Skip to main content

Being A Plus-Size Women: The Curvy Barbie is Here!



Gue percaya bahwa wanita bertubuh besar di Indonesia, dan rasanya di berbagai negara, mengalami krisis role-model. Pada dasarnya, setiap orang butuh sosok yang bisa mewakili mereka dari berbagai aspek, one of them is body type/size. Gue pribadi merasa butuh sosok perempuan dengan ukuran yang serupa dengan gue yang dapat jadi inspirasi dalam hal berpakaian dan menjadi wanita yang lebih percaya diri. I have my mom, but somehow I need someone else as alternative, someone quite famous i guess. So, I choose Ashley Graham as one of my role models. 




Gak hanya sosok manusia yang bisa dijadikan role mode, even a doll could be your role model (short of). Pasti semua orang tahu dengan boneka Barbie. Dalam berbagai hal, boneka tersebut sering dijadikan semacam panutan, when it comes to body size and type, bagi para wanita. Pernah dengar dong ada wanita yang dijuluki 'Human Barbie' karena wajahnya dan bentuk tubuhnya yang mirip dengan boneka tersebut? Berbagai cara dilakukan untuk bisa memenuhi gambaran tubuh ideal a la Barbie, mulai dari penggunaan make up, diet berlebih, sampai operasi plastik. Tidak sedikit orang-orang yang kemudian 'menyalahkan' boneka Barbie karena menjadi panutan yang kurang baik (mengingat ada sejumlah kasus eating disorder yang dilakukan dengan tujuan memenuhi beauty standard yang didasari oleh physical appearance dari boneka ini). Lucu sih memang menyalahkan benda mati, tapi yaa karena dasarnya setiap orang ingin bisa fit in dengan suatu standard tertentu, jadi hal tersebut bisa saja terjadi. 

In the end of Januari 2016, Mattel released new types of Barbie doll, including the curvy barbie! Kalau kalian sudah menjadi followers instagram gue before February 2016, pasti pernah melihat foto tipe-tipe Barbie terbaru di feed gue. I was superb excited about it! Meskipun gue pribadi tidak menjadikan boneka tersebut sebagai panutan  akan ukuran dan bentuk tubuh, ataupun beauty standard, tapi gue merasa senang karena ada sosok boneka yang serupa dengan bentuk tubuh gue. Despite all of the negative comments about it, gue percaya bahwa ini adalah cara Mattel untuk memperbaiki image negative dari Barbie sekaligus mengedukasi para perempuan tentang body positive; It's okay to have different skin color  or body type, and it's totally okay to be different!

IT'S ABOUT TIME, MATTEL! Belakangan ini, isu tentang bentuk dan ukuran tubuh cukup mendapat sorotan dari berbagai media. Bagi saya, keberadaan boneka Barbie yang semakin beragam, gak hanya warna kulit tetapi juga bentuk tubuh, menjadi semacam angin segar untuk mengedukasi masyarakat perihal bentuk tubuh (terutama bagi anak-anak perempuan, semoga saja kemudian boneka-boneka Ken juga akan mengalami penyesuaian serupa). Selain mengedukasi, boneka-boneka tersebut setidaknya memunculkan perasaan 'terwakili', terutama di generasi mendatang, dan bisa lebih menghargai tubuh mereka (sejalan dengan upaya Pemerintah Amerika untuk menguragi kasus eating disorder). Meski isu bentuk dan ukuran tubuh di Indonesia tidak se-booming di Amerika, tetapi saya berharap pesan tentang 'ideal beauty' yang digambarkan lewat Barbie yang lebih beragam tsb bisa punya efek serupa dengan di Amerika, so everyone can celebrate their shape, their size, their life. Photo credit: eonline on instagram #celebrateyoursize #plussize #bodypositive #bodypositivemovement #bodyimage #barbie #thought #opinion #plussizeindo #bigsizeindonesia #bigsizeindo #effyourbeautystandart
A photo posted by フィクリアナ (@fkrnand) on


Selama berbulan-bulan gue bolak balik toko mainan just to make sure I won't miss that doll. Saat gue ke Singapore Agustus lalu, sempat terlintas untuk membeli boneka tersebut di sana tapi setelah dihitung-hitung lebih murah kalau beli di Indonesia, so I decided to wait. Akhirnya, minggu lalu gue berhasil menemukan boneka Barbie dengan type curvy ini di AEON Department Store, BSD City. Padahal, gue gak secara khusus pergi ke mall super hits di BSD itu untuk mencari boneka Barbie. Setelah izin sama nyokab, finally I can have that curvy doll!! Pacar gue-pun sempat bingung karena gak terbiasa dengan gambaran gue bermain boneka Barbie, secara selama ini kalau ke toko mainan liatnya mainan cowok :p. 

Senang rasanya bisa terwakili oleh Barbie sebagai salah satu icon dalam dunia perempuan. Gue merasa penting bagi para orang tua, yang memiliki anak dengan usia yang masih wajar untuk bermain boneka Barbie, untuk mengajarkan anaknya tentang body diversity that could lead them to body acceptance sedari dini. Mungkin di Indonesia, isu body image gak begitu mendapat perhatian dari masyarakat. Tetapi, gak ada salahnya untuk meningkatkan awareness tentang topik ini sejak kecil kan? Gue percaya bahwa dengan cara sederhana ini, kita bisa lebih toleran dengan perbedaan dan bisa saling menghargai. Hopefully, bullying (especially body shaming) will stop in the future.






Popular posts from this blog

Being Plus-Size Woman: in Indonesia

Apa sih sebenarnya Plus-Size? Bertubuh besar? or else?
Berhubung di dalam blog ini gak bisa terlepaskan dari istilah 'plus-size', rasanya penting banget buat terlebih dulu tahu apa yang dimaksud dengan plus-size, atau secara lebih spesifik 'plus-size clothing'. 
Gue masih ingat kalau zaman sd (early 2000), dan bahkan sampai saat ini, wanita dengan ukuran tubuh yang lebih dari normal (not skinny, but average body size) sering disebut gendut. Gak sedikit yang menganggap kata tersebut cukup menyakitkan, bahkan buat mereka yang badannya gak tergolong gendut. Oh ya, gendut disini bisa gue kategorikan sebagai orang-orang yang menggunakan pakaian dengan size XL keatas loh ya...atau size 12 and above kalau ngikutin standart baju-baju  dari Amerika Serikat. Bagi mereka yang masih bisa pake baju ukuran L kebawah, don't you dare to call your self a fat girl! Buat mempermudah, bisa dilihat di chart yang ada dibawah:

Istilah plus-size kemudian gue gunakan untuk memperhalus apa …

Not His Story: From The Heart of Japan

Ohayou!
Maafkan minimnya komitmen saya dalam membagi cerita di halaman blog ini. Percaya-lah, semakin mendekati UAS, semakin saya malas untuk menulis di sini...karena terlalu banyak makalah yang harus dibuat demi menyelesaikan kuliah 4 tahun! 
Gak terasa hari ini adalah hari terakhir di bulan Mei..yang artinya besok sudah masuk ke tengah tahun 2015 yang baik ini. Juni selalu jadi bulan favorite gue untuk beragam hal, salah satunya adalah liburan panjang. Meskipun tahun ini, liburan panjang akan diisi dengan mempersiapkan proposal untuk Pelatihan Etnografi ke Desa Aweh, Rangkas Bitung, Banten. Well, setidaknya ada kegiatan yang jelas di liburan nanti sambil menikmati puasa Ramadhan. Wew...sebentar lagi puasa...waktunya membayar puasa yang bolong tahun lalu!

Di akhir bulan ini, gue menghabiskan waktu di sebuah mall baru dengan konsep yang rasanya belum pernah ditemukan di Indonesia. Yap! I visited AEON MALL BSD CITY sejak grand opening-nya kemarin. Kalau diminta 3 kata untuk menggambark…

Fashion Addiction: Plus-Size Clothing Shop in Indonesia

Berkaca pada sejumlah komentar yang gue peroleh di 'Being Plus-Size Woman: in Indonesia', banyak yang memberikan saran kepada gue seputar toko-toko yang menjual pakaian untuk wanita bertubuh besar. Pada tulisan gue itu, memang gue mengungkapkan salah satu kesulitan menjadi wanita plus-size di Indonesia adalah memperoleh pakaian yang tidak hanya cukup di tubuh tapi juga tetap terlihat stylist.So, i guess it's kinda important to help fellow plus-size woman in Indonesia for that problem by give you some references where to shop. Because i do believe, plus-size woman can be fashionable! Oh ya, semua toko yang gue jadikan referensi di sini belum tentu semuanya sudah gue datangi dan berbelanja di sana ya.

(ps: kalau kamu terlalu malas untuk banya postingan ini, I made a video about it on my youtube channel, check it out!)


Gue akan membagi dua kategori dalam tulisan ini, yang pertama adalah offline shop a.k.a. toko-toko fisik yang bisa kita langsung datangi untuk mencari baju ya…