Skip to main content

Not His Story: Spending Summer in Yogyakarta

Finally, something great to blog about!

Setelah empat hari (plus dua hari) tidak menginjakkan kaki di rumah, akhirnya saya bisa kembali di hadapan laptop dan kembali menulis lagi. Now, I'm gonna tell you about my great journey for the last 4 days in Yogyakarta. It was really great and unforgettable. Bahkan saya dan kedua sepupu saya, yang bersama-sama ke Yogya kemarin, berencana untuk kembali berpetualang dengan yang lain...probably next year, Aamiin.

H-2 & H-1
Berhubung di hari Selasa malam saya harus kembali melakukan observasi untuk project yang sedang saya kerjakan, maka saya memutuskan untuk menginap dari hari Selasa hingga hari sebelum keberangkatan ke Yogya, yaitu hari Kamis pagi, di rumah kakek-nenek saya di kawasan Kebayoran Baru. Di hari selasa malam, saya dan kedua sepupu saya, Marsha dan Dio pergi ke salah satu mall di kawasan Jakarta Selatan. Sambil melakukan observasi, saya menghabiskan waktu dengan kedua sepupu saya itu yang untuk 2.5 tahun belakangan tinggal di negeri orang, Cina untuk lebih tepatnya. Saya menemani mereka untuk menikmati Yoshinoya yang kalau di Cina, menggunakan daging babi sehingga mereka tidak bisa menikmatinya. Setelah itu kamu menikmati desert di Magnum Cafe dan kemudian pulang.

Hari rabu pagi, sahur pertama saya tanpa orang tua di tahun ini. Saya menghabiskan sahur hari itu dengan kedua adik sepupu saya dan tante saya (their mom, obviously). Setelah sahur, saya kembali tidur dan bangun cukup siang untuk kemudian merapikan koper yang akan dibawa ke Yogyakarta esok harinya. 

DAY 01, Jakarta-Yogyakarta
We're taking the very first flight, 05.50 AM using Air Asia.

Bangun harus jam setengah 3 untuk mandi (it was FREEZING and yes, I washed my hair) dan sahur. Saya dan Marsha berangkat dari bilangan Kebayoran Baru sekitar pukul 03.45 oleh sepupu saya lainnya, Priska. Sempat khawatir akan terlambat dan gak sempat sholat subuh, tapi Alhamdulillah waktu masih cukup panjang untuk check in, drop barang di bagasi pesawat, dan sholat. Sekitar 05.50 kami take off dengan harapan sampai di Yogya satu jam setelahnya. Ternyata, kami sampai agak lebih cepat. Pengambilan koper dari bagasi pun cukup cepat. 

Berhubung ini adalah perjalanan saya pertama kali tanpa orang tua, jadi sempat agak khawatir karena saya juga harus menjada kedua adik sepupu saya tersebut. Awalnya saya berfikir untuk menuju hotel dengan taksi. Maka dari itu, kami berusaha mengunjungi booth dengan tulisan TAXI. Memang ada antrian di depan booth tersebut sehingga saya dan kedua sepupu saya 'tergoda' untuk menggunakan jasa angkutan yang menawarkan bebas antri. Dari bandara menuju POP! Hotel di jl. A.M. Sangaji kami kena charge sebesar 100.000IDR. Agak shock sebenarnya karena berdasarkan google map, jarang bandara ke hotel tidak sampai 1 jam. Tapi karena kami agak jet lag, kami bayar saja. Agak rugi sebetulnya, tetapi dengan kendaraan itu kami merasa lebih nyaman. Mobil yang kami gunakan adalah avanza sehingga luas, tidak seperti taxi pada umumnya yang cenderung lebih kecil. Saya tidak mau rugi, maka sebelum menuju hotel, saya meminta pak supir untuk melewati kawasan UGM untuk survey lokasi ujian Marsha di hari ke tiga kunjungan kami ke Yogyakarta. Sangat bersyukur karena pak supir bernama Karyono memang tahu lokasi dan banyak bercerita pada kami. Yaaa 100.000IDR sudah dengan pengalaman orang lain yang cukup menari..buat saya pribadi, ruginya hanya di materi saja. 

Sesampainya kami di POP!Hotel, masih terlalu pagi untuk check ini (jam 09.00, yes it is soo early). Akhirnya kami memutuskan untuk berjalan kaki hingga Malioboro. Kami mengalami salah jalan sebetulnya...kami mengikuti arah mobil karena takut untuk menyebrang. Jadi yang seharusnya jalan lurus saja dari hotel, kami malah berjalan memutar. Karena bingung dan masih mengantuk, kami berhenti di KFC Malioboro. Untungnya Priska memang sedang tidak berpuasa, jadi ada waktu untuk rehat sejenak berhubung belum dapat kamar hehehe :p. Di KFC, kami bergosip ria sambil menikmati sejuknya ruangan hehehehe. Satu jam setelah itu, kira-kira, kami memutuskan untuk mengunjungi Keraton Yogyakarta yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kawasan Malioboro. Kami memutuskan untuk naik becak kesana dan menghabiskan 30.000IDR untuk dua becak.Di kawasan keraton, biaya yang harus dikeluarkan adalah 5000IDR/orang+1000IDR untuk biaya izin foto di kawasan tersebut. Kami memutuskan untuk tidak menggunakan guide, selain memang menghemat pengeluaran, kami memang hanya ingin menghabiskan waktu saja disana. Like most girls in my city, selfie is important and also taking pictures to be uploaded to any social media is also important for us. Jadi, dengan monopod (or 'tongsis') kami berfoto bersama-sama. Lucunya, banyak wisatawan asing yang terlihat heran dengan apa yang kami lakukan. Yaaa lumayan lah ya, pahala membuat orang lain tertawa, LOL. Sambil melihat-lihat, kami mampir ke sebuah (well, let me call it) museum yang berisikan peralatan keramik dan perak milik keluarga kerajaan. Seorang penjaga (i guess he's an 'Abdi Dalem', forgot to ask actually) memberikan penjelasan pada kami. Kemudian ia 'membaca' diri kami melalui tanggal lain (or Primbon). Dari hasil membaca tanggal lahir saya itu, ia mengatakan bahwa saya orang yang sedang-sedang saja dari segi kemampuan belajar, mengingat orang tua saya adalah dua orang yang pintar. Ia juga mengatakan bahwa saya dan saudara saya terbilang akrab ( and I Do agree with this!). Yang serunya lagi, ia mengetahui nama kota asal dari keluarga besar saya. 

"Kamu orang Jakarta ya?"
"hmm iya..campuran sih pak sebetulnya"
"hmmmm dari Mojo...."
"lah....iya Mojokerto"
"iya saya lihat kamu ada keturunan dari Mojokerto dan Magelang"

Sedikit kaget sekaligus bingung, kenapa ada Magelang..sedangkan sepengetahuan saya, Magelang bukanlah nama kota yang relevan dengan  kehidupan saya. Ternyata, ketika saya ceritakan hal tersebut pada orang tua saya, kakek dari sisi Ibu memang ada keturunan Magelang....jeng jeng...

Malioboro to The Palace using Becak 

The Gate of The Palace in double vision

Setelah puas mengelilingi Kraton, kami naik becak menuju hotel karena jam sudah menunjukkan pukul 11.00. Kami memutuskan untuk kembali ke hotel dengan harapan sudah bisa check in. Dari keraton menuju Hotel, kami menghabiskan 70.000IDR untuk dua becak (sebetulnya bisa lebih murah kalau jago nawar, ini juga sudah ditawar harganya). Saya sih merasa gak begitu rugi mengingat memang si tukang becak mengajak saya berkeliling meskipun gak saya minta. Alhamdulillah ketika sampai hotel jam 11.30, kami sudah bisa check in dan menikmati kamar hotel tersebut. Awalnya saya khawatir kamar kami akan terasa sangat kecil. Tapi ternyata tidak! Kasur kami cukup untuk 3 orang dan bahkan bisa ditambah 1 orang yang bisa tidur di sofanya. Ada selimut bersih yang dapat digunakan untuk orang yang tidur di sofa. Memang, tidur di sofa kurang nyaman, mengingat ukurannya memang lebih kecil. Untuk bantal, bagi orang ke-tiga yang menginap di hotel (jika ingin) harus membayar 50.000/malam. Yaaa karena saya rasa gak worth it, akhirnya saya menggunakan selimut tambahan dan selimut yang saya bawa dari Jakarta sebagai bantal. Lumayan bikin hangat badan karena AC di kamar cukup dingin, belum lagi di malam pertama menginap saya memang tidur dengan menggunakan tanktop dan celana pendek, hehehe. Oh ya, kami menghabiskan 864.000IDR untuk 3 malam+30000IDR untuk deposit hotel card. Pemesanan kami lakukan secara online melalui booking.com. Di kamar hotel POP!Hotel, tersedia handuk, sabun & shampoo, air panas untuk mandi (dan di wastafel), dan selimut tambahan seperti yang sudah saya infokan sebelumnya. Kamar mandi tidak terlalu kecil bagi saya, tapi memang sulit meletakkan baju tapi cukup untuk meletakkan handuk kok. Hotel ini, dari segi kamar dan pelayanan, saya beri skor 8/10. 

Sesampainya di kamar 251, kami langsung merapikan barang-barang dan terlelap. Terbangun ketika menjelang waktu berbuka, kami langsung menuju lantai satu untuk membeli minuman hangat dari vending machine. Di POP!Hotel Yogyakarta ini ada dua vending machine, yang pertama dari Coca Cola yang isinya minuman bersoda dan minuman dari pabrik tersebut. Satunya lagi adalah untuk minuman hangat seperti kopi dan susu. Harganya 10.000IDR untuk masing-masing minuman. Untuk vending machine dari Coca Cola, kita harus membeli voucher sehargan 10.000IDR di resepsionis. Saya sendiri memutuskan untuk membeli hot milo untuk berbuka. ternyata oh ternyata.....POP!Hotel menyediakan ta'jil berupa teh hangat dan kue-kue. Another 'zonk' moment for that day....Usai menikmati minuman hangat untuk berbuka, kami kembali ke kamar hotel untuk bersiap ke Malioboro. Kali ini kami tidak jalan kaki seperti di pagi hari, kami memutuskan untuk naik becak yang memang sudah ada di depan hotel. Layanan ini memudahkan kami yang ingin berjalan-jalan dengan kendaraan roda tiga tersebut, terutama karena sudah ada price list untuk lokasi-lokasi wisata. Mereka juga bersedia menunggu loh! Untuk kunjungan kami ke Malioboro di malam itu, menghabiskan 60.000IDR PP untuk dua becak. Kami mengunjungi Mall Malioboro untuk makan di food point (lantai 3). Saya dan Marsha membeli gudeg dan Priska membeli bebek peking untuk makan malam. Total dengan minum, kami menghabiskan sekitar 90.000IDR-an. Setelah makan, kami sempat bergosip terlebih dahulu sebelum ke kawasan perbelanjaan di Malioboro dan kembali ke hotel dengan becak yang sama. Kami upayakan tidur lebih awal karena keesokan harinya, kami berencana untuk berjalan-jalan ke pantai. Tapi alhasil, kami baru tidur jam 12 malam karena sudah tidur 5 jam di siang hari.
Ini dia price list becak di POP Hotel Tugu

My dinner @ Malioboro Mall




DAY 02: All about summer!
Sahur di POP!Hotel Tugu, free untuk tiap penghuni kamar (for 3 person, max).

Hari kedua adalah hari yang paling saya nantikan, karena kami akan menjadi wisatawan yang sesungguhnya dengan mengunjungi beberapa tempat yang dapat dikatakan, recommended. Three of us love the beach, so we decided to visit the famous Indrayanti Beach. Sebelumnya, sekedar informasi, di hari kedua ini kami menyewa mobil. Biaya yang kami habiskan adalah 600.000IDR untuk penyewaan mobil+supir+bbm dengan pemakaian maksimal 12 jam (08.00-20.00). Saya menyewa mobil milik keluarga pacar saya yang memang kebetulan memiliki usaha penginapan dan rental mobil. Tapi tentunya saya gak menyinggung hal tersebut saat memesan mobil, hehehe. Saya dibantu oleh ibu Sri yang memang mengelola penyewaan mobil tersebut dan selama perjalanan, kami bertiga diantar oleh pak Ngantino. Bagi yang ingin menyewa mobil, bisa menghubungi ibu Sri (08122783008),  by phone atau sms akan disambut ramah oleh ibu Sri hehehe. Sepintas biaya 600.000IDR itu memang terkesan mahal, tapi bagi kami bertiga dapat dikategorikan worth it karena memang perjalanan dari kota Yogya ke kawasan pantai Indrayanti itu memakan waktu 2 jam dan dengan jalan yang sangat menantang. Belum lagi pak supir yang ramah dan tahu lokasi..dijamin cucok sama harganya :p





Setelah sahur, kami mencoba tidur. Tapi karena terlalu excited dengan kunjungan kami ke pantai, maka tidurnya pun yaaa alakadarnya saja. Jam 07.45 kami sudah siap dan hanya tinggal menunggu jemputan saja. Pak Ngantino kemudian menghubungi saya dan rupanya ia sudah siap di lobby hotel. Mobil yang kami gunakan adalah new avanza, jadi cukup luas untuk kami bertiga. Perjalanan ke kawasan pantai Indrayanti sendiri cukup lama, karena posisinya di luar kota Yogyakarta. Jalanannya pun berliku-liku karena harus melewati kawasan Gunung Kidul untuk mencapai pantai. Nah, Pantai Indrayanti ini sendiri letaknya berdekatan dengan beberapa pantai selatan yang terkenal lainnya, seperti Pantai Baron, Krakal, Kukup, Drini, dan Pantai Sepanjang. Untuk masuk ke kawasan pantai ini, kita hanya perlu membayar 10.000IDR/orang. Oh ya, pastikan jumlah tiket sesuai dengan yang dipesan yaa karena ketika kami kemarin kesana, kurang satu tiket tapi bayar dengan sesuai pesanan kami. Dari pintu gerbang kawasan pantai, mungkin ada sekitar 2.5 KM sebelum sampai ke Pantai Indrayanti. Sesampainya disana...saya tidak bisa berkata-kata...IT WAS STUNNING! PERFECT! and definitely, BREATH TAKING! Beruntung sekali kami datang di saat yang sepi, mengingat memang kunjungan kami tidak bertepatan dengan liburan sekolah, dan memang sedang berpuasa juga. Kami merasa seperti ada di pantai kami sendiri..semuanya indah dan seperti the real summer. Pantai Indrayanti ini sendiri letaknya di pantai selatan, sehingga ombaknya memang sangat besar, harus hati-hati. Kami menghabiskan sekitar 2 jam di pantai ini, taking selfie dan menikmati keindahan ciptaan Tuhan. Untungnya Priska memang sedang tidak berpuasa, sehingga dengan membeli es teh manis seharga 5000IDR (porsinya besar kok!), kami bisa duduk-duduk di tempat yang disediakan (Indrayanti sebetulnya nama penginapan&restauran). Meski panas, kami sangat-sangat menikmati keindahan pantai ini.




Mengingat kami berkunjung di hari Jum'at, maka kami harus pergi lebih awal agar pak supir bisa menunaikan ibadah sholat Jum'at yang dilaksanakan di kawasan Pantai Krakal, 1 KM dari pantai Indrayanti. Pantai Krakal pun juga sepi...hanya ada kami yang menunggu pak Ngantino sholat. Jama'ah nya pun terbilang sedikit dan didominasi oleh penduduk sekitar saja. Sambil menunggu, kami membersihkan alas kaki kami yang dipenuhi pasir. Setelah itu, saya dan Marsha menuju ke masjid untuk sholat dzuhur.



Perjalanan kami lanjutkan dengan mengunjungi Candi Prambanan. Saya dari kecil menyukai kawasan candi ini, mungkin karena tidak membuat lelah seperti Candi Borobudur. Belum lagi, saya selalu mendapatkan foto-foto yang bagus sekali dari lokasi tersebut, jadi saya gak akan bosan kesini hehehe. Selama perjalanan, saya sangat sangat mengantuk, Marsha berhasil tertidur, Priska berhasil mual berkali-kali dan membeli obat anti mabuk perjalanan sebanyak 2x. Setelah sekitar 2 jam perjalanan, kami akhirnya sampai di kawasan Candi Prambanan. Untuk masuk kekawasan ini, biaya yang harus dikeluarkan cukup mahal. 5000IDR untuk parkir dan 30.000IDR/orang untuk biaya masuk ke Prambanan. Kami juga diwajibkan memakai semacam kain yang dilingkarkan di pinggang (tanpa biaya tambahan kok) ketika akan masuk ke kawasan utama candi Prambanan. Kondisi candi ini sudah lebih tertata rapi dibandingkan kunjungan terakhir saya di 2009. Foto-foto merupakan agenda utama. Langit yang cerah membuat pemandangan menjadi indah, belum lagi banyaknya wisatawan asing di sana..dijamin betah. Karena kami bertiga sudah lelah, jadi kami hanya menghabiskan waktu saja di sana. Di dekat bangunan utama, tepatnya dekat pintu pengembalian kain, terdapat semacam taman bermain. Lagi-lagi kami bergosip sambil bermain ayunan...feels so good! Karena sudah lelah, kami akhirnya memutuskan untuk ikut kereta yang membawa kami berkeliling sebelum menuju pintu keluar utama. Biaya yang dikeluarkan adalah 7.500IDR/orang. Penunjuk jalan di kawasan perbelanjaan Candi Prambanan yang jelas memberikan kelegaan tersendiri bagi saya, karena saya sudah terlalu lelah untuk diajak berputar-putar sambil menolak siapapun yang menawarkan produk-produk dagangannya.




Love the flare!

No Filter Needed, obviously!


Enjoying the heritage and the sun

Dari Candi Prambanan, kami meluncur ke Monumen Jogja Kembali, butuh sektar 45 menit untuk sampai di sana. Sebetulnya yang kami incar adalah Taman Pelangi, dimana di kawasan Monumen Jogja Kembali, diletakkan berbagai bentuk lampion. Taman Pelangi buka pukul 17.00 dan biaya yang harus dikeluarkan adalah 15.000IDR/orang. Karena kami terlalu pagi, jadi keindahan yang ditawarkan tidak dapat kami nikmati. Ketika adzan maghrib, kami langsung meluncur ke rumah makan Bakmi Kadin. Awalnya kami berencana membawa ke hotel makanan tersebut karena takut lokasi rumah makan akan dipadati pengunjung. Ternyata, Bakmi Kadin sedang sepi, maka kami memutuskan makan di tempat. Kami hanya menghabiskan sekitar 60.000IDR-an bertiga. Harga satu porsi bakmi godog/goreng adalah 17.000IDR.
Taman Pelangi

Bakmi Kadin, Godok (Kuah) for 17.000IDR/plate

Kami pun setelah kenyang, kami meluncur kembali ke hotel dan beristirahat karena keesokan hari, harus mengantarkan Marsha ke UGM untuk test IUP.

DAY 03: UGM and Malioboro
Sahur ke dua: Nasi Ayam Bumbu Bali + Tahu Goreng + Sayur Singkong, nyum!

Hari ini adalah hari utama dari seluruh kegiatan kami di Yogyakarta, menemani Marsha untuk test IUP yang lokasinya adalah di Fakultas Kehutanan. Marsha sendiri mengambil jurusan International Relations. Kami berangkat sekitar jam 06.45 dengan menggunakan taxi dan menghabiskan 20.000IDR dari POP! Hotel ke UGM. Oh ya, agak berbeda loh sistem pemesanan taxi di Yogya dengan yang ada di Jakarta. Seluruh taxi di Yogya sudah terdaftar di Pemerintah Daerah, jadi intinya sih semua dalam koordinasi dinas pemerintahan. Nah, kalau di Jakarta, kita pesan taxi dan kemudian akan di carikan oleh pusat, taxi mana yang mau dan dekat dengan lokasi kita dan kalau sedang tidak ada, kita diminta menunggu atau setidaknya kita bisa booking taxi terlebih dahulu. Kalau di Yogyakarta, kalau tidak ada taxi di wilayah kita, maka yaaa artinya kita tidak dapat taxi dan tidak bisa menunggu. Ada jam-jam tertentu apabila kita mau booking taxi, misalnya sebelum jam 6 pagi.

Sesampainya di UGM, saya dan Priska menunggu sampai Marsha masuk ke ruangan dan kemudian kembali ke hotel sambil menunggu Marsha yang selesai sekitar pukul 3 sore. Berhubung ketika di UGM kami tidak mendapatkan taxi, akhirnya kami berdua memutuskan untuk naik becak. Nah, ini bagian yang jadi suatu pelajaran untuk saya...

Tukang becak ini bukan orang Yogya asli, ia dari Surabaya. Ketika saya tanya berapa tarif dari UGM ke hotel, ia berkata,

"maaf, bukannya apa-apa, saya terima saja berapa yang dikasih nanti kalau misalnya kurang, akan saya kasih tau"

Ucapan tukan becak itu berhasil membuat kami berdua bingung...secara jarak, tidak terlalu jauh sebetulnya. Namun jalanan memang agak menanjak dan tentunya butuh usaha lebih karena yang naik becaknya adalah dua orang dengan ukuran plus (i'm bigger than Priska, but still...).Sepanjang jalan, seperti tukang becak pada umumnya, ia menawarkan kami untuk mengunjungi sentra bakpia. Ia mengatakan bahwa jika ia berhasil membawa satu orang pelanggan ke sentra bakpia, ia akan memperoleh beras sebagai tanda terima kasih dari pemilik lokasi tersebut. Namun karena niat kami mencari bakpia adalah esok hari, maka kami harus tega mengatakan tidak. Sepanjang perjalanan, tukang becak tersebut juga menceritakan kehidupan dia...dimana istrinya sudah tidak lagi bekerja sebagai pembantu rumah tangga karena sempat jatuh dari tangga sebelumnya sedangkan ia masih harus menghidupi dua orang anak yang masih bersekolah. Rasa iba pun muncul, sehingga kami memberikan 50.000IDR kepadanya yang sebetulnya sih terlalu mahal. Ya harapan kami berdua, semoga uang itu bisa dimanfaatkan dengan benar sama si bapak...semoga saja.

Sekitar pukul 11.00, Marsha memberi tahu bahwa salah satu rangkaian ujian dilaksanakan di tempat yang terpisah. Akhirnya sekitar jam 1 kami menaiki taxi menuju ke UGM untuk menemani Marsha dan mengantarkannya ke gedung FISIPOL yang sebetulnya tidak terlalu jauh dari Fakultas Kehutanan. Taxi yang kami gunakan, kami minta menunggu karena memang agak sulit mendapatkan transportasi di kawasan tersebut. Kami menghabiskan 112.000IDR untuk PP POP!Hotel-UGM dan ditambah menunggu sekitar 1.5 jam. Sehabis dari UGM, kami menuju Bakpia Merlino yang cabangnya terletak tidak jauh dari hotel kami, Jl. Pakuningratan no. 55 untuk membeli Bakpia Green Tea yang juga sedang hip itu.
Satu kotak bakpia green tea harganya 32.000IDR-an

Ukurannya lebih mini, jadi enak untuk langsung di hap!


Usai melaksanakan tujuan utama kami di Yogya, kami bersiap untuk berbuka dan berbelanja di Malioboro. Secara spontan, kami memutuskan untuk makan malam di House of Raminten yang memang sedang hits itu. Dengan becak dari POP! Hotel (mereka menunggu loh, gak hanya di drop) kami menuju lokasi. Oh ya, becak dari hotel kami 'booking' dengan harga 80.000IDR untuk dua becak (hotel-ramiten-malioboro-hotel).

Sesampainya di Raminten, kami harus menunggu tempat yang kosong. Tidak terlalu lama untuk menunggu, hanya butuh sekitar 10 menit sampai nama kami di panggil oleh staff restoran. Kami bertiga agak kaget mellihat harga makanan yang....murah meriah! Saya memesan Nasi Goreng Ampela Ati seharga 12.000IDR dan teh hangat seharga 3000IDR. Yang membuat restoran ini terkenal adalah gelas untuk minuman susu, yaitu berbentuk seperti payudara. Lucu dan menjadi trademark dari tempat ini. Makanan kesukaan saya, so far di restoran ini adalah Tempe Mendoang...enaknya juara! Berbeda dengan tempe mendoan pada umumnya, ketebalan tempe di sini agak besar. Harganya 7000IDR/porsi (isi 3 pcs).
This dessert taste really good

the famous cup!

my order, taste great!
Langsung setelah selesai makan dan ngobrol, kami bertiga langsung menuju ke Malioboro untuk berbelanja oleh-oleh. Saya sendiri membeli 1 atasan khas Jawa untuk teman yang memang nitip, 2 kaos oblong (masing-masing 30.000IDR), 5 gelang kayu warna warni (10.0000IDR for 5), 5 gantungan kunci (10.000IDR for 5), dan daster untuk ibu saya. Kami berjalan-jalan hingga pukul 10 malam dan kemudian kembali ke hotel dan siap-siap packing karena besok *hiks* hari terakhir kami di Yogyakarta.

DAY 04: We're going home
We woke up at 5.50 AM...kami lupa bangun untuk sahur! Ini adalah pertama kalinya dalam hidup saya, tidak sahur di bulan Ramadhan dan tetap berpuasa. Alhamdulillah bisa kuat sampai Maghrib meskipun sering hilang ingatan alias gak konses hehehe. Jam 08.30 kami menuju ke sentra gudeg dan bakpia dengan becak dari hotel, kali ini kami menggunakan tarif keliling (100.000IDR untuk dua becak) supaya lebih hemat. Kami berbelanja bakpia di Bakpia 99 dan berbelanja gudeg di Jl. Wijilan, tepatnya di Gudeg Ibu Widodo. Harga bakpia di Bakpia 99 relatif lebih murah dari yang ada di Merlino, ukurannya juga lebih besar. Saya membeli bakpia keju kesukaan saja dan keripik paru&belut titipan ibu saja. Untuk gudeg di Gudeg Ibu Widodo, ada paket-paket yang bisa dipilih. Saya memesan paket seharga 45.000IDR dengan isi gudeg, paha atas  1 potong (sizenya besar kok, cukup untuk sekali makan keluarga berisi 3 orang), 2 telur, dan sambal krecek (my favorite!). Priska kali ini belanja paling banyak...ia membeli 5 paket gudeg! Alhasil ia jadi bingung sendiri bagaimana membawa gudeg-gudeg tersebut ke pesawat hehehe. Tak lupa kami berfoto di depan jalan Malioboro sebagai kenang-kenangan


Kami check out pukul 11.15 dan langsung menuju ke bandara. Kami menunggu sekitar 2 jam sebelum akhirnya bisa drop bagasi dan masuk ruang tunggu. Sekitar pukul 16.00, kami naik pesawat dan meninggalkan Yogyakarta tapi tetap membawa berbagai cerita menarik ke Jakarta.

Senang rasanya bisa pergi berlibur. Ini adalah pengalaman pertama saya berlibur tanpa orang tua dan semuanya diatur sendiri. Biasanya kalau tidak ada orang tua, saya berpergian dengan teman-teman sekolah dengan jadwal yang sudah diatur oleh pihak sekolah. Pengalaman ini memberikan rasa percaya diri untuk berwisata sendiri. Melatih disiplin, management waktu dan uang, dan lebih bersyukur dengan apa yang kita miliki. Saya belum kapok untuk travelling tanpa orang tua...semoga saja tahun depan saya dan sepupu-sepupu bisa terbang ke suatu tempat bersama-sama dan menikmati hari-hari serta memperoleh pengalaman baru. Semoga beberapa info yang saya sampaikan bisa bermanfaat :)

Have a great summer, people!

Popular posts from this blog

Being Plus-Size Woman: in Indonesia

Apa sih sebenarnya Plus-Size? Bertubuh besar? or else?
Berhubung di dalam blog ini gak bisa terlepaskan dari istilah 'plus-size', rasanya penting banget buat terlebih dulu tahu apa yang dimaksud dengan plus-size, atau secara lebih spesifik 'plus-size clothing'. 
Gue masih ingat kalau zaman sd (early 2000), dan bahkan sampai saat ini, wanita dengan ukuran tubuh yang lebih dari normal (not skinny, but average body size) sering disebut gendut. Gak sedikit yang menganggap kata tersebut cukup menyakitkan, bahkan buat mereka yang badannya gak tergolong gendut. Oh ya, gendut disini bisa gue kategorikan sebagai orang-orang yang menggunakan pakaian dengan size XL keatas loh ya...atau size 12 and above kalau ngikutin standart baju-baju  dari Amerika Serikat. Bagi mereka yang masih bisa pake baju ukuran L kebawah, don't you dare to call your self a fat girl! Buat mempermudah, bisa dilihat di chart yang ada dibawah:

Istilah plus-size kemudian gue gunakan untuk memperhalus apa …

Not His Story: From The Heart of Japan

Ohayou!
Maafkan minimnya komitmen saya dalam membagi cerita di halaman blog ini. Percaya-lah, semakin mendekati UAS, semakin saya malas untuk menulis di sini...karena terlalu banyak makalah yang harus dibuat demi menyelesaikan kuliah 4 tahun! 
Gak terasa hari ini adalah hari terakhir di bulan Mei..yang artinya besok sudah masuk ke tengah tahun 2015 yang baik ini. Juni selalu jadi bulan favorite gue untuk beragam hal, salah satunya adalah liburan panjang. Meskipun tahun ini, liburan panjang akan diisi dengan mempersiapkan proposal untuk Pelatihan Etnografi ke Desa Aweh, Rangkas Bitung, Banten. Well, setidaknya ada kegiatan yang jelas di liburan nanti sambil menikmati puasa Ramadhan. Wew...sebentar lagi puasa...waktunya membayar puasa yang bolong tahun lalu!

Di akhir bulan ini, gue menghabiskan waktu di sebuah mall baru dengan konsep yang rasanya belum pernah ditemukan di Indonesia. Yap! I visited AEON MALL BSD CITY sejak grand opening-nya kemarin. Kalau diminta 3 kata untuk menggambark…

Fashion Addiction: Plus-Size Clothing Shop in Indonesia

Berkaca pada sejumlah komentar yang gue peroleh di 'Being Plus-Size Woman: in Indonesia', banyak yang memberikan saran kepada gue seputar toko-toko yang menjual pakaian untuk wanita bertubuh besar. Pada tulisan gue itu, memang gue mengungkapkan salah satu kesulitan menjadi wanita plus-size di Indonesia adalah memperoleh pakaian yang tidak hanya cukup di tubuh tapi juga tetap terlihat stylist.So, i guess it's kinda important to help fellow plus-size woman in Indonesia for that problem by give you some references where to shop. Because i do believe, plus-size woman can be fashionable! Oh ya, semua toko yang gue jadikan referensi di sini belum tentu semuanya sudah gue datangi dan berbelanja di sana ya.

(ps: kalau kamu terlalu malas untuk banya postingan ini, I made a video about it on my youtube channel, check it out!)


Gue akan membagi dua kategori dalam tulisan ini, yang pertama adalah offline shop a.k.a. toko-toko fisik yang bisa kita langsung datangi untuk mencari baju ya…