua bahkan naik wahana ini sebanyak dua kali berturut-turut sebelum akhirnya memutuskan untuk mencoba halilintar. Sayangnya, saat itu, halilintar masih belum ada yang bermain, jadi agak malas untuk jadi orang pertama hehehe. Akhirnya kami memutuskan untuk masuk ke wahana Happy Feet yang merupakan simulator. Satu hal yang membuat gue agak amaze sama rides ini adalah kursi-nya yang benar-benar total membawa tiap pengunjung ikut dalam tiap adegan film yang ditayangkan. Kalau dibandingkan dengan 4DX di Blitz Megaplex dan Shrek Rides di USS, kursi di wahana ini lebih seru. Sayangnya, tidak didukung dengan kualitas tayangan, suara, dan effect yang baik.

RUN!

Sempat bingung untuk memutuskan wahana selanjutnya, gue dan Dyah akhirnya jalan-jalan aja sambil melihat beberapa wahana baru lainnya seperti Ice Age dan Hello Kitty. Kedua wahana baru dari dufan tersebut bentuknya indoor dan terdapat tempat makan diantara dua wahana tersebut. Oh ya, gue sendiri agak kaget karena banyak tempat makanan yang well known di dufan, seperti Yoshinoya, Okirobox, dan Hop-hop. Berhubung dua wahana terbaru itu baru bisa dimainkan setelah jam 12, kami berdua kemudian mencoba untuk mengurus pembuatan kartu annual pass lagi dan ternyata...masih ngantri panjang.
いらっしゃいませ!
Karena bingung, akhirnya Turangga Rangga atau carousel yang jadi pilihan rides kami berikutnya. Jujur, itu kali pertama buat gue menikmati wahana tersebut :p. Zona Amerika jadi tujuan kami berikutnya dan permainan yang kami nikmati adalah Kicir-kicir. Sialnya, kami berdua menduduki posisi yang salah karena posisi tersebut, ketika wahana ini berjalan, akan membuat penumpangnya harus 'bertatap muka' dengan tanah dari ketinggian tertentu. Jujur aja, gue sebenarnya penakut untuk menaiki atraksi macam ini...tapi di sisi lain, gue sangat menikmati selama mata gue tertutup hehehe. Gak kebayang kalau gue buka mata, pasti mual setengah mati. Tapi jujur, sejak 2011, kicir-kicir adalah salah satu wahana yang gue suka, selama ambil posisi duduknya tepat ya!. Dyah sebenarnya pengen ngajak gue main Hysteria...tapi anehnya, gue kok malah takut banget naik wahana ini, padahal menurutnya, hysteria gak ada apa-apanya dibandingkan dengan kicir-kicir. Berhubung masih tengah hari dan matahari lagi terik banget, akhirnya kita menunda main wahana itu. Meluncurlah kami untuk mengunjungi wahana Ice Age, tapi berhubung masih ada satu jam lagi sebelum wahana ini buka, akhirnya kita berdua berkunjung ke permainan Hello Kitty, atau lebih tepatnya semacam museum. Wahana yang satu itu sama sekali gak tepat buat kita berdua yang memang berkunjung ke dufan untuk teriak-teriak. Sambil menunggu jam 1 siang, kami berdua menyantap satu kotak okonomiyaki dari Okirobox untuk mengganjal perut sebelum (niatnya) main Ice Age. Selesai makan, ternyata...wahana Ice Age sudah dipenuhi pengunjung yang mengantri cukup panjang, akhirnya kami mengurungkan niat dan kembali mencoba mengurus annual pass kami.

Outfit: Top by H&M, Pants by XtoX, Shoes by Converse

Dalam pengurusan kartu tahunan tersebut, setelah mengisi formulir, kita akan masuk ke ruangan dengan petugas yang akan merekam sidik jadi kita dan memfoto kita. Serasa lagi buat KTP. Pembuatannya sangat singkat dan kartu juga langsung jadi. Yang bikin lama hanya mengantrinya saja. Oh ya, kekurangan dari pelayanan pembuatan kartu tersebut adalah petugas yang tidak memeriksa kembali data diri pengunjung setelah di-entry. Karena Dyah harus menahan kesal ketika nama pada kartu salah ketik...dari yang harusnya 'DYAH' menjadi 'AYAH'. Kurangnya ketelitian itu harus bisa diperbaiki biar sama-sama enak :)

Berhubung wahana Ice Age masih mengantri, kami akhirnya bermain halilintar. Sedikit pesan dari gue, please jangan over-excited dengan teriak-teriak sebelum wahananya di mulai. Gue pribadi merasa terganggu karena belum masuk jalur yang menyeramkan tapi banyak orang yang sudah teriak-teriak. Kalau pas sudah jalan keretanya, boleh lah teriak-teriak melepas ketakutan..tapi please jangan pas keretanya belum jalan. Pesan yang gue harus sampaikan kepada siapapun yang berniat main ke dufan, jangan pakai jas hujan kalau gak mau kebasahan di wahana arung jeram. Namanya juga mainan air, ya pasti basah lah! Kalau gak mau basah, gak usah main..simple bukan? Gak di Singapore, gak di Jakarta..ada aja yang pake jas hujan untuk main wahana berair. Saat gue main di wahana arung jeram, ada hal menarik yang gue temukan dan bahkan gue abadikan. Jadi, gue dan dyah naik wahana ini sampai dua kali. Yang pertama, dalam satu boat, gue bersama-sama segerombolan ibu-ibu gitu dan rasanya biasa aja: kita semua sama-sama basah. Permainan yang ke dua lebih seru. Entah karena arusnya dibuat lebih kencang dari yang pertama, yang jelas gue menikmati permainan kedua tersebut. Faktor pertama, dalam satu boat gue dan dyah bareng 5 cewek-cewek yang mungkin masih SMA dan mereka rame banget, tapi bukan rame yang mengganggu. Lebih pada ngajak rame bareng-bareng. Yang di sebelah gue berusaha untuk gak basah, tapi tetep aja kena basah. Gue basah kuyup seperti orang kecebur di kolam. Bagian terserunya adalah, lima anak itu udah hafal posisi fotografer, jadi dari jauh mereka udah teriak, 'MAS KALAU MAU AMBIL FOTO SEKARANG BURUAN! BURUAN MAS! CEPEEET!!'. Ngakak lah gue dan dyah ngeliat kelakuan mereka yang seru itu. Belum lagi, setelah gue turun dari rides dan berkunjung ke booth photo, ternya ada satu foto yang semua orang di boat berpose semua! Kelewat sadar kamera banget, hehehe. Gue seneng kalau sesama pemain bisa seseru itu. Makasih loh ya kalian, yang gue gak tau namanya!
We and those awesome strangers on a boat!
IDR 35.000 for one printed photo

Hal seru lainnya adalah ketika gue dan dyah main kora-kora. Kami berdua duduk di bagian tengah kapal, sedikit kecewa sebenarnya karena bagian itu yaaaa kurang seru. Tetapi, pemandangan kami yang bikin suasana seru karena di di sisi lain kapal, ada segerombolan laki-laki yang menggunakan monopod untuk selfie ketika permainan dimulai. Selama permainan, gue dan dyah ketawa sambil menahan rasa deg-degan karena diayun-ayun.

Menutup perjalanan di dufan, gue dan dyah kembali naik ontang-anting sambil berusaha mengeringkan tubuh. Gue yang dengan bodohnya lupa bawa celana ganti, harus bisa mengupayakan agar celana itu kering ketika gue pakai pulang. Sayangnya, bukannya tambah kering, gue malah makin kedinginan...dan ya...gue gak bawa jaket! cerdas!
See ya latter, dufan! 


Sekitar jam 5 sore, kami berdua keluar kawasan Dufan menuju halte ancol untuk naik trans jakarta. Rutenya, setelah naik di halte ancol, berhenti di halte Sentral Senen untuk pindah ke halte Senen. Berdasarkan hasil browsing, ada bus transjakarta yang langsung ke Bundaran Senayan dan ke halte Harmoni. Gue jujur berharap bisa dapat bust yg ke Bunsen, tapi karena sudah lelah menunggu, akhirnya kami naik ke arah Harmoni. Sebetulnya, untuk mempersingkat waktu, kita bisa naik bus ke arah harmoni dan turun di halte Gambir 1 dan lanjut berjalan kaki sampai halte Monas, itu kalau masih kuat jalan loh ya. Berhubung sudah lelah, yaa kami berdua pasrah sampai ke halte Harmoni untuk pindah ke koridor 1 tujuan akhir Blok M. You know what, celana gue baru benar-benar kering ketika menggu bus di halte Harmoni.

Kami berdua sampai ke Blok M pukul 7 malam dan sampai rumah masing-masing jam 9 malam. Total 5 jam kami perjalanan pulang. Untuk transportasi, kami hanya menghabiskan 7 ribu rupiah untuk transjakarta. Benar-benar jadi bocah petualang!

Kalau di tanya kapok apa gak jadi bolang ke dufan, gue akan jawab: NOPE! Bahkan gue mau lagi dan harus berangkat lebih pagi lagi biar banyak wahana!

Semoga masih ada kesempatan lagi setelah lebaran untuk main ke dufan. Sepertinya asik nih melepas penat setelah sidang penelitian etnografi di bulan Oktober nanti dengan main ke dufan, mumpung gratis hihihihi.

One of my favorite photo, taken on air!


Ini beberapa poin penting yang harus kamu perhatikan sebelum main ke dufan:

  1.  Pastikan waktu dan rute trans jakarta bagi kalian yang mau ikut nge-bolang kayak gue. Rute untuk berangkat (dari halte blok M): BLOK M - TURUN DI MONAS, PINDAH KORIDOR - NAIK TJ ARAH PULOGADUNG - TURUN DI SENEN - SENEN SENTRAL - ANCOL. Sedangkan untuk pulang (ke arah blok M): ANCOL - TURUN DI SENEN SENTRAL - SENEN, NAIK TJ ARAH HARMONI - TURUN DI HARMONI - BLOK M
  2. Jangan lupa cek harga tiket masuk di website dufan! Kalau jarang main ke dufan dan harga tiket satu hari lebih murah dari annual pass, mending beli tiket satu hari aja. Kalau kondisinya seperti gue, mending beli annual pass.
  3. Kalau memilih tiket annual pass, jangan lupa bawa ballpen atau pensil. Lebih baik urus pembuatan kartu saat jam makan siang (12.30), karena antriannya sudah lebih baik. 
  4. Untuk rides yang mulai jam 1 seperti Ice Age, lebih baik mulai antri dari jam 12 lewat supaya gak terlalu lama menunggu.
  5. Bawa pakaian ganti: baju+celana+pakaian dalam+handuk! dan bawa kantung plastik.
  6. Pastikan bawa tas yang waterproof  kalau mau main di wahana yang mengandung air (niagara dan arung jeram). 
  7. Jangan membawa jas hujan kalau tujuan pemakaiannya di wahana berair! Kalau gak mau basah, mendingan gak usah main wahana macam itu. 
  8. Dress properly! Kalau tujuan main ke dufan untuk benar-benar main, pakaian yang nyaman itu mempengaruhi kenikmatan bermain. 

Friday, April 24, 2015

Not His Story: Ojek and Taxi in One Touch!

Kemudahan teknologi makin menyentuk unsur-unsur terdekat dengan kehidupan manusia, termasuk dalam urusan transportasi. Sekitar 5 tahun terakhir, penggunaan internet untuk memesan transportasi didominasi oleh transportasi udara dan sejumlah mode transportasi yang bisa membawa kita ke lokasi yang terbilang jauh. Tapi belakangan ini, sejumlah applikasi yang dapat diakses melalui smartphone untuk memesan kendaraan atau mengecek jadwal perjalanan semakin banyak sehingga mempermudah para penggunanya. 

Hari ini, saya iseng-iseng mencoba dua aplikasi untuk memesan transportasi umum yaitu ojek dan taksi. Tujuannya sih karena saya memiliki kebutuhan untuk pergi ke suatu tempat tetapi tidak ada kendaraan pribadi yang bisa digunakan. Biasanya, saya mengandalkan telefon untuk booking taksi jika harus pergi ke lokasi yang akses transportasi umum-nya (angkot, bus, maupun kereta) terbilang cukup tricky. Bermodalkan sejumlah review pengguna applikasi transportasi terkait, saya menjajaki applikasi tersebut.

1. Bluebird Application
Si taksi biru ini sudah jadi langganan sejak lama dan saya menaruh kepercayaan pada brand ini untuk mengantarkan saya ke lokasi yang dituju. Biasanya, untuk bisa mendapatkan taksi biru ini saya memanfaatkan call center mereka atau mencari taksi yang memang sedang lewat (dan sedang kosong). Tetapi saya akui, menghubungi call center butuh upaya tersendiri terutama di jam-jam padat (berangkat dan pulang kantor) karena seringkali tidak ada tanggapan atau tidak ada pengemudi yang memberikan respon atas order. Dulu applikasi ini sempat saya download di Blackberry namun sering mengalami kegagalan, jadi saya pasrahkan saja. Jujur, saya seringkali pesimis dengan applikasi dari perusahaan Indonesia karena punya stereotype bahwa applikasi macam itu kurang canggih atau kurang ter-maintain. Tetapi pandangan itu dipecahkan hari ini!

Ceritanya saya ingin datang lebih awal ke lokasi tujuan (Jl. Kebayoran Lama Raya) karena ada wawancara program magang yang harus saya datangi tetapi saya belum dapat bayangan bagaimana perjalanan ke sana, apakah macet atau ada pengalihan jalan, dan sebagainya. Jadi saya melakukan order via applikasi di iPhone saya. Registrasi juga terbilang mudah, karena hanya perlu data diri seperti nama, nomor hp, dan email untuk kemudian memasukkan kode verifikasi yang dikirim via e-mail. Setelah itu, kita bisa menyimpan sejumlah alamat untuk lokasi pemesanan taksi. Saran saya, ada baiknya menggunakan wifi dalam menentukan lokasi penjemputan, karena biasanya lokasi akan lebih tepat. Pastikan GPS handphone dalam keadaan aktif sehingga bisa membantu mendeteksi lokasi pengguna. 

Setelah menentukan lokasi, kita bisa juga menentukan waktu penjemputan. Kebetulan saya memesan pada pukul 10.30 untuk penjemputan jam 13.50 dan setelah pemesanan, status saya in queue alias dalam proses. Baru sekitar jam 12.15 saya mendapat notifikasi tentang kode pemesanan, nomor taksi, dan nama supir taksi yang akan menjemput saja. Menarik! Dan seperti biasa, taksi biru ini selalu datang lebih awal, jadi yaaa si bapak supir terpaksa menunggu saya dandan terlebih dahulu hehehe.

Oh ya, dari hasil tanya-tanya dengan bapak supir, rupanya dia baru tahu kalau ada applikasi untuk smartphone tersebut. Ia juga menyarankan, lebih baik menggunakan applikasi atau men-stop taksi ketimbang menghubungi call center

Secara garis besar, applikasi untuk taksi ini boleh juga. Karena setelah baca beberapa review tentang sejumlah applikasi untuk order taksi, si biru ini rupanya tidak bekerja sama secara resmi dengan applikasi seperti Grab Taxi. Kalau ada taksi biru ini di grab taxi, itu berarti si supir-nya yang 'nakal'. Meskipun yaaaa kan mencari rezeki...

Saya beri 4 out of 5 untuk applikasi dan jasa taksi tersebut.

2. Go-Jek
Ceritanya, kemarin ada dua orang teman di Path yang share foto terkait dengan memanfaatkan go-jek. Yang pertama memanfaatkan fasilitas ojek ini untuk mengambil barang, sedangkan teman saya yang lain memanfaatkannya untuk membeli makanan. Karena penasaran, saya coba download applikasi Go-Jek di smartphone saya. Tahap registrasi juga mudah banget! Hanya butuh nama, nomor hp, e-mail, dan password yang akan saya gunakan. Setelah itu, kita sudah bisa login dengan e-mail dan password yang kita pilih. Nah, kemudian kita ditawarkan 4 jasa: kurir, transportasi, go-food, dan shopping. Untuk kali ini, saya mencoba jasa transportasi dari Kebayoran Lama Raya ke Jl. Sungai Sambas.

Uji coba saya untuk go-jek sebetulnya karena saya gak berhasil menemukan taksi ditambah agak malas untuk berjalan mencari, hehe. Jadi saya rasa itu waktu yang tepat untuk mencoba jasa tersebut. 

Untuk jasa transportasi, saya cukup menentukan lokasi penjemputan dan lokasi tujuan. Karena bekerja sama dengan google map, saya lebih merasa nyaman karena untuk wilayah Jakarta sendiri, google map sudah bisa diandalkan. Untuk mempermudah, dalam penentuan lokasi penjemputan, applikasi go-jek menyediakan kolom untuk menambahkan keterangan terkait lokasi. Saya manfaatkan kolom tersebut untuk memberikan deskripsi ttg saya, agar lebih mudah. Menariknya, ada estimasi waktu kedatangan si abang ojek, jadi kita bisa memperkirakan berapa lama sampai kita bisa naik ojek menuju lokasi tujuan. Tidak hanya itu, ada detail tentang pengendara motor, bahkan kita bisa menghubungi via telfon atau sms kepada pengendara tersebut. Benar-benar memudahkan saya yang suka khawatir hehehe :D. Fitur itu juga bagus untuk mengabarkan orang-orang terdekat terkait transportasi yang kita gunakan. Dalam kasus saya misalnya, saya bisa kirim nama pengendara ke orang tua untuk pegangan mereka. 

Selama perjalanan saya merasa aman karena diberikan fasilitas helm, meski tanpa masker dan penutup kepala yang katanya merupakan bagian dari fasilitas go-jek. Tapi bagi saya, helm saja cukup kok. Si abang ojek yang bernama Pak Tubagus mengendarai motor dengan baik sehingga saya gak ngeri kalau ada di jalan ramai. Pak Tubagus juga ramah dan menjawab dengan baik ketika saya menanyakan soal gojek padanyaa. 

Untuk pembayaran, saya tidak mengeluarkan uang SEPESERPUN! Kok bisa? Iya, karena saya memaskkan kode yang di bagikan oleh salah seorang pengguna go-jek di blog-nya ketika ia menuliskan review. Kode tersebut jika dimasukkan oleh orang lain, maka pemberi kode akan memperoleh saldo 50.000IDR pada 'dompet go-jek' nya ketika orang lain itu melakukan booking go-jek. Kita yang memasukkan kode tersebut juga memperoleh saldo 50.000IDR loh! Maka dari itu saya gak bayar. Perjalanan dari Kebayoran Lama-Melawai menghabiskan biaya 25.000IDR yang langsung terpotong dari saldo kita. Menarik kan?

In case ada yang membutuhkan, bisa pakai kode saya niih: 542607383 lumayan banget, kalian bisa dapet saldo 50.000 dan saya juga dapet saldo sejumlah yang sama jika kalian melakukan booking :)

Saya beri 4.5 out of 5 untuk layanan dan applikasi go-jek.


Well, semoga informasinya bermanfaat. Lumayan banget bisa booking transportasi via smartphone...hemat pulsa telfon :D

Weekly Obsession

AVENGERS AGE OF ULTRON!!

Akhirnya bisa nonton sekuel kedua dari kelompok superhero paling kece ini. Selain karena cast-nya yang memang menarik, ceritanya juga menarik karena menggambarkan banyak hal tentang apa yang ada dibalik layar, seperti gimana Korea Selatan punya teknologi yang udah bisa disetarakan dengan Amerika, lalu bagaimana manusia hidup dengan upaya untuk mencapai keinginannya tapi tanpa memikirkan apa yang mungkin terjadi di masa yang akan datang, dan sebagainya. Sangat-sangat wajib untuk ditonton! Saya sendiri siap nonton untuk kedua kalinya di studio 4DX3D hehehe :p 

Friday, April 17, 2015

Not His Story: Another Field Trip Experience

Been away for too long, huh?

Maafkan lah komitmen yang terlalu minim untuk mengisi blog ini. Belakangan memang kesibukan sebagai mahasiswa semester 6 dan kewajiban sebagai kepala divisi di himpunan mahasiswa menjadi prioritas utama dalam kehidupan gue. Bahkan, upaya untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap fit menjadi lebih merosot dibandingkan tahun lalu. No wonder berat badan saya menjadi stabil diangka 83-84......padahal ekspektasi gue adalah adanya penurunan...yaaa maksimal 80 Kg udah bagus banget lah ya. 

Sedikit bercerita tentang sejumlah pengalaman turun lapangan demi data-data berharga yang menunjang sejumlah tugas kuliah rasanya gak pernah ada salahnya. Semester ini, sudah ada dua mata kuliah yang menuntuk dilakukannya kegiatan turun lapangan a.k.a. turlap. Mata kuliah pertama adalah Antropologi Kependudukan, dimana gue dan 3 orang anggota kelompok harus mewawancarai pegawai kelurahan dan memperoleh data tentang kependudukan disana. Bersama ketiga orang partner in crime ini gue mendapat tugas (lebih tepatnya memilih) untuk datang ke Kelurahan Menteng yang letaknya (ternyata) tidak terlalu jauh dari stasiun Cikini dan tidak jauh juga dari Taman Proklamasi dan Freedom Institute yang merupakan salah satu lokasi 'bersejarah' dalam kehidupan perkuliahan gue dahulu kala. Setiap kunjungan kami bertiga selalu dihiasi dengan wisata. Pada perjalanan pertama, untuk menanyakan kebutuhan surat izin, kami sempat bermain ke Taman Proklamasi dan Freedom Institute dan mengakhiri perjalanan di J.CO stasiun Kota sambil berdiskusi. Perjalanan terakhir kami ke Kelurahan Menteng-pun nggak kalah seru karena setelah memperoleh data yang dibutuhkan, kami (akhirnya) merasakan berkeliling daerah Jakarta dengan City Tour Bus, bus dua tingkat yang tidak dipungut biaya. Rutenya adalah dari halte Juanda - Monas - Bundaran HI - Pasar Baru - Juanda. Karena merasa kurang, mengingat memang kami dikejar waktu untuk pulang ke Depok, beberapa minggu kemudian kami sengaja untuk menggunakan bus tersebut demi berkunjung ke Museum Nasional a.k.a. Museum Gajah. Sebelumnya, kami bertiga menikmati es-krim Ragusa dan asinan Juhi, one of my favorite dish
The famous Banana Split and Tutti Frutti by Ragusa Ice Cream

Me and my partner in crime, ki-ka: yuni, myself, nadya, and wulan

Too excited for Asinan Juhi! (taken by Wulan)


Perjalanan lainnya yang tak kalah seru adalah terkait dengan mata kuliah Penelitian Etnografi dan Metode Penelitian Antropologi, dimana gue dan teman-teman satu kelas akan stay in selama 14 hari di rumah warga untuk melakukan penelitian antropologi. Pada awal perkuliahan Metode Penelitian Antropologi, memang clue tentang lokasi persis penelitan masih bertebaran, sehingga gue memutuskan untuk berjalan-jalan ke kawasan Sawah Besar, dimana pada saat itu telah terjadi kebakaran. Lokasi yang rasanya kurang pas akhirnya mendorong gue dan sejumlah teman untuk main-main ke kawasan Penjaringan, Jakarta Utara. Jujur saja, saat kami kesana, tidak ada petunjuk pasti, benar-benar meraba-raba kondisi. Pada hari itu, kami akhirnya berkunjung ke kawasan Teluk Gong dan berbincang dengan salah satu penjaga warung di dekat 711. Ia bercerita tentang kondisi tempat tinggalnya yang memang rawan banjir. Secara pribadi, Teluk Gong bukanlah lokasi yang gue bayangkan. Akhirnya disusunlah rencana untuk main-main ke kawasan Muara Baru, Penjaringan. Satu hari sebelum perjalanan ke Muara Baru, gue mendapatkan informasi bahwa penelitian akan dilakukan di wilayah Marunda, tepatnya RT 001 RW 007 dekat STIP Marunda. Pada hari Selasa, minggu lalu, gue dan 12 orang teman yang akan ikut dalam penelitian yang sama berkunjung ke lokasi yang dimaksud. Berbekal informasi dari teman-teman yang sudah mengunjungi wilayah itu sehari sebelumnya, kami siap berangkat. Sangat bersyukur bahwa banyak pertolongan Tuhan buat kami semua, mulai dari cuaca yang bersahabat dan angkot yang menawarkan jasanya untuk mengantarkan kami sampai tujuan, meskipun lokasi itu diluar trayek si abang angkot. Bahkan untuk pulang pun, kami diantarkan hingga Stasiun Kota. Jujur saja, lokasi penelitian di Marunda itu kurang mampu memenuhi bayangan gue, meskipun lokasi itu memberikan rasa tenang terkait dengan tempat tinggal selama penelitian. Perjalanan menuju lokasi itu-pun bisa dikatakan menakjubkan, karena gue banyak bertemu truk-truk container yang termasuk jarang gue temui. Bagian yang menarik dari perjalanan itu adalah ketika pulang ke Stasiun Kota. Di perjalanan angkot kami 'tertabrak' oleh truk container yang hendak belok. Untungnya kami selamat dan korban yang jatuh hanya spion angkot. It was unforgettable karena pada akhirnya lokasi penelitian kami semua diganti lagi :") what a life!

Kegiatan turun lapangan itu berhasil membuat gue lupa tentang berat badan, sebuah isu yang jadi pemikiran gue belakangan ini. Keinginan untuk olah raga atau diet berkurang karena gue harus fokus dengan kehidupan akademis. Lari pagi-pun baru mulai diaktifkan kembali hari Minggu kemarin saat Car Free Day. Mungkin untuk mengurangi berat badan adalah sesuatu yang mudah dilupakan, tapi tidak dengan menjaga kesehatan tubuh. Belakangan mulai mudah sakit menjadi pertanda bahwa gue benar-benar butuh olah-raga. Sebatas jalan cepat atau lari menjadi cara yang lumayan efektif bagi gue untuk memperoleh ketenangan diri, kalau berat badan bisa berkurang itu adalah bonus. Sebagai wanita plus-size olah raga tetap dibutuhkan, setidaknya untuk alasan kesehatan pernafasan dan kelancaran aliran darah supaya kita bisa tetap berfikir dengan baik. 


Mungkin sekian dulu sepenggal kisah dari perjalanan turun lapangan yang gue lakukan beberapa waktu terakhir ini. Semoga masih ada banyak kesempatan untuk turun lapangan dan membagi cerita gue di blog ini :D 

Ps: I'll post about plus-size fashion after this!

Thursday, February 5, 2015

Not His Story: Ugh! The day-off is almost over!

Sebagian besar pelajar atau mahasiswa rasanya begitu menanti yang namanya liburan. Bahkan para pekerja-pun gak bisa lepas dari liburan. Lucunya, sejak kecil, sekolah adalah salah satu yang gue rindukan..BUKAN RINDU BELAJAR tapi lebih kepada kangen sama temen-temen yang biasa ditemui pada masa-masa sekolah. Yaaa tapi tetep aja ketika liburan mulai mendekati akhir, rasanya gak mau masuk ke masa tersebut dan kembali ke rutinitas lagi: kuliah, nugas, nongkrong, dan kurang tidur.

Gue merasa bersyukur bahwa liburan kali ini gak begitu banyak dihabiskan cuma dengan tidur. Mengingat liburan semester ini bisa dibilang liburan terakhir yang bisa bener-bener liburan (karena liburan semester depan bakalan ada penelitian buat salah satu mata kuliah yang penting di jurusan gue, dan liburan semester depannya lagi ada kemungkinan untuk mulai disibukkan oleh skripsi), jadi gue sangat sangat bersyukur dengan kesempatan berjalan-jalan dalam bentuk apapun itu. Di pertengahan Januari, gue Alhamdulillah bisa pergi ke negara lain..itung-itung menuhin passport sekaligus beribadah. Kemudian di awal Februari ini, berkesempatan buat main ke Doraemon Secret Gadget Expo di wilayah utara Jakarta dan menambah koleksi foto di laptop.

1. Trip to Saudi Arabia
Umroh...suatu kegiatan yang sebetulnya sering luput dari wishlist gue selama dunia perkuliahan. Kenapa? karena sebetulnya ada keinginan ketika bisa menghasilkan uang bulanan sendiri, gue bisa memberangkatkan orang tua gue ke Mekkah untuk beribadah (+jalan-jalan pastinya). Tapi rupanya ada rezeki berlebih yang dikasih ke orang tua gue sehingga pergi Umroh bisa dilaksanakan lebih awal. Sebetulnya gue deg-degan banget sama kegiatan ibadah yang satu ini, secara banyak cerita dari orang-orang lain mengenai Umroh yang bikin gue ngeri sendiri. Penting untuk jaga sikap, jaga omongan, jaga fikrian, dan jaga hati, katanya. Tapi yang sebetulnya bikin gue deg-degan adalah selama perjalanan Jakarta-Jeddah dan ketika pulang dari Madinah-Jakarta yang memakan hampir seharian penuh di pesawat. Kenapa? Agak parno setelah kejadian Air Asia di akhir Desember kemarin plus mengingat nyokab gue pernah mengalami turbulence yang cukup parah sampai harus transit di Singapore ketika pulang dari Dubai (saat Umroh) ke Jakarta tahun 2013 yang lalu. Saking parnonya, gue sampe berencana bawa kaca mata renang di tas dan bawa sarung hp anti air.....oke memang itu berlebihan...

Perjalanan 9 hari di Saudi Arabia itu mendorong gue untuk bisa menjaga kedua orang tua gue. No wonder gue berhasil menaikkan berat badan dari 81 jadi 83 karena terus menerus makan di sana supaya gak gampang sakit, berhubung di Mekkah anginnya kenceng banget dengan suhu 19-20 derajat Celcius dan di Madinah bisa menyentuh angka 9 derajat celcius....suhu yang sama sekali gak familiar buat gue maupun kedua orang tua gue. Alhamdulillah sampai hari terakhir, kondisi fisik gak drop...asma gak kambuh dan bisa nemenin nyokab ke Raudah setelah selama dua tahun mengidam-idamkan masuk ke kawasan itu, bisa bantu bimbing nyokab dan bokap tawaf wada' jam 3 pagi karena memang ga ada bimbingan dari pihak travel-nya. Secara garis besar, gue menyebut umroh yang gue jalani kemarin sebagai proses mendewasakan diri sendiri: belajar gak egois, belajar nahan amarah, belajar sabar, belajar menyusun strategi, dan belajar untuk memasrahkan diri.

Hidup gak jauh-jauh dari yang namanya penyesalan, kan? Setidaknya ada 3 penyesalan yang gue rasakan: Keputusan gue untuk gak bawa instax ke Arab, gak bawa sweater yang tebal, gak banyak ibadah di masjid Nabawi dengan alasan jagain bokap yang lagi sakit. Instax yang pada awalnya ada di list bawaan gue untuk umroh gue rasa gak begitu butuh. Penyesalan muncul ketika gue berkunjung ke Jabal Rahmah dan disana gue liat ada orang-orang yang jadi fotografer dengan pake instax 210 (wide) dan mematok harga 10 SR (sekitar 40.000IDR) sekali foto...MAHAL BOK!! Pengen banget punya foto instant gitu, secara itu salah satu kecanduan gue dari dulu. Nyesel fix! Penyesalan kedua itu yaaaa muncul karena gue gak ngecek suhu di Arab dengan seksama...padahal kalau bawa sweater itu..pasti anget banget :"). Penyesalan terakhir baru berasa di Jakarta sebetulnya. Gue mengunjungi Masjid Nabawi hanya sekali, padahal kunjungan ke Madinah itu sekitar 3-4 hari. Kunjungan itu gue lakukan sambil nemenin nyokab yang memang mau ke Raudah..Alhamdulillah sih bisa dapet sholat Duha, Zuhur, dan Ashar..cuma nyesel aja gak bisa ngerasain i'tikaf dan mengobservasi kehidupan di sekitar sana lebih sering.

My favorite view, ever!
Kata orang, di Tanah Haram kita bakalah 'dibayar tunai' atas doa, fikiran, keinginan, dan perbuatan. Gue merasakan itu meskipun gak se-wow beberapa cerita yang pernah gue denger sendiri. Sebelum berangkat umroh, gue sebetulnya gak punya permintaan spesifik, tapi pada hari H keberangkatan, hal-hal yang gue sukai terwujud, misalnya gue suka banget kalau di bus atau pesawat duduk di dekat kaca dan Alhamdulillah ketika perjalanan Jakarta-Dubai dan Dubai-Jeddah, gue selalu dimudahkan untuk bisa duduk di dekat kaca dan melihat kekuasaan Tuhan di langit. Selain soal duduk dekat jendela, gue memang suka kondisi suatu kota di malam hari karena banyak lampu-lampu dari gedung-gedung yang ada...eeeh Tuhan langsung mengabulkannya dengan memberi kesempatan gue sekeluarga (dan rombongan) untuk menjalankan Tawaf wajib pada jam 3 pagi, dimana Zam-zam Tower dihiasi oleh lampu-lampu yang sesuai dengan kesukaan gue. Meskipun ternyata Tawaf pertama itu dipenuhi dengan beberapa kesalahan yang gue sendiri gak menyadari HAHAHA, tapi jadi menambah ilmu soal ibadah :D

Satu hal yang membuat gue merasa kurang khusyuk: proyek perluasan kawasan Masjidil Haram yang tiada henti


Jabbal Rahmah, tempat bertemu kembali Adam dan Hawa. FYI, katanya monumen yang tinggi itu hanya setinggi kaki Nabi Adam...wew
Kawasan Masjid Nabawi. Meskipun dingin, tetap jatuh cinta dengan langit tanpa awan diatas <3
Tadi gue sempet menyinggung soal bertambahnya berat badan. Nah makanan bisa dibilang jadi my weekly obsession selama di Mekkah dan Madinah, terutama es krim. Meskipun udara dingin, es-krim gak pernah gagal menghangatkan diri gue selama di sana #tsaaah. Selain es krim, gue jatuh cinta sama just buah yang dijual di dalam zam-zam tower. Agak lebih pricey sih..tapi menurut gue mix juice-nya itu gak terlalu manis dan seger banget karena ada buah-buahannya gitu.
The best ice cream in my WHOLE life! 3SR, lokasinya di dekat hotel Saraya Ajyad, must try the mix ice cream!

Another tasty ice cream in Mecca!

Ice cream truck in Jabal Rahmah

Sedikit cerita selama wisata kuliner di Mekkah. please pay attention to the size karena ada beberapa makanan yang kita kira cukup buat satu orang ternyata bisa dihabiskan buat 3 orang. Jadi di hari terakhir sebelum berangkat ke Madinah, gue dan nyokab-bokap iseng-iseng mau cari kebab, akhirnya kita jalan ke sekitaran jalan Ajyad dan menemukan sebuah kios di tengah-tengah taman yang menjual berbagai makanan, seperti kebab, hot dog, dan kawan-kawan. Nah! Gue sebetulnya agak kaget melihat harga kebab yang sampe 15SR satu porsinya, tapi karena penasaran yaaa jadinya beli dan karena kita bertiga, akhirnya beli 3 kebab. RUPANYA kebabnya itu beda sama kebab yang ada di tataran kognisi (halah) kita bertiga...jadi sebetulnya satu kebab di kios itu bisa untuk bertiga. Kenapa? karena rupanya kebabnya itu model-model DIY gitu...jadi dalam satu kotak ada beberapa potongan daging seukuran dua jari manusia gitu ditambah kentang goreng. Kemudian akan dikasih roti yang buat wrapping-nya gitu plus mayonnaise dan saus tomat. Satu porsi itu aja bisa buat makan bertiga dan berkali-kali...alhasil kita makan 2 porsi dan satu porsi lainnya buat keluarga dari Bokap yang memang barengan kita umrohnya.

The menus on that kiosk

Percayalah, ini satu porsi
Soal size tetap harus jadi perhatian di Madinah berhubung memang food container-nya berukuran sama dengan yang di Mekkah. Favorite gue adalah nasi briyani (12SR udah dengan ayam didalam nasinya) yang dijual di sebuah counter makanan dengan Masjid Nabawi (dekat gate 11 kalau gak salah). Pedesnya pas dan  benar-benar berhasil menghangatkan tubuh! Samosa-nya (1SR each) juga mantap banget!!

Makannya komunal aja :p
Masih gak jauh-jauh soal makanan, hidangan yang di sajikan maskapai Emirates selama perjalanan pulang-pergi juga gak kalah seru! Sayangnya ketika perjalanan pulang (Madinah-Dubai), gue gak begitu menikmati sarapan karena kondisi fisik yang mulai melemah karena demam (iya..demam dan naik pesawat 10 jam..bayangin aja deh). Salah satu kesukaan gue adalah dessert yang disajikan pas makan siang di perjalanan Dubai-Jakarta...gingerbread dengan saus jeruk gitu dan cream...maknyus banget!!

Kalau kata bokap gue, perjalanan umroh kemarin itu sama aja kayak wisata kuliner-nya nana :p

2. Enjoying the wave to Doraemon's Pocket
AKHIRNYA keinginan tante gue buat berkunjung ke pameran Doraemon terwujud juga. Tante gue beberapa waktu lalu sempet mention di instagram soal pameran tersebut, bikin pengen memang berhubung museum Doraemon itu jauh di Jepang dan mahal akomodasinya, jadi kehadiran pameran ini cukup membantu. Lokasi pameran adalah di Ancol Beach City Mall, dimana lagi kalau bukan di kawasan Ancol....which is jauh dari rumah. Nah, kebetulan sepupu gue, Dyah emang ngajakin untuk mencoba (kind of) waterpark baru yang ada di Pondok Indah, dan kemudian tante gue ngajakin setelah berenang untuk ke pameran Doraemon itu. Jawaban keponakan-keponakannya? HAYUK!

Sedikit review kali yaa untuk The Wave, waterpark yang ada di kawasan Pondok Indah. Biaya masuk ketika weekdays adalah Rp 100.000 yang gue nilai agak mahal. Dengan biaya segitu kita bisa menikmati semua wahana dan gak perlu lagi bayar untuk peminjaman loker, gak seperti Waterbom Pantai Indah Kapuk. Pas dateng kesana, kolam sebesar itu berasa miliki bertiga (yang kebetulan ikut berenang hanya gue, Dyah, dan sepupu gue lainnya bernama Odi). Wahana pertama yang kita coba adalah kolam arus. Plus side dari kolam arus ini adalah arusnya berasa banget! Beberapa kolam arus yang pernah gue jajaki rasanya gak pernah seasik itu arusnya. Sisi negatifnya? ban yang digunakan punya diameter yang kecil! Gue sendiri mengalami kesulitan buat memanfaatkannya...gak plus-size-visitor friendly lah dan satu hal lagi adalah kolam arus yang kecil. Puas keliling-keliling di kolam arus, kita bertiga nyobain slide-nya yang terbuka (ada juga slide yang tertutup tapi kita bertiga gak suka karena alasan khawatir sesak nafas dan alasan khusus dari gue adalah takut nyangkut). Masalah gue di slide ini selain ukuran ban adalah ukuran slide-nya itu sendiri. Jujur aja, gue selama nyobain slide tersebut ngerasa takut kebanting dan keluar track...secara semakin besar beban jadi semakin kenceng...dan iya itu kenceng banget! Setelah dagdigdugduer main sendiri, gue nyoba bareng dyah dengan ban yang emang khusus berdua. Kemudian ketika mau memulai perjalanan, si mas-mas penjaga slide-nya bilang bahwa kita harus pegangan yang kuat karena khawatir kita bakalan kebalik (posisi ban di atas kita, instead of dibawah kita)...MAMPUS LAH! Tapi karena penasaran yaa kita coba aja dan emang bener di tengah perjalanan, kita memang hampir kebalik di slide dan alhasil berhasil kebalik ketika sampai di ujung slide. Sebagai plus-size-visitor, gak recommend buat yang bertubuh besar kecuali nekat.


Favorite gue di The Wave ya kolam ombaknya itu sendiri. Ombaknya mantap dan gak nanggung-nanggung, bener-bener berasa di pantai! Lucunya, setelah kita bertiga menikmati ombak itu selama sekitar 10-15 menit, wahana tersebut gak dinyalain lagi sampai kita bertiga pulang...kasian sama yang baru dateng :p Well, overall gue kasih nilai The Wave 5.5/10

Setelah bermain di The Wave, kita bertiga dijemput sama tante gue dan pacarnya Odi untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Ancol Beach City (ABC) Mall. Mall-nya sendiri terletak dekat Jimbaran Lounge dan dihiasi pasir putih. Bisa dibilang, ada sedikit bagian dari Bali yang pindah ke utara Jakarta. Sayangnya, pemandangan laut terutup sama masih maraknya kegiatan reklamasi...huff reklamasi aja terus deh mas mbak developer, tapi tanggung jawab kalau banjir rob ya. Sampai di ABC Mall, kita beli tiket dulu..kalau gak salah harganya Rp 65.000 untuk dewasa dan dilanjutkan dengan makan siang. Lokasi tempat makan siang kita punya akses ke pantainya jadi gak boleh lupa foto-foto pastinya!

Di exhibitionnya sendiri, gue cukup terhibur dengan banyaknya patung-patung doraemon dan lokasi buat foto-foto.
Story behind the blue cat robot




Bahkan di pameran ini tersedia photoboothnya loh! Salah satu yang gue suka adalah laci meja belajarnya Nobita.
#OOTD: H&M Mint Long Sweater, Unbranded Shirt, Unbranded Grey Legging, Pink Sandals from Payless, and F21 necklace

Serupa: Yang satu berbadan besar, yang satu berbadan kecil dan keduanya adalah partner in crime. pas!
favorite spot!
My review for this exhibition?

Buat pecinta doraemon, lumayan sih ke exhibition ini sambil nyicil nabung buat ke Jepang dan main ke museum-nya Doraemon. Dengan harga Rp 65.000 yang bisa dikategorikan agak pricey mengingat lokasi pameran yang jauh dari rumah, bisa menghibur dan nambah cerita selama liburan. Yang gue suka dari pameran ini adalah pelaksana pay attention to detail banget sama benda-benda yang ada disini. Menurut gue sih photobooth-nya bisa diperbanyak. Oh ya! Di photobooth ada juru foto-nya yang nantinya foto itu bisa dicetak dengan harga Rp 80.000, mahal memang tapi menurut gue frame yang terbuat dari kartonnya itu lucu. Kalau emang maniak sama doraemon, pastikan bawa uang lebih nih buat belanja pernak pernik doraemon (sayangnya bener-bener hanya berisi doraemon dan gadget-nya aja). Gue kasih nilai exhibition ini 7/10. 

time for WEEKLY OBSESSION!
 Tteokbokki!
Belakangan lagi pengen banget snack korea ini. Di instagram memang ada yang jual paket tteokbokki dan rappoki (tteokbokki+ramen) tapi rasanya kok mahal gitu. Kecintaan gue sama makanan korea ini berawal dari perjalanan ke Bandung saat kegiatan turun lapangan untuk tugas mata kuliah, salah satu temen gue yang emang suka banget sama Korea sengaja bikinin kita rapokki dan rasanya...BIKIN NAGIH! Akhirnya gue iseng-iseng nyari di google tentang tempat di Jakarta yang jual makanan ini. Alhamdulillah bisa nemuin Tteokbokki di Lotte Mart Ratu Plaza. Harganya Rp 27.000 satu porsi, dan itu menurut gue dikit. Plus side-nya yaaa rasanya sesuai yang gue mau: pedas! Karena merasa kurang, akhirnya gue yang instant dengan harga yang lebih gokil...Rp 33.500 di Lotte Mart. Bentuknya seperti pop mie gitu...tapi tanpa mie. Pagi ini gue bereksperimen dengan bikin rapokki sendiri menggunakan mie indomie (tanpa bumbunya) dan bakso sebagai pelengkap. Kekurangannya adalah air sehingga bumbunya gak banyak gitu dan rasanya cenderung tawar-pedas.