Showing posts with label Her Opinion. Show all posts
Showing posts with label Her Opinion. Show all posts

Saturday, November 24, 2018

My Message to All Body-Shamers


If you don't have something nice to say, don't say anything at all - Proverb
Did you know that in Indonesia, you could go to jail by leaving criticism on someone's physical appearance on social media?

Kebebasan berpendapat menjadi alasan banyak orang mencintai media sosial. Jika sebelumnya kita hanya dapat berpendapat di forum atau platform tertentu yang terkurasi, keberadaan internet dan media sosial seolah-oleh menjadi angin segar bagi siapapun yang berusaha untuk didengar. Bisa dibilang, teknologi ini menciptakan mindset 'yang penting bicara, yang penting berpendapat' tanpa harus pusing memikirkan hal lainnya. Perasaan orang lain-pun sering menjadi korban dari kebebasan ini. 

What is Body Shaming?
Bicara tentang kebebasan di media sosial, rasanya kurang menarik kalau tidak membahas body shaming atau yang dapat diartikan sebagai criticism of someone based on the shape, size, or appearance of their body (source). Until today, I’m never experienced this case but I noticed, some of my friends, followers and some body positive activist and social media influencers that I follow on social media, experienced it quite often. Salah satu contoh adalah US plus size model,  Tess Holiday. Sebagai seorang model dan juga aktivis, she always shared every disturbing comment about her plus-size body from her followers. Salah satu yang menurut gue cukup keterlaluan adalah ketika salah satu netizen mendoakan Tess untuk 'menghilang' dari bumi karena bentuk dan ukuran tubuhnya menciptakan gagasan mengenai tubuh yang negatif untuk anak-anaknya. Beberapa influencer Indonesia juga kerap mengalami kejadian serupa. It's crazy to see how people can easily share their thought on someone's appearance without trying to find out more about them, without thinking how it feels to receive that kind of message. 

Few days ago, saat sedang asik menelusuri story dari teman-teman di media sosial, gue terhenti pada satu update yang membahas mengenai body shaming dan adanya ancaman hukum bagi yang melakukannya di media sosial. I got mixed feeling reading that update, senang karena finally korban body shaming dapat memperoleh keadilan secara hukum dan memberikan 'pelajaran' bagi mereka yang tidak menggunakan kebebasan berpendapat dengan baik. But at the same time, feeling blue realizing that we still need to learn more about respecting each other.

According to the Law
Untuk memahami dengan baik mengenai hal ini, I try to dig some details on it. Diinformasikan bahwa ancaman pidana ini muncul berdasarkan Undang-undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, lebih spesifik ada pada pasal 27 ayat (3) yang menyatakan bahwa penghinaan ataupun pencemaran nama baik merupakan hal yang terlarang untuk dilakukan. Please note, ancaman pidana tersebut tidak secara spesifik ditujukan untuk mereka yang melakukan body shaming, melainkan bagi yang melakukan penghinaan dalam bentuk apapun. Dan juga, hal ini berlaku bagi mereka yang merasa dirugikan dan membuat laporan ke pihak berwajib. Bagi yang melanggar aturan tersebut, ada hukuman yang harus dijalani, yaitu pidana penjara selama 4 tahun dan/atau denda 750juta (source)

It's crazy, right?

As I mentioned before, it's a good thing to have this rule. Artinya, pengguna media sosial yang merasa dirugikan dengan adanya komentar-komentar negatif mengenai penampilan tubuh dari pengguna lainnya dapat memperoleh perlindungan hukum sesuai aturan yang berlaku. Dan tentunya, adanya hukuman seperti pidana penjara dan denda dapat menimbulkan efek jera yang cukup keras bagi pelakunya ataupun bagi mereka yang berniat melakukan hal serupa. 

Namun di sisi lain, adanya aturan ini menyadarkan gue bahwa masih banyak pengguna media sosial yang belum bisa menghargai orang lain. Hanya karena memiliki ukuran tubuh yang berbeda dengan ekspektasi atau kepercayaan, kita dapat dengan bebas mengungkapkan pendapat kita tanpa memperhatikan perasaan orang yang menerima pendapat kita. Tidak ada salahnya untuk menyampaikan pendapat, namun penting untuk diingat bahwa kita harus tetap sopan dalam berpendapat baik di dunia nyata maupun di dunia virtual.

Be Mindful Before You Write
Just like the proverb I put on the beginning of this post, if you don't have something nice to say, then don't say anything. But if you still need to say what's on your mind, do it properly. Berdasarkan pengamatan (dan pengalaman pribadi), sering kali komentar mengenai penampilan fisik seseorang sebenarnya punya tujuan konstruktif but can be considered as shaming hanya karena pemilihan kata dan waktu yang kurang tepat. Dan mengingat sebagai manusia kita akan langsung memberikan reaksi, maka gue rasa sangat penting untuk bisa 'membungkus' feedback atau kritik dengan baik agar yang pesan yang disampaikan bisa sampai secara sempurna and give more time to the reader to understand and give response, instead of reaction.

Pemilihan kata menjadi hal yang cukup krusial dalam menyampaikan pendapat kita kepada orang lain. For example, instead of saying ‘gendut’, you can use other term such as ‘plus-size’ or ‘curvy’. Tidak hanya itu, if you’re about to criticise someone, please be specific and help them be better by providing alternative that they can. Misal, kamu ingin memberikan komentar mengenai pakaian yang terlihat tidak pantas di tubuh seseorang, instead of saying ‘jelek banget pake baju itu’ or ‘orang gemuk gak cocok pake baju kayak gitu’, you can give suggestion on what kind of clothes that will look good on them, but remember to say it on proper way (e.g. Wah saya kagum dengan kepercayaan diri kamu. Mungkin kamu dapat mencoba pakaian dengan garis vertical agar semakin menarik dan bisa menjadi inspirasi bagi mereka yang mencari cara padu-padan pakaian serupa).

Then, after you write your thought/critics/feedback about someone, re-read it! Dengarkan bagaimana tulisanmu bersuara and imagine if you receive that message from someone else. Trust your feeling! If you don’t like how it sounds, don’t send it!

In the End
Tidak ada salahnya memberikan pendapat dan it’s a good thing that you can do it. But, please be mindful when you want to share your thought, especially when it comes to someone’s physical appearance. When you can’t do it, then don’t do it! Also, remember that everyone’s beautiful on their own way, no need to force your beauty standard to someone else.
Share your thought on this and have discussion :)



Tuesday, June 19, 2018

Sending Positive Vibes through Responding to Comment


"Na, inget timbangan...nanti rusak. Jangan makan banyak-banyak!"


How's your Lebaran so far? Sudah lewat beberapa hari, tapi vibe Idul Fitri masih terasa banget hingga hari ini. Jakarta yang masih terasa super lengang dan masih banyak kosongnya tempat parkir di mall jadi indikator bahwa semangat Idul Fitri masih cukup menggema. Mungkin masih ada juga yang berkeliling ke rumah keluarga untuk saling maaf memaafkan atau sekedar berkumpul sambil nostalgia masa kecil. 

Bertemu keluarga di Hari Raya ini pastinya meninggalkan kesan tersendiri bagi kita, sebabnya? Beragam! Mulai dari kesempatan untuk catching up dengan keluarga yang tinggal berjauhan, menikmati hidangan khas lebaran yang hanya bisa dinikmati sekali setahun, memenuhi kantong dengan uang THR pemberian om dan tante (yang tak dapat lagi ku rasakan tahun ini hahaha), dan yang gak ketinggalan, kesempatan untuk menguji kesabaran saat mendengar komentar-komentar dari keluarga kita tentang kehidupan kita saat ini baik tentang karir, pendidikan, hingga yang agak sensitif seperti....bentuk dan ukuran tubuh. Yaaa sepenggal percakapan yang gue tulis di awal tulisan ini adalah contohnya.

Bagi mereka yang memiliki tubuh dengan size yang 'berbeda' dari masyarakat pada umumnya, percakapan diatas sudah sering didengar tiap tahunnya. Bahkan, tak perlu menunggu moment lebaran, dalam kehidupan sehari-hari pun, komentar-komentar tentang penampilan juga biasa kita dengar dan baca lewat media sosial, baik untuk diri kita sendiri ataupun dari pengalaman orang lain. Menghadapi kondisi seperti ini, sometimes i wish people could stop commenting about other's physical appearance and be nice both in real and virtual life. 

Agak sulit dipungkiri bahwa penampilan fisik adalah topik yang mudah untuk membuka suatu percakapan dengan orang lain. Untuk gue pribadi, don't judge book by its cover is pretty hard thing to do, karena halaman depan dari buku-lah yang paling mudah untuk dilihat dan jadi referensi awal kita untuk menilai. 

I think it's natural for human being to believe what they see first and once they want to know more, they dig deeper. The main challenge here is to keep the thought about what you've seen inside your mind  first instead of saying it out loud without having enough reference that could support your judgement. 

For me, komentar soal penampilan fisik itu bikin aura-aura buruk terasa lebih kuat dan sangat berdampak pada mood gue saat itu, apalagi kalau sudah bernada negatif. Meminta orang lain untuk berhenti membahas penampilan fisik punya tantangan tersendiri. I personally believe, you can't change the world without changing yourself first. Di saat kita tidak dapat mengubah atau menghentikan orang lain untuk berkomentar tentang penampilan fisik kita, kenapa kita tidak mencoba mengubah cara kita menanggapi komentar dari mereka?

Sunday, February 25, 2018

Plus-size Woman, Unite!

After all, you are not alone in this world.

Sudah menjadi sifat dasar manusia untuk hidup berkelompok...untuk bisa hidup bersama-sama dengan orang lain yang memiliki nilai-nilai yang sama atau sesuai dengan nilai yang kita yakini. We will do anything to be fit in, right? People that don't have similarity will be excluded and created another group with that has mutual interest and so on.

When I was younger (and before social media), it's hard to fit in. Gue pernah ada di dalam suatu peer group yang sebenarnya punya mutual interest, but I didn't feel 100% belong only because of my body. They can easily use each other clothes because they have similar body size, but I can't do that because i have bigger figure than them. When people talk about our group, I never heard my name as a person that other people perceive as beautiful because I have bigger body than the others.  I have no idea how many time boys saying that they want to be my boyfriend as long as I reduce my weight. Their words affected me and lead me to un-healthy diet only to feel belong...to be beautiful by having slimmer body. You know what? that diet didn't work and I ended up feeling sick and unhappy. I'm 100% sure, that feeling...that condition won't happened if I believe on what I believe right now: beauty can't be measured by your body size.

Gue rasa, hal ini gak hanya dialami oleh gue seorang. Ada satu (or more) orang-orang yang merasa insecure dengan tubuhnya sendiri dan end-up can't fit into a group. But before the 'social media' era, it's hard to find people with similar experience yang bisa diajak curhat or benar-benar memahami apa yang gue hadapi. 

with Ririe Bogar, initiator of Indonesia Plus Size Festival.

Di era media sosial ini, tak lagi sulit untuk menemukan orang-orang yang punya pengalaman yang sama dengan kita, punya cara pandang yang serupa dengan kita dan untuk bisa masuk ke dalam kelompok yang sesuai with our belief. Jika bicara tentang pengalaman menghadapi body image issue, rasanya event yang gue hadiri kemarin malam adalah salah satu bukti bahwa you're not alone in 'fighting' against the beauty standard. Indonesia Plus Size Festival adalah sebuah event yang didedikasikan bagi wanita bertubuh besar.....a simple event that remind everyone to celebrate their own size.....an event where woman support each other to be more confidence and loving their body. Salah satu penggagasnya adalah Ririe Bogar, an influencer and also a motivator who wrote a book called 'Cantik ejaannya bukan K.U.R.U.S.' Event-nya sendiri berlangsung pada tanggal 17 & 24 Februari dan 3 & 10 Maret di SQ Dome, Jakarta Selatan dan terdapat serangkaian kegiatan, such as fashion show, talkshow, zumba & yoga class and some performances from plus-size women. 

For me, this event is a way to celebrate our size and share the perception about your size doesnt define who you are and your beauty. Lewat fashion show misalnya, it show the audience (and soon...the world) that your body size can't stop you to be involved in fashion world...can't stop you to wear anything that you love to see on magazine and tv. Lewat kegiatan talkshow, kita berkesempatan untuk mendengar dan belajar dari pengalaman orang lain agar kita yang tadinya gak PD dengan bentuk tubuh dan merasa tidak bisa produktif karena ukuran tubuh menjadi sosok yang lebih menghargai tubuh kita dan tentunya jadi semangat untuk lebih produktif lagi. This event is something that we need, especially if you have body image issue. 

With the designer of Koozel, Diana.
Di hari kedua ini gue sempatkan untuk hadir menyaksikan fashion show dari salah satu plus-size fashion brand yang dapat dibilang cukup baru, Koozel. The designer, Diana, was very kind enough to sent me a clothes from her collection as her support for plus-size woman that believing in the same value in helping woman to be confidence with her body. I came to the event simply to say hi to her and thanking her for the clothes and the spirit that kinda inspire me to write again today. Tidak hanya itu, gue juga bertemu dengan Panda, a designer from Malang that has the same spirit with Diana and reflect it through the clothes she designed. The fact that she wants to bring the same euphoria of celebrating your size to Malang is inspiring. Tak lupa, I also met Ririe Bogar, the initiator of this event and thank her directly for the event that empower plus-size women to be confidence and feeling beautiful. It excited me to meet and have small talk with people that believing similar value with me. Because of these kind of people, woman who has self-confidence issue because of their body no longer feel lonely. 

My hope is that by having this event as annual activity, a lot of women out there doesn't have to feel lonely in 'fighting' against body image issue....a lot of girl out there can be proud of themselves no matter what size they wear....a lot of people can share body positive vibe to each other so no more bullying and no more ED issue need to be happened in Indonesia. It's time to celebrate who you really are!

and it's time for me to write more about body positive :p






Saturday, December 30, 2017

2017: 12 Months, 12 (big) Things that I'm Grateful at

"Be thankful of what you have; you will end up having more. If you concentrate on what you don't have, you will never, ever have enough" - Oprah Winfrey

Tahun 2017 akan berakhir dalam hitungan hari dan tentunya, merenungkan kehidupan kita selama kurang lebih 365 hari belakangan menjadi salah satu rutinitas yang dapat dilakukan sebagai persiapan di tahun yang baru. Melihat kembali tahun 2017, ada banyak cerita kehidupan, baik yang gue alami sendiri ataupun mendengar dari orang lain, yang memberikan kesan dan tentunya pelajaran berharga. Mulai dari pengalaman yang menggembirakan, membanggakan, menyenangkan, hingga yang menyedihkan, membuat marah dan terkesan suram berhasil menorehkan cerita dan ilmu tersendiri buat gue.

Before this year ends, I would like to share 12 things that i'm really grateful at that happened this year and share you a lil bit about the lesson i learnt.

  1. Had chance to learn from one of the biggest FMCG company in Indonesia & found out what I want for my career: As you know, I had an amazing 6 months internship on HR Department/Function in Unilever Indonesia. Setelah lulus kuliah, I thought I want to be a writer for magazine or online media. Tetapi dari pengalaman magang itulah, gue menemukan my true 'WHY' (also introduced me with Simon Sinek's Start with Why) for life and lead me to human resource (esp. on talent development) world for my career. 
  2. Hit the rock bottom to finally feel sure about the future: 2017 is definitely the rock bottom of my relationship with the man I love since 2008. We fight quite a lot in the first 6 month of 2017 but then we both realized what we really want  and create more concrete plan for our future, together.
  3. Had experienced living away from home and learned how to manage my life: Meski tidak benar-benar 'living away from home' karena masih sering dijengung oleh nyokab, but most of the time, I live alone during my internship programme. Selama ini, dari masa sekolah, gue selalu pulang-pergi dan gak pernah yang sampai nge-kos. So that moment was priceless karena gue dituntut harus bisa me-manage keuangan dengan baik, begitu juga waktu untuk kerja dan mengurus keadaan tempat tinggal.
  4. Learnt about self-control and earning someone's trust : Dari sejumlah pengalaman yang gue jalani di tahun 2017 ini, gue masih memiliki kesempatan untuk belajar tentang mengendalikan diri, mengendalikan emosi, mengendalikan ego yang selama ini terlalu bebas. 
  5. Got my first (permanent) job on my 24th birthday: This is probably the highlight of 2017. Tanggal 6 Juni 2017, gue diundang untuk interview oleh a start-up company named Kalibrr as the final process of my application to be an intern. At night, just before the day ended, i received an offering letter for a permanent position as Client Success Associate. It was the best gift I ever received and can't stop saying Alhamdulillah for that.
  6. Had chance to sharpen my saw through my current job and help more people: Bekerja di Kalibrr as Client Success Associate membuka banyak kesempatan untuk gue mengasah kemampuan gue di dunia human resource lewat day-to-day job & proyek-proyek yang ada. The best part of it, I can help more people to get the job they wanted & company to get the right people to work for them.   
  7. Got chance to read more books this year (mostly) about self-improvement & leadership: Bisa dibilang, tahun ini gue cukup aktif untuk membaca buku jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Senang rasanya bisa membeli buku-buku bagus dengan uang hasil keringat sendiri dan dapat menyelesaikan buku-buku tersebut sambil merasa inspired by the story. I've finished Game Changer at the Circus by Jean-Francois Cousin, A New Model by Ashley Graham, Start with Why by Simon Sinek, and some other books. 
  8. Finally able to buy the device that I've been wanting since junior high school: Saat SMP dulu, gue mengidam-idamkan bisa punya macbook karena di masa itu, gue lagi super seneng ngedit foto dan buat poster via photoshop and from what I heard, macbook is the device that I really need. Setelah hampir 11 tahun, I finally able to buy one!
  9. Able to conquer my fear of starting : 2011-2012 was a roller coaster for me dan menjadi salah satu periode yang mempengaruhi munculnya anxiety of starting new thing. Alhamdulillah, setelah bertahun-tahun harus merasa insecure ketika memulai hal baru, tahun ini ketakutan itu semakin berkurang. and I feel more confidence to start somethin new.
  10. Meet a lot of people and have chance to learn from them: Beside from work, gue juga berkesempatan untuk ketemu dan belajar dari beberapa inspirational person from a conference & some classes I attended this year. 
  11. Have more time to spend with people that I love in 2017: especially my mom. Mengingat lokasi kantor yang masih possible kalau gue harus pulang pergi, my mom always there to drop me to the nearest transjakarta station and I'm so happy to spend more time with her, listening to her story from work and what she experienced that day. 
  12. Still have things to be grateful at every single day: Menghabiskan 1/3 hari gue di jalanan memberikan waktu khusus untuk gue merenung dan reflect back. Knowing that I still have a lot of things to be grateful at every single day, make me feel blessed and of course, grateful. Meski di hari itu gue mengalami rough day, senang rasanya bisa merenung sejenak di perjalanan pulang dan merasa bersyukur. 

So that's all....12 things that I'm grateful at this year & also a summary of my life in 2017. For next year, I hope I can keep the positive vibe in my life by being grateful of life and share the same vibe for people around me.

Don't forget to stay positive & be grateful!




Saturday, December 9, 2017

Body Positivity: Self-love and gratitude

2018 is getting closer, and December always be the month of reflection to me. I've experienced a lot of things this year, dari yang baik...hingga yang menantang. Whatever happened, I can't stop saying Alhamdulillah, because I still have the opportunity to learn and be a better version of myself in the end of the day.

For some people, I'm a positive person...always see the bright side of every darkness...always find the reason to be grateful no matter how tough the life is. But the truth is, I'm not always that positive...I'm not always a grateful person. Selalu ada saat dimana gue melupakan prinsip gue: whatever happened, life is a bless. Time is always be the best slapper for me...mungkin butuh beberapa waktu untuk gue menyadari bahwa hal-hal yang burukpun wajib disyukuri karena menjadi kesempatan untuk selalu belajar. 

Speaking about being grateful, setiap Senin pagi, my director always ask the team to mention at least 3 things that we grateful at during the week. Sound easy right? It actually is! Rutinitas tersebut-lah yang mengilhami gue untuk kembali menulis seputar body positive saat ini (after such a looong...loong break from blogging). Why? Because 'gratitude' is the reason why i write about body positive at the beginning.


Saturday, September 16, 2017

The Way We Judge from its Cover

A picture is worth thousand words

Melihat konten visual memang lebih menarik dan simpel untuk kita pahami ketimbang membaca suatu tulisan, terutama pada generasi milenials (those who born between 1981-1998). Dalam suatu artikel yang gue baca tentang how to attract milenials, menambahkan konten visual diyakini akan efektif untuk menarik perhatian mereka. No wonder, menelusuri instagram menjadi lebih populer ketimbang membaca blog di kalangan gen Y ini (including me!).

It's true that a picture could summarize the what happened when the picture was taken/created, tetapi hanya sebatas permukaan saja. And I personally believe that to really have understanding on something, we have to go deeper. Karena lebih mudah untuk dipahami, banyak orang langsung memberikan judgment berdasarkan apa yang mereka lihat lewat visual content...not what they understand. Butuh contoh?

Have you ever seen bad comment on your favorite celebgram account? I believe that the 'haters' sent that negative comment because they only judge her/him based on the uploaded picture instead of really knowing the story. Padahal kalau dicermati, terkadang di caption foto-foto tersebut, ada penggalan cerita yang bisa menambah pengetahuan kita tentang orang tersebut dan probably, could change our perspective about them.

Gue jadi teringat cerita yang gue peroleh tahun lalu, dari salah satu selebgram bertubuh plus-size di Indonesia saat gue mengumpulkan data untuk skripsi. She told me that she got a hate message from one of her followers via snapchat. Padahal, sang selebgram dan sang follower tidak mengenal satu sama lain. I mean..how can you hate someone that you never meet or interact with? So I conclude that the hatred came from the follower's judgment upon the celebgram photo/instagram update.

It’s so interesting to see how people react after judging only from the cover nowadays, especially on social media.

Bagi gue, punya judgement terhadap seseorang atau sesuatu adalah hal yang sangat manusiawi. Tidak ada salahnya memiliki pendapat atas sesuatu yang baru kita lihat atau hanya sebatas tampak depannya saja yang kita lihat. Namun, yang bisa jadi salah adalah how we react.

Tidak pernah ada salahnya berusaha memahami apa yang kita lihat terlebih dahulu sebelum mengutarakan judgement kita ke ranah publik. Caranya bagaimana untuk memahami? As simply as adding a break between an action (in this case, what we see on social media) and a reaction (judgement, for example). Manfaatkan jeda itu untuk membaca kondisi,  berupaya menempatkan diri di posisi orang yang hendak kita berikan judgement, atau jika kembali kepada kegiatan bermedia sosial, membaca caption yang ditulis sebagai pelengkap foto yang orang tersebut unggah. Dengan begitu, kita bisa mendapatkan informasi lebih banyak (and possibly deeper) that could lead us to more effective result.

Mungkin saja, jika sang follower dari plus-size celebgram tidak lupa untuk membaca caption, membaca hashtag, membaca pola pesan yang sang celebgram coba kemukakan, ia gak akan mengirimkan hate message via social media. Instead of sharing hate, that person might get inspired and  collaborate to share same message to the world.

Jika setelah berupaya membaca cerita di balik apa yang telah dilihat kita masih merasa harus memberikan judgement/opini, that's definetely ok! Tapi gue percaya, dengan memberikan jeda untuk membaca situasi, pendapat kita bisa disampaikan dengan cara yang lebih baik dan lebih efektif....ketimbang dengan menuliskan komentar negatif di media sosial.

I know it’s really hard to not judging, tapi akan lebih baik dan lebih efektif jika kita punya pengetahuan tentang the story behind what we have seen. Untuk bisa meminimalisir, atau mungkin lebih tepatnya membuat judgement yang lebih efektif, butuh latihan dalam waktu tertentu. Percaya, kalau kita tidak pernah memulai, kita gak akan pernah tahu hasil akhirnya. 

I'm still on my way to be more effective social media user. Pernah suatu saat gue hampir saja mau langsung bereaksi instead of try to understand what i have seen. Sekitar tahun lalu, di akun salah seorang penulis/entertainer yang banyak membahas isu plus-size dari Indonesia, sang pemilik akun mengunggah sebuah video singkat yang berisikan pesan kepada wanita bertubuh besar agar tidak lebay dalam berpakaian. Jujur saja, setelah melihat video tersebut gue agak terganggu dengan cara penyampaian pesan dari sang pemilik account. Kenapa? Karena isi pesan tersebut kontradiktif dengan pesan-pesan positif yang selalu dirinya share di media sosial hampir setiap saat. Setelah melihat video, gue langsung memberikan reaksi dengan men-klik kolom komentar dan menuliskan pendapat gue yang berlandaskan satu unggahan video. But then, i took my time to think: apakah baik langsung memberikan komentar tanpa berusaha tau alasan kenapa sang pemilik akun membuat video tersebut? Mungkin saja, memang itu cara dia berbicara....mungkin saja, itu hanya bercanda. Setelah berfikir sejenak, i hit the back button and leave her page....dengan pemikiran bahwa it's not effective to be angry or saying bad words for something that i dont really understand. (Meskipun pada akhirnya ada orang yang berpendapat sama dengan gue memberikan komentar sih di unggahan tersebut :p )


Since then, I believe that by doing this, our life will be more useful...lebih berfaedah....dan menjadi lebih bahagia. Nilai tambahnya lagi, dengan mulai memahami apa yang kita lihat di media sosial, kita juga berkontribusi pada kebahagiaan orang lain. No more hate is very possible if we can control ourself in judging others.


Sunday, January 8, 2017

Being a Plus-Size Women: Romusa isn't Trending Anymore!

Pernah dengar istilah 'romusa'?

Kalau kalian jawab 'kerja paksa di zaman penjajahan Jepang', well great! Karena kalian masih ingat pelajaran sejarah. Tapi Romusa yg gue maksud bukan itu.

Istilah Romusa yang gue acu kali ini muncul dari cerita salah satu dosen gue yang mengunjungi salah satu daerah di Papua. Salah seorang penduduk lokal yang berinteraksi dengan dosen gue menyebutkan istilah tersebut setelah seakan-akan melihat kebingungan di wajah dosen gue karena penduduk di tanah Papua punya wajah yang mirip-mirip. Romusa yang dimaksud adalah adalah kependekan dari 'Rombongan Muka Sama'.

Istilah itu selalu gue ingat karena berkesan banget! Dan setelah dipikirkan lagi, even di Jakarta yang  orang-orangnya sudah lebih diverse, Romusa masih bisa kita temukan loh!

Dimana?

Coba saat kalian bermain ke pusat perbelanjaan di Jakarta (atau kota-kota besar lainnya) perhatikan para wanita muda yang ada di sana dan coba cari sejumlah persamaannya. Selama ini gue melihat bahwa sebagian besar wanita muda di mall punya penampilan yang serupa: rambut panjang dan ikal di bagian bawah, wearing make up, pakai baju yang modelnya serupa, dan punya cara jalan yang mirip-mirip. Atau yang paling mudah, coba kunjungi akun-akun yang menampilkan cewek-cewek yang dinilai cantik dari suatu Universitas, most of them have similar characteristics, baik dari cara foto maupun dari penampilannya.

Buat gue, itulah Romusa di Jakarta.

There's a possibility serupanya penampilan para wanita muda di Jakarta disebabkan oleh adanya stereotype tentang 'wanita cantik'. Dalam berbagai kesempatan, para pria yang gue kenal punya preferensi untuk menyebut wanita yang punya tubuh langsing, rambut panjang, dan kulit putih (atau mungkin lebih tepatnya terawat kali yaa) sebagai sosok makhluk yang cantik. Karena stereotype itulah banyak wanita yang kita lihat di mall atau media sosial punya gaya yang serupa....agar bisa masuk atau memenuhi pandangan masyarakat tentang 'cantik'.

nothing wrong about it. Sudah hakikat dasar manusia untuk menyesuaikan diri, baik dari segi fisik maupun lainnya, agar dapat masuk dan diterima dalam suatu kelompok masyarakat. Simply because nobody wants to end up alone, right?! Nah, tapi jangan sampai kita lupa bahwa 'cantik itu relatif'!

Setiap individu punya pandangan tersendiri tentang kecantikan: ada yang punya preferensi wanita berkulit sawo matang-lah yang menarik, ada juga yang lebih suka wanita dengan tubuh berisi, atau ada juga yang lebih suka wanita yang terkesan tomboy...mungkin pandangan itu kalah populer dengan apa yang kita sering dengar tentang karakteristik wanita cantik, tapi percayalah....'cantik' itu sifatnya benar-benar relatif, tergantung preferensi masing-masing orang.

Mempercayai bahwa 'cantik itu relatif' adalah hal yang penting....penting untuk menumbuhkan rasa percaya diri kita agar be ourselves instead of someone else. Jangan langsung minder ketika kita tidak memiliki tubuh layaknya Kendall Jenner atau Gigi Hadid yang kini menjadi referensi untuk 'wanita cantik', simply because we're not them and they are not us!

Seperti yang sering gue singgung di blog ini, menjadi percaya diri atau nyaman menjadi diri sendiri adalah hal paling utama untuk bisa bertahan di masyarakat yang serba melihat penampilan fisik. Rasa PD itu nantinya akan terpancar dari diri kita dan jadi magnet tersendiri bagi orang-orang untuk menjadi teman atau mungkin pasangan hidup kita di masa depan. Bahkan, dengan memiliki penampilan yang berbeda dari stereotype 'wanita cantik' dapat membantu kita mengetahui mana orang-orang yang tulus berteman dengan kita dan mana yang berteman hanya karena penampilan fisik saja loooh :p

Im writing this just to remind you this: semua wanita itu cantik, dan your life is worth more than what society think about 'being beautiful'. It's time to embrace your own definition of 'beautiful' and show it to the world!

So, masih mau jadi Romusa atau be your own kind of beautiful? ;)

Wednesday, November 2, 2016

Being a Plus-Size Women: Tips Berpakaian untuk Wanita bertubuh Besar


Wanita bertubuh besar gak bisa tampil stylish? Siapa bilang?!

Kalau kalian sudah membaca tulisan gue "Recommended by Her: 9 Stylish Instagram Account for Plus-Size", pasti bisa melihat bahwa sudah banyak wanita bertubuh besar yang gak kalah stylish sama mereka yang bertubuh langsing. Tapi memang, tidak bisa dipungkiri bahwa dalam hal berpakaian, wanita (dan pria) bertubuh besar kerap mengalami kesulitan, baik kesulitan untuk mengumpulkan rasa percaya diri maupun mencari ukuran pakaian yang sesuai dengan tubuh.

Sebagai wanita yang masuk dalam golongan bertubuh besar (i'm 84 KG at this moment and always wear size 16 to 18 or XXL), gue mengalami kesulitan-kesulitan tersebut. Ketika berkunjung ke toko pakaian, ada model baju yang saya suka karena sedang 'in' tapi ya masalahnya cuman satu: ketersediaan ukuran buat saya. Giliran ada pakaian yang ukurannya pas, modelnya yang terlalu tua atau biasa aja. Gak enak juga ya punya badan besar :(

Keberadaan sejumlah online store yang menjual pakaian berukuran besar dan kemunculan sejumlah plus-size fashion bloggers and instagrammers adalah anugrah serta jawaban bagi gue dalam hal berpakaian. Gue banyak mendapat inspirasi gaya berpakaian yang tetap terlihat keren meskipun digunakan oleh sosok bertubuh besar ini. Selain dari para plus-size fashion bloggers and instagrammers, gue juga cukup termotivasi untuk lebih pd lewat sejumlah akun yang mempromosikan body positive.

Gue juga memperoleh rasa PD dari feedback orang lain, baik yang dikenal in real life maupun di dunia online. Dari feedback mereka, gue seakan-akan memperoleh support dari mereka. Di sini gue sadar bahwa memang sudah kewajiban bagi para wanita untuk saling support satu sama lain. Kemunculan akun-akun body positive juga sebenarnya bentuk support yang berarti banget bagi para wanita (dan pria) yang merasa 'malu' dengan ukuran tubuhnya yang cenderung besar.

Gue bukan ahli  fashion, tapi berdasarkan pengalaman gue pribadi, ada beberapa hal yang rasanya penting untuk dipahami dan diyakini para wanita bertubuh besar yang masih suka gak PD kalau berpakaian.

1. Don't be afraid to try. Karena dengan mencoba, kita jadi tau do and don't versi kita sendiri. Misalnya aja nih, dari pengalaman gue, baju dengan garis horizontal tuh gak cocok untuk badan besar seperti gue. Tapi karena gue keburu naksir sama satu baju dengan garis horizontal, gue coba aja dulu. Pas dipakai, terlihat fine-fine aja. Jadi apa yang dinilai sebagai don't bagi orang lain, belum tentu berlaku juga buat kita.
2. Utamakan rasa nyaman. Mau pakai baju apapun kalau bikin risih, pastinya ganggu juga kan? Gue pribadi mengutamakan nyaman dalam berpakaian. Nah supaya gak stuck di satu gaya berpakaian, trial dan error itu bisa bantu kita buat meningkatkan level nyaman dalam menggunakan suatu outfit.
3. Ask (and give) for feedback. Meski berpotensi bikin kita insecure, bahkan jadi gak PD, minta pendapat orang lain itu bisa bantu kita terhindar dari berpakaian yang berlebihan. Tau sendiri doong di Indonesia ada banyak banget batasan yang muncul dari nilai dan norma yang ada di Masyarakat. Butuh waktu untuk membiasakan masyarakat di sekitar kita untuk melihat sesuatu yang berbeda. Ada baiknya kita gak cuman take advice or feedback aja, tapi juga gantian memberi feedback kepada orang lain yang punya isu serupa. Kan memang sudah seharusnya para wanita saling support, right? Oh ya, pastikan penyampaiannya yang tepat yaaa jangan sampai dirasa seakan-akan men-judge orang lain.
4. Be yourself. Kita emang diciptakan dan ditakdirkan berbeda dengan orang lain. Boleh saja terinspirasi oleh gaya orang lain, tapi tetap sesuaikan dengan diri kita sendiri karena pakaian yang kita pakai itu 'meneriakkan' diri kita kepada orang lain.

In case you need some inspirations in dressing up, kalian bisa follow akun-akun yang gue rekomendasikan di postingan sebelumnya dan juga check my Pinterest board here.






what I wear
Army Parka by LifeFlowerShop (instagram)
Unbranded Sleveless Shirt
Jegging by Dauky
Blue Sneakers by American Eagles by Payless

Thursday, April 28, 2016

Being Plus-Size Woman: Body Positive

Maafkan saya yang sudah lama tak mengisi blog ini dengan sesuatu yang bisa dibaca (dan dikomentari) :p. The thesis totally takes my focus away from blogging lately, since it's my number one priority. Percaya lah, setiap kali mendapat ide untuk nge-blog, laptop sudah keburu ditutup dan rasa ngantuk sudah menghadang. Please forgive me :D

Anyway, semenjak handphone gue mengalami kerusakan yang cukup mengganggu, salah satu topik yang cukup bisa mengisi hari-hari adalah berbagai kampanye yang menjunjung 'body positive'. Mungkin alasan utamanya adalah karena skripsi gue 'nyerempet' hal tersebut, jadi yaa no wonder kerjaan gue bolak-balik memperhatikan akun-akun Instagram yang berupaya mempromosikan gagasan tersebut lewat foto-foto OOTD.

Body positive sebenarnya adalah suatu nama kampanye yang kurang lebih berupaya untuk mengingatkan masyarakat untuk bisa menerima kondisi fisiknya agar tetap bisa produktif dalam kehidupan sehari-hari. Yang gue pahami adalah, segala bentuk kampanye body positive yang marak di internet belakangan ini tujuannya ya...agar setiap individu bisa menghargai tubuhnya dan supaya nantinya masyarakat bisa lebih menghargai tubuh orang lain yang berbeda dengan dirinya. Kampanye tipe ini cukup marak di Amerika mengingat banyaknya kasus obesitas yang terjadi di sana. Lewat kampanye tersebut, tentunya diharapkan kasus obesitas bisa berkurang karena setiap individu menghargai tubuhnya lewat menjaga kesehatan serta tidak menjadikan kondisi tubuh  sebagai penghalang untuk bisa aktif dalam kehidupan sehari-hari. Kampanye-kampanye terkait body positive banyak banget bentuknya, mulai dari yang mengingatkan untuk memulai gaya hidup sehat, sampai yang mencoba mengedukasi masyarakat untuk gak men-judge orang-orang dengan tubuh berbeda berdasarkan standard kecantikan yang ada.

Salah satu kampanye yang gue ketahui adalah Eff Your Beauty Standards (@effyourbeautystandards). Menurut interpretasi gue, kampanye tersebut bertujuan untuk mengingatkan para pengikutnya agar mencintai tubuh sendiri dan embracing their difference. Cara yang ditunjukkan oleh para followers-nya beragam, mulai dari mengunggah foto-foto menjaga gaya hidup meskipun bertubuh besar, ada juga yang mengekspresikan diri lewat dunia fashion untuk menunjukkan bahwa yang utama adalah rasa percaya diri. Di Indonesia sendiri, beberapa pergerakan yang terkait dengan body image (yang gue pernah lihat di media sosial) kurang lebih punya tujuan serupa seperti apa yang dikampanyekan Eff Your Beauty Standards.

Pada awalnya, gue melihat kampanye-kampanye seperti itu didedikasikan untuk para plus-size people saja. Bagaimana tidak, di akun @effyourbeautystandars, memang lebih cenderung mengunggah fotoo orang-orang dengan tubuh besar, jadi yaa gue awalnya berfikir bahwa kampanye body positive itu memang didedikasikan buat orang-orang bertubuh besar. To be honest, apa yang disampaikan melalui akun tersebut bisa dibilang sangat menginspirasi gue pribadi. Gue jadi lebih percaya diri, terutama dalam hal berpakaian. Awalnya dulu gue merasa fashion is only for ideal-body-type-kinda-girl and definitely not me. Tetapi kemudian pandangan gue berubah dan yaaa gue jadi sering juga mengunggah foto OOTD untuk menunjukkan bahwa gue juga bisa berpakaian kekinian hehe :p

Setelah kurang lebih satu tahun mengikuti akun tersebut, gue tersadar akan satu hal: body positive is for everyone, no matter what size you are!. Akun-akun pergerakan body positive sebenarnya bisa berlaku untuk semua bentuk dan ukuran tubuh, tidak secara ekslusif untuk mereka yang bertubuh besar saja. Siapapun, gue rasa, wajib untuk mencintai tubuhnya sendiri agar bisa menikmati kehidupan dan memunculkan rasa nyaman dalam berbagai hal, termasuk dalam hal berinteraksi dengan orang lain. Lewat mencintai diri sendiri, gue melihat adanya harapan dari berbagai pihak agar tidak terjadi berbagai tindakan menyakiti diri, for example is eating disorder or suicide. Kalau dipikir-pikir, sebagian pengidap eating disorder memulai kebiasaan buruknya itu dari perasaan insecure akan tubuhnya, kemungkinan besar dipengaruhi oleh orang-orang di sekitar mereka.

As plus-size woman, kondisi insecure akibat masyarakat juga gue alami. Tidak sedikit orang yang, dengan berbagai alasan, seperti 'menyindir' gue, misalnya dengan mengatakan 'duh kamu badannya makin gede aja'. Di momen yang kurang tepat, kata-kata tersebut bikin emosi dan gak jarang membuat down juga sebetulnya. Peer pressure juga gue rasakan,  misalnya dulu sebelum punya pacar, gak sedikit yang bilang 'na, coba lo kurusan deh, pasti gue mau sama lo'. Yaaa jaman-jaman SMP-SMA kan ada aja ya tekanan untuk punya status 'pacaran', dan perkataan itu tentunya bikin gue insecure dan pengen melakukan apapun untuk bisa mewujudkannya. I did diet when I was in high school. Tapi pada akhirnya gue menderita sakit maag untuk pertama kali dan rasa sakitnya itu sangat-sangat tidak menyenangkan! Then I decided to choose me instead of their words.

Kasus-kasus serupa juga sering gue dengar dari beberapa teman. Yaaa saat ini sih mereka berhasil bertubuh 'ideal' meskipun harus terus menerus jatuh sakit akibat terlalu memaksakan diri untuk bisa 'kurus'. Gue melihat bahwa hal-hal yang sempat dialami gue dan beberapa teman yang melakukan diet tapi kurang memperhatikan kesehatan yang sebenarnya berupaya dicegah oleh kampanye-kampanye body positive itu.

Oh ya, as i told ya before, body positive campaign ini berlaku untuk semua bentuk dan ukuran tubuh. Orang-orang dengan tubuh kurus/langsing-pun juga sering menghadapi rasa insecure dengan tubuhnya sendiri. Sering dong kita denger ada yang menyebut mereka 'cungkring', 'ceking', dan sebagainya. Nah kampanye-kampanye body positive yang marak itu bertujuan untuk mengingatkan bahwa you are worth it! Selain itu, mengingatkan juga bahwa your body doesn't actually define you. 

Orang bertubuh besar gak selalu berarti gak menjaga kesehatan, orang bertubuh kurus/langsung juga gak selalu berarti mereka sehat. Kalau sudah pernah baca tulisan gue sebelumnya di blog ini, para plus-size fashion influencers do work out loh! Mereka juga menjaga makan untuk kesehatan mereka. Gak percaya? coba aja follow snapchat Tess Holiday atau Ashley Graham sebagai bukti bahwa orang bertubuh besar do care with their health

Dua malam yang lalu, sebelum tidur, gue meluangkan waktu untuk menjelajahi timeline Line. Ada satu postingan yang diunggah oleh Line (not so) Official Account bernama DraftSMS yang menarik perhatian gue. Oh ya, FYI, OA DraftSMS itu bentuknya seperti program-program radio yang titip pesan gitu, dan menurut gue menarik untuk diikuti. Dalam postingan tersebut, sang pemberi pesan (sebut saja si mbak A) menyampaikan pesan untuk teman-temannya yang rupanya kerap menyindir si mbak akibat ukuran tubuhnya. Hal yang menarik gue temukan pada bagian komen dari postingan tersebut. Ada seseorang yang mengatakan bahwa si mbak A sebenarnya punya dua pilihan: ngurusin badan atau berhenti untuk 'baper'. Well, to be honest I disagree with both option, but I don't want to discuss why. Yang mau gue bahas adalah pertanyaan yang muncul setelah baca komentar tersebut, 'apa iya orang bertubuh besar harus mengurangi berat badan untuk bisa berteman?' dan 'sedangkal itukah alasan untuk memperoleh teman banyak?'

Gue pribadi berpendapat bahwa untuk punya banyak teman, hal pertama yang penting adalah  kita merasa nyaman akan diri kita sendiri. I do believe, by feeling good we can actually be a good person. Kalau kita nyaman akan tubuh kita sendiri, bisa disimpulkan bahwa kita juga sudah menerima diri kita sendiri dan nantinya orang-orang juga akan merasa nyaman dengan diri kita. Hal tersebut yang diupayakan oleh sejumlah kampanye body positive, semua berawal dari diri kita untuk kemudian bisa mengubah pandangan orang lain. kalaupun pandangan orang lain tidak dapat diubah, setidaknya membuka jalan untuk toleransi.

Yang ingin gue sampaikan di sini adalah bahwa menerima diri kita sendiri adalah kunci utama untuk bisa bertahan di masyarakat yang punya pandangan beragam terkait dengan body image. Dengan tidak menjadikan tubuh sebagai penghalang, semua orang bisa melakukan apapun yang disukai ataupun diinginkan. Be body positive, you'll find your own definition of happiness ;)