Skip to main content

Not His Story: Another Opportunity, Another Trip to Singapore [Revision]

Bukan cuma proposal penelitian dan skripsi yang boleh dan bisa direvisi, tulisan di blog juga bisa dan dimungkinkan untuk direvisi kok. Tulisan kali ini tujuannya untuk memperbaiki dua tulisan yang pernah gue post dan telah gue hapus. Well, semoga pesan utama dari tulisannya bisa tetap tersampaikan :) -N

Beberapa pihak menganggap bulan Januari sebagai the trial month of the new year, sehingga bisa lebih baik di bulan-bulan berikutnya. Kalau menurut gue pribadi, a good start will lead us to such a great experience to be proud of in the end and a good start is relative. Awal yang bagi kita mungkin buruk bisa saja punya makna baik setelah direfleksikan, bukan? Secara garis besar, bulan pertama dari 12 bulan di tahun 2016 ini punya kesan yang sulit dilupakan dan gue harap gak akan bisa terlupakan sehingga bisa jadi pembelajaran di masa mendatang (that's why I'm writing about it naaaw). Salah satu alasan sulit terlupakannya bulan Januari adalah karena gue bisa ke Singapura (lagi)! Dari tahun 2014, gue dan sepupu gue selalu berencana ke Singapura, namun realisasinya kosong besar (meskipun akhirnya kita berdua berhasil ke Malang bulan November silam). Alhamdulillah kunjungan ke Singapura di akhir bulan Januari itu tidak begitu memakan biaya besar karena disubsidi. How?!

Awal tahun 2016 gue memperoleh sebuah broadcast message di LINE group pengurus himpunan yang isinya adalah undangan acara ASEAN CAREER FAIR WITH JAPAN 2016 IN SINGAPORE. Salah satu unsur dari pesan itu yang membuat gue menggebu-gebu adalah bahwa biaya akomodasi DITANGGUNG PANITIA. Butuh sekitar tiga hari sejak pesan itu dibagikan oleh salah satu junior di kampus sampai akhirnya gue mengisi form, menyertakan CV dan transkrip, dan men-submit semua itu ke panitia lewat website resmi mereka asean-career.com. Rupanya, hanya butuh beberapa jam saja hingga gue menerima e-mail balasan dari panitia yang isinya gue berhasil mendapatkan undangan resmi untuk hadir di ASEAN CAREER FAIR 2016 tersebut. Bahagia? tentu, bersyukur? wajib, bingung? PASTINYA! Bagaimana gak bingung, gue sama sekali belum pernah ikut pameran bursa kerja di Indonesia, apalagi di luar negeri? Meski begitu, dukungan kedua orang tua gue begitu mendengar bahwa gue memperoleh undangan ke acara itu cukup membuat gue tetap semangat. GIMANA GAK SEMANGAT, KE SINGAPORE LAGI BOK!!! :p

Dari hari gue memperoleh email dari panitia hingga keberangkatan, gue mengisi hari-hari dengan membaca bahan skripsi (yea it's gettin real!) dan memperhatikan company profile dari peserta pameran yang merupakan perusahaan dari negeri samurai, Jepang. Dari 17 perusahaan yang ikut serta, perhatian gue tertuju pada sejumlah perusahaan yang membuka kesempatan bagi mahasiswa from all major seperti Nitori (retail company, seperti IKEA-nya Jepang), Plan Do See (bergerak di bidang jasa perhotelan, restoran, dsb), SG Holding (logistic company), Yamato Transportation (also logistic company), Takenaka, dan Fuji Xerox Asia Pacific (yang lokasi kerjanya adalah di Singapore). Kenapa gue fokus pada perusahaan-perusahaan yang membuka kesempatan buat all major? Karena gue menganggap bahwa akan ada job training yang bisa jadi jalan untuk gue buat belajar untuk bekerja sekaligus mengaplikasikan ilmu antropologi gue di perusahaan tersebut. Bagi yang belum pernah ikut magang seperti gue, rasanya job training menjadi penting untuk tahu job description kita dan mengenal situasi tempat kerja. Selain membaca company profile, mempersiapkan CV dan cover letter atau surat pengantar juga sangat penting. I got a lot of help from google image, karena jadi dapet bayangan struktur cover letter tuh seperti apa sekaligus belajar bahasa inggris yang lebih formal.

Beberapa hari sebelum keberangkatan (I went to Singapore on January 29th and the event was on the next day), gue mendadak parno: khawatir lupa cara ngomong dalam bahasa Inggris dan takut pesawat kenapa-napa. Alasan parno yang nomor dua muncul setelah nonton music video dari GAC untuk single mereka 'Cinta'. I love that song and also the video, tapi potongan video yang menggambarkan ada kecelakan pesawat itu bikin gue merasa salah dan nyesel nonton video itu sebelum berangkat. Saat berangkat dari rumah sampai tiba di Arianna Hotel, Singapore (tempat menginap langganan selama ke Singapore), bawaannya gak tenang. Maunya semua cepat selesai, well at least sampai tanggal 30 selesai karena sisanya diniatkan buat jalan-jalan :p. Di pesawat kebetulan dapat tempat duduk yang gak biasa, alias terletak di pinggir dekat jalan utama, alhasil rasa gak nyaman itu membuat gue agak meriang di malam harinya. Beruntung banget nyokab yang ikut menemani ke Singapura membawa sejumlah obat-obatan yang bisa meredakan rasa gak enak badan itu. 

Tanggal 30 Januari 2016 akhirnya datang juga. Rasa khawatir tentu masih ada, tetapi sedikit terobati dengan menyantap plain prata dengan kari ayam dari C.M.K. 2001 Restaurant yang terletak gak jauh dari hotel. Selama dua kali ke Singapura (dan kemarin adalah kali ketiga yang pakai nginep di negeri singa itu), restoran itu jadi pilihan utama buat sarapan karena buka dari pagi dan dekat dari hotel. Harganya juga gak berubah banyak dari kunjungan terakhir gue di tahun 2014. Memang pada dasarnya kalau perut terisi, perasaan jadi lebih tenang juga sih :p. Oh ya, acara ASEAN CAREER FAIR 2016 berlangsung di Singapore Expo, tepatnya di Max Atria (lokasi dari Expo yang biasa digunakan untuk meeting atau conference). Lokasinya mudah dijangkau karena memang terhubung dengan stasiun MRT EXPO, satu stasiun dari MRT Changi Airport. Kalau dari hotel gue yang letaknya dekat dengan MRT Ferrer Park (exit F) di  North East Line (jalur ungu), bisa dengan dua cara:
  1. Cara gampang: Dari Ferrer Park, ambil kereta arah Harbour Front dan berhenti di Outram Park dan ganti ke East West Line (jalur hijau). Kemudian ganti kereta di Tanah Merah yang ke arah Changi Airport, berhenti di Expo
  2. Cara belibet tapi kesannya deket (padahal capek juga sih): Dari Ferrer Park, ambil kereta arah Punggol dan berhenti di Serangoon kemudian ganti kereta yang Circle Line (warna orange) ke arah Marina Bay. Berhenti di Paya Lebar untuk ganti kereta ke jalur hijau yang ke arah Changi Airport/Pasir Ris (termasuk di dalamnya ganti kereta di Tanah Merah).
Gue dan nyokab memutuskan untuk jadi the explorer dengan menggunakan cara yang ke dua. Capek memang, tapi setidaknya punya pemandangan dan pengalaman baru. Kembali pada acara utama, yaitu ASEAN CAREER FAIR 2016, gue sampai di lokasi agak lebih awal. Tapi, ke-ambi-an gue itu membuat gue jadi bisa kenalan dengan beberapa peserta dari negara lain seperti Vietnam, Singapore, dan Filipina. Gak hanya berkenalan, kita juga foto bareng..yaa kalau di tulisan yang pernah gue baca sih katanya kita belum bisa menyebut bahwa kita mengalami suatu momen kalau belum ada fotonya :p. Hanya butuh beberapa menit sebelum akhirnya gue bertemu dengan mahasiswa dari Indonesia, tepatnya dari ITB dan UNAIR. Kebetulan gue dan anak UNAIR datang tanpa kenal mahasiswa dari universitas yang sama, berbeda dengan anak-anak ITB yang beda jurusan tapi datengnya bareng-bareng. Kenalan gue bertambah! Itu kesempatan penting pertama yang gue peroleh dari ikut career fair ini


Invitee from Indonesia, Singapore, Vietnam, and Philippine 


#TeamIndonesia


Begitu dipersilahkan untuk masuk ruang pameran, niat awal gue adalah mengunjungi booth dari Nitori. Entah kenapa, begitu mendekati booth, kok perasaan gue bilang coba liat yang lain dulu....akhirnya booth pertama yang gue kunjungi adalah milik SG Holding, sebuah perusahaan jasa yang bergerak di bidang logistik. Gue disambut dengan ramah dan suasananya nyaman banget! Begitu datang, gue sudah dipersilahkan untuk duduk agar bisa mengikuti presentasi yang dibawakan oleh pihak HR dari perusahaan itu. Kebetulan, representatif dari SG Holding adalah orang Inggris sehingga bahasa inggrisnya mudah gue tangkap dan gue pahami, ALHAMDULILLAH :"). Berhubung gue awam banget dalam urusan career fair, begitu ditanya apakah gue mau mengumpulkan CV untuk interview, ya gue jawab aja iya. Rupanya gue mendapat giliran interview pertama! Bingung pastinya, cuma yaudah nikmatin aja deh. Sebelum interview, gue sempat berkunjung ke booth Nitori dan mengisi application form. Sempet ngobrol juga sama salah satu anggota dari recruitment team Nitori yang berbuah kenyataan pahit bahwa gue harus mampu ngomong dan mengerti bahasa Jepang saat interview di hari itu. Kecewa? BANGET! Tapi keinginan bekerja di Nitori itu berbuah manis karena pihak HR yang gue ajak bicara itu bilang bahwa akan ada kesempatan untuk membuka lowongan bagi pekerja dari luar Jepang. Tanpa basa-basi, gue tetap memberikan CV+application form in case ada lowongan di masa mendatang. Usai dari booth Nitori, rupanya gue sudah dapat giliran buat interview dengan SG Holding. Alhamdulillah saat interview, suasananya santai namun tetap formal. Ketakutan bahwa gue bakal lupa bahasa inggris menghilang begitu saja. TAPI, momen ter-zonk muncul ketika gue diminta mendeskripsikan diri dengan bahasa Jepang... i repeat..BAHASA JEPANG. FIX MAMPUS DI TEMPAT! Karena gak mungkin gue kabur begitu saja, akhirnya gue keluarkan saja apa yang gue bisa, alias kalimat hajimemashite, watashiwa nana desu. Sisanya? pasrah wae pake bahasa Inggris. Kesempatan penting kedua yang gue dapatkan adalah diingatkan betapa pentingnya me-maintain ilmu yang sudah dimiliki, dalam hal ini adalah bahasa Jepang yang gue pelajari semasa SMA. 


Usai interview, gue merasa bingung harus ngapain. Lemes banget karena 'tertampar' kenyataan bahwa gue terlalu malas dan tidak peduli untuk belajar bahasa Jepang dengan baik. Akhirnya gue 'mencari nafas' sebelum akhirnya masuk ke ruangan pameran lagi. Di dalam ruangan, gue mengisi application form untuk Yamato Transportation. Sedikit kagok ketika harus mengisi gaji yang diharapkan karena gue tahu setiap negara punya nilai upah minimun yang beda-beda. Di sini gue belajar bahwa kalau mau memasuki dunia kerja, we have to know about the standard salary  for fresh graduate. Jangan hanya sebatas apply kerja aja, istilahnya tahu hak dan kewajiban. Beres mengisi form dan mengumpulkan CV, gue keluar ruangan pameran untuk makan siang. Makan siang selama ASEAN CAREER FAIR 2016 ditanggung oleh panitia loh! Lumayan banget menghemat biaya makan satu kali selama di Singapura. Bahkan beberapa teman dari ITB menyayangkan kenapa gak bawa kotak makan...lumayan bisa stock sampai sore. Ada benernya juga ya -_-". Setelah makan, gue memutuskan mengambil istirahat selama 1 jam untuk memikirkan apa yang gue harus lakukan sampai nanti jam 5 sore, berhubung uang subsidi untuk akomodasi baru diberikan saat acara selesai (sekitar jam 5 sore itu). Sekitar jam 2 siang, gue kembali ke dalam ruangan dan apply untuk Takenaka dan Fuji Xerox Asia Pacific. Dari hasil kunjungan itu, gue mendaftarkan diri untuk bisa interview dengan Fuji Xerox pukul 4 sore. Sambil menunggu interview, gue memutuskan untuk menyudahi kegiatan browsing di ruang pameran dan menunggu waktu. Untungnya gue bertemu dengan dua anak FISIP UI yang kebetulan salah satunya pernah satu kelas di semester pertama kuliah. Kami bertiga akhirnya ngobrol sambil sharing seputar perkuliahan dan upaya mencari kerja di career fair ini. Selama ini gue adalah tipe orang yang kurang berani memulai percakapan, cenderung 'adaptasi' dulu sebelum bisa menikmati suatu momen. Di kegiatan ASEAN CAREER FAIR 2016 ini, gue berkesempatan untuk 'ditantang' oleh situasi untuk punya inisiatif dalam hal bersosialisasi dengan orang lain, dan rasanya kesempatan penting yang ketiga ini wajib di maintain sampai tua.

Jam 4 sore-pun tiba dan gue ikut dalam interview dengan Fuji Xerox Asia Pacific. Alhamdulillah kali ini tidak membutuhkan deskripsi dalam bahasa Jepang :"). Wawancara juga berjalan cukup lancar, bahasa inggris gue juga gak jelek-jelek amat, yaa overall lancar dan baik. Apapun hasilnya, gue sudah punya kesempatan untuk melatih bahasa inggris dan belajar untuk 'menjual' diri di pasar kerja.

Sekitar jam 5 kurang, gue akhirnya bisa mengambil subsidi dari panitia untuk akomodasi di Singapura. Sebelum pulang, gue bertemu lagi dengan anak-anak ITB (yang memang awalnya terpisah karena berpencar mencari peluang kerja) dan menyempatkan diri untuk foto-foto bersama mahasiswa ITB dan UNAIR. Proses mengabadikan momen itu aja rame buanget, tentunya gue gak bakal bisa lupa keseruan itu sih. Akhirnya setelah foto-foto selesai, gue pamit dan menghampiri nyokab yang sudah cukup puas berkeliling area Singapore Expo sambil menunjukkan sejumlah barang yang ia beli dari bazaar. "Coklat ini dek, satu harganya 10SGD tapi di sini karena lagi bazaar jadi 9SGD dapet 3 kotak", begitu kata nyokab. Alhasil, kami berdua gak berbelanja coklat lagi di Bugis maupun di Vivo City seperti biasa. Dari Singapore Expo, gue dan nyokab memutuskan untuk makan malam di daerah Bugis, tepatnya di Bugis Junction. Gue bener-bener lupa bahwa hari itu adalah hari sabtu, alhasil semua tempat makan penuh dan kami berdua berakhir di Yoshinoya....jauh-jauh ke Singapore makannya yoshinoya lagi dan lagi....gapapa yang penting bisa mengisi perut sebelum kembali ke hotel. Malamnya, gue tertidur sambil tersenyum lega karena tujuan utama ke Singapura selesai sudah. Sisa hari yang ada, mari untuk jalan-jalan!

Pada hari Minggu (lah jadi nyanyi), gue dan nyokab mengunjungi S.E.A. Aquarium di Resort World Sentosa, Esplanade, Gardens by the Bay, dan makan malam di ION Orchard. Ini adalah kali pertama mengunjungi S.E.A. Aquarium dan Gardens by the Bay. Gue terpesona dengan aquarium yang ditata begitu indah, begitu juga taman yang luas ditengah-tengan Singapura yang serba sibuk. Sayangnya, kunjungan ke Gardens by the Bay membuat gue dan nyokab merasakan hujan pertama selama pergi ke Singapura. Bagaimana kemudian kunjungan gue ke Esplanade? SUNGGUH TAK MAU KU LUPAKAN! alasannya adalah gue menikmati salah satu band yang sedang sound check di outdoor stage Esplanade dan perhatian gue tertuju pada penabuh drum dari band tersebut. Musik dari band tersebut mungkin bukan genre yang biasa gue nikmati sehari-hari, tapi tanpa adanya lirik membuat gue bisa menikmati momen siang hari di Singapura yang padat oleh wisatawan. Sang Penabuh Drum juga terlihat menikmati momen sound check saat itu dan membuat gue terpana aiiiishhhh!. Setelah berhasil ngecek di instagram, gue mendapati nama band tersebut adalah SPHAERAS. Begitu gue sampai di Jakarta keesokan harinya, langsung cek youtube dan men-download beberapa lagu dari mereka. Gak hanya nama band itu aja yang gue temukan di internet, tetapi juga nama si penabuh drum itu (YESH!)

Anyway, begitulah pengalaman gue selama di Singapura. Gak hanya bisa menikmati udara segar ditengah kesibukan negeri singa, gue punya banyak kesempatan dan pembelajaran penting untuk bisa direnungi dan diaplikasikan dalam kehidupan gue. Kalaupun gak berhasil 'nyantol' di salah satu perusahaan yang gue inginkan, setidaknya pengalaman itu jadi persiapan gue untuk langkah-langkah lainnya dalam mencari pekerjaan setelah lulus. Yang penting sekarang adalah: SELESAIKAN PROPOSAL PENELITIAN BIAR CEPET MULAI SKRIPSI DAN WISUDA!!! :") Bismillah.

Weekly  Current Obsession

SPHAERAS

Yap, hasil nonton mereka sound check di Esplanade beberapa hari lalu membuat gue menemukan hal baru untuk dinikmati sampai beberapa waktu kedepan. Mereka adalah instrumental band dari Singapura yang beranggotakan Zakhran, Hao Kai, Chun Kit, dan Axel. Musik mereka cukup bisa menemani gue menyusun latar belakang proposal penelitian (yang sampai detik ini belum beres) sambil 'nostalgia' akan kunjungan ke Singapura kemarin. So far, album mereka baru 1, MOIRAI, dan bisa di download di iTunes. My favorites go to Albert Fish, DeLorean, dan Same Decaying Matter.


Popular posts from this blog

Being Plus-Size Woman: in Indonesia

Apa sih sebenarnya Plus-Size? Bertubuh besar? or else?
Berhubung di dalam blog ini gak bisa terlepaskan dari istilah 'plus-size', rasanya penting banget buat terlebih dulu tahu apa yang dimaksud dengan plus-size, atau secara lebih spesifik 'plus-size clothing'. 
Gue masih ingat kalau zaman sd (early 2000), dan bahkan sampai saat ini, wanita dengan ukuran tubuh yang lebih dari normal (not skinny, but average body size) sering disebut gendut. Gak sedikit yang menganggap kata tersebut cukup menyakitkan, bahkan buat mereka yang badannya gak tergolong gendut. Oh ya, gendut disini bisa gue kategorikan sebagai orang-orang yang menggunakan pakaian dengan size XL keatas loh ya...atau size 12 and above kalau ngikutin standart baju-baju  dari Amerika Serikat. Bagi mereka yang masih bisa pake baju ukuran L kebawah, don't you dare to call your self a fat girl! Buat mempermudah, bisa dilihat di chart yang ada dibawah:

Istilah plus-size kemudian gue gunakan untuk memperhalus apa …

Not His Story: From The Heart of Japan

Ohayou!
Maafkan minimnya komitmen saya dalam membagi cerita di halaman blog ini. Percaya-lah, semakin mendekati UAS, semakin saya malas untuk menulis di sini...karena terlalu banyak makalah yang harus dibuat demi menyelesaikan kuliah 4 tahun! 
Gak terasa hari ini adalah hari terakhir di bulan Mei..yang artinya besok sudah masuk ke tengah tahun 2015 yang baik ini. Juni selalu jadi bulan favorite gue untuk beragam hal, salah satunya adalah liburan panjang. Meskipun tahun ini, liburan panjang akan diisi dengan mempersiapkan proposal untuk Pelatihan Etnografi ke Desa Aweh, Rangkas Bitung, Banten. Well, setidaknya ada kegiatan yang jelas di liburan nanti sambil menikmati puasa Ramadhan. Wew...sebentar lagi puasa...waktunya membayar puasa yang bolong tahun lalu!

Di akhir bulan ini, gue menghabiskan waktu di sebuah mall baru dengan konsep yang rasanya belum pernah ditemukan di Indonesia. Yap! I visited AEON MALL BSD CITY sejak grand opening-nya kemarin. Kalau diminta 3 kata untuk menggambark…

Fashion Addiction: Plus-Size Clothing Shop in Indonesia

Berkaca pada sejumlah komentar yang gue peroleh di 'Being Plus-Size Woman: in Indonesia', banyak yang memberikan saran kepada gue seputar toko-toko yang menjual pakaian untuk wanita bertubuh besar. Pada tulisan gue itu, memang gue mengungkapkan salah satu kesulitan menjadi wanita plus-size di Indonesia adalah memperoleh pakaian yang tidak hanya cukup di tubuh tapi juga tetap terlihat stylist.So, i guess it's kinda important to help fellow plus-size woman in Indonesia for that problem by give you some references where to shop. Because i do believe, plus-size woman can be fashionable! Oh ya, semua toko yang gue jadikan referensi di sini belum tentu semuanya sudah gue datangi dan berbelanja di sana ya.

(ps: kalau kamu terlalu malas untuk banya postingan ini, I made a video about it on my youtube channel, check it out!)


Gue akan membagi dua kategori dalam tulisan ini, yang pertama adalah offline shop a.k.a. toko-toko fisik yang bisa kita langsung datangi untuk mencari baju ya…