Skip to main content

Being Plus-Size Woman: Body Positive

Maafkan saya yang sudah lama tak mengisi blog ini dengan sesuatu yang bisa dibaca (dan dikomentari) :p. The thesis totally takes my focus away from blogging lately, since it's my number one priority. Percaya lah, setiap kali mendapat ide untuk nge-blog, laptop sudah keburu ditutup dan rasa ngantuk sudah menghadang. Please forgive me :D

Anyway, semenjak handphone gue mengalami kerusakan yang cukup mengganggu, salah satu topik yang cukup bisa mengisi hari-hari adalah berbagai kampanye yang menjunjung 'body positive'. Mungkin alasan utamanya adalah karena skripsi gue 'nyerempet' hal tersebut, jadi yaa no wonder kerjaan gue bolak-balik memperhatikan akun-akun Instagram yang berupaya mempromosikan gagasan tersebut lewat foto-foto OOTD.

Body positive sebenarnya adalah suatu nama kampanye yang kurang lebih berupaya untuk mengingatkan masyarakat untuk bisa menerima kondisi fisiknya agar tetap bisa produktif dalam kehidupan sehari-hari. Yang gue pahami adalah, segala bentuk kampanye body positive yang marak di internet belakangan ini tujuannya ya...agar setiap individu bisa menghargai tubuhnya dan supaya nantinya masyarakat bisa lebih menghargai tubuh orang lain yang berbeda dengan dirinya. Kampanye tipe ini cukup marak di Amerika mengingat banyaknya kasus obesitas yang terjadi di sana. Lewat kampanye tersebut, tentunya diharapkan kasus obesitas bisa berkurang karena setiap individu menghargai tubuhnya lewat menjaga kesehatan serta tidak menjadikan kondisi tubuh  sebagai penghalang untuk bisa aktif dalam kehidupan sehari-hari. Kampanye-kampanye terkait body positive banyak banget bentuknya, mulai dari yang mengingatkan untuk memulai gaya hidup sehat, sampai yang mencoba mengedukasi masyarakat untuk gak men-judge orang-orang dengan tubuh berbeda berdasarkan standard kecantikan yang ada.

Salah satu kampanye yang gue ketahui adalah Eff Your Beauty Standards (@effyourbeautystandards). Menurut interpretasi gue, kampanye tersebut bertujuan untuk mengingatkan para pengikutnya agar mencintai tubuh sendiri dan embracing their difference. Cara yang ditunjukkan oleh para followers-nya beragam, mulai dari mengunggah foto-foto menjaga gaya hidup meskipun bertubuh besar, ada juga yang mengekspresikan diri lewat dunia fashion untuk menunjukkan bahwa yang utama adalah rasa percaya diri. Di Indonesia sendiri, beberapa pergerakan yang terkait dengan body image (yang gue pernah lihat di media sosial) kurang lebih punya tujuan serupa seperti apa yang dikampanyekan Eff Your Beauty Standards.

Pada awalnya, gue melihat kampanye-kampanye seperti itu didedikasikan untuk para plus-size people saja. Bagaimana tidak, di akun @effyourbeautystandars, memang lebih cenderung mengunggah fotoo orang-orang dengan tubuh besar, jadi yaa gue awalnya berfikir bahwa kampanye body positive itu memang didedikasikan buat orang-orang bertubuh besar. To be honest, apa yang disampaikan melalui akun tersebut bisa dibilang sangat menginspirasi gue pribadi. Gue jadi lebih percaya diri, terutama dalam hal berpakaian. Awalnya dulu gue merasa fashion is only for ideal-body-type-kinda-girl and definitely not me. Tetapi kemudian pandangan gue berubah dan yaaa gue jadi sering juga mengunggah foto OOTD untuk menunjukkan bahwa gue juga bisa berpakaian kekinian hehe :p

Setelah kurang lebih satu tahun mengikuti akun tersebut, gue tersadar akan satu hal: body positive is for everyone, no matter what size you are!. Akun-akun pergerakan body positive sebenarnya bisa berlaku untuk semua bentuk dan ukuran tubuh, tidak secara ekslusif untuk mereka yang bertubuh besar saja. Siapapun, gue rasa, wajib untuk mencintai tubuhnya sendiri agar bisa menikmati kehidupan dan memunculkan rasa nyaman dalam berbagai hal, termasuk dalam hal berinteraksi dengan orang lain. Lewat mencintai diri sendiri, gue melihat adanya harapan dari berbagai pihak agar tidak terjadi berbagai tindakan menyakiti diri, for example is eating disorder or suicide. Kalau dipikir-pikir, sebagian pengidap eating disorder memulai kebiasaan buruknya itu dari perasaan insecure akan tubuhnya, kemungkinan besar dipengaruhi oleh orang-orang di sekitar mereka.

As plus-size woman, kondisi insecure akibat masyarakat juga gue alami. Tidak sedikit orang yang, dengan berbagai alasan, seperti 'menyindir' gue, misalnya dengan mengatakan 'duh kamu badannya makin gede aja'. Di momen yang kurang tepat, kata-kata tersebut bikin emosi dan gak jarang membuat down juga sebetulnya. Peer pressure juga gue rasakan,  misalnya dulu sebelum punya pacar, gak sedikit yang bilang 'na, coba lo kurusan deh, pasti gue mau sama lo'. Yaaa jaman-jaman SMP-SMA kan ada aja ya tekanan untuk punya status 'pacaran', dan perkataan itu tentunya bikin gue insecure dan pengen melakukan apapun untuk bisa mewujudkannya. I did diet when I was in high school. Tapi pada akhirnya gue menderita sakit maag untuk pertama kali dan rasa sakitnya itu sangat-sangat tidak menyenangkan! Then I decided to choose me instead of their words.

Kasus-kasus serupa juga sering gue dengar dari beberapa teman. Yaaa saat ini sih mereka berhasil bertubuh 'ideal' meskipun harus terus menerus jatuh sakit akibat terlalu memaksakan diri untuk bisa 'kurus'. Gue melihat bahwa hal-hal yang sempat dialami gue dan beberapa teman yang melakukan diet tapi kurang memperhatikan kesehatan yang sebenarnya berupaya dicegah oleh kampanye-kampanye body positive itu.

Oh ya, as i told ya before, body positive campaign ini berlaku untuk semua bentuk dan ukuran tubuh. Orang-orang dengan tubuh kurus/langsing-pun juga sering menghadapi rasa insecure dengan tubuhnya sendiri. Sering dong kita denger ada yang menyebut mereka 'cungkring', 'ceking', dan sebagainya. Nah kampanye-kampanye body positive yang marak itu bertujuan untuk mengingatkan bahwa you are worth it! Selain itu, mengingatkan juga bahwa your body doesn't actually define you. 

Orang bertubuh besar gak selalu berarti gak menjaga kesehatan, orang bertubuh kurus/langsung juga gak selalu berarti mereka sehat. Kalau sudah pernah baca tulisan gue sebelumnya di blog ini, para plus-size fashion influencers do work out loh! Mereka juga menjaga makan untuk kesehatan mereka. Gak percaya? coba aja follow snapchat Tess Holiday atau Ashley Graham sebagai bukti bahwa orang bertubuh besar do care with their health

Dua malam yang lalu, sebelum tidur, gue meluangkan waktu untuk menjelajahi timeline Line. Ada satu postingan yang diunggah oleh Line (not so) Official Account bernama DraftSMS yang menarik perhatian gue. Oh ya, FYI, OA DraftSMS itu bentuknya seperti program-program radio yang titip pesan gitu, dan menurut gue menarik untuk diikuti. Dalam postingan tersebut, sang pemberi pesan (sebut saja si mbak A) menyampaikan pesan untuk teman-temannya yang rupanya kerap menyindir si mbak akibat ukuran tubuhnya. Hal yang menarik gue temukan pada bagian komen dari postingan tersebut. Ada seseorang yang mengatakan bahwa si mbak A sebenarnya punya dua pilihan: ngurusin badan atau berhenti untuk 'baper'. Well, to be honest I disagree with both option, but I don't want to discuss why. Yang mau gue bahas adalah pertanyaan yang muncul setelah baca komentar tersebut, 'apa iya orang bertubuh besar harus mengurangi berat badan untuk bisa berteman?' dan 'sedangkal itukah alasan untuk memperoleh teman banyak?'

Gue pribadi berpendapat bahwa untuk punya banyak teman, hal pertama yang penting adalah  kita merasa nyaman akan diri kita sendiri. I do believe, by feeling good we can actually be a good person. Kalau kita nyaman akan tubuh kita sendiri, bisa disimpulkan bahwa kita juga sudah menerima diri kita sendiri dan nantinya orang-orang juga akan merasa nyaman dengan diri kita. Hal tersebut yang diupayakan oleh sejumlah kampanye body positive, semua berawal dari diri kita untuk kemudian bisa mengubah pandangan orang lain. kalaupun pandangan orang lain tidak dapat diubah, setidaknya membuka jalan untuk toleransi.

Yang ingin gue sampaikan di sini adalah bahwa menerima diri kita sendiri adalah kunci utama untuk bisa bertahan di masyarakat yang punya pandangan beragam terkait dengan body image. Dengan tidak menjadikan tubuh sebagai penghalang, semua orang bisa melakukan apapun yang disukai ataupun diinginkan. Be body positive, you'll find your own definition of happiness ;)




Popular posts from this blog

Being Plus-Size Woman: in Indonesia

Apa sih sebenarnya Plus-Size? Bertubuh besar? or else?
Berhubung di dalam blog ini gak bisa terlepaskan dari istilah 'plus-size', rasanya penting banget buat terlebih dulu tahu apa yang dimaksud dengan plus-size, atau secara lebih spesifik 'plus-size clothing'. 
Gue masih ingat kalau zaman sd (early 2000), dan bahkan sampai saat ini, wanita dengan ukuran tubuh yang lebih dari normal (not skinny, but average body size) sering disebut gendut. Gak sedikit yang menganggap kata tersebut cukup menyakitkan, bahkan buat mereka yang badannya gak tergolong gendut. Oh ya, gendut disini bisa gue kategorikan sebagai orang-orang yang menggunakan pakaian dengan size XL keatas loh ya...atau size 12 and above kalau ngikutin standart baju-baju  dari Amerika Serikat. Bagi mereka yang masih bisa pake baju ukuran L kebawah, don't you dare to call your self a fat girl! Buat mempermudah, bisa dilihat di chart yang ada dibawah:

Istilah plus-size kemudian gue gunakan untuk memperhalus apa …

Not His Story: From The Heart of Japan

Ohayou!
Maafkan minimnya komitmen saya dalam membagi cerita di halaman blog ini. Percaya-lah, semakin mendekati UAS, semakin saya malas untuk menulis di sini...karena terlalu banyak makalah yang harus dibuat demi menyelesaikan kuliah 4 tahun! 
Gak terasa hari ini adalah hari terakhir di bulan Mei..yang artinya besok sudah masuk ke tengah tahun 2015 yang baik ini. Juni selalu jadi bulan favorite gue untuk beragam hal, salah satunya adalah liburan panjang. Meskipun tahun ini, liburan panjang akan diisi dengan mempersiapkan proposal untuk Pelatihan Etnografi ke Desa Aweh, Rangkas Bitung, Banten. Well, setidaknya ada kegiatan yang jelas di liburan nanti sambil menikmati puasa Ramadhan. Wew...sebentar lagi puasa...waktunya membayar puasa yang bolong tahun lalu!

Di akhir bulan ini, gue menghabiskan waktu di sebuah mall baru dengan konsep yang rasanya belum pernah ditemukan di Indonesia. Yap! I visited AEON MALL BSD CITY sejak grand opening-nya kemarin. Kalau diminta 3 kata untuk menggambark…

Fashion Addiction: Plus-Size Clothing Shop in Indonesia

Berkaca pada sejumlah komentar yang gue peroleh di 'Being Plus-Size Woman: in Indonesia', banyak yang memberikan saran kepada gue seputar toko-toko yang menjual pakaian untuk wanita bertubuh besar. Pada tulisan gue itu, memang gue mengungkapkan salah satu kesulitan menjadi wanita plus-size di Indonesia adalah memperoleh pakaian yang tidak hanya cukup di tubuh tapi juga tetap terlihat stylist.So, i guess it's kinda important to help fellow plus-size woman in Indonesia for that problem by give you some references where to shop. Because i do believe, plus-size woman can be fashionable! Oh ya, semua toko yang gue jadikan referensi di sini belum tentu semuanya sudah gue datangi dan berbelanja di sana ya.

(ps: kalau kamu terlalu malas untuk banya postingan ini, I made a video about it on my youtube channel, check it out!)


Gue akan membagi dua kategori dalam tulisan ini, yang pertama adalah offline shop a.k.a. toko-toko fisik yang bisa kita langsung datangi untuk mencari baju ya…