Showing posts with label Body Positivity. Show all posts
Showing posts with label Body Positivity. Show all posts

Saturday, November 24, 2018

My Message to All Body-Shamers


If you don't have something nice to say, don't say anything at all - Proverb
Did you know that in Indonesia, you could go to jail by leaving criticism on someone's physical appearance on social media?

Kebebasan berpendapat menjadi alasan banyak orang mencintai media sosial. Jika sebelumnya kita hanya dapat berpendapat di forum atau platform tertentu yang terkurasi, keberadaan internet dan media sosial seolah-oleh menjadi angin segar bagi siapapun yang berusaha untuk didengar. Bisa dibilang, teknologi ini menciptakan mindset 'yang penting bicara, yang penting berpendapat' tanpa harus pusing memikirkan hal lainnya. Perasaan orang lain-pun sering menjadi korban dari kebebasan ini. 

What is Body Shaming?
Bicara tentang kebebasan di media sosial, rasanya kurang menarik kalau tidak membahas body shaming atau yang dapat diartikan sebagai criticism of someone based on the shape, size, or appearance of their body (source). Until today, I’m never experienced this case but I noticed, some of my friends, followers and some body positive activist and social media influencers that I follow on social media, experienced it quite often. Salah satu contoh adalah US plus size model,  Tess Holiday. Sebagai seorang model dan juga aktivis, she always shared every disturbing comment about her plus-size body from her followers. Salah satu yang menurut gue cukup keterlaluan adalah ketika salah satu netizen mendoakan Tess untuk 'menghilang' dari bumi karena bentuk dan ukuran tubuhnya menciptakan gagasan mengenai tubuh yang negatif untuk anak-anaknya. Beberapa influencer Indonesia juga kerap mengalami kejadian serupa. It's crazy to see how people can easily share their thought on someone's appearance without trying to find out more about them, without thinking how it feels to receive that kind of message. 

Few days ago, saat sedang asik menelusuri story dari teman-teman di media sosial, gue terhenti pada satu update yang membahas mengenai body shaming dan adanya ancaman hukum bagi yang melakukannya di media sosial. I got mixed feeling reading that update, senang karena finally korban body shaming dapat memperoleh keadilan secara hukum dan memberikan 'pelajaran' bagi mereka yang tidak menggunakan kebebasan berpendapat dengan baik. But at the same time, feeling blue realizing that we still need to learn more about respecting each other.

According to the Law
Untuk memahami dengan baik mengenai hal ini, I try to dig some details on it. Diinformasikan bahwa ancaman pidana ini muncul berdasarkan Undang-undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, lebih spesifik ada pada pasal 27 ayat (3) yang menyatakan bahwa penghinaan ataupun pencemaran nama baik merupakan hal yang terlarang untuk dilakukan. Please note, ancaman pidana tersebut tidak secara spesifik ditujukan untuk mereka yang melakukan body shaming, melainkan bagi yang melakukan penghinaan dalam bentuk apapun. Dan juga, hal ini berlaku bagi mereka yang merasa dirugikan dan membuat laporan ke pihak berwajib. Bagi yang melanggar aturan tersebut, ada hukuman yang harus dijalani, yaitu pidana penjara selama 4 tahun dan/atau denda 750juta (source)

It's crazy, right?

As I mentioned before, it's a good thing to have this rule. Artinya, pengguna media sosial yang merasa dirugikan dengan adanya komentar-komentar negatif mengenai penampilan tubuh dari pengguna lainnya dapat memperoleh perlindungan hukum sesuai aturan yang berlaku. Dan tentunya, adanya hukuman seperti pidana penjara dan denda dapat menimbulkan efek jera yang cukup keras bagi pelakunya ataupun bagi mereka yang berniat melakukan hal serupa. 

Namun di sisi lain, adanya aturan ini menyadarkan gue bahwa masih banyak pengguna media sosial yang belum bisa menghargai orang lain. Hanya karena memiliki ukuran tubuh yang berbeda dengan ekspektasi atau kepercayaan, kita dapat dengan bebas mengungkapkan pendapat kita tanpa memperhatikan perasaan orang yang menerima pendapat kita. Tidak ada salahnya untuk menyampaikan pendapat, namun penting untuk diingat bahwa kita harus tetap sopan dalam berpendapat baik di dunia nyata maupun di dunia virtual.

Be Mindful Before You Write
Just like the proverb I put on the beginning of this post, if you don't have something nice to say, then don't say anything. But if you still need to say what's on your mind, do it properly. Berdasarkan pengamatan (dan pengalaman pribadi), sering kali komentar mengenai penampilan fisik seseorang sebenarnya punya tujuan konstruktif but can be considered as shaming hanya karena pemilihan kata dan waktu yang kurang tepat. Dan mengingat sebagai manusia kita akan langsung memberikan reaksi, maka gue rasa sangat penting untuk bisa 'membungkus' feedback atau kritik dengan baik agar yang pesan yang disampaikan bisa sampai secara sempurna and give more time to the reader to understand and give response, instead of reaction.

Pemilihan kata menjadi hal yang cukup krusial dalam menyampaikan pendapat kita kepada orang lain. For example, instead of saying ‘gendut’, you can use other term such as ‘plus-size’ or ‘curvy’. Tidak hanya itu, if you’re about to criticise someone, please be specific and help them be better by providing alternative that they can. Misal, kamu ingin memberikan komentar mengenai pakaian yang terlihat tidak pantas di tubuh seseorang, instead of saying ‘jelek banget pake baju itu’ or ‘orang gemuk gak cocok pake baju kayak gitu’, you can give suggestion on what kind of clothes that will look good on them, but remember to say it on proper way (e.g. Wah saya kagum dengan kepercayaan diri kamu. Mungkin kamu dapat mencoba pakaian dengan garis vertical agar semakin menarik dan bisa menjadi inspirasi bagi mereka yang mencari cara padu-padan pakaian serupa).

Then, after you write your thought/critics/feedback about someone, re-read it! Dengarkan bagaimana tulisanmu bersuara and imagine if you receive that message from someone else. Trust your feeling! If you don’t like how it sounds, don’t send it!

In the End
Tidak ada salahnya memberikan pendapat dan it’s a good thing that you can do it. But, please be mindful when you want to share your thought, especially when it comes to someone’s physical appearance. When you can’t do it, then don’t do it! Also, remember that everyone’s beautiful on their own way, no need to force your beauty standard to someone else.
Share your thought on this and have discussion :)



Tuesday, June 19, 2018

Sending Positive Vibes through Responding to Comment


"Na, inget timbangan...nanti rusak. Jangan makan banyak-banyak!"


How's your Lebaran so far? Sudah lewat beberapa hari, tapi vibe Idul Fitri masih terasa banget hingga hari ini. Jakarta yang masih terasa super lengang dan masih banyak kosongnya tempat parkir di mall jadi indikator bahwa semangat Idul Fitri masih cukup menggema. Mungkin masih ada juga yang berkeliling ke rumah keluarga untuk saling maaf memaafkan atau sekedar berkumpul sambil nostalgia masa kecil. 

Bertemu keluarga di Hari Raya ini pastinya meninggalkan kesan tersendiri bagi kita, sebabnya? Beragam! Mulai dari kesempatan untuk catching up dengan keluarga yang tinggal berjauhan, menikmati hidangan khas lebaran yang hanya bisa dinikmati sekali setahun, memenuhi kantong dengan uang THR pemberian om dan tante (yang tak dapat lagi ku rasakan tahun ini hahaha), dan yang gak ketinggalan, kesempatan untuk menguji kesabaran saat mendengar komentar-komentar dari keluarga kita tentang kehidupan kita saat ini baik tentang karir, pendidikan, hingga yang agak sensitif seperti....bentuk dan ukuran tubuh. Yaaa sepenggal percakapan yang gue tulis di awal tulisan ini adalah contohnya.

Bagi mereka yang memiliki tubuh dengan size yang 'berbeda' dari masyarakat pada umumnya, percakapan diatas sudah sering didengar tiap tahunnya. Bahkan, tak perlu menunggu moment lebaran, dalam kehidupan sehari-hari pun, komentar-komentar tentang penampilan juga biasa kita dengar dan baca lewat media sosial, baik untuk diri kita sendiri ataupun dari pengalaman orang lain. Menghadapi kondisi seperti ini, sometimes i wish people could stop commenting about other's physical appearance and be nice both in real and virtual life. 

Agak sulit dipungkiri bahwa penampilan fisik adalah topik yang mudah untuk membuka suatu percakapan dengan orang lain. Untuk gue pribadi, don't judge book by its cover is pretty hard thing to do, karena halaman depan dari buku-lah yang paling mudah untuk dilihat dan jadi referensi awal kita untuk menilai. 

I think it's natural for human being to believe what they see first and once they want to know more, they dig deeper. The main challenge here is to keep the thought about what you've seen inside your mind  first instead of saying it out loud without having enough reference that could support your judgement. 

For me, komentar soal penampilan fisik itu bikin aura-aura buruk terasa lebih kuat dan sangat berdampak pada mood gue saat itu, apalagi kalau sudah bernada negatif. Meminta orang lain untuk berhenti membahas penampilan fisik punya tantangan tersendiri. I personally believe, you can't change the world without changing yourself first. Di saat kita tidak dapat mengubah atau menghentikan orang lain untuk berkomentar tentang penampilan fisik kita, kenapa kita tidak mencoba mengubah cara kita menanggapi komentar dari mereka?

Sunday, February 25, 2018

Plus-size Woman, Unite!

After all, you are not alone in this world.

Sudah menjadi sifat dasar manusia untuk hidup berkelompok...untuk bisa hidup bersama-sama dengan orang lain yang memiliki nilai-nilai yang sama atau sesuai dengan nilai yang kita yakini. We will do anything to be fit in, right? People that don't have similarity will be excluded and created another group with that has mutual interest and so on.

When I was younger (and before social media), it's hard to fit in. Gue pernah ada di dalam suatu peer group yang sebenarnya punya mutual interest, but I didn't feel 100% belong only because of my body. They can easily use each other clothes because they have similar body size, but I can't do that because i have bigger figure than them. When people talk about our group, I never heard my name as a person that other people perceive as beautiful because I have bigger body than the others.  I have no idea how many time boys saying that they want to be my boyfriend as long as I reduce my weight. Their words affected me and lead me to un-healthy diet only to feel belong...to be beautiful by having slimmer body. You know what? that diet didn't work and I ended up feeling sick and unhappy. I'm 100% sure, that feeling...that condition won't happened if I believe on what I believe right now: beauty can't be measured by your body size.

Gue rasa, hal ini gak hanya dialami oleh gue seorang. Ada satu (or more) orang-orang yang merasa insecure dengan tubuhnya sendiri dan end-up can't fit into a group. But before the 'social media' era, it's hard to find people with similar experience yang bisa diajak curhat or benar-benar memahami apa yang gue hadapi. 

with Ririe Bogar, initiator of Indonesia Plus Size Festival.

Di era media sosial ini, tak lagi sulit untuk menemukan orang-orang yang punya pengalaman yang sama dengan kita, punya cara pandang yang serupa dengan kita dan untuk bisa masuk ke dalam kelompok yang sesuai with our belief. Jika bicara tentang pengalaman menghadapi body image issue, rasanya event yang gue hadiri kemarin malam adalah salah satu bukti bahwa you're not alone in 'fighting' against the beauty standard. Indonesia Plus Size Festival adalah sebuah event yang didedikasikan bagi wanita bertubuh besar.....a simple event that remind everyone to celebrate their own size.....an event where woman support each other to be more confidence and loving their body. Salah satu penggagasnya adalah Ririe Bogar, an influencer and also a motivator who wrote a book called 'Cantik ejaannya bukan K.U.R.U.S.' Event-nya sendiri berlangsung pada tanggal 17 & 24 Februari dan 3 & 10 Maret di SQ Dome, Jakarta Selatan dan terdapat serangkaian kegiatan, such as fashion show, talkshow, zumba & yoga class and some performances from plus-size women. 

For me, this event is a way to celebrate our size and share the perception about your size doesnt define who you are and your beauty. Lewat fashion show misalnya, it show the audience (and soon...the world) that your body size can't stop you to be involved in fashion world...can't stop you to wear anything that you love to see on magazine and tv. Lewat kegiatan talkshow, kita berkesempatan untuk mendengar dan belajar dari pengalaman orang lain agar kita yang tadinya gak PD dengan bentuk tubuh dan merasa tidak bisa produktif karena ukuran tubuh menjadi sosok yang lebih menghargai tubuh kita dan tentunya jadi semangat untuk lebih produktif lagi. This event is something that we need, especially if you have body image issue. 

With the designer of Koozel, Diana.
Di hari kedua ini gue sempatkan untuk hadir menyaksikan fashion show dari salah satu plus-size fashion brand yang dapat dibilang cukup baru, Koozel. The designer, Diana, was very kind enough to sent me a clothes from her collection as her support for plus-size woman that believing in the same value in helping woman to be confidence with her body. I came to the event simply to say hi to her and thanking her for the clothes and the spirit that kinda inspire me to write again today. Tidak hanya itu, gue juga bertemu dengan Panda, a designer from Malang that has the same spirit with Diana and reflect it through the clothes she designed. The fact that she wants to bring the same euphoria of celebrating your size to Malang is inspiring. Tak lupa, I also met Ririe Bogar, the initiator of this event and thank her directly for the event that empower plus-size women to be confidence and feeling beautiful. It excited me to meet and have small talk with people that believing similar value with me. Because of these kind of people, woman who has self-confidence issue because of their body no longer feel lonely. 

My hope is that by having this event as annual activity, a lot of women out there doesn't have to feel lonely in 'fighting' against body image issue....a lot of girl out there can be proud of themselves no matter what size they wear....a lot of people can share body positive vibe to each other so no more bullying and no more ED issue need to be happened in Indonesia. It's time to celebrate who you really are!

and it's time for me to write more about body positive :p






Saturday, December 9, 2017

Body Positivity: Self-love and gratitude

2018 is getting closer, and December always be the month of reflection to me. I've experienced a lot of things this year, dari yang baik...hingga yang menantang. Whatever happened, I can't stop saying Alhamdulillah, because I still have the opportunity to learn and be a better version of myself in the end of the day.

For some people, I'm a positive person...always see the bright side of every darkness...always find the reason to be grateful no matter how tough the life is. But the truth is, I'm not always that positive...I'm not always a grateful person. Selalu ada saat dimana gue melupakan prinsip gue: whatever happened, life is a bless. Time is always be the best slapper for me...mungkin butuh beberapa waktu untuk gue menyadari bahwa hal-hal yang burukpun wajib disyukuri karena menjadi kesempatan untuk selalu belajar. 

Speaking about being grateful, setiap Senin pagi, my director always ask the team to mention at least 3 things that we grateful at during the week. Sound easy right? It actually is! Rutinitas tersebut-lah yang mengilhami gue untuk kembali menulis seputar body positive saat ini (after such a looong...loong break from blogging). Why? Because 'gratitude' is the reason why i write about body positive at the beginning.


Saturday, July 8, 2017

7 Body Positive Quotes from Ashley Graham that will Boost your Confidence

The right book to read in order to have #bodypositive vibe in you

Finally! After two weeks, I finished Ashley Graham's Autobiography, 'A New Model: What Confidence, Beauty & Power Really Look Like', that I got as my 24th birthday present from my boyfriend (thanks dear <3). Final thought on this book? It's a must have & must read book for those who need some injections of body positive vibe, for those who easily feel insecure for their appearance, for those who simply adore her as a human being. Every time i turn the page and read every words from her, I feel like she's really talking to me and understand me very well. Some of her life events feel so related with my life and super duper inspiring. She's not only talking about body image issue, but she's also talking about her passion, her career, her family, and her love life. So interesting to read.

For those who don't know Ashley Graham, well....she's a model from USA who 'break' the barrier in fashion industry for her look. You can see her in the cover of Vogue with Gigi Hadid & Kendall Jenner, the cover of Sports Illustration, and in the DNCE's Toothbrush music video. She's also one of my role models & inspiration when it comes to self-love and body confidence.

As I told you before, her story that she shared on her book is super duper inspiring and she put a lot of great messages, that I believe, could help you to be more confident with yourself. So, I pick seven, out of tons, quotes from the book that will boost your confidence and make you love yourself more than before (with bonus of Ashley Graham gif :p)

Here you go!

Saturday, July 1, 2017

The Tunes of Body Positive Vibes

When I feel demotivated, for a lot of things, listening to the music is the best way for me to stand up again. Tidak hanya karena alunan nada yang membuat semangat, lirik yang penuh dengan kata-kata positif selalu berhasil membuat gue kembali termotivasi. For the past two years, I love to listen to some songs yang mengangkat isu-isu body positive, self acceptance, body confidence. So now, I would like to share some of my favorite Body Positive tunes that I put on my spotify playlist & let you know why I pick them as my top (and inspiring) songs. Siapa tau, kamu yang masih suka minder bisa mendapatkan ilham setelah mendengar dan meresapi lirik dari lagu-lagu pilihan gue :D. Let's get started!
Click here to go directly to the playlist


Saturday, June 17, 2017

Body Positive: When the Power of Words Meet the Power of Self-Control

"A beautiful woman has long hair"

That 'popular' view affected my life for few days after I decided to embrace my old look: short bob (kalau kata hairstylist-nya bob disconnect...funny name, huh?). It's funny how that 'popular' view could make me insecure for few days, karena sebelumnya I won't be insecure hanya karena hal seperti itu. That insecurity came after some of my closest people (one of them is my boyfriend) told me that my new haircut is too short and not suited me well. After they told me so, i felt so guilty....so disappointing at myself...meskipun seharusnya tidak perlu ada perasaan bersalah karena pada dasarnya my body is my authority, right?! Tapi that's what I feel at that time: insecure, ugly, and kinda hate myself....dan perasaan tersebut berlangsung for couple of days.

Beberapa hari kemudian, when I met my co-workers in the office, they were shocked ketika melihat penampilan baru gue...tapi, bukan kaget dalam arti yang buruk. Most of the people that I met in the office told me that I look pretty, more fresh, and younger with my new hairstyle. Tanggapan yang sangat berbeda dari apa yang gue dengar selama beberapa hari. Dalam hitungan detik setelah mendengar feedback positif tersebut, mood gue langsung saja berubah: from insecure and sad into superb happy and glad that I actually did something right. Perasaan tersebut tentunya membawa rasa percaya diri gue, yang sempat terpuruk, menuju langit ke tujuh dan in a second, that 'popular' view didnt mean anything for me at all.

Sunday, April 16, 2017

Being A Plus-Size Women: What Hold You Back?

'Diet_sehatlangsing started following you'
'dr_peninggi_pelangsing_no_1 started following you'
'solusiperutbun.cit started following you '

Bagi pengguna instagram, pasti pernah beberapa kali mendapat notification bahwa akun kita diikuti oleh akun-akun yang menawarkan produk pelangsing atau jasa konsultasi untuk mendapat tubuh yang lebih kurus. Sering menggunakan hashtag #plussizeindonesia atau #plussize dan mengunggah foto-foto diri sendiri rasanya merupakan alasan dari akun-akun tersebut mengikuti gue di Instagram. Probably because i have big body, they see me as  a potential customer. Atau dalam kata lain, they became my followers because they have the stereotype that girls like me, who have big body, want to have skinnier body. Annoying? Kind of, tapi kondisi tersebut gak bisa dipungkiri karena yaaa pada dasarnya mereka sedang berusaha mencari sesuap nasi dan segenggam berlian dengan memanfaatkan stereotype yang ada pada para pengguna instagram.

one of my favorite photo-shoot session on ANTM when they talked about how stereotype 'eat' them all.

Bicara tentang stereotype, begitu menarik ketika gue sadar bahwa hidup kita gak bisa lepas dari stereotype itu sendiri, baik yang melekat pada diri kita maupun yang kita lekatkan pada diri orang lain. Sebelum membahas lebih lanjut, i think it's important to understand what's stereotype.

Sunday, January 8, 2017

Being a Plus-Size Women: Romusa isn't Trending Anymore!

Pernah dengar istilah 'romusa'?

Kalau kalian jawab 'kerja paksa di zaman penjajahan Jepang', well great! Karena kalian masih ingat pelajaran sejarah. Tapi Romusa yg gue maksud bukan itu.

Istilah Romusa yang gue acu kali ini muncul dari cerita salah satu dosen gue yang mengunjungi salah satu daerah di Papua. Salah seorang penduduk lokal yang berinteraksi dengan dosen gue menyebutkan istilah tersebut setelah seakan-akan melihat kebingungan di wajah dosen gue karena penduduk di tanah Papua punya wajah yang mirip-mirip. Romusa yang dimaksud adalah adalah kependekan dari 'Rombongan Muka Sama'.

Istilah itu selalu gue ingat karena berkesan banget! Dan setelah dipikirkan lagi, even di Jakarta yang  orang-orangnya sudah lebih diverse, Romusa masih bisa kita temukan loh!

Dimana?

Coba saat kalian bermain ke pusat perbelanjaan di Jakarta (atau kota-kota besar lainnya) perhatikan para wanita muda yang ada di sana dan coba cari sejumlah persamaannya. Selama ini gue melihat bahwa sebagian besar wanita muda di mall punya penampilan yang serupa: rambut panjang dan ikal di bagian bawah, wearing make up, pakai baju yang modelnya serupa, dan punya cara jalan yang mirip-mirip. Atau yang paling mudah, coba kunjungi akun-akun yang menampilkan cewek-cewek yang dinilai cantik dari suatu Universitas, most of them have similar characteristics, baik dari cara foto maupun dari penampilannya.

Buat gue, itulah Romusa di Jakarta.

There's a possibility serupanya penampilan para wanita muda di Jakarta disebabkan oleh adanya stereotype tentang 'wanita cantik'. Dalam berbagai kesempatan, para pria yang gue kenal punya preferensi untuk menyebut wanita yang punya tubuh langsing, rambut panjang, dan kulit putih (atau mungkin lebih tepatnya terawat kali yaa) sebagai sosok makhluk yang cantik. Karena stereotype itulah banyak wanita yang kita lihat di mall atau media sosial punya gaya yang serupa....agar bisa masuk atau memenuhi pandangan masyarakat tentang 'cantik'.

nothing wrong about it. Sudah hakikat dasar manusia untuk menyesuaikan diri, baik dari segi fisik maupun lainnya, agar dapat masuk dan diterima dalam suatu kelompok masyarakat. Simply because nobody wants to end up alone, right?! Nah, tapi jangan sampai kita lupa bahwa 'cantik itu relatif'!

Setiap individu punya pandangan tersendiri tentang kecantikan: ada yang punya preferensi wanita berkulit sawo matang-lah yang menarik, ada juga yang lebih suka wanita dengan tubuh berisi, atau ada juga yang lebih suka wanita yang terkesan tomboy...mungkin pandangan itu kalah populer dengan apa yang kita sering dengar tentang karakteristik wanita cantik, tapi percayalah....'cantik' itu sifatnya benar-benar relatif, tergantung preferensi masing-masing orang.

Mempercayai bahwa 'cantik itu relatif' adalah hal yang penting....penting untuk menumbuhkan rasa percaya diri kita agar be ourselves instead of someone else. Jangan langsung minder ketika kita tidak memiliki tubuh layaknya Kendall Jenner atau Gigi Hadid yang kini menjadi referensi untuk 'wanita cantik', simply because we're not them and they are not us!

Seperti yang sering gue singgung di blog ini, menjadi percaya diri atau nyaman menjadi diri sendiri adalah hal paling utama untuk bisa bertahan di masyarakat yang serba melihat penampilan fisik. Rasa PD itu nantinya akan terpancar dari diri kita dan jadi magnet tersendiri bagi orang-orang untuk menjadi teman atau mungkin pasangan hidup kita di masa depan. Bahkan, dengan memiliki penampilan yang berbeda dari stereotype 'wanita cantik' dapat membantu kita mengetahui mana orang-orang yang tulus berteman dengan kita dan mana yang berteman hanya karena penampilan fisik saja loooh :p

Im writing this just to remind you this: semua wanita itu cantik, dan your life is worth more than what society think about 'being beautiful'. It's time to embrace your own definition of 'beautiful' and show it to the world!

So, masih mau jadi Romusa atau be your own kind of beautiful? ;)

Monday, November 28, 2016

Being a Plus-Size Women: Surround yourself with Positive Vibes

quote from Quotesgram.com


When I was in  high school, memiliki tubuh yang langsing selalu ada di resolusi gue tiap tahun. Untuk bisa memberikan tanda check di resolusi itu, gue melakukan berbagai hal, salah satunya adalah melakukan diet tanpa pengawasan yang baik. I stopped eating rice, as my form of diet, at night when I was 13 or 14 years old. Tapi, sebelum merasakan hasil yang gue inginkan, gue malah harus menemui dokter karena merasakan sakit yang luar biasa di bagian perut. Di saat itu lah gue tau bahwa lambung gue ada pada kondisi yang kurang baik dan langsung aja dong gue berhenti melakukan segala macam diet sampai detik ini daripada harus merasakan that kind of pain. 

Merasa insecure karena punya tubuh besar adalah salah satu bentuk 'penderitaan' yang harus gue tanggung karena gak mampu mendapatkan tubuh yang 'ideal' lewat diet makanan yang gue lakukan di masa itu. Pengaruh lingkungan sekitar dan peran media membuat gue merasa bahwa gue kurang cantik karena ukuran tubuh gue yang besar ini. Ada pemikiran bahwa 'ah udah pasti lah gue bakal jomblo terus' karena yaaa tubuh gue gak masuk dalam kriteria 'cewek idaman' para cowok yang gue suka di masa itu.

Meet my dearest besties, Dhyta

Rasa kekhawatiran 'tidak merasa cantik' mulai berkurang (atau mungkin lebih tepatnya teralihkan) ketika gue duduk di bangku SMA. Gue sangat bersyukur di masa SMA, yang konon katanya rasa insecure tentang tubuh lagi heboh-hebohnya, gue dikelilingi oleh orang-orang dengan aura positif. Salah satunya adalah sahabat gue, Dhyta. She's also a plus-size lady, tapi dia adalah bukti nyata bahwa ukuran tubuh gak menghalangi diri kita untuk do something great. Selama masa SMA, dia aktif di organisasi dan rajin banget ikut lomba debat dan pidato, yang tentunya membutuhkan rasa PD untuk bisa tampil di hadapan publik. Dia adalah salah satu role-model gue when it comes to confidence issue. 

Keberadaan media sosial, Instagram to be specific, juga banyak membantu gue untuk lebih PD meskipun punya tubuh yang cukup besar (tinggi 162 cm dengan berat badan 85 kg!). Dengan mengikuti akun-akun yang menebarkan pesan-pesan positif seputar body image issue, gue merasa terbantu untuk terhindar dari rasa insecure about my body. Selain itu, I also try to connect with fellow plus-size women in Indonesia (and also another country) supaya bisa terus termotivasi untuk hidup dengan positive vibes. 

Setelah melakukan refleksi, gue paham bahwa untuk terhindar dari rasa khawatir tentang body image, penting untuk bisa mengalihkan pikiran-pikiran negatif yang dapat mengganggu produktifitas kita. Ada loh orang yang karena punya tubuh besar jadi semakin malas atau tidak produktif karena merasa gak PD untuk do something. Kalau kita terus menerus dipengaruhi oleh negative vibes, upaya untuk mencintai diri sendiri dalam rangka menjauhkan diri dari insecurity bakal sulit tercapai. That's why you need to surround yourself with positive vibes. You can get the positive vibes from people around you, or from social media (just like what I do). 

Untuk me-maintain aura positif tersebut, gue percaya bahwa kita gak hanya sebatas menerima pengaruh positif saja tapi juga memberikannya kepada orang-orang di sekitar kita. Ada banyak cara untuk memberikan aura positif. Gue pribadi memilih untuk menggunakan hobi gue: writing articles on my blog and post some #OOTD photos on my Instagram. 

Alhamdulillah, ada  tanggapan yang positif dari beberapa orang; mulai dari keluarga, teman-teman di kampus, bahkan orang-orang yang gue tidak kenal dalam keseharian gue. In fact, dengan berinteraksi dengan fellow plus-size women di media sosial, gue malah dapat sejumlah teman baru yang bisa diajak sharing tentang body image, saling berbagi rekomendasi tentang tempat belanja pakaian berukuran besar, bahkan sampai ngobrolin soal cowok! 

Meet my fellow plus-size buddy, Monica
Salah satu plus-size women yang gue kenal dari upaya gue berbagi positive vibes adalah Monica. Awalnya gue menemukan Instagramnya dari hasil eksplorasi hashtag yang plus-size related. Setelah ngobrol-ngobrol via comment di Instagram, gue baru inget bahwa dia pernah blogwalking dan menuliskan komentar di blog gue! Dari situ kita keep in touch via Line and we decided to meet sambil ikutan feature writing workshop di acara Gogirl! Pop Up Class (will give you the review soon!). Senang rasanya bisa mendapatkan teman baru dengan ketertarikan yang serupa lewat berbagi positive vibes di media sosial. 

Sepenggal cerita dari gue ini semoga bisa memberikan gambaran bagaimana orang-orang di sekitar kita itu punya pengaruh terhadap diri kita dalam berbagai aspek, salah satunya adalah tentang body image. To live with less insecurity about our body, kelilingi hidup kita dengan orang-orang dan hal-hal yang positif agar kita bisa terus belajar untuk mencintai diri sendiri. In the end, kita bisa menjadi individu yang lebih produktif tanpa harus selalu khawatir (dan bahkan dibatasi) oleh kondisi tubuh kita. 

Semoga bisa membantu kalian yang merasa insecure tentang tubuh kalian! Remember, you're worth it no matter what size you are!

Tuesday, October 4, 2016

Being A Plus-Size Women: The Curvy Barbie is Here!



Gue percaya bahwa wanita bertubuh besar di Indonesia, dan rasanya di berbagai negara, mengalami krisis role-model. Pada dasarnya, setiap orang butuh sosok yang bisa mewakili mereka dari berbagai aspek, one of them is body type/size. Gue pribadi merasa butuh sosok perempuan dengan ukuran yang serupa dengan gue yang dapat jadi inspirasi dalam hal berpakaian dan menjadi wanita yang lebih percaya diri. I have my mom, but somehow I need someone else as alternative, someone quite famous i guess. So, I choose Ashley Graham as one of my role models. 




Gak hanya sosok manusia yang bisa dijadikan role mode, even a doll could be your role model (short of). Pasti semua orang tahu dengan boneka Barbie. Dalam berbagai hal, boneka tersebut sering dijadikan semacam panutan, when it comes to body size and type, bagi para wanita. Pernah dengar dong ada wanita yang dijuluki 'Human Barbie' karena wajahnya dan bentuk tubuhnya yang mirip dengan boneka tersebut? Berbagai cara dilakukan untuk bisa memenuhi gambaran tubuh ideal a la Barbie, mulai dari penggunaan make up, diet berlebih, sampai operasi plastik. Tidak sedikit orang-orang yang kemudian 'menyalahkan' boneka Barbie karena menjadi panutan yang kurang baik (mengingat ada sejumlah kasus eating disorder yang dilakukan dengan tujuan memenuhi beauty standard yang didasari oleh physical appearance dari boneka ini). Lucu sih memang menyalahkan benda mati, tapi yaa karena dasarnya setiap orang ingin bisa fit in dengan suatu standard tertentu, jadi hal tersebut bisa saja terjadi. 

In the end of Januari 2016, Mattel released new types of Barbie doll, including the curvy barbie! Kalau kalian sudah menjadi followers instagram gue before February 2016, pasti pernah melihat foto tipe-tipe Barbie terbaru di feed gue. I was superb excited about it! Meskipun gue pribadi tidak menjadikan boneka tersebut sebagai panutan  akan ukuran dan bentuk tubuh, ataupun beauty standard, tapi gue merasa senang karena ada sosok boneka yang serupa dengan bentuk tubuh gue. Despite all of the negative comments about it, gue percaya bahwa ini adalah cara Mattel untuk memperbaiki image negative dari Barbie sekaligus mengedukasi para perempuan tentang body positive; It's okay to have different skin color  or body type, and it's totally okay to be different!

IT'S ABOUT TIME, MATTEL! Belakangan ini, isu tentang bentuk dan ukuran tubuh cukup mendapat sorotan dari berbagai media. Bagi saya, keberadaan boneka Barbie yang semakin beragam, gak hanya warna kulit tetapi juga bentuk tubuh, menjadi semacam angin segar untuk mengedukasi masyarakat perihal bentuk tubuh (terutama bagi anak-anak perempuan, semoga saja kemudian boneka-boneka Ken juga akan mengalami penyesuaian serupa). Selain mengedukasi, boneka-boneka tersebut setidaknya memunculkan perasaan 'terwakili', terutama di generasi mendatang, dan bisa lebih menghargai tubuh mereka (sejalan dengan upaya Pemerintah Amerika untuk menguragi kasus eating disorder). Meski isu bentuk dan ukuran tubuh di Indonesia tidak se-booming di Amerika, tetapi saya berharap pesan tentang 'ideal beauty' yang digambarkan lewat Barbie yang lebih beragam tsb bisa punya efek serupa dengan di Amerika, so everyone can celebrate their shape, their size, their life. Photo credit: eonline on instagram #celebrateyoursize #plussize #bodypositive #bodypositivemovement #bodyimage #barbie #thought #opinion #plussizeindo #bigsizeindonesia #bigsizeindo #effyourbeautystandart
A photo posted by フィクリアナ (@fkrnand) on


Selama berbulan-bulan gue bolak balik toko mainan just to make sure I won't miss that doll. Saat gue ke Singapore Agustus lalu, sempat terlintas untuk membeli boneka tersebut di sana tapi setelah dihitung-hitung lebih murah kalau beli di Indonesia, so I decided to wait. Akhirnya, minggu lalu gue berhasil menemukan boneka Barbie dengan type curvy ini di AEON Department Store, BSD City. Padahal, gue gak secara khusus pergi ke mall super hits di BSD itu untuk mencari boneka Barbie. Setelah izin sama nyokab, finally I can have that curvy doll!! Pacar gue-pun sempat bingung karena gak terbiasa dengan gambaran gue bermain boneka Barbie, secara selama ini kalau ke toko mainan liatnya mainan cowok :p. 

Senang rasanya bisa terwakili oleh Barbie sebagai salah satu icon dalam dunia perempuan. Gue merasa penting bagi para orang tua, yang memiliki anak dengan usia yang masih wajar untuk bermain boneka Barbie, untuk mengajarkan anaknya tentang body diversity that could lead them to body acceptance sedari dini. Mungkin di Indonesia, isu body image gak begitu mendapat perhatian dari masyarakat. Tetapi, gak ada salahnya untuk meningkatkan awareness tentang topik ini sejak kecil kan? Gue percaya bahwa dengan cara sederhana ini, kita bisa lebih toleran dengan perbedaan dan bisa saling menghargai. Hopefully, bullying (especially body shaming) will stop in the future.






Monday, October 3, 2016

Being a Plus-Size Woman: The Love Life Issue

Whoaaa it's been a while since my last post in this section.

Sudah lama sebenarnya gue mau membahas topik cinta-cintaan di bagian ini, tapi yaaa maju mundur terus karena gue pribadi merasa I am not the right person to talk about love life for some reasons. Tapi setelah ditimbang-timbang, gak ada salahnya mencoba, right?

So, here we go

Berdasarkan pengamatan gue, wanita bertubuh besar di Indonesia umumnya percaya bahwa para pria kurang tertarik dengan wanita yang berisi ini. Rata-rata cowok-cowok di Indonesia lebih tertarik dengan wanita bertubuh langsing, berambut panjang, dan berkulit putih. Tentunya, bagi yang tidak memiliki salah satu ciri-ciri tersebut langsung di nilai kurang menarik oleh para pria. Yaaaa gak semua pria seperti itu sih, tapi umumnya cowok-cowok yang kita taksir punya  cewek idaman dengan ciri-ciri fisik tersebut kan? Ada yang benar-benar rela diet gila-gilaan untuk bisa memenuhi karakteristik fisik cewek yang diidamkan sang gebetan, ada juga yang akhirnya makin insecure dengan dirinya and end up hating their own body. 

Kalau gue lagi iseng-iseng stalking instagramnya Intan Kemala Sari (@kemalasari on instagram, please apologize my addiction to stalk your superb inspiring account ya :p) atau mbak Ririe Bogar, ada sejumlah plus-size women yang 'curhat' lewat bagian comment dari foto-foto Intan dan mbak Ririe seputar love life. Most of them think that a plus-size woman doesn't deserve love from a man. 

Jujur saja, saat gue baca komentar-komentar seperti itu gue cukup sedih. Terkesan bahwa wanita bertubuh besar tuh hina banget sampai-sampai gak bisa memperoleh cinta. Padahal, banyak banget wanita bertubuh besar di luar sana yang menemukan cintanya kok, menemukan 'the one'. Means what? Ya ukuran tubuh bukanlah halangan to feel the love from others.

Gue pribadi sempat merasakan hal yang serupa ketika masih duduk di bangku sekolah. Gue merasa bahwa gue cukup invisible bagi para pria yang gue suka. Sampai sekarang, gak sedikit cowok-cowok yang bilang ke gue, "Na, coba deh lo kurusan, gue mau sama lo". Tentunya, kalimat itu juga beberapa kali membuat gue insecure dan berfikir bahwa ukuran tubuh does matter in the way to get love. Tapi, gue bisa menemukan sosok pria yang sayang sama gue for the last 7.5 years tanpa begitu memperhatikan ukuran tubuh (yaa meskipun dia kerap kali minta gue untuk bisa punya badan seperti masa-masa SMA, padahal kalau diingat-ingat, ukuran badan gue saat itu juga terbilang besar :p).

Ada beberapa hal yang menurut gue cukup menarik untuk diperhatikan oleh para plus-size women yang suka insecure with their body and their love life
  1. Kalau memang benar wanita bertubuh langsing adalah incaran para pria, kenapa masih ada aja wanita yang masuk kategori langsing yang masih jomblo? Dan kalau memang benar wanita bertubuh besar kurang menarik bagi pria, kenapa banyak juga wanita bertubuh besar yang punya pacar atau bahkan suami?
  2. Gebetan kamu gak melirik kamu? Are you really sure it's because of your body size? Atau mungkin dia gak melirik kamu karena kamu terlalu overthink atau terlalu insecure dengan tubuh kamu sehingga aura positif kurang terpancar ke sang gebetan?
  3. last one, pernah gak kepikiran kalau para pria juga sebenarnya insecure dengan bentuk dan ukuran tubuhnya yang kerap gak masuk kriteria para cewek yang di taksir oleh mereka?
Kita bahas satu-satu.

Poin pertama, coba deh buat list berapa banyak wanita bertubuh besar yang kamu tahu yang punya pasangan dalam hidupnya? Kalau jawaban kamu 'sama sekali gak ada', mungkin kamu kurang gaul hehe :p. Gue bisa memberikan sejumlah contoh wanita plus-size yang punya pasangan, alias gak jomblo, they are Ashley Graham (Married with Justin Ervin since 2010), Tess Holiday (engaged with Nick Holiday and already have one cute baby), Aditira Hanim alias @Tiraemon (date her senior, Reza for quite long time), Irene Tanudibroto alias @reneetan_ (in relationship for eight years!), mbak Ririe Bogar (married), dan ada banyak nama lagi dari kehidupan gue yang menunjukkan bahwa love knows no size!
Tess and Nick Holliday
Ashley Graham and Justin Ervin

Poin kedua, ini yang menurut gue poin yang cukup penting untuk diperhatikan sih. Terkadang, bukan size kita yang jadi penghalang antara diri kita dengan sang gebetan. Tapi rasa insecure kita akan tubuh kita sendiri yang sadar ataupun gak kita sadari bisa 'dilihat' dan 'dirasakan' oleh orang lain. Kalau kalian sering membaca tulisan gue di blog ini, pasti udah bosan gue ingatkan bahwa rasa percaya diri kita yang bersumber dari loving ourselves first akan memancarkan aura nyaman , gak hanya buat kita tapi untuk orang lain di sekitar kita. Cowok juga risih kalau harus mendengar keluhan seorang cewek soal tubuhnya. Percaya lah bahwa masih banyak pria diluar sana yang tidak berfikir dangkal dalam mencari wanita idalamannya. 

Hal penting yang menurut gue harus dipahami juga bahwa berawal dari mencintai diri sendiri, akan timbul rasa nyaman yang bisa membantu kita lebih PD untuk berinteraksi dengan orang lain. Nah, kalau sudah PD dalam berkomunikasi dengan banyak orang, kita bisa menambah koneksi dan siapa tahu bisa ketemu the man that you've been looking for.

What I called 'The Body Acceptance Cycle'


Poin ketiga juga gak kalah menarik sih. Berdasarkan pengalaman gue, setiap cewek pasti punya kriteria pria idaman juga kan? Maybe this is the right time for you to adjust your own beauty standard toward men. Gue tidak bilang untuk menurunkan standard pria idaman loh ya atau bahkan terima aja siapapun yang mau sama diri kalian, tapi lebih kepada menyesuaikan. Dari pada mengutamakan penampilan fisik, coba lihat pada kualitas si pria tersebut or his inner beauty. Who knows, pria yang selama ini ada di sekitar kamu tapi gak masuk kriteria pacar ideal buat kamu itu adalah yang terbaik.

To end this post, let me help you summarize the points that you should remember when you feel insecure about your love life as a plus-size woman:
  • TRUE LOVE KNOWS NO SIZE! There's a lot of plus-size women out there that already found their true love and nothing related with their body size.
  • To be loved by others, you should love yourself first! Body acceptance is superb important to help you radiate the positive vibes to others.
  • Adjusting your beauty standard may help you find the man that you've been looking for. 

Hopefully, this post will help you realize that true love knows no size dan tetap bersemangat menemukan the right man for your life!

Anyway, if you have any questions or just want to share your thought about any issue related with 'being a plus-size woman', feel free to contact me through e-mail or social media :)