Showing posts with label Body image. Show all posts
Showing posts with label Body image. Show all posts

Saturday, November 24, 2018

My Message to All Body-Shamers


If you don't have something nice to say, don't say anything at all - Proverb
Did you know that in Indonesia, you could go to jail by leaving criticism on someone's physical appearance on social media?

Kebebasan berpendapat menjadi alasan banyak orang mencintai media sosial. Jika sebelumnya kita hanya dapat berpendapat di forum atau platform tertentu yang terkurasi, keberadaan internet dan media sosial seolah-oleh menjadi angin segar bagi siapapun yang berusaha untuk didengar. Bisa dibilang, teknologi ini menciptakan mindset 'yang penting bicara, yang penting berpendapat' tanpa harus pusing memikirkan hal lainnya. Perasaan orang lain-pun sering menjadi korban dari kebebasan ini. 

What is Body Shaming?
Bicara tentang kebebasan di media sosial, rasanya kurang menarik kalau tidak membahas body shaming atau yang dapat diartikan sebagai criticism of someone based on the shape, size, or appearance of their body (source). Until today, I’m never experienced this case but I noticed, some of my friends, followers and some body positive activist and social media influencers that I follow on social media, experienced it quite often. Salah satu contoh adalah US plus size model,  Tess Holiday. Sebagai seorang model dan juga aktivis, she always shared every disturbing comment about her plus-size body from her followers. Salah satu yang menurut gue cukup keterlaluan adalah ketika salah satu netizen mendoakan Tess untuk 'menghilang' dari bumi karena bentuk dan ukuran tubuhnya menciptakan gagasan mengenai tubuh yang negatif untuk anak-anaknya. Beberapa influencer Indonesia juga kerap mengalami kejadian serupa. It's crazy to see how people can easily share their thought on someone's appearance without trying to find out more about them, without thinking how it feels to receive that kind of message. 

Few days ago, saat sedang asik menelusuri story dari teman-teman di media sosial, gue terhenti pada satu update yang membahas mengenai body shaming dan adanya ancaman hukum bagi yang melakukannya di media sosial. I got mixed feeling reading that update, senang karena finally korban body shaming dapat memperoleh keadilan secara hukum dan memberikan 'pelajaran' bagi mereka yang tidak menggunakan kebebasan berpendapat dengan baik. But at the same time, feeling blue realizing that we still need to learn more about respecting each other.

According to the Law
Untuk memahami dengan baik mengenai hal ini, I try to dig some details on it. Diinformasikan bahwa ancaman pidana ini muncul berdasarkan Undang-undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, lebih spesifik ada pada pasal 27 ayat (3) yang menyatakan bahwa penghinaan ataupun pencemaran nama baik merupakan hal yang terlarang untuk dilakukan. Please note, ancaman pidana tersebut tidak secara spesifik ditujukan untuk mereka yang melakukan body shaming, melainkan bagi yang melakukan penghinaan dalam bentuk apapun. Dan juga, hal ini berlaku bagi mereka yang merasa dirugikan dan membuat laporan ke pihak berwajib. Bagi yang melanggar aturan tersebut, ada hukuman yang harus dijalani, yaitu pidana penjara selama 4 tahun dan/atau denda 750juta (source). 

It's crazy, right?

As I mentioned before, it's a good thing to have this rule. Artinya, pengguna media sosial yang merasa dirugikan dengan adanya komentar-komentar negatif mengenai penampilan tubuh dari pengguna lainnya dapat memperoleh perlindungan hukum sesuai aturan yang berlaku. Dan tentunya, adanya hukuman seperti pidana penjara dan denda dapat menimbulkan efek jera yang cukup keras bagi pelakunya ataupun bagi mereka yang berniat melakukan hal serupa. 

Namun di sisi lain, adanya aturan ini menyadarkan gue bahwa masih banyak pengguna media sosial yang belum bisa menghargai orang lain. Hanya karena memiliki ukuran tubuh yang berbeda dengan ekspektasi atau kepercayaan, kita dapat dengan bebas mengungkapkan pendapat kita tanpa memperhatikan perasaan orang yang menerima pendapat kita. Tidak ada salahnya untuk menyampaikan pendapat, namun penting untuk diingat bahwa kita harus tetap sopan dalam berpendapat baik di dunia nyata maupun di dunia virtual.

Be Mindful Before You Write
Just like the proverb I put on the beginning of this post, if you don't have something nice to say, then don't say anything. But if you still need to say what's on your mind, do it properly. Berdasarkan pengamatan (dan pengalaman pribadi), sering kali komentar mengenai penampilan fisik seseorang sebenarnya punya tujuan konstruktif but can be considered as shaming hanya karena pemilihan kata dan waktu yang kurang tepat. Dan mengingat sebagai manusia kita akan langsung memberikan reaksi, maka gue rasa sangat penting untuk bisa 'membungkus' feedback atau kritik dengan baik agar yang pesan yang disampaikan bisa sampai secara sempurna and give more time to the reader to understand and give response, instead of reaction.

Pemilihan kata menjadi hal yang cukup krusial dalam menyampaikan pendapat kita kepada orang lain. For example, instead of saying ‘gendut’, you can use other term such as ‘plus-size’ or ‘curvy’. Tidak hanya itu, if you’re about to criticise someone, please be specific and help them be better by providing alternative that they can. Misal, kamu ingin memberikan komentar mengenai pakaian yang terlihat tidak pantas di tubuh seseorang, instead of saying ‘jelek banget pake baju itu’ or ‘orang gemuk gak cocok pake baju kayak gitu’, you can give suggestion on what kind of clothes that will look good on them, but remember to say it on proper way (e.g. Wah saya kagum dengan kepercayaan diri kamu. Mungkin kamu dapat mencoba pakaian dengan garis vertical agar semakin menarik dan bisa menjadi inspirasi bagi mereka yang mencari cara padu-padan pakaian serupa).

Then, after you write your thought/critics/feedback about someone, re-read it! Dengarkan bagaimana tulisanmu bersuara and imagine if you receive that message from someone else. Trust your feeling! If you don’t like how it sounds, don’t send it!

In the End
Tidak ada salahnya memberikan pendapat dan it’s a good thing that you can do it. But, please be mindful when you want to share your thought, especially when it comes to someone’s physical appearance. When you can’t do it, then don’t do it! Also, remember that everyone’s beautiful on their own way, no need to force your beauty standard to someone else.
Share your thought on this and have discussion :)



Sunday, February 25, 2018

Plus-size Woman, Unite!

After all, you are not alone in this world.

Sudah menjadi sifat dasar manusia untuk hidup berkelompok...untuk bisa hidup bersama-sama dengan orang lain yang memiliki nilai-nilai yang sama atau sesuai dengan nilai yang kita yakini. We will do anything to be fit in, right? People that don't have similarity will be excluded and created another group with that has mutual interest and so on.

When I was younger (and before social media), it's hard to fit in. Gue pernah ada di dalam suatu peer group yang sebenarnya punya mutual interest, but I didn't feel 100% belong only because of my body. They can easily use each other clothes because they have similar body size, but I can't do that because i have bigger figure than them. When people talk about our group, I never heard my name as a person that other people perceive as beautiful because I have bigger body than the others.  I have no idea how many time boys saying that they want to be my boyfriend as long as I reduce my weight. Their words affected me and lead me to un-healthy diet only to feel belong...to be beautiful by having slimmer body. You know what? that diet didn't work and I ended up feeling sick and unhappy. I'm 100% sure, that feeling...that condition won't happened if I believe on what I believe right now: beauty can't be measured by your body size.

Gue rasa, hal ini gak hanya dialami oleh gue seorang. Ada satu (or more) orang-orang yang merasa insecure dengan tubuhnya sendiri dan end-up can't fit into a group. But before the 'social media' era, it's hard to find people with similar experience yang bisa diajak curhat or benar-benar memahami apa yang gue hadapi. 

with Ririe Bogar, initiator of Indonesia Plus Size Festival.

Di era media sosial ini, tak lagi sulit untuk menemukan orang-orang yang punya pengalaman yang sama dengan kita, punya cara pandang yang serupa dengan kita dan untuk bisa masuk ke dalam kelompok yang sesuai with our belief. Jika bicara tentang pengalaman menghadapi body image issue, rasanya event yang gue hadiri kemarin malam adalah salah satu bukti bahwa you're not alone in 'fighting' against the beauty standard. Indonesia Plus Size Festival adalah sebuah event yang didedikasikan bagi wanita bertubuh besar.....a simple event that remind everyone to celebrate their own size.....an event where woman support each other to be more confidence and loving their body. Salah satu penggagasnya adalah Ririe Bogar, an influencer and also a motivator who wrote a book called 'Cantik ejaannya bukan K.U.R.U.S.' Event-nya sendiri berlangsung pada tanggal 17 & 24 Februari dan 3 & 10 Maret di SQ Dome, Jakarta Selatan dan terdapat serangkaian kegiatan, such as fashion show, talkshow, zumba & yoga class and some performances from plus-size women. 

For me, this event is a way to celebrate our size and share the perception about your size doesnt define who you are and your beauty. Lewat fashion show misalnya, it show the audience (and soon...the world) that your body size can't stop you to be involved in fashion world...can't stop you to wear anything that you love to see on magazine and tv. Lewat kegiatan talkshow, kita berkesempatan untuk mendengar dan belajar dari pengalaman orang lain agar kita yang tadinya gak PD dengan bentuk tubuh dan merasa tidak bisa produktif karena ukuran tubuh menjadi sosok yang lebih menghargai tubuh kita dan tentunya jadi semangat untuk lebih produktif lagi. This event is something that we need, especially if you have body image issue. 

With the designer of Koozel, Diana.
Di hari kedua ini gue sempatkan untuk hadir menyaksikan fashion show dari salah satu plus-size fashion brand yang dapat dibilang cukup baru, Koozel. The designer, Diana, was very kind enough to sent me a clothes from her collection as her support for plus-size woman that believing in the same value in helping woman to be confidence with her body. I came to the event simply to say hi to her and thanking her for the clothes and the spirit that kinda inspire me to write again today. Tidak hanya itu, gue juga bertemu dengan Panda, a designer from Malang that has the same spirit with Diana and reflect it through the clothes she designed. The fact that she wants to bring the same euphoria of celebrating your size to Malang is inspiring. Tak lupa, I also met Ririe Bogar, the initiator of this event and thank her directly for the event that empower plus-size women to be confidence and feeling beautiful. It excited me to meet and have small talk with people that believing similar value with me. Because of these kind of people, woman who has self-confidence issue because of their body no longer feel lonely. 

My hope is that by having this event as annual activity, a lot of women out there doesn't have to feel lonely in 'fighting' against body image issue....a lot of girl out there can be proud of themselves no matter what size they wear....a lot of people can share body positive vibe to each other so no more bullying and no more ED issue need to be happened in Indonesia. It's time to celebrate who you really are!

and it's time for me to write more about body positive :p






Saturday, December 9, 2017

Body Positivity: Self-love and gratitude

2018 is getting closer, and December always be the month of reflection to me. I've experienced a lot of things this year, dari yang baik...hingga yang menantang. Whatever happened, I can't stop saying Alhamdulillah, because I still have the opportunity to learn and be a better version of myself in the end of the day.

For some people, I'm a positive person...always see the bright side of every darkness...always find the reason to be grateful no matter how tough the life is. But the truth is, I'm not always that positive...I'm not always a grateful person. Selalu ada saat dimana gue melupakan prinsip gue: whatever happened, life is a bless. Time is always be the best slapper for me...mungkin butuh beberapa waktu untuk gue menyadari bahwa hal-hal yang burukpun wajib disyukuri karena menjadi kesempatan untuk selalu belajar. 

Speaking about being grateful, setiap Senin pagi, my director always ask the team to mention at least 3 things that we grateful at during the week. Sound easy right? It actually is! Rutinitas tersebut-lah yang mengilhami gue untuk kembali menulis seputar body positive saat ini (after such a looong...loong break from blogging). Why? Because 'gratitude' is the reason why i write about body positive at the beginning.


Saturday, June 17, 2017

Body Positive: When the Power of Words Meet the Power of Self-Control

"A beautiful woman has long hair"

That 'popular' view affected my life for few days after I decided to embrace my old look: short bob (kalau kata hairstylist-nya bob disconnect...funny name, huh?). It's funny how that 'popular' view could make me insecure for few days, karena sebelumnya I won't be insecure hanya karena hal seperti itu. That insecurity came after some of my closest people (one of them is my boyfriend) told me that my new haircut is too short and not suited me well. After they told me so, i felt so guilty....so disappointing at myself...meskipun seharusnya tidak perlu ada perasaan bersalah karena pada dasarnya my body is my authority, right?! Tapi that's what I feel at that time: insecure, ugly, and kinda hate myself....dan perasaan tersebut berlangsung for couple of days.

Beberapa hari kemudian, when I met my co-workers in the office, they were shocked ketika melihat penampilan baru gue...tapi, bukan kaget dalam arti yang buruk. Most of the people that I met in the office told me that I look pretty, more fresh, and younger with my new hairstyle. Tanggapan yang sangat berbeda dari apa yang gue dengar selama beberapa hari. Dalam hitungan detik setelah mendengar feedback positif tersebut, mood gue langsung saja berubah: from insecure and sad into superb happy and glad that I actually did something right. Perasaan tersebut tentunya membawa rasa percaya diri gue, yang sempat terpuruk, menuju langit ke tujuh dan in a second, that 'popular' view didnt mean anything for me at all.

Monday, November 28, 2016

Being a Plus-Size Women: Surround yourself with Positive Vibes

quote from Quotesgram.com


When I was in  high school, memiliki tubuh yang langsing selalu ada di resolusi gue tiap tahun. Untuk bisa memberikan tanda check di resolusi itu, gue melakukan berbagai hal, salah satunya adalah melakukan diet tanpa pengawasan yang baik. I stopped eating rice, as my form of diet, at night when I was 13 or 14 years old. Tapi, sebelum merasakan hasil yang gue inginkan, gue malah harus menemui dokter karena merasakan sakit yang luar biasa di bagian perut. Di saat itu lah gue tau bahwa lambung gue ada pada kondisi yang kurang baik dan langsung aja dong gue berhenti melakukan segala macam diet sampai detik ini daripada harus merasakan that kind of pain. 

Merasa insecure karena punya tubuh besar adalah salah satu bentuk 'penderitaan' yang harus gue tanggung karena gak mampu mendapatkan tubuh yang 'ideal' lewat diet makanan yang gue lakukan di masa itu. Pengaruh lingkungan sekitar dan peran media membuat gue merasa bahwa gue kurang cantik karena ukuran tubuh gue yang besar ini. Ada pemikiran bahwa 'ah udah pasti lah gue bakal jomblo terus' karena yaaa tubuh gue gak masuk dalam kriteria 'cewek idaman' para cowok yang gue suka di masa itu.

Meet my dearest besties, Dhyta

Rasa kekhawatiran 'tidak merasa cantik' mulai berkurang (atau mungkin lebih tepatnya teralihkan) ketika gue duduk di bangku SMA. Gue sangat bersyukur di masa SMA, yang konon katanya rasa insecure tentang tubuh lagi heboh-hebohnya, gue dikelilingi oleh orang-orang dengan aura positif. Salah satunya adalah sahabat gue, Dhyta. She's also a plus-size lady, tapi dia adalah bukti nyata bahwa ukuran tubuh gak menghalangi diri kita untuk do something great. Selama masa SMA, dia aktif di organisasi dan rajin banget ikut lomba debat dan pidato, yang tentunya membutuhkan rasa PD untuk bisa tampil di hadapan publik. Dia adalah salah satu role-model gue when it comes to confidence issue. 

Keberadaan media sosial, Instagram to be specific, juga banyak membantu gue untuk lebih PD meskipun punya tubuh yang cukup besar (tinggi 162 cm dengan berat badan 85 kg!). Dengan mengikuti akun-akun yang menebarkan pesan-pesan positif seputar body image issue, gue merasa terbantu untuk terhindar dari rasa insecure about my body. Selain itu, I also try to connect with fellow plus-size women in Indonesia (and also another country) supaya bisa terus termotivasi untuk hidup dengan positive vibes. 

Setelah melakukan refleksi, gue paham bahwa untuk terhindar dari rasa khawatir tentang body image, penting untuk bisa mengalihkan pikiran-pikiran negatif yang dapat mengganggu produktifitas kita. Ada loh orang yang karena punya tubuh besar jadi semakin malas atau tidak produktif karena merasa gak PD untuk do something. Kalau kita terus menerus dipengaruhi oleh negative vibes, upaya untuk mencintai diri sendiri dalam rangka menjauhkan diri dari insecurity bakal sulit tercapai. That's why you need to surround yourself with positive vibes. You can get the positive vibes from people around you, or from social media (just like what I do). 

Untuk me-maintain aura positif tersebut, gue percaya bahwa kita gak hanya sebatas menerima pengaruh positif saja tapi juga memberikannya kepada orang-orang di sekitar kita. Ada banyak cara untuk memberikan aura positif. Gue pribadi memilih untuk menggunakan hobi gue: writing articles on my blog and post some #OOTD photos on my Instagram. 

Alhamdulillah, ada  tanggapan yang positif dari beberapa orang; mulai dari keluarga, teman-teman di kampus, bahkan orang-orang yang gue tidak kenal dalam keseharian gue. In fact, dengan berinteraksi dengan fellow plus-size women di media sosial, gue malah dapat sejumlah teman baru yang bisa diajak sharing tentang body image, saling berbagi rekomendasi tentang tempat belanja pakaian berukuran besar, bahkan sampai ngobrolin soal cowok! 

Meet my fellow plus-size buddy, Monica
Salah satu plus-size women yang gue kenal dari upaya gue berbagi positive vibes adalah Monica. Awalnya gue menemukan Instagramnya dari hasil eksplorasi hashtag yang plus-size related. Setelah ngobrol-ngobrol via comment di Instagram, gue baru inget bahwa dia pernah blogwalking dan menuliskan komentar di blog gue! Dari situ kita keep in touch via Line and we decided to meet sambil ikutan feature writing workshop di acara Gogirl! Pop Up Class (will give you the review soon!). Senang rasanya bisa mendapatkan teman baru dengan ketertarikan yang serupa lewat berbagi positive vibes di media sosial. 

Sepenggal cerita dari gue ini semoga bisa memberikan gambaran bagaimana orang-orang di sekitar kita itu punya pengaruh terhadap diri kita dalam berbagai aspek, salah satunya adalah tentang body image. To live with less insecurity about our body, kelilingi hidup kita dengan orang-orang dan hal-hal yang positif agar kita bisa terus belajar untuk mencintai diri sendiri. In the end, kita bisa menjadi individu yang lebih produktif tanpa harus selalu khawatir (dan bahkan dibatasi) oleh kondisi tubuh kita. 

Semoga bisa membantu kalian yang merasa insecure tentang tubuh kalian! Remember, you're worth it no matter what size you are!

Tuesday, October 4, 2016

Being A Plus-Size Women: The Curvy Barbie is Here!



Gue percaya bahwa wanita bertubuh besar di Indonesia, dan rasanya di berbagai negara, mengalami krisis role-model. Pada dasarnya, setiap orang butuh sosok yang bisa mewakili mereka dari berbagai aspek, one of them is body type/size. Gue pribadi merasa butuh sosok perempuan dengan ukuran yang serupa dengan gue yang dapat jadi inspirasi dalam hal berpakaian dan menjadi wanita yang lebih percaya diri. I have my mom, but somehow I need someone else as alternative, someone quite famous i guess. So, I choose Ashley Graham as one of my role models. 




Gak hanya sosok manusia yang bisa dijadikan role mode, even a doll could be your role model (short of). Pasti semua orang tahu dengan boneka Barbie. Dalam berbagai hal, boneka tersebut sering dijadikan semacam panutan, when it comes to body size and type, bagi para wanita. Pernah dengar dong ada wanita yang dijuluki 'Human Barbie' karena wajahnya dan bentuk tubuhnya yang mirip dengan boneka tersebut? Berbagai cara dilakukan untuk bisa memenuhi gambaran tubuh ideal a la Barbie, mulai dari penggunaan make up, diet berlebih, sampai operasi plastik. Tidak sedikit orang-orang yang kemudian 'menyalahkan' boneka Barbie karena menjadi panutan yang kurang baik (mengingat ada sejumlah kasus eating disorder yang dilakukan dengan tujuan memenuhi beauty standard yang didasari oleh physical appearance dari boneka ini). Lucu sih memang menyalahkan benda mati, tapi yaa karena dasarnya setiap orang ingin bisa fit in dengan suatu standard tertentu, jadi hal tersebut bisa saja terjadi. 

In the end of Januari 2016, Mattel released new types of Barbie doll, including the curvy barbie! Kalau kalian sudah menjadi followers instagram gue before February 2016, pasti pernah melihat foto tipe-tipe Barbie terbaru di feed gue. I was superb excited about it! Meskipun gue pribadi tidak menjadikan boneka tersebut sebagai panutan  akan ukuran dan bentuk tubuh, ataupun beauty standard, tapi gue merasa senang karena ada sosok boneka yang serupa dengan bentuk tubuh gue. Despite all of the negative comments about it, gue percaya bahwa ini adalah cara Mattel untuk memperbaiki image negative dari Barbie sekaligus mengedukasi para perempuan tentang body positive; It's okay to have different skin color  or body type, and it's totally okay to be different!

IT'S ABOUT TIME, MATTEL! Belakangan ini, isu tentang bentuk dan ukuran tubuh cukup mendapat sorotan dari berbagai media. Bagi saya, keberadaan boneka Barbie yang semakin beragam, gak hanya warna kulit tetapi juga bentuk tubuh, menjadi semacam angin segar untuk mengedukasi masyarakat perihal bentuk tubuh (terutama bagi anak-anak perempuan, semoga saja kemudian boneka-boneka Ken juga akan mengalami penyesuaian serupa). Selain mengedukasi, boneka-boneka tersebut setidaknya memunculkan perasaan 'terwakili', terutama di generasi mendatang, dan bisa lebih menghargai tubuh mereka (sejalan dengan upaya Pemerintah Amerika untuk menguragi kasus eating disorder). Meski isu bentuk dan ukuran tubuh di Indonesia tidak se-booming di Amerika, tetapi saya berharap pesan tentang 'ideal beauty' yang digambarkan lewat Barbie yang lebih beragam tsb bisa punya efek serupa dengan di Amerika, so everyone can celebrate their shape, their size, their life. Photo credit: eonline on instagram #celebrateyoursize #plussize #bodypositive #bodypositivemovement #bodyimage #barbie #thought #opinion #plussizeindo #bigsizeindonesia #bigsizeindo #effyourbeautystandart
A photo posted by フィクリアナ (@fkrnand) on


Selama berbulan-bulan gue bolak balik toko mainan just to make sure I won't miss that doll. Saat gue ke Singapore Agustus lalu, sempat terlintas untuk membeli boneka tersebut di sana tapi setelah dihitung-hitung lebih murah kalau beli di Indonesia, so I decided to wait. Akhirnya, minggu lalu gue berhasil menemukan boneka Barbie dengan type curvy ini di AEON Department Store, BSD City. Padahal, gue gak secara khusus pergi ke mall super hits di BSD itu untuk mencari boneka Barbie. Setelah izin sama nyokab, finally I can have that curvy doll!! Pacar gue-pun sempat bingung karena gak terbiasa dengan gambaran gue bermain boneka Barbie, secara selama ini kalau ke toko mainan liatnya mainan cowok :p. 

Senang rasanya bisa terwakili oleh Barbie sebagai salah satu icon dalam dunia perempuan. Gue merasa penting bagi para orang tua, yang memiliki anak dengan usia yang masih wajar untuk bermain boneka Barbie, untuk mengajarkan anaknya tentang body diversity that could lead them to body acceptance sedari dini. Mungkin di Indonesia, isu body image gak begitu mendapat perhatian dari masyarakat. Tetapi, gak ada salahnya untuk meningkatkan awareness tentang topik ini sejak kecil kan? Gue percaya bahwa dengan cara sederhana ini, kita bisa lebih toleran dengan perbedaan dan bisa saling menghargai. Hopefully, bullying (especially body shaming) will stop in the future.






Sunday, August 21, 2016

Being a Plus-Size Woman: The 'Fat Talk'

Pernah mendengar istilah 'Fat Talk'?

Ina* adalah seseorang yang memiliki ukuran dan bentuk tubuh layaknya mayoritas perempuan di Jakarta, atau dalam kata lain memiliki tubuh ideal bagi masyarakat Indonesia. Dirinya kerap merasa tubuh yang ia miliki terlalu besar dan masih jauh dari kata 'ideal. Dirinya kemudian menunjukkan rasa insecure-nya itu dengan berucap (baik secara langsung maupun melalui media sosial) hal-hal sebagai berikut:
"duuuh gue gendutan nih!"
(sambil memegang perut) "duh buncit banget sih!"
(sambil menunjuk paha) "gila paha gue udah segede apaan tau!"
(mengupload foto kemudian menuliskan caption) "gendaaaaaatss"

Nah, ucapan si Ina yang menunjukkan keluhan terhadap ukuran tubuhnya yang dirasa masih kurang 'ideal' merupakan salah satu contoh dari 'fat talk'. 

Setelah membaca sejumlah artikel dan sedikit potongan halaman introduction dari buku salah seorang antropolog bernama Mimi Nichter yang berjudul 'Fat Talk: What Girls and Their Parents Say about Dieting', gue memahami fat talk sebagai perwujudan dari ketakutan para wanita dari berbagai range usia tentang tubuhnya. Umumnya, fat talk ini diwujudkan dalam bentuk yang negatif, misalnya saja mengeluh, seperti contoh di atas. Kalau mengutip dari pernyataan Alexandra F. Corning, professor di University of Notre Dame, yang dicantumkan dalam artikel rilisan Huffpost.com (click for the full article), fat talk itu adalah, 

".... self-degrading talk about the body, food, or eating."  

Umumnya, fat talk identik dengan eating disorder. Tapi, yang membuat gue cukup tertarik dengan term tersebut adalah kaitannya dengan hubungan sosial. 

Rupanya, berdasarkan hasil penelitian Mimi Nichter pada remaja di Amerika Serikat, fat talk itu bisa jadi cara bagi seseorang untuk bisa fit in dalam suatu kelompok masyarakat. Kembali pada kasusnya si Ina nih. Setelah mengeluh tentang tubuhnya (yang sebetulnya sudah masuk kategori 'ideal'), ada orang-orang yang kemudian menanggapi. Misalnya saja:

"iiih apaan sih, kamu kurus tau!"
"apaan sih! Gendutan gue kali!" (padahal yang menjawab ini punya tubuh just like Ina's)


Nah, lewat fat talk yang dimulai oleh Ina, dia membuka suatu interaksi sosial dengan orang-orang di sekitar dia. Belum tentu Ina memang punya rasa insecure atas tubuhnya, tetapi melihat lingkungan sekitarnya memiliki concern yang sama seputar tubuh, Ina memulai fat talk untuk bisa masuk dalam kelompok masyarakat tertentu. 

Selain untuk bisa fit in, fat talk sendiri juga kerap dilakukan dengan tujuan memperoleh rasa tenang yang bersumber dari pendapat orang lain tentang tubuhnya. Sayangnya, sebuah penelitian menunjukkan bahwa doing fat talk won't make you feel better about your body. In fact, lewat fat talk ada kecenderungan untuk semakin tidak puas dengan tubuh sendiri and will lead to eating disorder.

Dipikir-pikir, serem juga ya...

Sebagai wanita bertubuh besar, gue sering banget kesel sama orang-orang yang menurut gue punya tubuh 'ideal' tapi selalu mengeluh soal tubuhnya, just like what Ina did. Kadang pengen banget teriak, "KALAU LO GENDUT GUE APAAN NYET YA?!" di depan wajah orang-orang itu just to remind them to be grateful for their body. Sejak gue mencari tahu soal fat talk, gue mulai paham bahwa apa yang mereka lakukan itu bisa jadi adalah cara mereka untuk cari perhatian dengan orang lain, belum tentu karena memang they feel that way. Sayangnya, cara mereka untuk mencari perhatian adalah lewat belas kasihan orang lain. Hemmmm

Gue pribadi merasa bersyukur saat ini sudah banyak gerakan-gerakan yang mempromosikan body positive atau anti-body shaming, baik secara global maupun secara khusus di Indonesia, dalam berbagai bentuk, mulai dari seminar ataupun lewat keberadaan plus-size fashion blogger. Kenapa? Karena sadar atau tidak, ada pesan-pesan positif untuk mencintai tubuh kita sendiri tanpa mempedulikan ukuran tubuh. Sayangnya, di Indonesia, belum banyak yang 'ngeh' kalau body positive movement itu sebenarnya buat siapapun dengan ukuran apapun, not only specific for plus-size women and men. 

I see the opportunity of being a plus-size woman: spread the good ideas to all. Memiliki tubuh besar adalah kesempatan kita untuk menunjukkan kepada para wanita seperti Ina bahwa they have to be grateful for your body., just like us. Remind them that It's a good thing to have fat on your body, because without it, you're broken. Kalau bertemu dan kebetulan diajak melakukan fat talk oleh orang-orang seperti si Ina, spread the positive vibe by saying "why don't you start to love your body by stop saying that thing?". Mulai dari hal sederhana, seperti berhenti melakukan fat talk, bisa membantu orang-orang dengan rasa insecure akan tubuhnya menjadi lebih bersyukur dan mencintai tubuh mereka. 

See! Menjadi wanita bertubuh besar gak selalu negatif kan?

Have a great day!


---------------------------
* sosok Ina dan kawan-kawannya hanya karakter fiktif belaka ya! Tapi kalau contoh-contohnya sih memang ada di dunia nyata hehehe :p

Monday, June 27, 2016

Announcement: HELLO YOUTUBE

Sebenarnya sudah sekitar satu bulan belakangan, gue memiliki keinginan untuk masuk dunia vlogging. Akun youtube sebenarnya sudah gue miliki sejak tahun 2012, tapi isinya hanya sebatas video-video untuk contest ataupun yaa sebatas untuk memberikan likes, comment, dan subscribe sejumlah youtuber yang gue suka. Baru hari ini, keinginan gue terwujud lewat merekam sejumlah video dan mengunggahnya ke Youtube.com. So far, sudah ada dua video yang isinya adalah rekomendasi online dan offline clothing store untuk para wanita bertubuh plus-size. Harapan ke depannya, gue bisa cukup konsisten dalam mengisi konten blog dan vlog seputar body positive issue ataupu seputar hal-hal yang ingin gue utarakan kepada para netizen lainnya. Yaaa kali-kali aja gitu, lewat blog dan vlog, masyarakat di Indonesia jadi paham seputar Plus-Size maupun body positive movement yang cukup hits di negeri Paman Sam.

Silahkan banget untuk subscribe ke channel youtube gue dan leave your comment on the vids. Gue akan sangat mengapresiasi bagi para viewers dan readers yang meninggalkan komentar untuk sharing ataupun sekedar say hi di blog dan channel gue. 




Ah sebelum lupa, beberapa waktu lalu lagi iseng-iseng berkunjung ke Instagram salah satu icon plus-size Indonesia, Ririe Bogar, dan rupanya ia terpilih jadi perwakilan dari Fuller Woman, semacam sebuah organisasi dan movement untuk wanita plus-size, di Asia...yep..ASIA! Congratulation for mbak Ririe Bogar dan gue sangat sangat tidak sabar untuk bisa berpartisipasi di Fuller Women Expo tahun 2017 mendatang, karena selama ini gue suka penasaran apa aja sih yang dilakukan dalam suatu expo yang dedicated for plus-size woman di negara-negara lain. Can't wait!

Thursday, April 28, 2016

Being Plus-Size Woman: Body Positive

Maafkan saya yang sudah lama tak mengisi blog ini dengan sesuatu yang bisa dibaca (dan dikomentari) :p. The thesis totally takes my focus away from blogging lately, since it's my number one priority. Percaya lah, setiap kali mendapat ide untuk nge-blog, laptop sudah keburu ditutup dan rasa ngantuk sudah menghadang. Please forgive me :D

Anyway, semenjak handphone gue mengalami kerusakan yang cukup mengganggu, salah satu topik yang cukup bisa mengisi hari-hari adalah berbagai kampanye yang menjunjung 'body positive'. Mungkin alasan utamanya adalah karena skripsi gue 'nyerempet' hal tersebut, jadi yaa no wonder kerjaan gue bolak-balik memperhatikan akun-akun Instagram yang berupaya mempromosikan gagasan tersebut lewat foto-foto OOTD.

Body positive sebenarnya adalah suatu nama kampanye yang kurang lebih berupaya untuk mengingatkan masyarakat untuk bisa menerima kondisi fisiknya agar tetap bisa produktif dalam kehidupan sehari-hari. Yang gue pahami adalah, segala bentuk kampanye body positive yang marak di internet belakangan ini tujuannya ya...agar setiap individu bisa menghargai tubuhnya dan supaya nantinya masyarakat bisa lebih menghargai tubuh orang lain yang berbeda dengan dirinya. Kampanye tipe ini cukup marak di Amerika mengingat banyaknya kasus obesitas yang terjadi di sana. Lewat kampanye tersebut, tentunya diharapkan kasus obesitas bisa berkurang karena setiap individu menghargai tubuhnya lewat menjaga kesehatan serta tidak menjadikan kondisi tubuh  sebagai penghalang untuk bisa aktif dalam kehidupan sehari-hari. Kampanye-kampanye terkait body positive banyak banget bentuknya, mulai dari yang mengingatkan untuk memulai gaya hidup sehat, sampai yang mencoba mengedukasi masyarakat untuk gak men-judge orang-orang dengan tubuh berbeda berdasarkan standard kecantikan yang ada.

Salah satu kampanye yang gue ketahui adalah Eff Your Beauty Standards (@effyourbeautystandards). Menurut interpretasi gue, kampanye tersebut bertujuan untuk mengingatkan para pengikutnya agar mencintai tubuh sendiri dan embracing their difference. Cara yang ditunjukkan oleh para followers-nya beragam, mulai dari mengunggah foto-foto menjaga gaya hidup meskipun bertubuh besar, ada juga yang mengekspresikan diri lewat dunia fashion untuk menunjukkan bahwa yang utama adalah rasa percaya diri. Di Indonesia sendiri, beberapa pergerakan yang terkait dengan body image (yang gue pernah lihat di media sosial) kurang lebih punya tujuan serupa seperti apa yang dikampanyekan Eff Your Beauty Standards.

Pada awalnya, gue melihat kampanye-kampanye seperti itu didedikasikan untuk para plus-size people saja. Bagaimana tidak, di akun @effyourbeautystandars, memang lebih cenderung mengunggah fotoo orang-orang dengan tubuh besar, jadi yaa gue awalnya berfikir bahwa kampanye body positive itu memang didedikasikan buat orang-orang bertubuh besar. To be honest, apa yang disampaikan melalui akun tersebut bisa dibilang sangat menginspirasi gue pribadi. Gue jadi lebih percaya diri, terutama dalam hal berpakaian. Awalnya dulu gue merasa fashion is only for ideal-body-type-kinda-girl and definitely not me. Tetapi kemudian pandangan gue berubah dan yaaa gue jadi sering juga mengunggah foto OOTD untuk menunjukkan bahwa gue juga bisa berpakaian kekinian hehe :p

Setelah kurang lebih satu tahun mengikuti akun tersebut, gue tersadar akan satu hal: body positive is for everyone, no matter what size you are!. Akun-akun pergerakan body positive sebenarnya bisa berlaku untuk semua bentuk dan ukuran tubuh, tidak secara ekslusif untuk mereka yang bertubuh besar saja. Siapapun, gue rasa, wajib untuk mencintai tubuhnya sendiri agar bisa menikmati kehidupan dan memunculkan rasa nyaman dalam berbagai hal, termasuk dalam hal berinteraksi dengan orang lain. Lewat mencintai diri sendiri, gue melihat adanya harapan dari berbagai pihak agar tidak terjadi berbagai tindakan menyakiti diri, for example is eating disorder or suicide. Kalau dipikir-pikir, sebagian pengidap eating disorder memulai kebiasaan buruknya itu dari perasaan insecure akan tubuhnya, kemungkinan besar dipengaruhi oleh orang-orang di sekitar mereka.

As plus-size woman, kondisi insecure akibat masyarakat juga gue alami. Tidak sedikit orang yang, dengan berbagai alasan, seperti 'menyindir' gue, misalnya dengan mengatakan 'duh kamu badannya makin gede aja'. Di momen yang kurang tepat, kata-kata tersebut bikin emosi dan gak jarang membuat down juga sebetulnya. Peer pressure juga gue rasakan,  misalnya dulu sebelum punya pacar, gak sedikit yang bilang 'na, coba lo kurusan deh, pasti gue mau sama lo'. Yaaa jaman-jaman SMP-SMA kan ada aja ya tekanan untuk punya status 'pacaran', dan perkataan itu tentunya bikin gue insecure dan pengen melakukan apapun untuk bisa mewujudkannya. I did diet when I was in high school. Tapi pada akhirnya gue menderita sakit maag untuk pertama kali dan rasa sakitnya itu sangat-sangat tidak menyenangkan! Then I decided to choose me instead of their words.

Kasus-kasus serupa juga sering gue dengar dari beberapa teman. Yaaa saat ini sih mereka berhasil bertubuh 'ideal' meskipun harus terus menerus jatuh sakit akibat terlalu memaksakan diri untuk bisa 'kurus'. Gue melihat bahwa hal-hal yang sempat dialami gue dan beberapa teman yang melakukan diet tapi kurang memperhatikan kesehatan yang sebenarnya berupaya dicegah oleh kampanye-kampanye body positive itu.

Oh ya, as i told ya before, body positive campaign ini berlaku untuk semua bentuk dan ukuran tubuh. Orang-orang dengan tubuh kurus/langsing-pun juga sering menghadapi rasa insecure dengan tubuhnya sendiri. Sering dong kita denger ada yang menyebut mereka 'cungkring', 'ceking', dan sebagainya. Nah kampanye-kampanye body positive yang marak itu bertujuan untuk mengingatkan bahwa you are worth it! Selain itu, mengingatkan juga bahwa your body doesn't actually define you. 

Orang bertubuh besar gak selalu berarti gak menjaga kesehatan, orang bertubuh kurus/langsung juga gak selalu berarti mereka sehat. Kalau sudah pernah baca tulisan gue sebelumnya di blog ini, para plus-size fashion influencers do work out loh! Mereka juga menjaga makan untuk kesehatan mereka. Gak percaya? coba aja follow snapchat Tess Holiday atau Ashley Graham sebagai bukti bahwa orang bertubuh besar do care with their health

Dua malam yang lalu, sebelum tidur, gue meluangkan waktu untuk menjelajahi timeline Line. Ada satu postingan yang diunggah oleh Line (not so) Official Account bernama DraftSMS yang menarik perhatian gue. Oh ya, FYI, OA DraftSMS itu bentuknya seperti program-program radio yang titip pesan gitu, dan menurut gue menarik untuk diikuti. Dalam postingan tersebut, sang pemberi pesan (sebut saja si mbak A) menyampaikan pesan untuk teman-temannya yang rupanya kerap menyindir si mbak akibat ukuran tubuhnya. Hal yang menarik gue temukan pada bagian komen dari postingan tersebut. Ada seseorang yang mengatakan bahwa si mbak A sebenarnya punya dua pilihan: ngurusin badan atau berhenti untuk 'baper'. Well, to be honest I disagree with both option, but I don't want to discuss why. Yang mau gue bahas adalah pertanyaan yang muncul setelah baca komentar tersebut, 'apa iya orang bertubuh besar harus mengurangi berat badan untuk bisa berteman?' dan 'sedangkal itukah alasan untuk memperoleh teman banyak?'

Gue pribadi berpendapat bahwa untuk punya banyak teman, hal pertama yang penting adalah  kita merasa nyaman akan diri kita sendiri. I do believe, by feeling good we can actually be a good person. Kalau kita nyaman akan tubuh kita sendiri, bisa disimpulkan bahwa kita juga sudah menerima diri kita sendiri dan nantinya orang-orang juga akan merasa nyaman dengan diri kita. Hal tersebut yang diupayakan oleh sejumlah kampanye body positive, semua berawal dari diri kita untuk kemudian bisa mengubah pandangan orang lain. kalaupun pandangan orang lain tidak dapat diubah, setidaknya membuka jalan untuk toleransi.

Yang ingin gue sampaikan di sini adalah bahwa menerima diri kita sendiri adalah kunci utama untuk bisa bertahan di masyarakat yang punya pandangan beragam terkait dengan body image. Dengan tidak menjadikan tubuh sebagai penghalang, semua orang bisa melakukan apapun yang disukai ataupun diinginkan. Be body positive, you'll find your own definition of happiness ;)




Thursday, March 17, 2016

Being Plus-Size Woman: Another Point of View

Sudah lama rasanya gak membicarakan tentang kehidupan as plus-size woman di blog ini, padahal tulisan pertama yang membahas tentang 'Being Plus-Size in Indonesia' lumayan dapat perhatian di blog ini (berdasarkan jumlah viewersnya). Well, here I am, back with my (another) opinion about living in Indonesia as Plus-Size Woman.

Sebenarnya mau membahas tentang isu ini dari akhir Januari silam, tepatnya sebagai bentuk selebrasi atas rilisnya boneka Barbie edisi baru yang (akhirnya) memiliki beberapa bentuk tubuh baru seperti curvy and tall. But somehow, ada aja yang lebih menarik untuk di tulis...well at least according to my mood. Kemudian dorongan untuk menulis topik ini makin mencuat setelah selama seminggu belakangan gue bertemu dengan tiga orang plus-size women yang super inspiratif sebagai bahan untuk skripsi gue, they are Irene Tanudibroto (@reneetan_ on instagram and http://xoxoreneetan.blogspot.co.id/), Annissa Mawinda (www.anisacrament.com and @anisacrament on instagram), dan Aditira (@tiraemon on instagram). Mereka, selama kurang lebih satu tahun belakangan, adalah sumber inspirasi gue untuk menjadi lebih percaya diri, terutama dalam hal berpakaian. Mereka bertiga memiliki gaya berpakaian yang berbeda-beda tetapi punya tingkat percaya diri yang patut dicontoh bagi mereka, warga Indonesia, yang tergolong sebagai plus-size women (size 10 and above ya! kalau kurang dari itu.......).

Selama gue hidup di Indonesia, which is sejak lahir, memiliki tubuh besar adalah sebuah tantangan, terutama di masyarakat. Gue merasa besarnya tubuh gue ini disebabkan oleh kehidupan masa kecil gue yang selalu ditawari untuk nambah kalau makan. Karena gak mau menyakiti hati orang lain, ya gue makan dong ya...Selain itu, alasan tubuh gue bisa terbilang besar karena dulu saat kecil gue kena serangan asma dan gak boleh terlalu berkeringat. Alhasil, gue berusaha untuk tidak terlalu lelah dan perbanyak istirahat alias tidur. Dari dua pengalaman hidup itu, yaa akhirnya terciptalah tubuh besar ini. Saat gue memasuki usia remaja hingga saat ini, gak sedikit orang yang menyindir gue soal bentuk tubuh. Sejak SMA, beberapa teman selalu bilang 'Na, kalau lo kurusan pasti cantik deh' atau 'Na, kalau lo kurus gue mau deh sama lo' atau ada juga yang kerap menyindir kalau gue lagi makan. Sejujurnya, gue terbilang cuek hingga masuk ke satu masa dimana gue merasa super insecure tentang bentuk serta ukuran tubuh karena berbagai alasan. Gue kemudian bertanya pada diri sendiri, 

"apa iya orang-orang lebih suka kalau gue kurus? memang apa salahnya punya badan besar? toh gue bisa jadi andalan kalau harus lomba tarik tambang kan?'

Gue semacam menyimpulkan bahwa masyarakat Indonesia punya preferensi untuk lebih menyukai perempuan yang memiliki tubuh kurus atau langsing. Sedangkan mereka yang bertubuh besar kemudian diasosiasikan dengan hal-hal yang negatif, seperti pemalas, gak sehat, dan (maybe) buruk rupa. No wonder banyak banget perempuan yang rela diet keras agar bisa disukai, meskipun hasil akhirnya mungkin malah bikin mereka gak sehat. 

Kehadiran Plus-Size Fashion di dunia mode satu tahun belakangan ini bisa dibilang semacam gebrakan bagi mereka yang bertubuh besar. Kenapa? Karena akhirnya mode bisa diaplikasikan pada wanita-wanita (dan pria) yang punya tubuh besar. Namun tetap saja ada yang berpandangan bahwa kehadiran plus-size fashion jadi media untuk mempromosikan obesitas kepada masyarakat. Gue masih ingat ketika curvy Barbie diluncurkan, terdapat sejumlah komentar di akun instagram Barbie yang semacam gak setuju dengan kehadiran jenis boneka tersebut. Alasannya ya itu tadi, mempromosikan obesitas kepada wanita, terutama anak perempuan yang jadi target utama penjualan Barbie. Dari komen itu, gue kembali berfikir, apa iya?


My idol as Women's Running Cover!

Hasil dari berbincang dengan ketiga plus-size blogger and selebgram memberikan pandangan lain tentang plus-size fashion. Kalau bisa gue rangkum, kehadiran plus-size fashion sebenarnya gak sama dengan mempromosikan gaya hidup yang gak sehat dan obesitas, melainkan mengajarkan para pria dan wanita dengan tubuh besar untuk mencintai tubuhnya dan menjadi percaya diri untuk mengekspresikan dirinya sendiri ke masyarakat lewat fashion. Bagi yang pernah membaca tulisan gue sebelumnya tentang keputusan gue untuk hidup sehat lewat berolahraga di gym, gue pernah menyinggung bagaimana Tess Holiday, model berukuran 24 yang meski memiliki tubuh besar tapi tetap menjaga kesehatan dengan mengunjungi gym dan berlatih bersama personal trainernya. Itu hanya contoh sederhana bahwa being plus-size isn't (always) equal with being unhealthy. Being plus-size means that you can love your body, accept who you are, and express it with any kind of media, such as fashion. Bagi yang suka mengikuti dunia plus-size fashion, pasti tau doong gimana Ashley Graham berhasil  jadi 'anggota' dari Sport Illustrated beberapa waktu lalu. Selain Ashley Graham, ada juga Nadia Aboulhosn, seorang plus-size fashion blogger yang menjadi cover majalah Women's Running baru-baru ini. Menurut gue itu bisa dijadikan contoh bagi siapapun yang memiliki tubuh plus-size untuk tetap menjaga kesehatannya meskipun memiliki tubuh besar dan menunjukkan ke masyarakat bahwa menjadi plus-size gak berarti sakit.

YASH QUEEN!

Contoh yang gue sebutkan memang orang -orang dari negeri lain, tapi ketiga plus-size women yang gue ajak sharing juga melakukan hal serupa loh! Meski mungkin tidak rutin, mereka tetap berusaha menjaga asupan makan dan tetap berolahraga untuk menjaga kondisi mereka tetap prima. Mungkin yang cukup sering update berolahraga di media sosial adalah Ucita Pohan. Announcer di Cosmopolitan FM itu termasuk rajin banget berolahraga, mulai dari ikut zumba sampai rajin lari pagi sebelum siaran. Menurut gue, gak perlu berolahraga yang harus ke gym tiap hari atau gimana, pilih kegiatan olah raga yang membuat diri kita senang. Misalnya saja, kalau gak suka lari bisa diganti dengan berenang yang lebih fun, atau ikutin gerakan-gerakan olahraga yang udah banyak banget tersedia di youtube. Do something that makes you happy! Karena kalau kita bahagia ngejalaninnya, lebih gak berasa berat juga kan?

Di akhir tulisan ini, gue hanya ingin kembali menekankan bahwa memiliki tubuh besar tidak selalu berarti seseorang tidak menjaga tubuh dan kesehatannya. Memiliki tubuh besar bukan berarti menjadi semacam izin untuk hidup sesukanya tanpa memperhatikan kesehatan diri sendiri. Percaya aja bahwa lewat tubuh yang sehat, kita bisa lebih bahagia. Lewat mencintai diri sendiri kita bisa jadi individu yang lebih baik lagi. In the end, Love your body and be confident!