Skip to main content

Not His Story: Time to Admit and Stop Blaming

Tidak sedikit dari kita yang terus berusaha memberikan yang terbaik...bagi diri kita sendiri atau bahkan untuk orang lain yang kita ingin bahagiakan...teman, pacar, orang tua, bos, atau sekedar orang-orang yang kita inginkan untuk melihat diri kita 'lebih' dari apa yang ada. Siapa yang tidak mau dipandang berharga, special, istimewa oleh orang lain yang berinteraksi dengan kita? Untuk mewujudkannya, kita melakukan berbagai kegiatan yang dapat mendekatkan diri kita pada goal tersebut. Merupakan hal yang pasti dalam proses meraih tujuan, kita akan di hadapkan pada kondisi yang tidak terduga dan dapat membawa kita kepada kegagalan, atau setidaknya menghambat waktu yang kita telah targetkan untuk meraih goal. Jika hambatan tersebut berhasil dilalui dan kita dapat mencapai goal yang telah dirancang sebelumnya, pastinya kita akan mengakui bahwa hambatan tersebut hanyalah pemanis dalam proses mencapai tujuan akhir. Lalu, bagaimana jika hambatan itu mengantar kita pada kegagalan 100%?

Jawabannya adalah: Akui!

Sebagian dari kita pasti akan dengan cepat mengakui bahwa kegagalan tersebut adalah hasil akhir dari kesalahan pribadi. Namun tak lama dari itu, kita akan segera mencari faktor-faktor pendukung lainnya. Alasannya, kita tidak mau menjadi salah seorang diri...harus ada faktor lain yang menyebabkan kita melakukan kesalahan tersebut.

Coba di renungkan lain kalimat terakhir yang saya tulis....

Kalau kalimat tersebut membuat kalian mengangguk, well...we're in the same way! Saya pribadi mengakui sering kali berupaya mencari faktor-faktor lain penyebab kegagalan, bahkan cenderung berkali-kali menyalahkan orang lain, secara langsung maupun tidak. Kemudian saya menganggap hal tersebut cukup lumrah di masyarakat, siapa yang mau hidup sendiri? Siapa yang mau disalahkan sendirian? Kalau bukan menyalahkan orang lain, seringkali kita menyalahkan situasi. Hal tersebut tidak hanya saya alami sendiri, berbagai cerita dari orang-orang terdekat memberanikan saya memberikan kesimpulan tersebut. 

Jika kita sudah berani mengakui, tahap kedua yang harus dilakukan adalah Stop Blaming!

Baik itu menyalahkan orang lain, kondisi, atau bahkan diri sendiri. Alasannya sederhana, dengan menyalahkan tidak akan memberikan 'kelonggaran' atas kesalahan atau kegagalan yang telah kita alami. 

Lalu, apa yang harus kita lakukan?

Mengakui kesalahan/kekalahan/kegagalan adalah awal yang baik untuk memperbaiki diri. Salah jika orang menganggap pengakuan tersebut adalah bentuk kelemahan. Kita terlalu sering terbawa kepercayaan bahwa mengakui kesalahan/kegagalan adalah pertanda bahwa diri kita lemah. Kalaupun memang itu adanya, lalu apa yang salah dengan menjadi lemah? Orang terkuat di dunia pun pasti memiliki masa-masa menjadi lemah dan itu adalah satu paket yang tidak bisa dipisahkan (setiap paradoks di dunia ada untuk saling melengkapi, bukan?). Setelah mengakui kekalahan, berhentilah menyalahkan apapun dan siapapun, karena memang tidak ada yang salah. Ingatkan diri kita bahwa kegagalan/kesalahan adalah awal yang baik untuk memulai kembali dan memperbaiki diri. Percayalah bahwa setiap orang, bahkan idola kita, pernah melakukan kesalahan untuk sampai di titik kesuksesannya dan mereka dapat berhasil karena menjadikan kegagalan yang mereka alami sebagai jalan untuk meraih kesuksesan yang mereka miliki saat ini. 

Jika mengalami kesulitan untuk move on dari kegagalan yang telah terjadi, do simple thing seperti menuliskan kata-kata yang dapat mengingatkan kita untuk maju meninggalkan kesalahan tersebut. Put it on the place that you can see every time. Selama memiliki keinginan untuk berubah, sekecil apapun itu, pasti akan berbuah manis jika dilakukan. 

Semoga tulisan singkat ini bisa jadi pengingat sekaligus penyemangat buat pembacanya :) and also as my own reminder :)

Popular posts from this blog

Being Plus-Size Woman: in Indonesia

Apa sih sebenarnya Plus-Size? Bertubuh besar? or else?
Berhubung di dalam blog ini gak bisa terlepaskan dari istilah 'plus-size', rasanya penting banget buat terlebih dulu tahu apa yang dimaksud dengan plus-size, atau secara lebih spesifik 'plus-size clothing'. 
Gue masih ingat kalau zaman sd (early 2000), dan bahkan sampai saat ini, wanita dengan ukuran tubuh yang lebih dari normal (not skinny, but average body size) sering disebut gendut. Gak sedikit yang menganggap kata tersebut cukup menyakitkan, bahkan buat mereka yang badannya gak tergolong gendut. Oh ya, gendut disini bisa gue kategorikan sebagai orang-orang yang menggunakan pakaian dengan size XL keatas loh ya...atau size 12 and above kalau ngikutin standart baju-baju  dari Amerika Serikat. Bagi mereka yang masih bisa pake baju ukuran L kebawah, don't you dare to call your self a fat girl! Buat mempermudah, bisa dilihat di chart yang ada dibawah:

Istilah plus-size kemudian gue gunakan untuk memperhalus apa …

Not His Story: From The Heart of Japan

Ohayou!
Maafkan minimnya komitmen saya dalam membagi cerita di halaman blog ini. Percaya-lah, semakin mendekati UAS, semakin saya malas untuk menulis di sini...karena terlalu banyak makalah yang harus dibuat demi menyelesaikan kuliah 4 tahun! 
Gak terasa hari ini adalah hari terakhir di bulan Mei..yang artinya besok sudah masuk ke tengah tahun 2015 yang baik ini. Juni selalu jadi bulan favorite gue untuk beragam hal, salah satunya adalah liburan panjang. Meskipun tahun ini, liburan panjang akan diisi dengan mempersiapkan proposal untuk Pelatihan Etnografi ke Desa Aweh, Rangkas Bitung, Banten. Well, setidaknya ada kegiatan yang jelas di liburan nanti sambil menikmati puasa Ramadhan. Wew...sebentar lagi puasa...waktunya membayar puasa yang bolong tahun lalu!

Di akhir bulan ini, gue menghabiskan waktu di sebuah mall baru dengan konsep yang rasanya belum pernah ditemukan di Indonesia. Yap! I visited AEON MALL BSD CITY sejak grand opening-nya kemarin. Kalau diminta 3 kata untuk menggambark…

Fashion Addiction: Plus-Size Clothing Shop in Indonesia

Berkaca pada sejumlah komentar yang gue peroleh di 'Being Plus-Size Woman: in Indonesia', banyak yang memberikan saran kepada gue seputar toko-toko yang menjual pakaian untuk wanita bertubuh besar. Pada tulisan gue itu, memang gue mengungkapkan salah satu kesulitan menjadi wanita plus-size di Indonesia adalah memperoleh pakaian yang tidak hanya cukup di tubuh tapi juga tetap terlihat stylist.So, i guess it's kinda important to help fellow plus-size woman in Indonesia for that problem by give you some references where to shop. Because i do believe, plus-size woman can be fashionable! Oh ya, semua toko yang gue jadikan referensi di sini belum tentu semuanya sudah gue datangi dan berbelanja di sana ya.

(ps: kalau kamu terlalu malas untuk banya postingan ini, I made a video about it on my youtube channel, check it out!)


Gue akan membagi dua kategori dalam tulisan ini, yang pertama adalah offline shop a.k.a. toko-toko fisik yang bisa kita langsung datangi untuk mencari baju ya…