Showing posts with label BPSW Series. Show all posts
Showing posts with label BPSW Series. Show all posts

Saturday, July 1, 2017

The Tunes of Body Positive Vibes

When I feel demotivated, for a lot of things, listening to the music is the best way for me to stand up again. Tidak hanya karena alunan nada yang membuat semangat, lirik yang penuh dengan kata-kata positif selalu berhasil membuat gue kembali termotivasi. For the past two years, I love to listen to some songs yang mengangkat isu-isu body positive, self acceptance, body confidence. So now, I would like to share some of my favorite Body Positive tunes that I put on my spotify playlist & let you know why I pick them as my top (and inspiring) songs. Siapa tau, kamu yang masih suka minder bisa mendapatkan ilham setelah mendengar dan meresapi lirik dari lagu-lagu pilihan gue :D. Let's get started!
Click here to go directly to the playlist


Saturday, June 17, 2017

Body Positive: When the Power of Words Meet the Power of Self-Control

"A beautiful woman has long hair"

That 'popular' view affected my life for few days after I decided to embrace my old look: short bob (kalau kata hairstylist-nya bob disconnect...funny name, huh?). It's funny how that 'popular' view could make me insecure for few days, karena sebelumnya I won't be insecure hanya karena hal seperti itu. That insecurity came after some of my closest people (one of them is my boyfriend) told me that my new haircut is too short and not suited me well. After they told me so, i felt so guilty....so disappointing at myself...meskipun seharusnya tidak perlu ada perasaan bersalah karena pada dasarnya my body is my authority, right?! Tapi that's what I feel at that time: insecure, ugly, and kinda hate myself....dan perasaan tersebut berlangsung for couple of days.

Beberapa hari kemudian, when I met my co-workers in the office, they were shocked ketika melihat penampilan baru gue...tapi, bukan kaget dalam arti yang buruk. Most of the people that I met in the office told me that I look pretty, more fresh, and younger with my new hairstyle. Tanggapan yang sangat berbeda dari apa yang gue dengar selama beberapa hari. Dalam hitungan detik setelah mendengar feedback positif tersebut, mood gue langsung saja berubah: from insecure and sad into superb happy and glad that I actually did something right. Perasaan tersebut tentunya membawa rasa percaya diri gue, yang sempat terpuruk, menuju langit ke tujuh dan in a second, that 'popular' view didnt mean anything for me at all.

Sunday, April 16, 2017

Being A Plus-Size Women: What Hold You Back?

'Diet_sehatlangsing started following you'
'dr_peninggi_pelangsing_no_1 started following you'
'solusiperutbun.cit started following you '

Bagi pengguna instagram, pasti pernah beberapa kali mendapat notification bahwa akun kita diikuti oleh akun-akun yang menawarkan produk pelangsing atau jasa konsultasi untuk mendapat tubuh yang lebih kurus. Sering menggunakan hashtag #plussizeindonesia atau #plussize dan mengunggah foto-foto diri sendiri rasanya merupakan alasan dari akun-akun tersebut mengikuti gue di Instagram. Probably because i have big body, they see me as  a potential customer. Atau dalam kata lain, they became my followers because they have the stereotype that girls like me, who have big body, want to have skinnier body. Annoying? Kind of, tapi kondisi tersebut gak bisa dipungkiri karena yaaa pada dasarnya mereka sedang berusaha mencari sesuap nasi dan segenggam berlian dengan memanfaatkan stereotype yang ada pada para pengguna instagram.

one of my favorite photo-shoot session on ANTM when they talked about how stereotype 'eat' them all.

Bicara tentang stereotype, begitu menarik ketika gue sadar bahwa hidup kita gak bisa lepas dari stereotype itu sendiri, baik yang melekat pada diri kita maupun yang kita lekatkan pada diri orang lain. Sebelum membahas lebih lanjut, i think it's important to understand what's stereotype.

Sunday, January 8, 2017

Being a Plus-Size Women: Romusa isn't Trending Anymore!

Pernah dengar istilah 'romusa'?

Kalau kalian jawab 'kerja paksa di zaman penjajahan Jepang', well great! Karena kalian masih ingat pelajaran sejarah. Tapi Romusa yg gue maksud bukan itu.

Istilah Romusa yang gue acu kali ini muncul dari cerita salah satu dosen gue yang mengunjungi salah satu daerah di Papua. Salah seorang penduduk lokal yang berinteraksi dengan dosen gue menyebutkan istilah tersebut setelah seakan-akan melihat kebingungan di wajah dosen gue karena penduduk di tanah Papua punya wajah yang mirip-mirip. Romusa yang dimaksud adalah adalah kependekan dari 'Rombongan Muka Sama'.

Istilah itu selalu gue ingat karena berkesan banget! Dan setelah dipikirkan lagi, even di Jakarta yang  orang-orangnya sudah lebih diverse, Romusa masih bisa kita temukan loh!

Dimana?

Coba saat kalian bermain ke pusat perbelanjaan di Jakarta (atau kota-kota besar lainnya) perhatikan para wanita muda yang ada di sana dan coba cari sejumlah persamaannya. Selama ini gue melihat bahwa sebagian besar wanita muda di mall punya penampilan yang serupa: rambut panjang dan ikal di bagian bawah, wearing make up, pakai baju yang modelnya serupa, dan punya cara jalan yang mirip-mirip. Atau yang paling mudah, coba kunjungi akun-akun yang menampilkan cewek-cewek yang dinilai cantik dari suatu Universitas, most of them have similar characteristics, baik dari cara foto maupun dari penampilannya.

Buat gue, itulah Romusa di Jakarta.

There's a possibility serupanya penampilan para wanita muda di Jakarta disebabkan oleh adanya stereotype tentang 'wanita cantik'. Dalam berbagai kesempatan, para pria yang gue kenal punya preferensi untuk menyebut wanita yang punya tubuh langsing, rambut panjang, dan kulit putih (atau mungkin lebih tepatnya terawat kali yaa) sebagai sosok makhluk yang cantik. Karena stereotype itulah banyak wanita yang kita lihat di mall atau media sosial punya gaya yang serupa....agar bisa masuk atau memenuhi pandangan masyarakat tentang 'cantik'.

nothing wrong about it. Sudah hakikat dasar manusia untuk menyesuaikan diri, baik dari segi fisik maupun lainnya, agar dapat masuk dan diterima dalam suatu kelompok masyarakat. Simply because nobody wants to end up alone, right?! Nah, tapi jangan sampai kita lupa bahwa 'cantik itu relatif'!

Setiap individu punya pandangan tersendiri tentang kecantikan: ada yang punya preferensi wanita berkulit sawo matang-lah yang menarik, ada juga yang lebih suka wanita dengan tubuh berisi, atau ada juga yang lebih suka wanita yang terkesan tomboy...mungkin pandangan itu kalah populer dengan apa yang kita sering dengar tentang karakteristik wanita cantik, tapi percayalah....'cantik' itu sifatnya benar-benar relatif, tergantung preferensi masing-masing orang.

Mempercayai bahwa 'cantik itu relatif' adalah hal yang penting....penting untuk menumbuhkan rasa percaya diri kita agar be ourselves instead of someone else. Jangan langsung minder ketika kita tidak memiliki tubuh layaknya Kendall Jenner atau Gigi Hadid yang kini menjadi referensi untuk 'wanita cantik', simply because we're not them and they are not us!

Seperti yang sering gue singgung di blog ini, menjadi percaya diri atau nyaman menjadi diri sendiri adalah hal paling utama untuk bisa bertahan di masyarakat yang serba melihat penampilan fisik. Rasa PD itu nantinya akan terpancar dari diri kita dan jadi magnet tersendiri bagi orang-orang untuk menjadi teman atau mungkin pasangan hidup kita di masa depan. Bahkan, dengan memiliki penampilan yang berbeda dari stereotype 'wanita cantik' dapat membantu kita mengetahui mana orang-orang yang tulus berteman dengan kita dan mana yang berteman hanya karena penampilan fisik saja loooh :p

Im writing this just to remind you this: semua wanita itu cantik, dan your life is worth more than what society think about 'being beautiful'. It's time to embrace your own definition of 'beautiful' and show it to the world!

So, masih mau jadi Romusa atau be your own kind of beautiful? ;)

Monday, November 28, 2016

Being a Plus-Size Women: Surround yourself with Positive Vibes

quote from Quotesgram.com


When I was in  high school, memiliki tubuh yang langsing selalu ada di resolusi gue tiap tahun. Untuk bisa memberikan tanda check di resolusi itu, gue melakukan berbagai hal, salah satunya adalah melakukan diet tanpa pengawasan yang baik. I stopped eating rice, as my form of diet, at night when I was 13 or 14 years old. Tapi, sebelum merasakan hasil yang gue inginkan, gue malah harus menemui dokter karena merasakan sakit yang luar biasa di bagian perut. Di saat itu lah gue tau bahwa lambung gue ada pada kondisi yang kurang baik dan langsung aja dong gue berhenti melakukan segala macam diet sampai detik ini daripada harus merasakan that kind of pain. 

Merasa insecure karena punya tubuh besar adalah salah satu bentuk 'penderitaan' yang harus gue tanggung karena gak mampu mendapatkan tubuh yang 'ideal' lewat diet makanan yang gue lakukan di masa itu. Pengaruh lingkungan sekitar dan peran media membuat gue merasa bahwa gue kurang cantik karena ukuran tubuh gue yang besar ini. Ada pemikiran bahwa 'ah udah pasti lah gue bakal jomblo terus' karena yaaa tubuh gue gak masuk dalam kriteria 'cewek idaman' para cowok yang gue suka di masa itu.

Meet my dearest besties, Dhyta

Rasa kekhawatiran 'tidak merasa cantik' mulai berkurang (atau mungkin lebih tepatnya teralihkan) ketika gue duduk di bangku SMA. Gue sangat bersyukur di masa SMA, yang konon katanya rasa insecure tentang tubuh lagi heboh-hebohnya, gue dikelilingi oleh orang-orang dengan aura positif. Salah satunya adalah sahabat gue, Dhyta. She's also a plus-size lady, tapi dia adalah bukti nyata bahwa ukuran tubuh gak menghalangi diri kita untuk do something great. Selama masa SMA, dia aktif di organisasi dan rajin banget ikut lomba debat dan pidato, yang tentunya membutuhkan rasa PD untuk bisa tampil di hadapan publik. Dia adalah salah satu role-model gue when it comes to confidence issue. 

Keberadaan media sosial, Instagram to be specific, juga banyak membantu gue untuk lebih PD meskipun punya tubuh yang cukup besar (tinggi 162 cm dengan berat badan 85 kg!). Dengan mengikuti akun-akun yang menebarkan pesan-pesan positif seputar body image issue, gue merasa terbantu untuk terhindar dari rasa insecure about my body. Selain itu, I also try to connect with fellow plus-size women in Indonesia (and also another country) supaya bisa terus termotivasi untuk hidup dengan positive vibes. 

Setelah melakukan refleksi, gue paham bahwa untuk terhindar dari rasa khawatir tentang body image, penting untuk bisa mengalihkan pikiran-pikiran negatif yang dapat mengganggu produktifitas kita. Ada loh orang yang karena punya tubuh besar jadi semakin malas atau tidak produktif karena merasa gak PD untuk do something. Kalau kita terus menerus dipengaruhi oleh negative vibes, upaya untuk mencintai diri sendiri dalam rangka menjauhkan diri dari insecurity bakal sulit tercapai. That's why you need to surround yourself with positive vibes. You can get the positive vibes from people around you, or from social media (just like what I do). 

Untuk me-maintain aura positif tersebut, gue percaya bahwa kita gak hanya sebatas menerima pengaruh positif saja tapi juga memberikannya kepada orang-orang di sekitar kita. Ada banyak cara untuk memberikan aura positif. Gue pribadi memilih untuk menggunakan hobi gue: writing articles on my blog and post some #OOTD photos on my Instagram. 

Alhamdulillah, ada  tanggapan yang positif dari beberapa orang; mulai dari keluarga, teman-teman di kampus, bahkan orang-orang yang gue tidak kenal dalam keseharian gue. In fact, dengan berinteraksi dengan fellow plus-size women di media sosial, gue malah dapat sejumlah teman baru yang bisa diajak sharing tentang body image, saling berbagi rekomendasi tentang tempat belanja pakaian berukuran besar, bahkan sampai ngobrolin soal cowok! 

Meet my fellow plus-size buddy, Monica
Salah satu plus-size women yang gue kenal dari upaya gue berbagi positive vibes adalah Monica. Awalnya gue menemukan Instagramnya dari hasil eksplorasi hashtag yang plus-size related. Setelah ngobrol-ngobrol via comment di Instagram, gue baru inget bahwa dia pernah blogwalking dan menuliskan komentar di blog gue! Dari situ kita keep in touch via Line and we decided to meet sambil ikutan feature writing workshop di acara Gogirl! Pop Up Class (will give you the review soon!). Senang rasanya bisa mendapatkan teman baru dengan ketertarikan yang serupa lewat berbagi positive vibes di media sosial. 

Sepenggal cerita dari gue ini semoga bisa memberikan gambaran bagaimana orang-orang di sekitar kita itu punya pengaruh terhadap diri kita dalam berbagai aspek, salah satunya adalah tentang body image. To live with less insecurity about our body, kelilingi hidup kita dengan orang-orang dan hal-hal yang positif agar kita bisa terus belajar untuk mencintai diri sendiri. In the end, kita bisa menjadi individu yang lebih produktif tanpa harus selalu khawatir (dan bahkan dibatasi) oleh kondisi tubuh kita. 

Semoga bisa membantu kalian yang merasa insecure tentang tubuh kalian! Remember, you're worth it no matter what size you are!

Wednesday, November 2, 2016

Being a Plus-Size Women: Tips Berpakaian untuk Wanita bertubuh Besar


Wanita bertubuh besar gak bisa tampil stylish? Siapa bilang?!

Kalau kalian sudah membaca tulisan gue "Recommended by Her: 9 Stylish Instagram Account for Plus-Size", pasti bisa melihat bahwa sudah banyak wanita bertubuh besar yang gak kalah stylish sama mereka yang bertubuh langsing. Tapi memang, tidak bisa dipungkiri bahwa dalam hal berpakaian, wanita (dan pria) bertubuh besar kerap mengalami kesulitan, baik kesulitan untuk mengumpulkan rasa percaya diri maupun mencari ukuran pakaian yang sesuai dengan tubuh.

Sebagai wanita yang masuk dalam golongan bertubuh besar (i'm 84 KG at this moment and always wear size 16 to 18 or XXL), gue mengalami kesulitan-kesulitan tersebut. Ketika berkunjung ke toko pakaian, ada model baju yang saya suka karena sedang 'in' tapi ya masalahnya cuman satu: ketersediaan ukuran buat saya. Giliran ada pakaian yang ukurannya pas, modelnya yang terlalu tua atau biasa aja. Gak enak juga ya punya badan besar :(

Keberadaan sejumlah online store yang menjual pakaian berukuran besar dan kemunculan sejumlah plus-size fashion bloggers and instagrammers adalah anugrah serta jawaban bagi gue dalam hal berpakaian. Gue banyak mendapat inspirasi gaya berpakaian yang tetap terlihat keren meskipun digunakan oleh sosok bertubuh besar ini. Selain dari para plus-size fashion bloggers and instagrammers, gue juga cukup termotivasi untuk lebih pd lewat sejumlah akun yang mempromosikan body positive.

Gue juga memperoleh rasa PD dari feedback orang lain, baik yang dikenal in real life maupun di dunia online. Dari feedback mereka, gue seakan-akan memperoleh support dari mereka. Di sini gue sadar bahwa memang sudah kewajiban bagi para wanita untuk saling support satu sama lain. Kemunculan akun-akun body positive juga sebenarnya bentuk support yang berarti banget bagi para wanita (dan pria) yang merasa 'malu' dengan ukuran tubuhnya yang cenderung besar.

Gue bukan ahli  fashion, tapi berdasarkan pengalaman gue pribadi, ada beberapa hal yang rasanya penting untuk dipahami dan diyakini para wanita bertubuh besar yang masih suka gak PD kalau berpakaian.

1. Don't be afraid to try. Karena dengan mencoba, kita jadi tau do and don't versi kita sendiri. Misalnya aja nih, dari pengalaman gue, baju dengan garis horizontal tuh gak cocok untuk badan besar seperti gue. Tapi karena gue keburu naksir sama satu baju dengan garis horizontal, gue coba aja dulu. Pas dipakai, terlihat fine-fine aja. Jadi apa yang dinilai sebagai don't bagi orang lain, belum tentu berlaku juga buat kita.
2. Utamakan rasa nyaman. Mau pakai baju apapun kalau bikin risih, pastinya ganggu juga kan? Gue pribadi mengutamakan nyaman dalam berpakaian. Nah supaya gak stuck di satu gaya berpakaian, trial dan error itu bisa bantu kita buat meningkatkan level nyaman dalam menggunakan suatu outfit.
3. Ask (and give) for feedback. Meski berpotensi bikin kita insecure, bahkan jadi gak PD, minta pendapat orang lain itu bisa bantu kita terhindar dari berpakaian yang berlebihan. Tau sendiri doong di Indonesia ada banyak banget batasan yang muncul dari nilai dan norma yang ada di Masyarakat. Butuh waktu untuk membiasakan masyarakat di sekitar kita untuk melihat sesuatu yang berbeda. Ada baiknya kita gak cuman take advice or feedback aja, tapi juga gantian memberi feedback kepada orang lain yang punya isu serupa. Kan memang sudah seharusnya para wanita saling support, right? Oh ya, pastikan penyampaiannya yang tepat yaaa jangan sampai dirasa seakan-akan men-judge orang lain.
4. Be yourself. Kita emang diciptakan dan ditakdirkan berbeda dengan orang lain. Boleh saja terinspirasi oleh gaya orang lain, tapi tetap sesuaikan dengan diri kita sendiri karena pakaian yang kita pakai itu 'meneriakkan' diri kita kepada orang lain.

In case you need some inspirations in dressing up, kalian bisa follow akun-akun yang gue rekomendasikan di postingan sebelumnya dan juga check my Pinterest board here.






what I wear
Army Parka by LifeFlowerShop (instagram)
Unbranded Sleveless Shirt
Jegging by Dauky
Blue Sneakers by American Eagles by Payless

Tuesday, October 4, 2016

Being A Plus-Size Women: The Curvy Barbie is Here!



Gue percaya bahwa wanita bertubuh besar di Indonesia, dan rasanya di berbagai negara, mengalami krisis role-model. Pada dasarnya, setiap orang butuh sosok yang bisa mewakili mereka dari berbagai aspek, one of them is body type/size. Gue pribadi merasa butuh sosok perempuan dengan ukuran yang serupa dengan gue yang dapat jadi inspirasi dalam hal berpakaian dan menjadi wanita yang lebih percaya diri. I have my mom, but somehow I need someone else as alternative, someone quite famous i guess. So, I choose Ashley Graham as one of my role models. 




Gak hanya sosok manusia yang bisa dijadikan role mode, even a doll could be your role model (short of). Pasti semua orang tahu dengan boneka Barbie. Dalam berbagai hal, boneka tersebut sering dijadikan semacam panutan, when it comes to body size and type, bagi para wanita. Pernah dengar dong ada wanita yang dijuluki 'Human Barbie' karena wajahnya dan bentuk tubuhnya yang mirip dengan boneka tersebut? Berbagai cara dilakukan untuk bisa memenuhi gambaran tubuh ideal a la Barbie, mulai dari penggunaan make up, diet berlebih, sampai operasi plastik. Tidak sedikit orang-orang yang kemudian 'menyalahkan' boneka Barbie karena menjadi panutan yang kurang baik (mengingat ada sejumlah kasus eating disorder yang dilakukan dengan tujuan memenuhi beauty standard yang didasari oleh physical appearance dari boneka ini). Lucu sih memang menyalahkan benda mati, tapi yaa karena dasarnya setiap orang ingin bisa fit in dengan suatu standard tertentu, jadi hal tersebut bisa saja terjadi. 

In the end of Januari 2016, Mattel released new types of Barbie doll, including the curvy barbie! Kalau kalian sudah menjadi followers instagram gue before February 2016, pasti pernah melihat foto tipe-tipe Barbie terbaru di feed gue. I was superb excited about it! Meskipun gue pribadi tidak menjadikan boneka tersebut sebagai panutan  akan ukuran dan bentuk tubuh, ataupun beauty standard, tapi gue merasa senang karena ada sosok boneka yang serupa dengan bentuk tubuh gue. Despite all of the negative comments about it, gue percaya bahwa ini adalah cara Mattel untuk memperbaiki image negative dari Barbie sekaligus mengedukasi para perempuan tentang body positive; It's okay to have different skin color  or body type, and it's totally okay to be different!

IT'S ABOUT TIME, MATTEL! Belakangan ini, isu tentang bentuk dan ukuran tubuh cukup mendapat sorotan dari berbagai media. Bagi saya, keberadaan boneka Barbie yang semakin beragam, gak hanya warna kulit tetapi juga bentuk tubuh, menjadi semacam angin segar untuk mengedukasi masyarakat perihal bentuk tubuh (terutama bagi anak-anak perempuan, semoga saja kemudian boneka-boneka Ken juga akan mengalami penyesuaian serupa). Selain mengedukasi, boneka-boneka tersebut setidaknya memunculkan perasaan 'terwakili', terutama di generasi mendatang, dan bisa lebih menghargai tubuh mereka (sejalan dengan upaya Pemerintah Amerika untuk menguragi kasus eating disorder). Meski isu bentuk dan ukuran tubuh di Indonesia tidak se-booming di Amerika, tetapi saya berharap pesan tentang 'ideal beauty' yang digambarkan lewat Barbie yang lebih beragam tsb bisa punya efek serupa dengan di Amerika, so everyone can celebrate their shape, their size, their life. Photo credit: eonline on instagram #celebrateyoursize #plussize #bodypositive #bodypositivemovement #bodyimage #barbie #thought #opinion #plussizeindo #bigsizeindonesia #bigsizeindo #effyourbeautystandart
A photo posted by フィクリアナ (@fkrnand) on


Selama berbulan-bulan gue bolak balik toko mainan just to make sure I won't miss that doll. Saat gue ke Singapore Agustus lalu, sempat terlintas untuk membeli boneka tersebut di sana tapi setelah dihitung-hitung lebih murah kalau beli di Indonesia, so I decided to wait. Akhirnya, minggu lalu gue berhasil menemukan boneka Barbie dengan type curvy ini di AEON Department Store, BSD City. Padahal, gue gak secara khusus pergi ke mall super hits di BSD itu untuk mencari boneka Barbie. Setelah izin sama nyokab, finally I can have that curvy doll!! Pacar gue-pun sempat bingung karena gak terbiasa dengan gambaran gue bermain boneka Barbie, secara selama ini kalau ke toko mainan liatnya mainan cowok :p. 

Senang rasanya bisa terwakili oleh Barbie sebagai salah satu icon dalam dunia perempuan. Gue merasa penting bagi para orang tua, yang memiliki anak dengan usia yang masih wajar untuk bermain boneka Barbie, untuk mengajarkan anaknya tentang body diversity that could lead them to body acceptance sedari dini. Mungkin di Indonesia, isu body image gak begitu mendapat perhatian dari masyarakat. Tetapi, gak ada salahnya untuk meningkatkan awareness tentang topik ini sejak kecil kan? Gue percaya bahwa dengan cara sederhana ini, kita bisa lebih toleran dengan perbedaan dan bisa saling menghargai. Hopefully, bullying (especially body shaming) will stop in the future.






Monday, October 3, 2016

Being a Plus-Size Woman: The Love Life Issue

Whoaaa it's been a while since my last post in this section.

Sudah lama sebenarnya gue mau membahas topik cinta-cintaan di bagian ini, tapi yaaa maju mundur terus karena gue pribadi merasa I am not the right person to talk about love life for some reasons. Tapi setelah ditimbang-timbang, gak ada salahnya mencoba, right?

So, here we go

Berdasarkan pengamatan gue, wanita bertubuh besar di Indonesia umumnya percaya bahwa para pria kurang tertarik dengan wanita yang berisi ini. Rata-rata cowok-cowok di Indonesia lebih tertarik dengan wanita bertubuh langsing, berambut panjang, dan berkulit putih. Tentunya, bagi yang tidak memiliki salah satu ciri-ciri tersebut langsung di nilai kurang menarik oleh para pria. Yaaaa gak semua pria seperti itu sih, tapi umumnya cowok-cowok yang kita taksir punya  cewek idaman dengan ciri-ciri fisik tersebut kan? Ada yang benar-benar rela diet gila-gilaan untuk bisa memenuhi karakteristik fisik cewek yang diidamkan sang gebetan, ada juga yang akhirnya makin insecure dengan dirinya and end up hating their own body. 

Kalau gue lagi iseng-iseng stalking instagramnya Intan Kemala Sari (@kemalasari on instagram, please apologize my addiction to stalk your superb inspiring account ya :p) atau mbak Ririe Bogar, ada sejumlah plus-size women yang 'curhat' lewat bagian comment dari foto-foto Intan dan mbak Ririe seputar love life. Most of them think that a plus-size woman doesn't deserve love from a man. 

Jujur saja, saat gue baca komentar-komentar seperti itu gue cukup sedih. Terkesan bahwa wanita bertubuh besar tuh hina banget sampai-sampai gak bisa memperoleh cinta. Padahal, banyak banget wanita bertubuh besar di luar sana yang menemukan cintanya kok, menemukan 'the one'. Means what? Ya ukuran tubuh bukanlah halangan to feel the love from others.

Gue pribadi sempat merasakan hal yang serupa ketika masih duduk di bangku sekolah. Gue merasa bahwa gue cukup invisible bagi para pria yang gue suka. Sampai sekarang, gak sedikit cowok-cowok yang bilang ke gue, "Na, coba deh lo kurusan, gue mau sama lo". Tentunya, kalimat itu juga beberapa kali membuat gue insecure dan berfikir bahwa ukuran tubuh does matter in the way to get love. Tapi, gue bisa menemukan sosok pria yang sayang sama gue for the last 7.5 years tanpa begitu memperhatikan ukuran tubuh (yaa meskipun dia kerap kali minta gue untuk bisa punya badan seperti masa-masa SMA, padahal kalau diingat-ingat, ukuran badan gue saat itu juga terbilang besar :p).

Ada beberapa hal yang menurut gue cukup menarik untuk diperhatikan oleh para plus-size women yang suka insecure with their body and their love life
  1. Kalau memang benar wanita bertubuh langsing adalah incaran para pria, kenapa masih ada aja wanita yang masuk kategori langsing yang masih jomblo? Dan kalau memang benar wanita bertubuh besar kurang menarik bagi pria, kenapa banyak juga wanita bertubuh besar yang punya pacar atau bahkan suami?
  2. Gebetan kamu gak melirik kamu? Are you really sure it's because of your body size? Atau mungkin dia gak melirik kamu karena kamu terlalu overthink atau terlalu insecure dengan tubuh kamu sehingga aura positif kurang terpancar ke sang gebetan?
  3. last one, pernah gak kepikiran kalau para pria juga sebenarnya insecure dengan bentuk dan ukuran tubuhnya yang kerap gak masuk kriteria para cewek yang di taksir oleh mereka?
Kita bahas satu-satu.

Poin pertama, coba deh buat list berapa banyak wanita bertubuh besar yang kamu tahu yang punya pasangan dalam hidupnya? Kalau jawaban kamu 'sama sekali gak ada', mungkin kamu kurang gaul hehe :p. Gue bisa memberikan sejumlah contoh wanita plus-size yang punya pasangan, alias gak jomblo, they are Ashley Graham (Married with Justin Ervin since 2010), Tess Holiday (engaged with Nick Holiday and already have one cute baby), Aditira Hanim alias @Tiraemon (date her senior, Reza for quite long time), Irene Tanudibroto alias @reneetan_ (in relationship for eight years!), mbak Ririe Bogar (married), dan ada banyak nama lagi dari kehidupan gue yang menunjukkan bahwa love knows no size!
Tess and Nick Holliday
Ashley Graham and Justin Ervin

Poin kedua, ini yang menurut gue poin yang cukup penting untuk diperhatikan sih. Terkadang, bukan size kita yang jadi penghalang antara diri kita dengan sang gebetan. Tapi rasa insecure kita akan tubuh kita sendiri yang sadar ataupun gak kita sadari bisa 'dilihat' dan 'dirasakan' oleh orang lain. Kalau kalian sering membaca tulisan gue di blog ini, pasti udah bosan gue ingatkan bahwa rasa percaya diri kita yang bersumber dari loving ourselves first akan memancarkan aura nyaman , gak hanya buat kita tapi untuk orang lain di sekitar kita. Cowok juga risih kalau harus mendengar keluhan seorang cewek soal tubuhnya. Percaya lah bahwa masih banyak pria diluar sana yang tidak berfikir dangkal dalam mencari wanita idalamannya. 

Hal penting yang menurut gue harus dipahami juga bahwa berawal dari mencintai diri sendiri, akan timbul rasa nyaman yang bisa membantu kita lebih PD untuk berinteraksi dengan orang lain. Nah, kalau sudah PD dalam berkomunikasi dengan banyak orang, kita bisa menambah koneksi dan siapa tahu bisa ketemu the man that you've been looking for.

What I called 'The Body Acceptance Cycle'


Poin ketiga juga gak kalah menarik sih. Berdasarkan pengalaman gue, setiap cewek pasti punya kriteria pria idaman juga kan? Maybe this is the right time for you to adjust your own beauty standard toward men. Gue tidak bilang untuk menurunkan standard pria idaman loh ya atau bahkan terima aja siapapun yang mau sama diri kalian, tapi lebih kepada menyesuaikan. Dari pada mengutamakan penampilan fisik, coba lihat pada kualitas si pria tersebut or his inner beauty. Who knows, pria yang selama ini ada di sekitar kamu tapi gak masuk kriteria pacar ideal buat kamu itu adalah yang terbaik.

To end this post, let me help you summarize the points that you should remember when you feel insecure about your love life as a plus-size woman:
  • TRUE LOVE KNOWS NO SIZE! There's a lot of plus-size women out there that already found their true love and nothing related with their body size.
  • To be loved by others, you should love yourself first! Body acceptance is superb important to help you radiate the positive vibes to others.
  • Adjusting your beauty standard may help you find the man that you've been looking for. 

Hopefully, this post will help you realize that true love knows no size dan tetap bersemangat menemukan the right man for your life!

Anyway, if you have any questions or just want to share your thought about any issue related with 'being a plus-size woman', feel free to contact me through e-mail or social media :)






Sunday, August 21, 2016

Being a Plus-Size Woman: The 'Fat Talk'

Pernah mendengar istilah 'Fat Talk'?

Ina* adalah seseorang yang memiliki ukuran dan bentuk tubuh layaknya mayoritas perempuan di Jakarta, atau dalam kata lain memiliki tubuh ideal bagi masyarakat Indonesia. Dirinya kerap merasa tubuh yang ia miliki terlalu besar dan masih jauh dari kata 'ideal. Dirinya kemudian menunjukkan rasa insecure-nya itu dengan berucap (baik secara langsung maupun melalui media sosial) hal-hal sebagai berikut:
"duuuh gue gendutan nih!"
(sambil memegang perut) "duh buncit banget sih!"
(sambil menunjuk paha) "gila paha gue udah segede apaan tau!"
(mengupload foto kemudian menuliskan caption) "gendaaaaaatss"

Nah, ucapan si Ina yang menunjukkan keluhan terhadap ukuran tubuhnya yang dirasa masih kurang 'ideal' merupakan salah satu contoh dari 'fat talk'. 

Setelah membaca sejumlah artikel dan sedikit potongan halaman introduction dari buku salah seorang antropolog bernama Mimi Nichter yang berjudul 'Fat Talk: What Girls and Their Parents Say about Dieting', gue memahami fat talk sebagai perwujudan dari ketakutan para wanita dari berbagai range usia tentang tubuhnya. Umumnya, fat talk ini diwujudkan dalam bentuk yang negatif, misalnya saja mengeluh, seperti contoh di atas. Kalau mengutip dari pernyataan Alexandra F. Corning, professor di University of Notre Dame, yang dicantumkan dalam artikel rilisan Huffpost.com (click for the full article), fat talk itu adalah, 

".... self-degrading talk about the body, food, or eating."  

Umumnya, fat talk identik dengan eating disorder. Tapi, yang membuat gue cukup tertarik dengan term tersebut adalah kaitannya dengan hubungan sosial. 

Rupanya, berdasarkan hasil penelitian Mimi Nichter pada remaja di Amerika Serikat, fat talk itu bisa jadi cara bagi seseorang untuk bisa fit in dalam suatu kelompok masyarakat. Kembali pada kasusnya si Ina nih. Setelah mengeluh tentang tubuhnya (yang sebetulnya sudah masuk kategori 'ideal'), ada orang-orang yang kemudian menanggapi. Misalnya saja:

"iiih apaan sih, kamu kurus tau!"
"apaan sih! Gendutan gue kali!" (padahal yang menjawab ini punya tubuh just like Ina's)


Nah, lewat fat talk yang dimulai oleh Ina, dia membuka suatu interaksi sosial dengan orang-orang di sekitar dia. Belum tentu Ina memang punya rasa insecure atas tubuhnya, tetapi melihat lingkungan sekitarnya memiliki concern yang sama seputar tubuh, Ina memulai fat talk untuk bisa masuk dalam kelompok masyarakat tertentu. 

Selain untuk bisa fit in, fat talk sendiri juga kerap dilakukan dengan tujuan memperoleh rasa tenang yang bersumber dari pendapat orang lain tentang tubuhnya. Sayangnya, sebuah penelitian menunjukkan bahwa doing fat talk won't make you feel better about your body. In fact, lewat fat talk ada kecenderungan untuk semakin tidak puas dengan tubuh sendiri and will lead to eating disorder.

Dipikir-pikir, serem juga ya...

Sebagai wanita bertubuh besar, gue sering banget kesel sama orang-orang yang menurut gue punya tubuh 'ideal' tapi selalu mengeluh soal tubuhnya, just like what Ina did. Kadang pengen banget teriak, "KALAU LO GENDUT GUE APAAN NYET YA?!" di depan wajah orang-orang itu just to remind them to be grateful for their body. Sejak gue mencari tahu soal fat talk, gue mulai paham bahwa apa yang mereka lakukan itu bisa jadi adalah cara mereka untuk cari perhatian dengan orang lain, belum tentu karena memang they feel that way. Sayangnya, cara mereka untuk mencari perhatian adalah lewat belas kasihan orang lain. Hemmmm

Gue pribadi merasa bersyukur saat ini sudah banyak gerakan-gerakan yang mempromosikan body positive atau anti-body shaming, baik secara global maupun secara khusus di Indonesia, dalam berbagai bentuk, mulai dari seminar ataupun lewat keberadaan plus-size fashion blogger. Kenapa? Karena sadar atau tidak, ada pesan-pesan positif untuk mencintai tubuh kita sendiri tanpa mempedulikan ukuran tubuh. Sayangnya, di Indonesia, belum banyak yang 'ngeh' kalau body positive movement itu sebenarnya buat siapapun dengan ukuran apapun, not only specific for plus-size women and men. 

I see the opportunity of being a plus-size woman: spread the good ideas to all. Memiliki tubuh besar adalah kesempatan kita untuk menunjukkan kepada para wanita seperti Ina bahwa they have to be grateful for your body., just like us. Remind them that It's a good thing to have fat on your body, because without it, you're broken. Kalau bertemu dan kebetulan diajak melakukan fat talk oleh orang-orang seperti si Ina, spread the positive vibe by saying "why don't you start to love your body by stop saying that thing?". Mulai dari hal sederhana, seperti berhenti melakukan fat talk, bisa membantu orang-orang dengan rasa insecure akan tubuhnya menjadi lebih bersyukur dan mencintai tubuh mereka. 

See! Menjadi wanita bertubuh besar gak selalu negatif kan?

Have a great day!


---------------------------
* sosok Ina dan kawan-kawannya hanya karakter fiktif belaka ya! Tapi kalau contoh-contohnya sih memang ada di dunia nyata hehehe :p

Tuesday, August 2, 2016

Being a Plus-Size Woman: Am I Big Enough to be Called as Plus-Size?

As you know, I am a self-proclaimed plus-size woman. Well, ke-pd-an gue untuk menyebut diri sebagai seorang plus-size woman sebetulnya dilandasi oleh definisi 'plus-size' dari Plus Model Magazine. Kalau menurut salah satu halaman di  website mereka,

" The term 'Plus Size' is an industry standard that applies to any women who is over a size 12. To be even more specific, the fashion industry identifies plus size as sizes 12-24, super size as sizes 4X-6X and extended size as 7X and up " 

Berhubung gue selalu menggunakan pakaian dengan ukuran (US or UK standard) 16, maka gue cukup percaya diri untuk menyebut diri sendiri as a plus-size woman. Namun, beberapa waktu lalu, gue kembali mempertanyakan identitas gue tersebut. Apakah tubuh gue benar-benar masuk dalam kategori Plus-Size, terutama di Indonesia? Pertanyaan tersebut muncul karena ada sejumlah komentar yang pernah gue peroleh di dunia maya yang menyatakan bahwa I am not a plus-size woman. Karena pernyataan tersebut sering menghantui gue beberapa waktu belakangan, I decided to ask three plus-size icons from Indonesia. They are Aditira Hanim a.k.a. @Tiraemon on Instagram, mbak Ririe Bogar (@ririebogar on Instagram), and Intan Kemala Sari a.k.a @kemalasari on Instagram. 

Oh ya, gue rasa pertanyaan seputar kriteria 'plus-size' di Indonesia cukup penting, especially when it comes to the identity that we want to show to others. That's why I am asking them that kind of question to make it clear. 

Sosok pertama yang gue tanya tentang kriteria plus-size di Indonesia adalah Mbak Ririe Bogar. FYI, mbak Ririe adalah ikon plus-size Indonesia dan telah ditunjuk sebagai Asia Director for The Fuller Woman International. Back to the topic, lewat Instagram Message, mbak Ririe berpendapat bahwa kriteria seseorang disebut plus-size adalah dari berat badan dan penampilan fisiknya. Minimal berat badan untuk bisa disebut 'plus-size' sendiri, menurutnya, adalah 70kg.

Pendapat serupa juga disampaikan oleh Intan Kemala Sari, a plus-size icon/beauty youtubers/writer, lewat Instagram Message seputar kriteria plus-size di Indonesia. Menurutnya, plus-size itu berarti memiliki badan yang besar dan memenuhi kriteria berat badan tertentu,
"Kalau setauku mereka (plus-size) seperti ada patokan berat badan sendiri...misalnya yang bb (berat badan)-nya 75kg atau 80kg ke atas baru di anggap besar."
Intan menambahkan bahwa jika kriteria plus-size di Indonesia dilandasi oleh ukuran pakaian, dirasa agak sulit mengingat tiap brand pakaian memiliki standard ukuran yang berbeda-beda.

Tira punya pendapat yang sedikit berbeda dari mbak Ririe dan Intan. Menurutnya, seseorang masuk kategori plus-size dari ukuran pakaian yang ia gunakan,
"...aku sih liatnya juga dari size baju sih na, kalau udah lebih dari XL so yaaa aku sebut mereka plus size"
Membaca kembali pendapat dari ketiga plus-size icon from Indonesia di atas, gue mencoba merangkum poin-poin penting yang menjadi kriteria seseorang di sebut 'Plus-Size' di Indonesia.

  1. You have a big body: Melihat penampilan fisik adalah cara termudah mengindetifikasi seseorang sebagai plus-size. Namun, di balik kemudahan tersebut, ada pandangan tentang 'tubuh besar' yang sifatnya relatif. Pasti pernah dong mendengar teman kamu yang menurutmu langsing mengeluh 'duh badan gue gendut nih!'. Nah itu adalah contoh sederhana gimana 'besar' dipandang beragam, tergantung orangnya masing-masing. 
  2. Wear size 12 and above/XL and above: Mengikuti definisi 'plus-size' dari Plus Model Mag, seseorang tergolong 'plus-size' kalau biasa menggunakan pakaian dengan ukuran 12 ke atas. Yang perlu diingat, pakaian dengan ukuran tersebut harus pas di tubuh, bukan yang oversized/kedodoran. Nah, the tricky part of using this criteria adalah tiap brand pakaian atau tiap produsen, punya standard ukuran yang beragam.  
  3. Punya berat badan diatas 70 kg: Berhubung 'besar' itu relatif, baik dari segi penampilan fisik atau pakaian, melihat sesuatu yang konkrit adalah hal yang dibutuhkan untuk menilai apakah seseorang masuk kriteria plus-size atau tidak. Berat badan, menurut gue, adalah cara paling mudah dan cukup efektif untuk menentukan apakah seseorang masuk dalam kategori 'plus-size' atau tidak. 
Ketiga poin yang sudah gue rangkum di atas bisa dijadikan panduan bagi kalian yang masih bingung apakah masuk dalam kategori plus-size bagi wanita Indonesia. Pada dasarnya, 'being a plus-size woman' adalah identitas yang kita pilih untuk berbagai alasan, misalnya saja untuk bisa berbaur dalam suatu kelompok masyarakat atau hanya sebatas tools untuk mempermudah diri kita mencari inspirasi dalam berpakaian. Kalau kalian memenuhi semua kriteria di atas tapi enggan menyebut diri sebagai 'plus-size', it's not a problem. Pada dasarnya, tulisan ini gue buat untuk membantu mendefinisikan plus-size di Indonesia, karena tiap negara punya standard yang berbeda-beda bukan? 


Oh ya, siapa tahu juga, lewat tulisan ini kalian yang sebetulnya tidak 'plus-size' bisa berhenti bilang 'duh gue gendut!' :p Just kidding!

So, do you have your own definition of 'plus-size'? Share with me ;)


------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Interviewees' Brief Profile
  • Ririe Bogar: Plus-size icon Indonesia yang kini menjabat sebagai Asia Director dari The Fuller Woman adalah penulis dari buku berjudul "Cantik Ejaannya Bukan K.U.R.U.S.". Ia juga merupakan founder dari Miss Big Indonesia, Xtra-L Community, RB Models, dan Curvy Yoga Indonesia. Check out her superb motivating instagram: @Ririebogar
  • Intan Kemala Sari: dengan jumlah followers Instagram sebesar 8000 akun, rasanya tepat menyebutnya sebagai seorang plus-size icon dari Indonesia. She's also a journalist for one of online media platforms in Indonesia. Selain sering mengunggah foto-foto dengan caption yang menceritakan pengalamannya sebagai seorang plus-size woman, ia juga kerap mengunggah video dengan topik make-up dan belajar bahasa. Check out her instagram: @KemalaSari
  • Aditra Hanim: The superb stylish plus-size woman satu ini berasal dari Garut. Gayanya yang trendi menjadikannya role model bagi para plus-size woman di Indonesia, especially teenager-young adult, yang ingin terlihat fashionable dengan tubuh besar. She's also so humble dan sangat menyenangkan untuk diajak sharing. Check out her style on her instagram @tiraemon.

Thursday, July 21, 2016

Being a Plus-Size Woman | Fashion Addiction: Dress Up Rules According to Me

It's been a while since my last BPSW (being a plus-size woman) post yang bener-bener membahas pengalaman gue as plus-size woman. Nah di tulisan kali ini, gue terinspirasi sama sebuah video yang di upload sama BuzzFeed dengan judul "Things Plus-Size Girls Can't". Videonya sangat-sangat  menarik untuk disaksikan, especially for all the plus-size women yang suka insecure when it comes to dress up.

Di video berdurasi 2 menit 12 detik itu, sejumlah plus-size women (including Tess Holliday) menunjukkan ke para pemirsa sekalian bahwa punya tubuh besar bukan penghalang to do things, terutama berhubungan sama fashion kayak pakai baju bermotif, pake celana pendek, dan sebagainya.
Sebagai seorang plus-size woman yang tinggal di Indonesia, mencari pakaian adalah salah satu hal yang paling nyebelin. Alasannya? Cari size yang sesuai tuh tricky, kalaupun ada kadang harganya mahal atau modelnya terlalu dewasa untuk gue (meskipun belakangan banyak orang *ehem maksud gue remaja* yang mau terlihat dewasa sih, but definitely not me!). Belum lagi, ada banyak pantangan dalam berpakaian buat wanita bertubuh besar yang kerap ditemukan di sejumlah majalah. Dress-up taboo buat plus-size women tuh misalnya kayak pake baju dengan pattern, pake rok atau celana pendek, pake hi-waist jeans/pants, pake baju warna terang, dan sebagainya. 

Kalau urusan mencari pakaian, mungkin sudah gak begitu masalah karena sekarang udah banyak banget online shop yang menjual pakaian buat yang bertubuh besar dengan beragam gaya. If you missed my recommendation, you can click 'here'

So, my recent problem is the dress up taboo for plus-size woman.

Dari pengalaman gue, apa yang diangkat dalam video Buzzfeed itu bener baanget! Bertubuh besar gak berarti gak bisa tampil stylish. Untuk yang range usianya belasan sampai 20an akhir, banyak banget loh plus-size fashion bloggers ataupun selebgram yang bisa dijadikan inspirasi dalam hal berpakaian, dan gue rasa sekarang udah lebih gampang lah untuk cari referensi pakaian yang fashionable buat kita-kita yang bertubuh besar. Gak kayak gue dulu yang harus bergantung pada kaos dan kemeja polos karena khawatir kalau pake pattern bakal berubah bentuk (patternnya). 

Kalau sejumlah referensi nyebutin ada do and don'ts dalam berpakaian buat cewek-cewek plus-size, jangan diikutin banget. Gue baru-baru ini menyadari bahwa kadang, apa yang disampaikan di media itu belum tentu benar untuk diikutin (when it comes to dress up ya!) karena tiap orang, meskipun sama-sama bertubuh besar, punya keunikan masing-masing yang cuma bisa dipahami sama dirinya sendiri. Kunci utamanya ketika berpakaian adalah: MERASA NYAMAN. Itu main rule yang gue pegang terus kalau lagi berpakaian. Kita, wanita bertubuh besar, sebenarnya bisa mengikuti gaya apapun yang kita mau. Yang penting adalah paham cara mix and match-nya supaya terasa nyaman dipakai dan menarik untuk dilihat (oleh diri sendiri dan orang lain). MAKE YOUR MIRROR AS YOUR BESTFRIEND untuk bisa menilai sendiri pakaian yang kalian pakai, apakah kalian benar-benar nyaman dan terlihat nyaman untuk digunakan.

Mengikuti sejumlah akun yang gaya berpakaiannya sesuai sama keinginan bisa jadi starting pointbuat kita untuk mulai MENGEKSPLORASI do and don't dalam dressing up according to us. Mencapai rasa nyaman itu ada prosesnya, dalam hal berpakaian, prosesnya itu yaa mengeksplorasi gaya berpakaian yang kita suka dan gimana cara membuatnya sesuai sama apa yang kita mau.  Kalau gue pribadi, dalam mencari inspirasi berpakaian, lebih sering buka Pinterest dengan berbagai keyword. Bahkan, seringkali gak melulu cari inspirasi berpakaian dari orang-orang yang bertubuh besar, tapi juga mereka yang tubuhnya agak langsing gitu. JANGAN TAKUT untuk mendapatkan feedback dari orang lain terkait dengan pakaian yang kita pakai. Kalau dapet komentar yang agak negatif di social media soal the way we dress up, jadikan itu sebagai trigger untuk bisa dress up better than before. 
Sebelum mengakhiri tulisan ini, gue mau sedikit recap rules apa aja yang gue pake, as a plus-size women, untuk dressing up:
  1. Merasa Nyaman (ini paling penting buat gue, karena gue percaya rasa nyaman itu bisa terpancar dari diri kita).
  2. Be Best Friend with Your Mirror (in mirror, we trust!)
  3. Explore More (to make your own do and don'ts in dressing up)
  4. Don't be Afraid (trust me, meski suka bikin down, komentar negatif orang lain itu adalah trigger terbaik untuk jadi lebih baik).
Oh ya, as I told you, gue suka cari inspirasi berpakaian di Pinterest. Gue sengaja membuat kumpulan foto-foto (yg diambil dari hasil pencarian di pinterest) yang siapa tau bisa jadi inspirasi kalian dalam berpakaian. Silahkan di follow 'board' nya siapa tahu gue nambahin foto-foto lainnya (click here to check it out!).

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi yang membaca ya ;)

Friday, July 1, 2016

Being Plus-size Women: 'Embrace your Curve' Event

Just a quick post for this time,

sedikit cerita, beberapa waktu yang lalu gue mendapatkan informasi dari akun Instagram Ririe Bogar, salah satu ikon plus-size di Indonesia, bahwa dirinya terpilih menjadi Director untuk International Fuller Woman Network yang mulai mengekspansi diri ke kawasan Asia. Menurut gue, hal tersebut sangat-sangat menarik karena akhirnya Asia mulai dilirik untuk isu-isu body positive, terutama bagi mereka yang bertubuh plus-size. Ririe Bogar tentunya jadi sosok yang pas banget untuk dipilih menjadi perwakilan wilayah Asia melihat dedikasinya yang tinggi untuk menyebarkan pesan-pesan positive terkait dengan isu body image bagi wanita bertubuh plus-size di Indonesia. Kalau kalian mengikuti akun Instagramnya, @ririebogar, dirinya rajin banget update seputar isu tersebut dan favorite gue adalah ketika dirinya menginformasikan kepada semua orang bahwa memiliki tubuh besar harus tetap menjaga kesehatan dan gak selalu berarti orang dengan tubuh besar itu tidak sehat. 

Anyway, bersamaan dengan ditunjuknya mbak Ririe Bogar sebagai Asia Director, Fuller Woman Network juga mengumumkan bahwa tahun 2017, bakal ada expo yang dedicated for plus-size/curvy woman di Jakarta. Informasi tersebut benar-benar bikin gue bahagia karena akhirnya, gue gak cuman bisa merasa iri dengan plus-size woman di Amerika yang sering membuat expo, seminar, dsb. Kenapa info soal plus-size expo ini bikin gue senang? Karena akhirnya wanita bertubuh besar diberi ruang untuk mengembangkan diri lebih besar lagi dan bisa saling support. Harapan gue sih, remaja dan para wanita muda yang bertubuh besar bisa berpartisipasi dalam kegiatan ini dan bisa lebih produktif tanpa harus khawatir sama ukuran tubuh, especially buat mereka yang mau terjun di depan layar dunia fashion (misalnya jadi fashion bloggers/ig-ers atau jadi model). 



Nah, karena tahun 2017 masih berbulan-bulan lagi, bakal ada mini-event di tanggal 16 Juli besok di At America, Pacific Place Jakarta dari jam 7 malam - 8.30 malam. Di event dengan judul 'Embrace your Curves', kita bisa ikutan diskusi seputar being plus-size dan fashion bareng sejumlah pembicara, seperti Ririe Bogar herself, Cassandra Jones-McBryde selaku founder dari Int'l Fuller Woman Network, Riezki Aisah selaku model plus-size dari Indonesia dan founder Curvy Yoga Indonesia (they're new and superb inspiring, because basically everyone can do yoga!), Suzanne Subijanto selaku owner MySize boutique (yg tokonya pernah gue sebut di postingan tentang rekomendasi plus-size clothing store), dan Marcella Lomowa yang dikenal sebagai presenter.

I really can't wait to attend this event karena topik ini masih 'baru' di Indonesia dan menarik untuk disaksikan. Hopefully, gue mendapat banyak ilmu dari acara itu. Buat kalian yang kebetulan membaca postingan ini dan tertarik buat datang ke acaranya, bisa banget datang dan siapa tau bisa ketemu+sharing bersama-sama! Oh ya acara ini free jadi siapapun bisa datang dan berbagi pengalaman bersama-sama :)

See you at this event!

Monday, June 27, 2016

Announcement: HELLO YOUTUBE

Sebenarnya sudah sekitar satu bulan belakangan, gue memiliki keinginan untuk masuk dunia vlogging. Akun youtube sebenarnya sudah gue miliki sejak tahun 2012, tapi isinya hanya sebatas video-video untuk contest ataupun yaa sebatas untuk memberikan likes, comment, dan subscribe sejumlah youtuber yang gue suka. Baru hari ini, keinginan gue terwujud lewat merekam sejumlah video dan mengunggahnya ke Youtube.com. So far, sudah ada dua video yang isinya adalah rekomendasi online dan offline clothing store untuk para wanita bertubuh plus-size. Harapan ke depannya, gue bisa cukup konsisten dalam mengisi konten blog dan vlog seputar body positive issue ataupu seputar hal-hal yang ingin gue utarakan kepada para netizen lainnya. Yaaa kali-kali aja gitu, lewat blog dan vlog, masyarakat di Indonesia jadi paham seputar Plus-Size maupun body positive movement yang cukup hits di negeri Paman Sam.

Silahkan banget untuk subscribe ke channel youtube gue dan leave your comment on the vids. Gue akan sangat mengapresiasi bagi para viewers dan readers yang meninggalkan komentar untuk sharing ataupun sekedar say hi di blog dan channel gue. 




Ah sebelum lupa, beberapa waktu lalu lagi iseng-iseng berkunjung ke Instagram salah satu icon plus-size Indonesia, Ririe Bogar, dan rupanya ia terpilih jadi perwakilan dari Fuller Woman, semacam sebuah organisasi dan movement untuk wanita plus-size, di Asia...yep..ASIA! Congratulation for mbak Ririe Bogar dan gue sangat sangat tidak sabar untuk bisa berpartisipasi di Fuller Women Expo tahun 2017 mendatang, karena selama ini gue suka penasaran apa aja sih yang dilakukan dalam suatu expo yang dedicated for plus-size woman di negara-negara lain. Can't wait!

Tuesday, May 31, 2016

Being Plus-Size Women: My Personal Disappointment

Being a plus-size woman in Indonesia, well i guess it's almost everywhere, is tricky. It's quite hard to find the right clothes to wear but still look trendy, find someone who loves you no matter how big you are, and find the role model or platform that inspire you the most to boost up your confidence.

The last point that I mention above, adalah alasan gue kembali menulis dalam seri ini. Pagi tadi, seperti biasa, gue membuka aplikasi favorite gue, Instagram, untuk mengisi waktu yang sedang senggang. Lagi asik scrolling through my instagram feed, gue menemukan sebuah foto dari akun bernama 'tasbynara'. Dalam foto tersebut, ada tas yang sepertinya dipromosikan lewat akun tersebut. Kebingungan menghampiri gue ketika melihat foto tersebut, alasannya adalah gue itu tipe pengguna instagram yang jarang-jarang follow online shop kecuali gue memang tertarik dengan produknya atau gue kenal sama yang punya online shop, and as long as I can remember, gue gak pernah mengikuti akun tersebut (secara tas yang dijual bukan kesukaan gue). Setelah gue perhatikan siapa saja mutual followers di akun tersebut, ternyata umumnya dimiliki oleh para plus-size women dari Indonesia yang memang gue tahu, salah satunya adalah teman baru gue yang sama-sama punya interest di plus-size life, Monica. Tanpa pikir panjang, gue langsung menghubungi Monica via Line untuk menanyakan tentang akun tersebut. 

Setelah diperhatikan dan didiskusikan dengan Monica, rupanya akun tersebut sebelumnya adalah akun @OOTDBIGSIZEINDONESIA yang merupakan salah satu akun yang cukup rajin me-repost outfit para wanita bertubuh besar di Indonesia. Di situ lah kekecewaan gue muncul.

To be honest, kecurigaan gue muncul sejak melihat jumlah followers yang mencapai 10K saat gue pertama kali men-follow akun tersebut. Bukannya apa-apa, jumlah 10k itu bagi gue pribadi agak mencengangkan aja untuk akun yang terbilang baru dan memunculkan topik yang terbilang baru juga di Indonesia. Kecurigaan gue makin muncul ketika akun tersebut jadi sering mengunggah iklan-iklan, entah sebagai bentuk paid promote atau endorsement, ketimbang me-repost outfit wanita-wanita bertubuh besar, seperti tujuan awalnya. And this morning, kecurigaan gue terbukti bahwa akun ini tidak 'setulus' apa yang gue harapkan.

Mungkin belum terjawab kenapa gue kecewa terhadap akun tersebut. Bukan bermaksud melarang-larang untuk membelli atau menjual akun yang punya followers, itu hak kalian para pengguna Instagram, tapi gue kecewa karena selama ini gue merasa akun jenis itu bisa jadi wadah yang baik untuk membantu para plus-size women di Indonesia untuk lebih percaya diri, salah satunya dalam hal berpakaian. Memang sih, saat ini ada beberapa akun serupa lainnya, tetapi sangat disayangkan aja kalau harus kehilangan satu akun yang bisa saling membantu plus-size women untuk makin baik. Sampai detik ini gue gak tau, perubahan visi misi si akun itu karena memang dijual atau di hack, tapi gue menyimpan kekecewaan tersendiri kalau ternyata tidak di hack. Gue sendiri merasa akun itu, dulunya, adalah salah satu wadah yang cukup membantu gue dalam hal meningkatkan rasa percaya diri dalam berpakaian, terlepas dari paid promote-nya yang bikin gue sering merasa risih. Karena itu, kemudian gue memutuskan untuk men-unfollow akun tersebut sebagai suatu bentuk kekecewaan gue. 

Sebagai seorang plus-size woman, gue berharap bahwa akun-akun lain yang juga sering me-repost outfit para wanita bertubuh besar di Indonesia tidak melakukan hal serupa dengan mengumpulkan followers banyak untuk kemudian menjual akun tersebut untuk menjual dagangannya. 

But hey, chin up! Inspiration can comes from any unexpected place, right? Mati satu, tumbuh seribu! There are some similar accounts that you can follow and lot of plus-size women in Instagram that really welcome to be your insta-friends, so you won't be alone after all (based on my experience, that's the best thing that happened to me!).

Remember, ladies...you are beautiful not because of your size, but because you're comfortable with yourself!

Thursday, April 28, 2016

Being Plus-Size Woman: Body Positive

Maafkan saya yang sudah lama tak mengisi blog ini dengan sesuatu yang bisa dibaca (dan dikomentari) :p. The thesis totally takes my focus away from blogging lately, since it's my number one priority. Percaya lah, setiap kali mendapat ide untuk nge-blog, laptop sudah keburu ditutup dan rasa ngantuk sudah menghadang. Please forgive me :D

Anyway, semenjak handphone gue mengalami kerusakan yang cukup mengganggu, salah satu topik yang cukup bisa mengisi hari-hari adalah berbagai kampanye yang menjunjung 'body positive'. Mungkin alasan utamanya adalah karena skripsi gue 'nyerempet' hal tersebut, jadi yaa no wonder kerjaan gue bolak-balik memperhatikan akun-akun Instagram yang berupaya mempromosikan gagasan tersebut lewat foto-foto OOTD.

Body positive sebenarnya adalah suatu nama kampanye yang kurang lebih berupaya untuk mengingatkan masyarakat untuk bisa menerima kondisi fisiknya agar tetap bisa produktif dalam kehidupan sehari-hari. Yang gue pahami adalah, segala bentuk kampanye body positive yang marak di internet belakangan ini tujuannya ya...agar setiap individu bisa menghargai tubuhnya dan supaya nantinya masyarakat bisa lebih menghargai tubuh orang lain yang berbeda dengan dirinya. Kampanye tipe ini cukup marak di Amerika mengingat banyaknya kasus obesitas yang terjadi di sana. Lewat kampanye tersebut, tentunya diharapkan kasus obesitas bisa berkurang karena setiap individu menghargai tubuhnya lewat menjaga kesehatan serta tidak menjadikan kondisi tubuh  sebagai penghalang untuk bisa aktif dalam kehidupan sehari-hari. Kampanye-kampanye terkait body positive banyak banget bentuknya, mulai dari yang mengingatkan untuk memulai gaya hidup sehat, sampai yang mencoba mengedukasi masyarakat untuk gak men-judge orang-orang dengan tubuh berbeda berdasarkan standard kecantikan yang ada.

Salah satu kampanye yang gue ketahui adalah Eff Your Beauty Standards (@effyourbeautystandards). Menurut interpretasi gue, kampanye tersebut bertujuan untuk mengingatkan para pengikutnya agar mencintai tubuh sendiri dan embracing their difference. Cara yang ditunjukkan oleh para followers-nya beragam, mulai dari mengunggah foto-foto menjaga gaya hidup meskipun bertubuh besar, ada juga yang mengekspresikan diri lewat dunia fashion untuk menunjukkan bahwa yang utama adalah rasa percaya diri. Di Indonesia sendiri, beberapa pergerakan yang terkait dengan body image (yang gue pernah lihat di media sosial) kurang lebih punya tujuan serupa seperti apa yang dikampanyekan Eff Your Beauty Standards.

Pada awalnya, gue melihat kampanye-kampanye seperti itu didedikasikan untuk para plus-size people saja. Bagaimana tidak, di akun @effyourbeautystandars, memang lebih cenderung mengunggah fotoo orang-orang dengan tubuh besar, jadi yaa gue awalnya berfikir bahwa kampanye body positive itu memang didedikasikan buat orang-orang bertubuh besar. To be honest, apa yang disampaikan melalui akun tersebut bisa dibilang sangat menginspirasi gue pribadi. Gue jadi lebih percaya diri, terutama dalam hal berpakaian. Awalnya dulu gue merasa fashion is only for ideal-body-type-kinda-girl and definitely not me. Tetapi kemudian pandangan gue berubah dan yaaa gue jadi sering juga mengunggah foto OOTD untuk menunjukkan bahwa gue juga bisa berpakaian kekinian hehe :p

Setelah kurang lebih satu tahun mengikuti akun tersebut, gue tersadar akan satu hal: body positive is for everyone, no matter what size you are!. Akun-akun pergerakan body positive sebenarnya bisa berlaku untuk semua bentuk dan ukuran tubuh, tidak secara ekslusif untuk mereka yang bertubuh besar saja. Siapapun, gue rasa, wajib untuk mencintai tubuhnya sendiri agar bisa menikmati kehidupan dan memunculkan rasa nyaman dalam berbagai hal, termasuk dalam hal berinteraksi dengan orang lain. Lewat mencintai diri sendiri, gue melihat adanya harapan dari berbagai pihak agar tidak terjadi berbagai tindakan menyakiti diri, for example is eating disorder or suicide. Kalau dipikir-pikir, sebagian pengidap eating disorder memulai kebiasaan buruknya itu dari perasaan insecure akan tubuhnya, kemungkinan besar dipengaruhi oleh orang-orang di sekitar mereka.

As plus-size woman, kondisi insecure akibat masyarakat juga gue alami. Tidak sedikit orang yang, dengan berbagai alasan, seperti 'menyindir' gue, misalnya dengan mengatakan 'duh kamu badannya makin gede aja'. Di momen yang kurang tepat, kata-kata tersebut bikin emosi dan gak jarang membuat down juga sebetulnya. Peer pressure juga gue rasakan,  misalnya dulu sebelum punya pacar, gak sedikit yang bilang 'na, coba lo kurusan deh, pasti gue mau sama lo'. Yaaa jaman-jaman SMP-SMA kan ada aja ya tekanan untuk punya status 'pacaran', dan perkataan itu tentunya bikin gue insecure dan pengen melakukan apapun untuk bisa mewujudkannya. I did diet when I was in high school. Tapi pada akhirnya gue menderita sakit maag untuk pertama kali dan rasa sakitnya itu sangat-sangat tidak menyenangkan! Then I decided to choose me instead of their words.

Kasus-kasus serupa juga sering gue dengar dari beberapa teman. Yaaa saat ini sih mereka berhasil bertubuh 'ideal' meskipun harus terus menerus jatuh sakit akibat terlalu memaksakan diri untuk bisa 'kurus'. Gue melihat bahwa hal-hal yang sempat dialami gue dan beberapa teman yang melakukan diet tapi kurang memperhatikan kesehatan yang sebenarnya berupaya dicegah oleh kampanye-kampanye body positive itu.

Oh ya, as i told ya before, body positive campaign ini berlaku untuk semua bentuk dan ukuran tubuh. Orang-orang dengan tubuh kurus/langsing-pun juga sering menghadapi rasa insecure dengan tubuhnya sendiri. Sering dong kita denger ada yang menyebut mereka 'cungkring', 'ceking', dan sebagainya. Nah kampanye-kampanye body positive yang marak itu bertujuan untuk mengingatkan bahwa you are worth it! Selain itu, mengingatkan juga bahwa your body doesn't actually define you. 

Orang bertubuh besar gak selalu berarti gak menjaga kesehatan, orang bertubuh kurus/langsung juga gak selalu berarti mereka sehat. Kalau sudah pernah baca tulisan gue sebelumnya di blog ini, para plus-size fashion influencers do work out loh! Mereka juga menjaga makan untuk kesehatan mereka. Gak percaya? coba aja follow snapchat Tess Holiday atau Ashley Graham sebagai bukti bahwa orang bertubuh besar do care with their health

Dua malam yang lalu, sebelum tidur, gue meluangkan waktu untuk menjelajahi timeline Line. Ada satu postingan yang diunggah oleh Line (not so) Official Account bernama DraftSMS yang menarik perhatian gue. Oh ya, FYI, OA DraftSMS itu bentuknya seperti program-program radio yang titip pesan gitu, dan menurut gue menarik untuk diikuti. Dalam postingan tersebut, sang pemberi pesan (sebut saja si mbak A) menyampaikan pesan untuk teman-temannya yang rupanya kerap menyindir si mbak akibat ukuran tubuhnya. Hal yang menarik gue temukan pada bagian komen dari postingan tersebut. Ada seseorang yang mengatakan bahwa si mbak A sebenarnya punya dua pilihan: ngurusin badan atau berhenti untuk 'baper'. Well, to be honest I disagree with both option, but I don't want to discuss why. Yang mau gue bahas adalah pertanyaan yang muncul setelah baca komentar tersebut, 'apa iya orang bertubuh besar harus mengurangi berat badan untuk bisa berteman?' dan 'sedangkal itukah alasan untuk memperoleh teman banyak?'

Gue pribadi berpendapat bahwa untuk punya banyak teman, hal pertama yang penting adalah  kita merasa nyaman akan diri kita sendiri. I do believe, by feeling good we can actually be a good person. Kalau kita nyaman akan tubuh kita sendiri, bisa disimpulkan bahwa kita juga sudah menerima diri kita sendiri dan nantinya orang-orang juga akan merasa nyaman dengan diri kita. Hal tersebut yang diupayakan oleh sejumlah kampanye body positive, semua berawal dari diri kita untuk kemudian bisa mengubah pandangan orang lain. kalaupun pandangan orang lain tidak dapat diubah, setidaknya membuka jalan untuk toleransi.

Yang ingin gue sampaikan di sini adalah bahwa menerima diri kita sendiri adalah kunci utama untuk bisa bertahan di masyarakat yang punya pandangan beragam terkait dengan body image. Dengan tidak menjadikan tubuh sebagai penghalang, semua orang bisa melakukan apapun yang disukai ataupun diinginkan. Be body positive, you'll find your own definition of happiness ;)




Thursday, March 17, 2016

Being Plus-Size Woman: Another Point of View

Sudah lama rasanya gak membicarakan tentang kehidupan as plus-size woman di blog ini, padahal tulisan pertama yang membahas tentang 'Being Plus-Size in Indonesia' lumayan dapat perhatian di blog ini (berdasarkan jumlah viewersnya). Well, here I am, back with my (another) opinion about living in Indonesia as Plus-Size Woman.

Sebenarnya mau membahas tentang isu ini dari akhir Januari silam, tepatnya sebagai bentuk selebrasi atas rilisnya boneka Barbie edisi baru yang (akhirnya) memiliki beberapa bentuk tubuh baru seperti curvy and tall. But somehow, ada aja yang lebih menarik untuk di tulis...well at least according to my mood. Kemudian dorongan untuk menulis topik ini makin mencuat setelah selama seminggu belakangan gue bertemu dengan tiga orang plus-size women yang super inspiratif sebagai bahan untuk skripsi gue, they are Irene Tanudibroto (@reneetan_ on instagram and http://xoxoreneetan.blogspot.co.id/), Annissa Mawinda (www.anisacrament.com and @anisacrament on instagram), dan Aditira (@tiraemon on instagram). Mereka, selama kurang lebih satu tahun belakangan, adalah sumber inspirasi gue untuk menjadi lebih percaya diri, terutama dalam hal berpakaian. Mereka bertiga memiliki gaya berpakaian yang berbeda-beda tetapi punya tingkat percaya diri yang patut dicontoh bagi mereka, warga Indonesia, yang tergolong sebagai plus-size women (size 10 and above ya! kalau kurang dari itu.......).

Selama gue hidup di Indonesia, which is sejak lahir, memiliki tubuh besar adalah sebuah tantangan, terutama di masyarakat. Gue merasa besarnya tubuh gue ini disebabkan oleh kehidupan masa kecil gue yang selalu ditawari untuk nambah kalau makan. Karena gak mau menyakiti hati orang lain, ya gue makan dong ya...Selain itu, alasan tubuh gue bisa terbilang besar karena dulu saat kecil gue kena serangan asma dan gak boleh terlalu berkeringat. Alhasil, gue berusaha untuk tidak terlalu lelah dan perbanyak istirahat alias tidur. Dari dua pengalaman hidup itu, yaa akhirnya terciptalah tubuh besar ini. Saat gue memasuki usia remaja hingga saat ini, gak sedikit orang yang menyindir gue soal bentuk tubuh. Sejak SMA, beberapa teman selalu bilang 'Na, kalau lo kurusan pasti cantik deh' atau 'Na, kalau lo kurus gue mau deh sama lo' atau ada juga yang kerap menyindir kalau gue lagi makan. Sejujurnya, gue terbilang cuek hingga masuk ke satu masa dimana gue merasa super insecure tentang bentuk serta ukuran tubuh karena berbagai alasan. Gue kemudian bertanya pada diri sendiri, 

"apa iya orang-orang lebih suka kalau gue kurus? memang apa salahnya punya badan besar? toh gue bisa jadi andalan kalau harus lomba tarik tambang kan?'

Gue semacam menyimpulkan bahwa masyarakat Indonesia punya preferensi untuk lebih menyukai perempuan yang memiliki tubuh kurus atau langsing. Sedangkan mereka yang bertubuh besar kemudian diasosiasikan dengan hal-hal yang negatif, seperti pemalas, gak sehat, dan (maybe) buruk rupa. No wonder banyak banget perempuan yang rela diet keras agar bisa disukai, meskipun hasil akhirnya mungkin malah bikin mereka gak sehat. 

Kehadiran Plus-Size Fashion di dunia mode satu tahun belakangan ini bisa dibilang semacam gebrakan bagi mereka yang bertubuh besar. Kenapa? Karena akhirnya mode bisa diaplikasikan pada wanita-wanita (dan pria) yang punya tubuh besar. Namun tetap saja ada yang berpandangan bahwa kehadiran plus-size fashion jadi media untuk mempromosikan obesitas kepada masyarakat. Gue masih ingat ketika curvy Barbie diluncurkan, terdapat sejumlah komentar di akun instagram Barbie yang semacam gak setuju dengan kehadiran jenis boneka tersebut. Alasannya ya itu tadi, mempromosikan obesitas kepada wanita, terutama anak perempuan yang jadi target utama penjualan Barbie. Dari komen itu, gue kembali berfikir, apa iya?


My idol as Women's Running Cover!

Hasil dari berbincang dengan ketiga plus-size blogger and selebgram memberikan pandangan lain tentang plus-size fashion. Kalau bisa gue rangkum, kehadiran plus-size fashion sebenarnya gak sama dengan mempromosikan gaya hidup yang gak sehat dan obesitas, melainkan mengajarkan para pria dan wanita dengan tubuh besar untuk mencintai tubuhnya dan menjadi percaya diri untuk mengekspresikan dirinya sendiri ke masyarakat lewat fashion. Bagi yang pernah membaca tulisan gue sebelumnya tentang keputusan gue untuk hidup sehat lewat berolahraga di gym, gue pernah menyinggung bagaimana Tess Holiday, model berukuran 24 yang meski memiliki tubuh besar tapi tetap menjaga kesehatan dengan mengunjungi gym dan berlatih bersama personal trainernya. Itu hanya contoh sederhana bahwa being plus-size isn't (always) equal with being unhealthy. Being plus-size means that you can love your body, accept who you are, and express it with any kind of media, such as fashion. Bagi yang suka mengikuti dunia plus-size fashion, pasti tau doong gimana Ashley Graham berhasil  jadi 'anggota' dari Sport Illustrated beberapa waktu lalu. Selain Ashley Graham, ada juga Nadia Aboulhosn, seorang plus-size fashion blogger yang menjadi cover majalah Women's Running baru-baru ini. Menurut gue itu bisa dijadikan contoh bagi siapapun yang memiliki tubuh plus-size untuk tetap menjaga kesehatannya meskipun memiliki tubuh besar dan menunjukkan ke masyarakat bahwa menjadi plus-size gak berarti sakit.

YASH QUEEN!

Contoh yang gue sebutkan memang orang -orang dari negeri lain, tapi ketiga plus-size women yang gue ajak sharing juga melakukan hal serupa loh! Meski mungkin tidak rutin, mereka tetap berusaha menjaga asupan makan dan tetap berolahraga untuk menjaga kondisi mereka tetap prima. Mungkin yang cukup sering update berolahraga di media sosial adalah Ucita Pohan. Announcer di Cosmopolitan FM itu termasuk rajin banget berolahraga, mulai dari ikut zumba sampai rajin lari pagi sebelum siaran. Menurut gue, gak perlu berolahraga yang harus ke gym tiap hari atau gimana, pilih kegiatan olah raga yang membuat diri kita senang. Misalnya saja, kalau gak suka lari bisa diganti dengan berenang yang lebih fun, atau ikutin gerakan-gerakan olahraga yang udah banyak banget tersedia di youtube. Do something that makes you happy! Karena kalau kita bahagia ngejalaninnya, lebih gak berasa berat juga kan?

Di akhir tulisan ini, gue hanya ingin kembali menekankan bahwa memiliki tubuh besar tidak selalu berarti seseorang tidak menjaga tubuh dan kesehatannya. Memiliki tubuh besar bukan berarti menjadi semacam izin untuk hidup sesukanya tanpa memperhatikan kesehatan diri sendiri. Percaya aja bahwa lewat tubuh yang sehat, kita bisa lebih bahagia. Lewat mencintai diri sendiri kita bisa jadi individu yang lebih baik lagi. In the end, Love your body and be confident!