Skip to main content

Not His Story: PDA on Social Media

" I think people should understand that there's lot of chat platform to use when you want to have such an intimate conversation. Just saying" - My thought on Path

Sebuah status yang kemudian membuat saya terlibat dalam perdebatan kecil dengan salah seorang teman di jejaring sosial tersebut. Saya berfikir hal tersebut cukup menarik untuk saya tulis di blog ini, kebetulan juga belum ada bahasan baru kan? ;)

Status itu saya tulis karena, jujur saja, saya merasa lelah dan muak dengan berbagai status yang ditulis oleh salah satu teman saya (please note, bukan teman yang berdebat dengan saya tentang masalah ini'). Menurut saya, apa yang ia tulis harusnya tidak perlu di-publish melalui social media tersebut dan akan lebih baik jika dilakukan melalui sesuatu yang lebih private, chat platform misalnya. I've told her about this and it seems she didn't understand. Too bad, lot of people keeps talking behind her back about this. She's nice but needs someone to remind her about that. Setelah saya menulis status itu, pandangan lain datang dan cukup menarik perhatian saya.

Teman saya itu, sebut saja A, berpendapat bahwa (intinya) having an intimate conversation in social media such as path is just fine. Dia juga menambahkan bahwa kita tidak bisa memaksakan pemikiran kita kepada orang lain dan menyatakan bahwa apa yang saya tulis 100% benar dan bisa diterima siapa saja. Ia juga kembali 'mengingatkan' bahwa ada hal-hal yang tidak seharusnya kita urus, misalnya yaa soal PDA di social media, dan just ignore it. Kalau sudah merasa tergangu, the un-friend button is easy to reach. Agree? Yes, I also agree with her. 

Pertanyaan saya, bukankah kita harus mengetahui apa-apa saja yang pantas dikonsumsi umum dan mana yang dikonsumsi diri sendiri? Apa iya sesuatu yang sifatnya romantis dan di dedikasikan hanya untuk pasangan perlu di umbar-umbar ke social media? 

Saya pribadi menganggap bahwa meskipun ada ungkapan freedom of expression, sebagai individu kita tetap harus memikirkan apa yang pantas dan tidak untuk komunitas tempat kita hidup. Alasan saya mengatakan hal tersebut adalah bahwa kita gak bisa memungkiri, deskripsi atas diri kita sendiri itu dibangun berdasarkan pendapat orang lain. Memang kembali lagi, kita yang menentukan, kita yang menyaring pandangan-pandangan tersebut, tetapi tanpa orang lain, we're nothing. And other's opinion DOES MATTER! Biarpun kita orang asing yang punya perspektif berbeda dengan orang Indonesia, tapi saya percaya merekapun gak bisa menampik bahwa peran orang lain itu ada dalam menentukan diri kita sendiri. Saya rasa dari kecil, kita sudah dibiasakan untuk menentukan yang baik dan yang buruk kan? Artinya kita sebagai manusia sudah tau mana yang pantas dan tidak untuk dikonsumsi masyarakat. Filter dari diri sendiri harus bisa diaktifkan dan diaplikasikan pada kehidupan di social media. Di sisi lain, ada yang beranggapan bahwa kita punya hak untuk membagikan apa saja yang kita mau di social media dan cenderung masa bodo dengan anggapan orang. Jadi adalah hal wajar untuk mempublikasikan ungkapan cinta kita kepada orang yang kita sayangi dan jika ada yang terganggu, feel free to un-share or hit the unfollow button. 

Kemudian saya bisa mempertanyakan satu hal, 'yakin mau di un-share sama teman sendiri? apalagi kalau teman dekat?". Jika pertanyaan itu diajukan kepada saya, saya akan bilang 'saya tidak mau di un-share sama teman dekat. Kalau hanya sebatas kenal dan jarang berinteraksi, saya gak bermasalah.' Untuk saya, orang lain penting, karena saya percaya tanpa orang lain (read: teman) saya tidak bisa mendeskripsikan diri sendiri dan menjadi diri saya saat ini. A simple thing such as unfollow-ing, becomes important then. Tapi perlu digaris bawahi, jika dilakukan oleh teman dekat. 

Kadang kita sulit memisahkan diri dengan kehidupan virtual. It's a bullshit if you can live without social media or using internet. Kita jadi berbaur dengan kehidupan maya yang seakan-akan nyata dan jauh lebih menyenangkan untuk dijalani. Simple thing becomes complicated because of it. Saya berbohong jika mengatakan bahwa hidup saya sudah begitu menyatu sehingga ada blurred lines yang sering dilupakan. Anda bisa bilang saya ikut campur dalam urusan teman saya, tetapi saya akan berargumen bahwa i do it because i do care. 

Kembali pada inti dari pembahasan ini, saya menyimpulkan bahwa kita perlu mengaktifkan fungsi filter dalam diri kita, terutama di sosial media karena everyone's watching us. They will put a stamp on us and it won't gone if we can't act properly. In the other side, we should let others to do something they like and respect them. Fungsi sebagai alat penyaring juga perlu dalam menentukan, which one is your business, which one is not yours. 

Feel free to share your thought about my post. I would love to discuss it with everyone, so I can have another point of view ;) 





Popular posts from this blog

Being Plus-Size Woman: in Indonesia

Apa sih sebenarnya Plus-Size? Bertubuh besar? or else?
Berhubung di dalam blog ini gak bisa terlepaskan dari istilah 'plus-size', rasanya penting banget buat terlebih dulu tahu apa yang dimaksud dengan plus-size, atau secara lebih spesifik 'plus-size clothing'. 
Gue masih ingat kalau zaman sd (early 2000), dan bahkan sampai saat ini, wanita dengan ukuran tubuh yang lebih dari normal (not skinny, but average body size) sering disebut gendut. Gak sedikit yang menganggap kata tersebut cukup menyakitkan, bahkan buat mereka yang badannya gak tergolong gendut. Oh ya, gendut disini bisa gue kategorikan sebagai orang-orang yang menggunakan pakaian dengan size XL keatas loh ya...atau size 12 and above kalau ngikutin standart baju-baju  dari Amerika Serikat. Bagi mereka yang masih bisa pake baju ukuran L kebawah, don't you dare to call your self a fat girl! Buat mempermudah, bisa dilihat di chart yang ada dibawah:

Istilah plus-size kemudian gue gunakan untuk memperhalus apa …

Not His Story: From The Heart of Japan

Ohayou!
Maafkan minimnya komitmen saya dalam membagi cerita di halaman blog ini. Percaya-lah, semakin mendekati UAS, semakin saya malas untuk menulis di sini...karena terlalu banyak makalah yang harus dibuat demi menyelesaikan kuliah 4 tahun! 
Gak terasa hari ini adalah hari terakhir di bulan Mei..yang artinya besok sudah masuk ke tengah tahun 2015 yang baik ini. Juni selalu jadi bulan favorite gue untuk beragam hal, salah satunya adalah liburan panjang. Meskipun tahun ini, liburan panjang akan diisi dengan mempersiapkan proposal untuk Pelatihan Etnografi ke Desa Aweh, Rangkas Bitung, Banten. Well, setidaknya ada kegiatan yang jelas di liburan nanti sambil menikmati puasa Ramadhan. Wew...sebentar lagi puasa...waktunya membayar puasa yang bolong tahun lalu!

Di akhir bulan ini, gue menghabiskan waktu di sebuah mall baru dengan konsep yang rasanya belum pernah ditemukan di Indonesia. Yap! I visited AEON MALL BSD CITY sejak grand opening-nya kemarin. Kalau diminta 3 kata untuk menggambark…

Fashion Addiction: Plus-Size Clothing Shop in Indonesia

Berkaca pada sejumlah komentar yang gue peroleh di 'Being Plus-Size Woman: in Indonesia', banyak yang memberikan saran kepada gue seputar toko-toko yang menjual pakaian untuk wanita bertubuh besar. Pada tulisan gue itu, memang gue mengungkapkan salah satu kesulitan menjadi wanita plus-size di Indonesia adalah memperoleh pakaian yang tidak hanya cukup di tubuh tapi juga tetap terlihat stylist.So, i guess it's kinda important to help fellow plus-size woman in Indonesia for that problem by give you some references where to shop. Because i do believe, plus-size woman can be fashionable! Oh ya, semua toko yang gue jadikan referensi di sini belum tentu semuanya sudah gue datangi dan berbelanja di sana ya.

(ps: kalau kamu terlalu malas untuk banya postingan ini, I made a video about it on my youtube channel, check it out!)


Gue akan membagi dua kategori dalam tulisan ini, yang pertama adalah offline shop a.k.a. toko-toko fisik yang bisa kita langsung datangi untuk mencari baju ya…