Skip to main content

Being a Plus-Size Woman: The 'Fat Talk'

Pernah mendengar istilah 'Fat Talk'?

Ina* adalah seseorang yang memiliki ukuran dan bentuk tubuh layaknya mayoritas perempuan di Jakarta, atau dalam kata lain memiliki tubuh ideal bagi masyarakat Indonesia. Dirinya kerap merasa tubuh yang ia miliki terlalu besar dan masih jauh dari kata 'ideal. Dirinya kemudian menunjukkan rasa insecure-nya itu dengan berucap (baik secara langsung maupun melalui media sosial) hal-hal sebagai berikut:
"duuuh gue gendutan nih!"
(sambil memegang perut) "duh buncit banget sih!"
(sambil menunjuk paha) "gila paha gue udah segede apaan tau!"
(mengupload foto kemudian menuliskan caption) "gendaaaaaatss"

Nah, ucapan si Ina yang menunjukkan keluhan terhadap ukuran tubuhnya yang dirasa masih kurang 'ideal' merupakan salah satu contoh dari 'fat talk'. 

Setelah membaca sejumlah artikel dan sedikit potongan halaman introduction dari buku salah seorang antropolog bernama Mimi Nichter yang berjudul 'Fat Talk: What Girls and Their Parents Say about Dieting', gue memahami fat talk sebagai perwujudan dari ketakutan para wanita dari berbagai range usia tentang tubuhnya. Umumnya, fat talk ini diwujudkan dalam bentuk yang negatif, misalnya saja mengeluh, seperti contoh di atas. Kalau mengutip dari pernyataan Alexandra F. Corning, professor di University of Notre Dame, yang dicantumkan dalam artikel rilisan Huffpost.com (click for the full article), fat talk itu adalah, 

".... self-degrading talk about the body, food, or eating."  

Umumnya, fat talk identik dengan eating disorder. Tapi, yang membuat gue cukup tertarik dengan term tersebut adalah kaitannya dengan hubungan sosial. 

Rupanya, berdasarkan hasil penelitian Mimi Nichter pada remaja di Amerika Serikat, fat talk itu bisa jadi cara bagi seseorang untuk bisa fit in dalam suatu kelompok masyarakat. Kembali pada kasusnya si Ina nih. Setelah mengeluh tentang tubuhnya (yang sebetulnya sudah masuk kategori 'ideal'), ada orang-orang yang kemudian menanggapi. Misalnya saja:

"iiih apaan sih, kamu kurus tau!"
"apaan sih! Gendutan gue kali!" (padahal yang menjawab ini punya tubuh just like Ina's)


Nah, lewat fat talk yang dimulai oleh Ina, dia membuka suatu interaksi sosial dengan orang-orang di sekitar dia. Belum tentu Ina memang punya rasa insecure atas tubuhnya, tetapi melihat lingkungan sekitarnya memiliki concern yang sama seputar tubuh, Ina memulai fat talk untuk bisa masuk dalam kelompok masyarakat tertentu. 

Selain untuk bisa fit in, fat talk sendiri juga kerap dilakukan dengan tujuan memperoleh rasa tenang yang bersumber dari pendapat orang lain tentang tubuhnya. Sayangnya, sebuah penelitian menunjukkan bahwa doing fat talk won't make you feel better about your body. In fact, lewat fat talk ada kecenderungan untuk semakin tidak puas dengan tubuh sendiri and will lead to eating disorder.

Dipikir-pikir, serem juga ya...

Sebagai wanita bertubuh besar, gue sering banget kesel sama orang-orang yang menurut gue punya tubuh 'ideal' tapi selalu mengeluh soal tubuhnya, just like what Ina did. Kadang pengen banget teriak, "KALAU LO GENDUT GUE APAAN NYET YA?!" di depan wajah orang-orang itu just to remind them to be grateful for their body. Sejak gue mencari tahu soal fat talk, gue mulai paham bahwa apa yang mereka lakukan itu bisa jadi adalah cara mereka untuk cari perhatian dengan orang lain, belum tentu karena memang they feel that way. Sayangnya, cara mereka untuk mencari perhatian adalah lewat belas kasihan orang lain. Hemmmm

Gue pribadi merasa bersyukur saat ini sudah banyak gerakan-gerakan yang mempromosikan body positive atau anti-body shaming, baik secara global maupun secara khusus di Indonesia, dalam berbagai bentuk, mulai dari seminar ataupun lewat keberadaan plus-size fashion blogger. Kenapa? Karena sadar atau tidak, ada pesan-pesan positif untuk mencintai tubuh kita sendiri tanpa mempedulikan ukuran tubuh. Sayangnya, di Indonesia, belum banyak yang 'ngeh' kalau body positive movement itu sebenarnya buat siapapun dengan ukuran apapun, not only specific for plus-size women and men. 

I see the opportunity of being a plus-size woman: spread the good ideas to all. Memiliki tubuh besar adalah kesempatan kita untuk menunjukkan kepada para wanita seperti Ina bahwa they have to be grateful for your body., just like us. Remind them that It's a good thing to have fat on your body, because without it, you're broken. Kalau bertemu dan kebetulan diajak melakukan fat talk oleh orang-orang seperti si Ina, spread the positive vibe by saying "why don't you start to love your body by stop saying that thing?". Mulai dari hal sederhana, seperti berhenti melakukan fat talk, bisa membantu orang-orang dengan rasa insecure akan tubuhnya menjadi lebih bersyukur dan mencintai tubuh mereka. 

See! Menjadi wanita bertubuh besar gak selalu negatif kan?

Have a great day!


---------------------------
* sosok Ina dan kawan-kawannya hanya karakter fiktif belaka ya! Tapi kalau contoh-contohnya sih memang ada di dunia nyata hehehe :p

Popular posts from this blog

Being Plus-Size Woman: in Indonesia

Apa sih sebenarnya Plus-Size? Bertubuh besar? or else?
Berhubung di dalam blog ini gak bisa terlepaskan dari istilah 'plus-size', rasanya penting banget buat terlebih dulu tahu apa yang dimaksud dengan plus-size, atau secara lebih spesifik 'plus-size clothing'. 
Gue masih ingat kalau zaman sd (early 2000), dan bahkan sampai saat ini, wanita dengan ukuran tubuh yang lebih dari normal (not skinny, but average body size) sering disebut gendut. Gak sedikit yang menganggap kata tersebut cukup menyakitkan, bahkan buat mereka yang badannya gak tergolong gendut. Oh ya, gendut disini bisa gue kategorikan sebagai orang-orang yang menggunakan pakaian dengan size XL keatas loh ya...atau size 12 and above kalau ngikutin standart baju-baju  dari Amerika Serikat. Bagi mereka yang masih bisa pake baju ukuran L kebawah, don't you dare to call your self a fat girl! Buat mempermudah, bisa dilihat di chart yang ada dibawah:

Istilah plus-size kemudian gue gunakan untuk memperhalus apa …

Not His Story: From The Heart of Japan

Ohayou!
Maafkan minimnya komitmen saya dalam membagi cerita di halaman blog ini. Percaya-lah, semakin mendekati UAS, semakin saya malas untuk menulis di sini...karena terlalu banyak makalah yang harus dibuat demi menyelesaikan kuliah 4 tahun! 
Gak terasa hari ini adalah hari terakhir di bulan Mei..yang artinya besok sudah masuk ke tengah tahun 2015 yang baik ini. Juni selalu jadi bulan favorite gue untuk beragam hal, salah satunya adalah liburan panjang. Meskipun tahun ini, liburan panjang akan diisi dengan mempersiapkan proposal untuk Pelatihan Etnografi ke Desa Aweh, Rangkas Bitung, Banten. Well, setidaknya ada kegiatan yang jelas di liburan nanti sambil menikmati puasa Ramadhan. Wew...sebentar lagi puasa...waktunya membayar puasa yang bolong tahun lalu!

Di akhir bulan ini, gue menghabiskan waktu di sebuah mall baru dengan konsep yang rasanya belum pernah ditemukan di Indonesia. Yap! I visited AEON MALL BSD CITY sejak grand opening-nya kemarin. Kalau diminta 3 kata untuk menggambark…

Fashion Addiction: Plus-Size Clothing Shop in Indonesia

Berkaca pada sejumlah komentar yang gue peroleh di 'Being Plus-Size Woman: in Indonesia', banyak yang memberikan saran kepada gue seputar toko-toko yang menjual pakaian untuk wanita bertubuh besar. Pada tulisan gue itu, memang gue mengungkapkan salah satu kesulitan menjadi wanita plus-size di Indonesia adalah memperoleh pakaian yang tidak hanya cukup di tubuh tapi juga tetap terlihat stylist.So, i guess it's kinda important to help fellow plus-size woman in Indonesia for that problem by give you some references where to shop. Because i do believe, plus-size woman can be fashionable! Oh ya, semua toko yang gue jadikan referensi di sini belum tentu semuanya sudah gue datangi dan berbelanja di sana ya.

(ps: kalau kamu terlalu malas untuk banya postingan ini, I made a video about it on my youtube channel, check it out!)


Gue akan membagi dua kategori dalam tulisan ini, yang pertama adalah offline shop a.k.a. toko-toko fisik yang bisa kita langsung datangi untuk mencari baju ya…