Tuesday, October 4, 2016

Being A Plus-Size Women: The Curvy Barbie is Here!



Gue percaya bahwa wanita bertubuh besar di Indonesia, dan rasanya di berbagai negara, mengalami krisis role-model. Pada dasarnya, setiap orang butuh sosok yang bisa mewakili mereka dari berbagai aspek, one of them is body type/size. Gue pribadi merasa butuh sosok perempuan dengan ukuran yang serupa dengan gue yang dapat jadi inspirasi dalam hal berpakaian dan menjadi wanita yang lebih percaya diri. I have my mom, but somehow I need someone else as alternative, someone quite famous i guess. So, I choose Ashley Graham as one of my role models. 




Gak hanya sosok manusia yang bisa dijadikan role mode, even a doll could be your role model (short of). Pasti semua orang tahu dengan boneka Barbie. Dalam berbagai hal, boneka tersebut sering dijadikan semacam panutan, when it comes to body size and type, bagi para wanita. Pernah dengar dong ada wanita yang dijuluki 'Human Barbie' karena wajahnya dan bentuk tubuhnya yang mirip dengan boneka tersebut? Berbagai cara dilakukan untuk bisa memenuhi gambaran tubuh ideal a la Barbie, mulai dari penggunaan make up, diet berlebih, sampai operasi plastik. Tidak sedikit orang-orang yang kemudian 'menyalahkan' boneka Barbie karena menjadi panutan yang kurang baik (mengingat ada sejumlah kasus eating disorder yang dilakukan dengan tujuan memenuhi beauty standard yang didasari oleh physical appearance dari boneka ini). Lucu sih memang menyalahkan benda mati, tapi yaa karena dasarnya setiap orang ingin bisa fit in dengan suatu standard tertentu, jadi hal tersebut bisa saja terjadi. 

In the end of Januari 2016, Mattel released new types of Barbie doll, including the curvy barbie! Kalau kalian sudah menjadi followers instagram gue before February 2016, pasti pernah melihat foto tipe-tipe Barbie terbaru di feed gue. I was superb excited about it! Meskipun gue pribadi tidak menjadikan boneka tersebut sebagai panutan  akan ukuran dan bentuk tubuh, ataupun beauty standard, tapi gue merasa senang karena ada sosok boneka yang serupa dengan bentuk tubuh gue. Despite all of the negative comments about it, gue percaya bahwa ini adalah cara Mattel untuk memperbaiki image negative dari Barbie sekaligus mengedukasi para perempuan tentang body positive; It's okay to have different skin color  or body type, and it's totally okay to be different!

IT'S ABOUT TIME, MATTEL! Belakangan ini, isu tentang bentuk dan ukuran tubuh cukup mendapat sorotan dari berbagai media. Bagi saya, keberadaan boneka Barbie yang semakin beragam, gak hanya warna kulit tetapi juga bentuk tubuh, menjadi semacam angin segar untuk mengedukasi masyarakat perihal bentuk tubuh (terutama bagi anak-anak perempuan, semoga saja kemudian boneka-boneka Ken juga akan mengalami penyesuaian serupa). Selain mengedukasi, boneka-boneka tersebut setidaknya memunculkan perasaan 'terwakili', terutama di generasi mendatang, dan bisa lebih menghargai tubuh mereka (sejalan dengan upaya Pemerintah Amerika untuk menguragi kasus eating disorder). Meski isu bentuk dan ukuran tubuh di Indonesia tidak se-booming di Amerika, tetapi saya berharap pesan tentang 'ideal beauty' yang digambarkan lewat Barbie yang lebih beragam tsb bisa punya efek serupa dengan di Amerika, so everyone can celebrate their shape, their size, their life. Photo credit: eonline on instagram #celebrateyoursize #plussize #bodypositive #bodypositivemovement #bodyimage #barbie #thought #opinion #plussizeindo #bigsizeindonesia #bigsizeindo #effyourbeautystandart
A photo posted by フィクリアナ (@fkrnand) on


Selama berbulan-bulan gue bolak balik toko mainan just to make sure I won't miss that doll. Saat gue ke Singapore Agustus lalu, sempat terlintas untuk membeli boneka tersebut di sana tapi setelah dihitung-hitung lebih murah kalau beli di Indonesia, so I decided to wait. Akhirnya, minggu lalu gue berhasil menemukan boneka Barbie dengan type curvy ini di AEON Department Store, BSD City. Padahal, gue gak secara khusus pergi ke mall super hits di BSD itu untuk mencari boneka Barbie. Setelah izin sama nyokab, finally I can have that curvy doll!! Pacar gue-pun sempat bingung karena gak terbiasa dengan gambaran gue bermain boneka Barbie, secara selama ini kalau ke toko mainan liatnya mainan cowok :p. 

Senang rasanya bisa terwakili oleh Barbie sebagai salah satu icon dalam dunia perempuan. Gue merasa penting bagi para orang tua, yang memiliki anak dengan usia yang masih wajar untuk bermain boneka Barbie, untuk mengajarkan anaknya tentang body diversity that could lead them to body acceptance sedari dini. Mungkin di Indonesia, isu body image gak begitu mendapat perhatian dari masyarakat. Tetapi, gak ada salahnya untuk meningkatkan awareness tentang topik ini sejak kecil kan? Gue percaya bahwa dengan cara sederhana ini, kita bisa lebih toleran dengan perbedaan dan bisa saling menghargai. Hopefully, bullying (especially body shaming) will stop in the future.