Showing posts with label Weekly Obsession. Show all posts
Showing posts with label Weekly Obsession. Show all posts

Tuesday, February 9, 2016

Not His Story: Another Opportunity, Another Trip to Singapore [Revision]

Bukan cuma proposal penelitian dan skripsi yang boleh dan bisa direvisi, tulisan di blog juga bisa dan dimungkinkan untuk direvisi kok. Tulisan kali ini tujuannya untuk memperbaiki dua tulisan yang pernah gue post dan telah gue hapus. Well, semoga pesan utama dari tulisannya bisa tetap tersampaikan :) -N

Beberapa pihak menganggap bulan Januari sebagai the trial month of the new year, sehingga bisa lebih baik di bulan-bulan berikutnya. Kalau menurut gue pribadi, a good start will lead us to such a great experience to be proud of in the end and a good start is relative. Awal yang bagi kita mungkin buruk bisa saja punya makna baik setelah direfleksikan, bukan? Secara garis besar, bulan pertama dari 12 bulan di tahun 2016 ini punya kesan yang sulit dilupakan dan gue harap gak akan bisa terlupakan sehingga bisa jadi pembelajaran di masa mendatang (that's why I'm writing about it naaaw). Salah satu alasan sulit terlupakannya bulan Januari adalah karena gue bisa ke Singapura (lagi)! Dari tahun 2014, gue dan sepupu gue selalu berencana ke Singapura, namun realisasinya kosong besar (meskipun akhirnya kita berdua berhasil ke Malang bulan November silam). Alhamdulillah kunjungan ke Singapura di akhir bulan Januari itu tidak begitu memakan biaya besar karena disubsidi. How?!

Awal tahun 2016 gue memperoleh sebuah broadcast message di LINE group pengurus himpunan yang isinya adalah undangan acara ASEAN CAREER FAIR WITH JAPAN 2016 IN SINGAPORE. Salah satu unsur dari pesan itu yang membuat gue menggebu-gebu adalah bahwa biaya akomodasi DITANGGUNG PANITIA. Butuh sekitar tiga hari sejak pesan itu dibagikan oleh salah satu junior di kampus sampai akhirnya gue mengisi form, menyertakan CV dan transkrip, dan men-submit semua itu ke panitia lewat website resmi mereka asean-career.com. Rupanya, hanya butuh beberapa jam saja hingga gue menerima e-mail balasan dari panitia yang isinya gue berhasil mendapatkan undangan resmi untuk hadir di ASEAN CAREER FAIR 2016 tersebut. Bahagia? tentu, bersyukur? wajib, bingung? PASTINYA! Bagaimana gak bingung, gue sama sekali belum pernah ikut pameran bursa kerja di Indonesia, apalagi di luar negeri? Meski begitu, dukungan kedua orang tua gue begitu mendengar bahwa gue memperoleh undangan ke acara itu cukup membuat gue tetap semangat. GIMANA GAK SEMANGAT, KE SINGAPORE LAGI BOK!!! :p

Dari hari gue memperoleh email dari panitia hingga keberangkatan, gue mengisi hari-hari dengan membaca bahan skripsi (yea it's gettin real!) dan memperhatikan company profile dari peserta pameran yang merupakan perusahaan dari negeri samurai, Jepang. Dari 17 perusahaan yang ikut serta, perhatian gue tertuju pada sejumlah perusahaan yang membuka kesempatan bagi mahasiswa from all major seperti Nitori (retail company, seperti IKEA-nya Jepang), Plan Do See (bergerak di bidang jasa perhotelan, restoran, dsb), SG Holding (logistic company), Yamato Transportation (also logistic company), Takenaka, dan Fuji Xerox Asia Pacific (yang lokasi kerjanya adalah di Singapore). Kenapa gue fokus pada perusahaan-perusahaan yang membuka kesempatan buat all major? Karena gue menganggap bahwa akan ada job training yang bisa jadi jalan untuk gue buat belajar untuk bekerja sekaligus mengaplikasikan ilmu antropologi gue di perusahaan tersebut. Bagi yang belum pernah ikut magang seperti gue, rasanya job training menjadi penting untuk tahu job description kita dan mengenal situasi tempat kerja. Selain membaca company profile, mempersiapkan CV dan cover letter atau surat pengantar juga sangat penting. I got a lot of help from google image, karena jadi dapet bayangan struktur cover letter tuh seperti apa sekaligus belajar bahasa inggris yang lebih formal.

Beberapa hari sebelum keberangkatan (I went to Singapore on January 29th and the event was on the next day), gue mendadak parno: khawatir lupa cara ngomong dalam bahasa Inggris dan takut pesawat kenapa-napa. Alasan parno yang nomor dua muncul setelah nonton music video dari GAC untuk single mereka 'Cinta'. I love that song and also the video, tapi potongan video yang menggambarkan ada kecelakan pesawat itu bikin gue merasa salah dan nyesel nonton video itu sebelum berangkat. Saat berangkat dari rumah sampai tiba di Arianna Hotel, Singapore (tempat menginap langganan selama ke Singapore), bawaannya gak tenang. Maunya semua cepat selesai, well at least sampai tanggal 30 selesai karena sisanya diniatkan buat jalan-jalan :p. Di pesawat kebetulan dapat tempat duduk yang gak biasa, alias terletak di pinggir dekat jalan utama, alhasil rasa gak nyaman itu membuat gue agak meriang di malam harinya. Beruntung banget nyokab yang ikut menemani ke Singapura membawa sejumlah obat-obatan yang bisa meredakan rasa gak enak badan itu. 

Tanggal 30 Januari 2016 akhirnya datang juga. Rasa khawatir tentu masih ada, tetapi sedikit terobati dengan menyantap plain prata dengan kari ayam dari C.M.K. 2001 Restaurant yang terletak gak jauh dari hotel. Selama dua kali ke Singapura (dan kemarin adalah kali ketiga yang pakai nginep di negeri singa itu), restoran itu jadi pilihan utama buat sarapan karena buka dari pagi dan dekat dari hotel. Harganya juga gak berubah banyak dari kunjungan terakhir gue di tahun 2014. Memang pada dasarnya kalau perut terisi, perasaan jadi lebih tenang juga sih :p. Oh ya, acara ASEAN CAREER FAIR 2016 berlangsung di Singapore Expo, tepatnya di Max Atria (lokasi dari Expo yang biasa digunakan untuk meeting atau conference). Lokasinya mudah dijangkau karena memang terhubung dengan stasiun MRT EXPO, satu stasiun dari MRT Changi Airport. Kalau dari hotel gue yang letaknya dekat dengan MRT Ferrer Park (exit F) di  North East Line (jalur ungu), bisa dengan dua cara:
  1. Cara gampang: Dari Ferrer Park, ambil kereta arah Harbour Front dan berhenti di Outram Park dan ganti ke East West Line (jalur hijau). Kemudian ganti kereta di Tanah Merah yang ke arah Changi Airport, berhenti di Expo
  2. Cara belibet tapi kesannya deket (padahal capek juga sih): Dari Ferrer Park, ambil kereta arah Punggol dan berhenti di Serangoon kemudian ganti kereta yang Circle Line (warna orange) ke arah Marina Bay. Berhenti di Paya Lebar untuk ganti kereta ke jalur hijau yang ke arah Changi Airport/Pasir Ris (termasuk di dalamnya ganti kereta di Tanah Merah).
Gue dan nyokab memutuskan untuk jadi the explorer dengan menggunakan cara yang ke dua. Capek memang, tapi setidaknya punya pemandangan dan pengalaman baru. Kembali pada acara utama, yaitu ASEAN CAREER FAIR 2016, gue sampai di lokasi agak lebih awal. Tapi, ke-ambi-an gue itu membuat gue jadi bisa kenalan dengan beberapa peserta dari negara lain seperti Vietnam, Singapore, dan Filipina. Gak hanya berkenalan, kita juga foto bareng..yaa kalau di tulisan yang pernah gue baca sih katanya kita belum bisa menyebut bahwa kita mengalami suatu momen kalau belum ada fotonya :p. Hanya butuh beberapa menit sebelum akhirnya gue bertemu dengan mahasiswa dari Indonesia, tepatnya dari ITB dan UNAIR. Kebetulan gue dan anak UNAIR datang tanpa kenal mahasiswa dari universitas yang sama, berbeda dengan anak-anak ITB yang beda jurusan tapi datengnya bareng-bareng. Kenalan gue bertambah! Itu kesempatan penting pertama yang gue peroleh dari ikut career fair ini. 


Invitee from Indonesia, Singapore, Vietnam, and Philippine 


#TeamIndonesia


Begitu dipersilahkan untuk masuk ruang pameran, niat awal gue adalah mengunjungi booth dari Nitori. Entah kenapa, begitu mendekati booth, kok perasaan gue bilang coba liat yang lain dulu....akhirnya booth pertama yang gue kunjungi adalah milik SG Holding, sebuah perusahaan jasa yang bergerak di bidang logistik. Gue disambut dengan ramah dan suasananya nyaman banget! Begitu datang, gue sudah dipersilahkan untuk duduk agar bisa mengikuti presentasi yang dibawakan oleh pihak HR dari perusahaan itu. Kebetulan, representatif dari SG Holding adalah orang Inggris sehingga bahasa inggrisnya mudah gue tangkap dan gue pahami, ALHAMDULILLAH :"). Berhubung gue awam banget dalam urusan career fair, begitu ditanya apakah gue mau mengumpulkan CV untuk interview, ya gue jawab aja iya. Rupanya gue mendapat giliran interview pertama! Bingung pastinya, cuma yaudah nikmatin aja deh. Sebelum interview, gue sempat berkunjung ke booth Nitori dan mengisi application form. Sempet ngobrol juga sama salah satu anggota dari recruitment team Nitori yang berbuah kenyataan pahit bahwa gue harus mampu ngomong dan mengerti bahasa Jepang saat interview di hari itu. Kecewa? BANGET! Tapi keinginan bekerja di Nitori itu berbuah manis karena pihak HR yang gue ajak bicara itu bilang bahwa akan ada kesempatan untuk membuka lowongan bagi pekerja dari luar Jepang. Tanpa basa-basi, gue tetap memberikan CV+application form in case ada lowongan di masa mendatang. Usai dari booth Nitori, rupanya gue sudah dapat giliran buat interview dengan SG Holding. Alhamdulillah saat interview, suasananya santai namun tetap formal. Ketakutan bahwa gue bakal lupa bahasa inggris menghilang begitu saja. TAPI, momen ter-zonk muncul ketika gue diminta mendeskripsikan diri dengan bahasa Jepang... i repeat..BAHASA JEPANG. FIX MAMPUS DI TEMPAT! Karena gak mungkin gue kabur begitu saja, akhirnya gue keluarkan saja apa yang gue bisa, alias kalimat hajimemashite, watashiwa nana desu. Sisanya? pasrah wae pake bahasa Inggris. Kesempatan penting kedua yang gue dapatkan adalah diingatkan betapa pentingnya me-maintain ilmu yang sudah dimiliki, dalam hal ini adalah bahasa Jepang yang gue pelajari semasa SMA. 


Usai interview, gue merasa bingung harus ngapain. Lemes banget karena 'tertampar' kenyataan bahwa gue terlalu malas dan tidak peduli untuk belajar bahasa Jepang dengan baik. Akhirnya gue 'mencari nafas' sebelum akhirnya masuk ke ruangan pameran lagi. Di dalam ruangan, gue mengisi application form untuk Yamato Transportation. Sedikit kagok ketika harus mengisi gaji yang diharapkan karena gue tahu setiap negara punya nilai upah minimun yang beda-beda. Di sini gue belajar bahwa kalau mau memasuki dunia kerja, we have to know about the standard salary  for fresh graduate. Jangan hanya sebatas apply kerja aja, istilahnya tahu hak dan kewajiban. Beres mengisi form dan mengumpulkan CV, gue keluar ruangan pameran untuk makan siang. Makan siang selama ASEAN CAREER FAIR 2016 ditanggung oleh panitia loh! Lumayan banget menghemat biaya makan satu kali selama di Singapura. Bahkan beberapa teman dari ITB menyayangkan kenapa gak bawa kotak makan...lumayan bisa stock sampai sore. Ada benernya juga ya -_-". Setelah makan, gue memutuskan mengambil istirahat selama 1 jam untuk memikirkan apa yang gue harus lakukan sampai nanti jam 5 sore, berhubung uang subsidi untuk akomodasi baru diberikan saat acara selesai (sekitar jam 5 sore itu). Sekitar jam 2 siang, gue kembali ke dalam ruangan dan apply untuk Takenaka dan Fuji Xerox Asia Pacific. Dari hasil kunjungan itu, gue mendaftarkan diri untuk bisa interview dengan Fuji Xerox pukul 4 sore. Sambil menunggu interview, gue memutuskan untuk menyudahi kegiatan browsing di ruang pameran dan menunggu waktu. Untungnya gue bertemu dengan dua anak FISIP UI yang kebetulan salah satunya pernah satu kelas di semester pertama kuliah. Kami bertiga akhirnya ngobrol sambil sharing seputar perkuliahan dan upaya mencari kerja di career fair ini. Selama ini gue adalah tipe orang yang kurang berani memulai percakapan, cenderung 'adaptasi' dulu sebelum bisa menikmati suatu momen. Di kegiatan ASEAN CAREER FAIR 2016 ini, gue berkesempatan untuk 'ditantang' oleh situasi untuk punya inisiatif dalam hal bersosialisasi dengan orang lain, dan rasanya kesempatan penting yang ketiga ini wajib di maintain sampai tua.

Jam 4 sore-pun tiba dan gue ikut dalam interview dengan Fuji Xerox Asia Pacific. Alhamdulillah kali ini tidak membutuhkan deskripsi dalam bahasa Jepang :"). Wawancara juga berjalan cukup lancar, bahasa inggris gue juga gak jelek-jelek amat, yaa overall lancar dan baik. Apapun hasilnya, gue sudah punya kesempatan untuk melatih bahasa inggris dan belajar untuk 'menjual' diri di pasar kerja.

Sekitar jam 5 kurang, gue akhirnya bisa mengambil subsidi dari panitia untuk akomodasi di Singapura. Sebelum pulang, gue bertemu lagi dengan anak-anak ITB (yang memang awalnya terpisah karena berpencar mencari peluang kerja) dan menyempatkan diri untuk foto-foto bersama mahasiswa ITB dan UNAIR. Proses mengabadikan momen itu aja rame buanget, tentunya gue gak bakal bisa lupa keseruan itu sih. Akhirnya setelah foto-foto selesai, gue pamit dan menghampiri nyokab yang sudah cukup puas berkeliling area Singapore Expo sambil menunjukkan sejumlah barang yang ia beli dari bazaar. "Coklat ini dek, satu harganya 10SGD tapi di sini karena lagi bazaar jadi 9SGD dapet 3 kotak", begitu kata nyokab. Alhasil, kami berdua gak berbelanja coklat lagi di Bugis maupun di Vivo City seperti biasa. Dari Singapore Expo, gue dan nyokab memutuskan untuk makan malam di daerah Bugis, tepatnya di Bugis Junction. Gue bener-bener lupa bahwa hari itu adalah hari sabtu, alhasil semua tempat makan penuh dan kami berdua berakhir di Yoshinoya....jauh-jauh ke Singapore makannya yoshinoya lagi dan lagi....gapapa yang penting bisa mengisi perut sebelum kembali ke hotel. Malamnya, gue tertidur sambil tersenyum lega karena tujuan utama ke Singapura selesai sudah. Sisa hari yang ada, mari untuk jalan-jalan!

Pada hari Minggu (lah jadi nyanyi), gue dan nyokab mengunjungi S.E.A. Aquarium di Resort World Sentosa, Esplanade, Gardens by the Bay, dan makan malam di ION Orchard. Ini adalah kali pertama mengunjungi S.E.A. Aquarium dan Gardens by the Bay. Gue terpesona dengan aquarium yang ditata begitu indah, begitu juga taman yang luas ditengah-tengan Singapura yang serba sibuk. Sayangnya, kunjungan ke Gardens by the Bay membuat gue dan nyokab merasakan hujan pertama selama pergi ke Singapura. Bagaimana kemudian kunjungan gue ke Esplanade? SUNGGUH TAK MAU KU LUPAKAN! alasannya adalah gue menikmati salah satu band yang sedang sound check di outdoor stage Esplanade dan perhatian gue tertuju pada penabuh drum dari band tersebut. Musik dari band tersebut mungkin bukan genre yang biasa gue nikmati sehari-hari, tapi tanpa adanya lirik membuat gue bisa menikmati momen siang hari di Singapura yang padat oleh wisatawan. Sang Penabuh Drum juga terlihat menikmati momen sound check saat itu dan membuat gue terpana aiiiishhhh!. Setelah berhasil ngecek di instagram, gue mendapati nama band tersebut adalah SPHAERAS. Begitu gue sampai di Jakarta keesokan harinya, langsung cek youtube dan men-download beberapa lagu dari mereka. Gak hanya nama band itu aja yang gue temukan di internet, tetapi juga nama si penabuh drum itu (YESH!)

Anyway, begitulah pengalaman gue selama di Singapura. Gak hanya bisa menikmati udara segar ditengah kesibukan negeri singa, gue punya banyak kesempatan dan pembelajaran penting untuk bisa direnungi dan diaplikasikan dalam kehidupan gue. Kalaupun gak berhasil 'nyantol' di salah satu perusahaan yang gue inginkan, setidaknya pengalaman itu jadi persiapan gue untuk langkah-langkah lainnya dalam mencari pekerjaan setelah lulus. Yang penting sekarang adalah: SELESAIKAN PROPOSAL PENELITIAN BIAR CEPET MULAI SKRIPSI DAN WISUDA!!! :") Bismillah.

Weekly  Current Obsession

SPHAERAS

Yap, hasil nonton mereka sound check di Esplanade beberapa hari lalu membuat gue menemukan hal baru untuk dinikmati sampai beberapa waktu kedepan. Mereka adalah instrumental band dari Singapura yang beranggotakan Zakhran, Hao Kai, Chun Kit, dan Axel. Musik mereka cukup bisa menemani gue menyusun latar belakang proposal penelitian (yang sampai detik ini belum beres) sambil 'nostalgia' akan kunjungan ke Singapura kemarin. So far, album mereka baru 1, MOIRAI, dan bisa di download di iTunes. My favorites go to Albert Fish, DeLorean, dan Same Decaying Matter.


Saturday, September 26, 2015

Not His Story: Make Over Me, Please! Event at Plaza Indonesia

Hola! Akhirnya punya sesuatu untuk ditulis lagi di sini. Sebenarnya banyak hal menarik yang gue ingin bagikan, tapi selalu terhalang dengan kegiatan-kegiatan yang punya prioritas lebih tinggi dari blogging. Misalnya aja tentang Ashley Graham's show di NYFW 2015 beberapa waktu lalu, campaign #PlusisEqual yang muncul di event yang sama, kegiatan jalan-jalan ke Sakura Park di AEON BSD City bareng pacar, kehidupan as senior di semester tujuh ini, dan masih banyak hal lain yang bisa gue ceritakan. Apa yang gue alami hari ini rasanya wajib untuk dibagikan se-segera mungkin. Sama halnya dengan menulis field-notes saat penelitian, makin lama gak menuliskan hasil temuan, bakal lupa meskipun udah direkam (edisi curhat :p).




Sekitar 9 minggu yang lalu, tepatnya tanggal 23 Juli 2015, gue memutuskan untuk ikutan (semacam) undian untuk di make-over yang ditawarkan oleh Gogirl! Magazine lewat akun instagramnya. Memang gue sudah sejak lama mau merasakan di make-over oleh majalan kesayangan gue itu (they have a special spot for make over on the magazine), dan postingan tersebut cukup menggoda. Kenapa? Karena Gogirl bersama beberapa brand seperti Benefit Cosmetic, Up Shoes by Diana Rikasari, Spotlight, dan Nila Anthony menjadi sponsor dalam undian tersebut. Artinya, kalau menang make over, gue akan dirias dengan Benefit Cosmetic sekaligus didandani dengan pakaian dan sepatu dari brand-brand tersebut. Awalnya, undian #MakeOverMePlease ini akan diumumkan di pertengahan bulan Agustus, gak lama setelah gue balik dari penelitian. Namun, panitia memutuskan untuk menambahkan waktu untuk batas akhir submission sampai akhir Agustus. Yaaa gue mau gimana lagi? awalnya berharap balik penelitian bisa di make-over, tapi kenyataannya harus diundur.




Kemudian, pada suatu Jum'at, gue memperoleh notifikasi di applikasi instagram gue bahwa ada salah satu akun yang menuliskan username gue dalam caption/comment. Saat gue buka, ternyata....gue terpilih untuk di make-over oleh Benefit Cosmetic, Spotlight, Up, Nila Anthony, dan Gogirl!. Gak hanya di make-over, gue juga berkesempatan untuk sharing bareng Diana Rikasari dan Ucita Pohan! Bilang apa? Alhamdulillah.

Setelah sekitar dua minggu menunggu, akhirnya tanggal 26 September datang juga! Rencana awal adalah berangkat pagi-pagi untuk nyekar ke makam Alm. kakek (my mom's father). Namun, karena gue kesiangan, akhirnya langsung menuju Plaza Indonesia, lokasi kegitan #MakeOverMePlease dilaksanakan. Sebelumnya, mampir dulu ke Ancha & Adi salon di Cinere yang kebetulan langganan nyokab. Buat apa? Buat merapikan rambut nyokab yang menurutnya sudah terlalu panjang. FYI, rambut nyokab gue itu pendek, hemm ya bisa dibilang pixie cut lah. Silahkan bayangkan aja kalau dipotong jadi sependek apa :D. Sekitar pukul 11 lewat, gue dan nyokab sampai di Plaza Indonesia. Alhamdulillah jalanan lancar dari Cinere ke lokasi. Sesampainya di lokasi, gue dan nyokab yang emang jarang banget ke Plaza Indonesia mencari lokasi Benefit Store yang katanya terletak di lantai tiga. Rupanya, Benefit Store terletak tidak jauh dari Miniapolis alias tempat main untuk anak-anak kecil. Saat gue datang ke Benefit Store, rupanya memang acara belum dimulai (yaiyalah...secara acara mulai jam 12.30 -_-). Staff Benefit yang super ramah akhirnya meminta gue untuk menuliskan nama dan nomor telfon di guest book, supaya ketika acara dimulai, gue bisa datang langsung setelah ia hubungi. Sambil menunggu, gue dan nyokab menikmati sepiring Caesar Salad di Starbucks dan sempat juga berjalan-jalan di food hall. Kira-kira jam 12 siang, gue mendapat telfon yang meminta gue untuk langsung menuju store Benefit di lantai tiga.




Benefit Store ini lucu banget! Gue pribadi memang suka dengan packaging dari produk-produk Benefit, dan makin dibuat jatuh hati dengan interior store-nya. Sebelumnya, gue gak pernah mencoba produk dari Benefit karena memang gue jarang merias wajah, tapi selalu ada keinginan untuk beli karena bentuknya yang lucu itu. Sesampainya di Benefit Store, gue disambut dengan super menyenangkan oleh Mbak Daisy dari Benefit Cosmetic Indonesia. Ia langsung membawa gue untuk di foto 'before' dan di make up oleh salah satu staffnya yang bernama Mbak Rahma. Sambil dirias, gue sempet ngobrol sama Mbak Rahma (gini nih kalau jiwa mahasiswa antropologi-nya keluar :p) seputar produk Benefit dan seputar dirinya. Rupanya, Mbak Rahma tinggal di Ciputat, gak terlalu jauh dari Cinere, tempat gue tinggal. Jarak antara rumahnya dan tempat kerja yang cukup jauh rupanya ditempuh dengan menggunakan sepeda motor, sehingga lebih hemat waktu. Mbak Rahma juga menjelaskan kepada gue kegunaan dari The Pore-fessional yang dapat meminimalisir terlihatnya pori-pori wajah. That's awesome! Especially for me, seorang wanita berusia 22 tahun yang jarang dandan :p. Tidak lama kemudian, Mbak Daisy kembali mendatangi gue dan 'meracuni' gue untuk brow-wax alias merapikan alis. Alis jadi suatu trend belakangan ini. Jujur aja, gue tidak begitu suka mengutak-atik alis, namun gue rasa ketika mengikuti make-over seperti ini, kita harus bisa total dan 'pasrah' pada expert. Gue juga cukup penasaran tentang brow-wax ini, yaa itung-itung merapikan alis lah.

Seumur hidup, brow-wax adalah kegiatan berbasis waxing pertama yang gue lakukan. Mbak Daisy called me 'brow-virgin' karena gak pernah ngutak-atik alis, hehehe :p. Langkah pertama adalah menggambar alis yang akan dicapai, sehingga sang ahli tahu dimana ia harus waxing alis gue. Tadinya, rambut-rambut halus yang sering disebut 'alis nyambung' gue mau dibereskan juga. Then, I told Mbak Daisy to let it be that way, karena itu jadi ciri khas gue. And she said, "yaudah gak apa-apa, susuknya disitu ya?". Gue hanya bisa tertawa. Well, at the end, I kinda like the result. Mari kita lihat kira-kira akan berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai alis gue numbuh lagi hihihi :p

Setelah beres dengan urusan alis, gue dibawa ke meja make-up untuk menyelesaikan bagian mata dan bibir. Karena pada dasarnya gue gak begitu sering make up, merias mata jadi satu hal yang bikin gue was-was. Gue hanya bisa pasrah sambil mengatur nafas supaya bisa lebih santai. Maaf ya agak norak :p. Tahap selanjutnya adalah hair-do. Dengan bantuan dari GHD Hair, rambut gue dibuat agak berombak (and to be honest, that's one of my dream hair...but actually it will looks awesome in longer hair) dan mendapat kesan messy. Pas banget karena emang gue gak suka nyisir hehehehe. Next step is dressing up! Dibantu dengan tim dari Spotlight (Termasuk Mbak Ivana, 'pentolannya' Spotlight :p), gue mendapatkan blazer+black shirt. Awalnya gue akan dipakaikan legging yang gue bawa dari rumah, namun ternyata warnanya kurang pas dan malah terlihat lebih baik dengan jeans yang gue kenakan dari awal. Celana jeans gue kemudian dilipat dibagian bawah serta dirapikan dari benang-benang menjuntai, maklum jeans-nya dipermak sama mas-mas yang lewat depan rumah hehehe. Setelah pakaian, tidak lupa aksesoris yang dipinjamkan serta ditata langsung oleh Diana Rikasari. Selain aksesoris berupa kalung, gue juga dipilihkan sepatu oleh Diana Rikasari langsung. Duh, berasa model didandanin begitu.

Usai dandan, hair-do, dan dress up, gue menemui beberapa pemenang undian lainnya. Yap! I got additional friends! They are Hanan yang ternyata juniornya temen gue SMA di kampus, Melysa yang ternyata temennya temen kampus gue, Resista yang punya nama kayak temen gue di UAI, Icha yang calon dokter dan sempet belajar mata kuliah antropologi di kampus, Ribka, dan Tya. Kita semua berasa jadi model siang itu karena setiap lagi selfie, tiba-tiba semua orang memfoto kami semua. Ini toh rasanya jadi model hehehehe, capek juga ya liat kamera terus. But I do love that kind of experience!. 

Hair-do by GHD | Blazer and Shirt by Spotlight | My own jeans | Wedges by UP | Clutch by Nila Anthrony | Make up by Benefit Cosmetic | Accessories belongs to Diana Rikasari


Sekitar jam 2 siang, acara sharing bersama Diana Rikasari dan Ucita Pohan dimulai. Mbak Daisy juga ikutan dalam acara tersebut. Tapi, sebelum sharing session, kita ber-7 di 'maper' dulu sama Mbak Daisy hehehe. She asked us to do a runway walk like a model! I was surprised but also excited, since modelling is one of my secret dream :p. Terakhir kali berjalan a la model itu pas usia 5 tahun, ketika iseng ikut lomba fashion show berbusana muslim. Setelah itu, menjadi model cuma bisa gue simpan aja dalam hati karena proporsi tubuh yang kurang sesuai dengan industri tersebut. My runway walk wasn't bad actually hehehe :p. Akhirnya sesi sharing-pun dimulai. Kami semua bebas memberikan pertanyaan kepada tiga narasumber yang ada. Gue berkesempatan melontarkan dua pertanyaan kepada Diana Rikasari dan juga Ucita Pohan. Pertanyaan gue kepada Diana Rikasari dijawab dengan cukup baik oleh Diana sendiri serta Ucita dan Mbak Daisy. Dari jawaban mereka gue belajar bahwa ketika dressing up atau melakukan suatu hal, pastikan kita merasa happy dengan apa yang kita lakukan itu. Apapun komentar orang, kita kita merasa happy, akan ada aura cantik (begitu istilah dari Diana) yang keluar dan pada akhirnya orang lain juga dapat menikmati aura positif tersebut. Dari Diana Rikasari gue juga belajar bahwa terkadang, kita menemukan passion kita agak terlambat. Berkaca dari pengalamannya sendiri, Diana Rikasari baru menemukan passion di dunia fashion dan bisnis ketika ia sudah memasuki usia 25 tahun. Dari situ gue belajar untuk menjalani setiap keputusan yang sudah dibuat dan bersabar sambil mencari apa passion kita sebenarnya karena gue sendiri masih meraba-raba apa passion gue itu. Gue jadi yakin bahwa the aha moment seputar passion kita akan datang suatu saat nanti. Kemudian, pertanyaan kedua gue ditujukan pada Ucita Pohan. She's an announcer di cosmopolitan FM. Tubuhnya tidak langsing, tetapi gue mengagumi rasa percaya dirinya dan cita rasanya dalam hal fashion. Kesukaannya dalam hal-hal yang berbau klasik menjadikan Audrey Hepburn sebagai salah satu fashion influence-nya. Ucita juga mengatakan bahwa penting untuk mengenal diri kita sendiri (terutama dalam hal berpakaian) agar bisa tetap mengikuti trend yang ada. Secara garis besar, gue sangat terinspirasi dari hasil sharing session tersebut.

With Ucita Pohan. And She's superb nice <3

With Diana Rikasari. She's superb cute!


Sebelum acara berakhir, setiap sponsor memberikan pertanyaan berhadiah bagi kami yang ikut dalam kegiatan #MakeOverMePlease. Hadiah yang diberikan mulai dari voucher belanja sampai sample product. Gue cukup beruntung untuk bisa memborong sejumlah hadiah kuis tersebut. Usai kuis, kami semua berfoto bersama-sama dan tentunya menyempatkan diri berterima kasih kepada para sponsor. Gue berusaha menyempatkan waktu bertemu Ucita Pohan untuk meminta kontaknya untuk bisa sharing lebih banyak lagi sebagai salah satu modal bahan skripsi nantinya :p.

Selfie time with other six lucky girls <3 <3

Credit to Diana Rikasari (taken from her Instagram)


I feel so lucky and grateful today! Punya kesempatan di make-up, dapet banyak hadiah mulai dari voucher belanja, pakaian+sepatu yang digunakan, sampai peralatan make up yang selama ini gue idam-idamkan, dan yang paling penting, bisa berbagi pengalaman dengan orang-orang hebat + teman-teman baru. Thanks a lot to Gogirl Magazine, Benefit Cosmetic Indonesia, Spotlight Store, Up Shoes by Diana Rikasari, dan Nila Anthony telah membuat mimpi saya jadi kenyataan ;)

Self love by taking selfie :p

Weekly Addiction!

Can't stop and won't stop listening (and singing) Aston Merrygold's Get Stupid! Setelah ditelusuri, rupanya Aston sempat jadi juri Got to Dance UK dan jadi personel dari boyband JLS yang pernah nyanyiin 'She Makes Me Wanna' featuring Dev. So, for ya, here's the official music video of Get Stupid by Aston Merrygold.










Saturday, September 5, 2015

Being Plus-Size Woman: I Decide to Take Care of My Body. How About You?

Hampir tiga bulan lamanya tidak menuliskan pemikiran-pemikiran gue seputar life as plus-size woman maupun menceritakan kejadian-kejadian menarik dalam kehidupan gue. Memasuki masa dimana bulan berakhiran -ber, yang berarti semakin dekat dengan tahun yang baru. Resolusi baru sepertinya harus mulai disusun dari saat ini, well it sounds to ambitious, right?. Selain mempersiapkan apa saja yang harus diperbaiki di tahun yang mendatang, perlu juga rasanya melihat setengah tahun belakangan ini agar kita tahu sudah berapa banyak waktu yang kita habiskan percuma maupun untuk hal-hal yang bermanfaat. 

Di awal tahun, gue sempat menargetkan untuk bisa mengurangi berat badan beberapa kilogram dengan harapan tahun depan bisa menggunakan salah satu kebaya favorit yang dibeli pada masa akhir SMP untuk wisuda nanti (semoga tahun depan bisa beres kuliah! Aamiin). Namun, masih padatnya perkuliahan mendorong gue untuk melupakan keinginan untuk mengurangi berat badan dan menggantikannya dengan fokus mempertahankan kondisi akademis gue. Banyaknya tugas, kegiatan organisasi, dan kepanitiaan membuat gue jadi meninggalkan kegiatan lari pagi yang di tahun 2014 menjadi kegiatan wajib setiap minggunya. Saat bulan puasa, Alhamdulillah berat badan bisa berkurang dari 84 kg menjadi 81 kg. Setelah lebaran, berat badan gue bergerak tidak stabil antara 81kg hingga 83.3 kg. Kondisi makin diperparah karena selama masa penelitian 14 hari di daerah Lebak, Banten. Meski asupan makan gue rasa tepat yaitu tiga kali sehari, namun mengkonsumsi nasi pada ketiga waktu makan berhasil menaikkan berat badan gue...entah jadi berapa kilogram. Gue hanya bisa merasakan tubuh menjadi semakin berat. Kondisi badan yang terasa semakin berat itu membuat gue merasa kurang fit begitu pulang ke Jakarta. Dua hari setelah kepulangan, asma gue kambuh. Setelah kurang lebih 15 tahun gak pernah menggunakan inhaler ketika serangan asma, tahun ini rekor itu runtuh begitu saja. Di hari itu, gue yang berniat berkonsultasi ke dokter malah dibawa ke ruang UGD oleh dokter itu sendiri untuk langsung menemui mesin uap kesayangan itu. 

Kondisi-kondisi tersebut 'menampar' gue. Kesehatan menjadi prioritas utama untuk dijaga. Jujur aja, gue kapok harus kembali bertemu dengan asma. Kenapa? Karena artinya gue gak bisa mendonorkan darah dalam waktu dekat dan gue harus banyak menghabiskan waktu di rumah untuk istirahat (sedangkan mood gue lagi pengen jalan-jalan!). Akhirnya, dengan dukungan orang tua serta jadwal kuliah yang makin berkurang tiap minggunya, gue mendaftarkan diri (lagi) untuk berolahraga di salah satu fitness center di Cinere (i bet you know where is it). Selain untuk mengisi waktu senggang, keputusan itu gue ambil karena gue merasa meskipun memiliki badan besar (either karena berat badan atau karena keturunan), kita harus tetap menjaga kesehatan. Sejumlah postingan model plus-size favorit gue menjadi motivator. Dulu gue berfikir bahwa model-model atau fashion blogger bertubuh plus itu identik dengan tidak berolahraga. Namun, setelah men-follow Denise Bidot, Nadia Aboulhosn, Ashley Graham, dan Tess Holiday di Instargam, gue sadar bahwa pemikiran itu SALAH BESAR! Keempat role models itu rajin berolahraga untuk menjaga stamina dan kondisi fisiknya. Tess Holiday yang tubuhnya berukuran 22-pun rajin berolahraga! Artinya kondisi fisik yang bisa dibilang besar itu bukan halangan untuk tetap ingat dengan kesehatan dan berolahraga. Have you ever visited @biggalyoga on instagram? Kalau belum, rasanya wajib untuk dikunjungi bagi mereka yang bertubuh plus dan mencari inspirasi untuk berolahraga. Valerie Sagun (@biggalyoga on ig) memang memiliki tubuh besar, gue sendiri melihat tubuhnya memiliki banyak bagian yang berlemak, namun tubuhnya sangat fleksibel dan ia dapat melakukan berbagai gerakan yoga yang bagi gue pribadi rasanya mustahil untuk dilakukan. 

hahstag 'rolemodel'

Keberadaan media sosial berbasis gambar atau video seperti YouTube, Instagram, dan Snapchat, menjadi media untuk membuktikan besarnya tubuh seseorang tidak selalu berbanding lurus dengan stereotype yang ada. Dalam sebuah artikel ilmiah tentang body image, masyarakat barat (white people, mostly) memiliki pandangan bahwa tubuh besar menggambarkan sifat malas, rakus, dan jahat. Pandangan tersebut semakin berkembang dan ikut diyakini oleh banyak masyarakat dengan latar belakang budaya yang berbeda, sehingga menjadi suatu ukuran penting dalam menilai orang lain. Padahal, hal tersebut belum tentu benar dan teruji karena pada dasarnya setiap manusia itu memiliki keunikan yang membedakan dirinya dengan diri orang lain. Buktinya, ya... dapat dilihat dari model-model, fashion blogger, maupun penggiat olahraga yang bertubuh besar, yang kini makin ter-expose oleh media. Ukuran tubuh kini (perlahan tapi pasti) tidak lagi menjadi standart untuk menilai sifat individu maupun kelompok. 

Terinspirasi dari mereka yang bertubuh besar dan percaya diri membagikan sepotong gambar kegiatan olah raga lewat media sosial, gue-pun mengambil bagian dalam upaya mematahkan stereotype yang ada tentang wanita atau pria bertubuh besar lewat ikut menjaga tubuh dan kesehatan. Bergabung ke salah satu fitness center memberikan gue peluang untuk memilih kegiatan olah raga seperti apa yang dirasa menyenangkan dan membuat diri gue nyaman. Adanya sejumlah kelas seperti zumba, yoga, aerobic, body combat, dan sebagainya menjadi pilihan utama gue dalam menjaga kondisi tubuh. Meskipun belum ada hasil yang signifikan setelah kurang lebih tiga minggu rajin mengikuti kelas-kelas di fitness center tersebut, ada perasaan lebih bahagia dan lebih bisa fokus karena aliran oksigen di tubuh menjadi lebih terdistribusi secara merata. Tubuh juga merasa lebih ringan meskipun ketiga gue melihat timbangan, kerap kali mencapai angka 85 kg (gue percaya kenaikan berat badan adalah proses mendapatkan tubuh yang lebih baik #bukanngeles). Semoga saja tujuan gue untuk menjadi lebih sehat dapat terwujud. Kalau berat badan bisa berkurang, gue anggap sebagai bonus. 

#mirrorselfieatthegym 

So, people...tubuh besar lagi-lagi tidak selalu berarti mereka merasa malas menjaga diri dan juga bukan menjadi alasan untuk tidak menjaga kesehatan jiwa dan raga. This is the time for us to break the stereotype!



Selamat berolahraga!

Weekly Obsession:
Beside Zumba class, i get addicted with bracelet, especially ropes bracelet that i bought from @folkstore.id on instagram. With very affordable price (16.000IDR or equal with 1.13USD), i can get 2 ropes bracelets. Interested? Go follow 'em on instagram and pick your favorite accessories!

Ropes bracelet as friendship bracelet? why not!
Their latest collection. Grab yours now!





Sunday, June 7, 2015

Not His Story: I am Feeling Twenty Two!

I always get excited to meet June, 6th every year just because I am very grateful to have another birthday and still breathing.

Sebenarnya masih belum bisa percaya kalau gue sudah berkepala dua sejak dua tahun yang lalu. Somehow, gue merasa kalau gue masih anak-anak dan belum sepantasnya jadi orang dewasa. Apalagi setiap berkunjung ke mall atau tempat-tempat nongkrong, gue merasa kurang bisa disebut dewasa ataupun tua setiap melihat segerombolan anak-anak SD atau SMP yang gaya dan dandanannya lebih hits dari gue. Gue-pun bertanya, ini gue yang salah karena gak sadar umur atau mereka yang gak sadar umur ya?

from my instagram, fkrnand


ANYWAY!

I spent my June 6th with my mom and dad dengan makan siang bersama. Secara keseluruhan, tanggal 6 Juni tahun ini terasa biasa-biasa saja, yang istimewa hanya fakta bahwa gue masih diberi kesempatan sama Allah untuk bisa bernafas dan menjadi individu yang lebih baik dalam berbagai hal. Di umur yang baru ini, gue-pun juga menyadari bahwa dalam waktu yang rasanya singkat, gue akan menghadapi tahun terakhir di perkuliahan, well setidaknya itu yang gue harapkan. Besar keinginan gue untuk bisa menyelesaikan skripsi di akhir usia 22 gue dan merasakan wisuda pada usia 23 tahun. Bagi sebagian, apa yang gue lakukan bisa saja disebut terlalu berambisi....tapi bagi gue pribadi, itu adalah sebuah konsekuensi dari keputusan gue di tahun 2012 untuk memulai lagi dari awal instead of melanjutkan apa yang sudah dijalani. Semoga saja, harapan tersebut bisa terwujud, Aamiin.

Memasuki usia baru ini, gue juga menyadari bahwa gue butuh banyak belajar. Bukan hanya sebatas belajar dalam rangka akademis saja, tetapi belajar tentang hidup atau setidaknya belajar mempersiapkan diri di realita....bukan lagi sebagai seorang pelajar tetapi sebagai wanita dewasa yang sedang berupaya membangun kariernya dan masa depannya. Berat? Semoga saja Allah selalu membantu gue dalam menjalaninya.

WHOAAA baru bertambah umur satu hari aja, gue sudah banyak berfikir hahahaha. Mungkin itu bagian dari pengaruh yang muncul ketika semua ujian akhir semester diberikan dalam bentuk makalah take home dengan batasan minimal ribuan kata....

weekly obsession!


Keinginan untuk bisa memilki salah satu varian dari macbook sebenarnya sudah jadi impian sejak SMA. Tapi faktor harga selalu jadi penghalang, mengingat gadget keluaran Apple-ini harganya terasa keterlaluan meskipun yaaa keren sih :p. Tapi, belakangan ini, dapet macbook sebagai kado ulang tahun selalu jadi do'a gue. Meskipun sebetulnya sih gak yakin ada yang mau ngasih. Kalau gue punya unlimited budget, gue akan menghadapi kebimbangan untuk memilih salah satu dari dua varian macbook tersebut: antara macbook air 13 inch dengan macbook pro (non-retina) 13 inch. Gue bahkan googling untuk melihat perbedaan diantara keduanya. Sebenarnya, bagi gue yang banyak ngetik dan suka buat poster atau edit foto, macbook air aja cukup. Tetapi, berdasarkan banyak review pengguna macbook, buat design ya lebih baik macbook pro. 

Berasa besok bakalan beli aja ya gue? hahaha. Berharap boleh dong ya? Semoga nanti saat gue sudah bisa menghasilkan uang sendiri, macbook bisa terjangkau oleh keuangan gue :") Aamiin.

Friday, April 17, 2015

Fashion Addiction: Back with Fashion Stuff!

Bagi mereka yang membaca blog ini sejak lama, mungkin pernah mengetahui bahwa gue sempat mencoba untuk menjadi seorang fashion blogger, terutama untuk plus-size. Kurangnya komitmen membuat gue melupakan keinginan tersebut. Nah, kali ini gue mau berbagi pandangan gue seputar dunia fashion dan plus-size woman di Indonesia.

Semua berawal ketika  negara api menyerang  sebuah notification email muncul di iPad gue. Menurut e-mail tersebut, ada seseorang yang menulis comment di salah satu tulisan gue di blog ini. Saat gue membaca isi comment tersebut, gue cukup tidak menduga bahwa ia memberikan saran terkait dengan belanja pakaian bagi wanita berukuran plus-size. 


Kemudian, gue membuka web dan instagram yang diberikan oleh Mbak Felicia Carissa. Hasil penelusuran gue terhadap web maupun instagram The Fat Doctor dapat dibilang cukup menarik, karena minimnya pengetahuan gue tentang keberadaan sejumlah online shop yang menjual pakaian untuk wanita plus size. Untuk size-nya memang didedikasikan untuk para wanita bertubuh besar, sayangnya sejumlah pakaian yang tersedia tidak sesuai dengan apa yang secara pribadi gue suka. Fokus gue bahkan tidak banyak diarahkan pada apa yang dijual, lebih kepada apa yang gue temukan pada feed instagram: sejumlah wanita plus size yang menjadi model untuk pakaian tersebut. Jika berdasarkan penglihatan gue, tubuh mereka lebih besar dari tubuh gue, tetapi rasa percaya diri mereka patut diacungi jempol! Kemudian melihat adanya kesempatan untuk menjadi model, which is one of my childhood dream, gue kemudian melanjutkan penelusuran ke website mereka dan ternyata terdapat bagian terkait untuk pendaftaran sebagai model. Ketika membaca persyaratan untuk menjadi model, gue kaget dan untuk pertama kali-nya gue merasa terlalu kurus untuk jadi model bagi brand tersebut. Dalam persyaratan tersebut, berat minimal untuk mereka yang ingin menjadi model adalah (kurang lebih) 90kg, sedangkan berat badan gue adalah 84 kg. 

Pada saat itu juga gue merasa kecil, masa iya mereka yang berbadan lebih besar dari gue bisa sangat percaya diri sedangkan gue enggak?!

Pemikiran itu muncul bertepatan dengan kurangnya rasa percaya diri gue untuk dressing up. Sehingga tentu setelah melihat ketentuan sebagai model tersebut, gue merasa perlu meningkatkan rasa percaya diri gue lagi. 

Bagi gue pribadi, mereka yang menjadi model untuk The Fat Doctor adalah inspirasi yang luar biasa. Rasa percaya diri mereka bisa gue liat di sejumlah foto yang ada di instagram The Fat Doctor dan gue merasa malu karena sering minder belakangan ini. Sejumlah famous people dengan tubuh besar kemudian gue kumpulkan untuk meningkatkan kepercayaan diri gue. Dari luar negeri misalnya, Denise Bidot dan Nadia Aboulhosn menjadi inspirasi utama gue karena tubuh mereka yang plus-size tapi memiliki sense of fashion yang gak kalah dengan wanita mayoritas. Berita seputar plus-size fashion yang sedang seru untuk diikuti adalah tentang Tess Munster, model wanita dengan ukuran tubuh 24, yang berhasil dikontrak oleh salah satu agensi model yang cukup ternama. Di Indonesia sendiri ada @tiraemon (Aditira Hanim) di Instagram yang menarik perhatian gue karena kepercayaannya akan diri dia sendiri dan fashion sense-nya yang keren! Belum lagi hasil foto-foto dia yang menarik buat gue pribadi. 

Nama-nama yang gue sebut diatas menjadi bukti bahwa mereka yang berbadan besar pun bisa terjun di dunia fashion, baik sebagai model maupun fashion blogger. Tanpa harus benar-benar masuk ke dunia fashion-pun, setidaknya dari mereka-mereka yang muncul di publik sebagai fashionista bisa menjadi inspirasi wanita dengan ukuran tubuh apapun untuk berani menggunakan pakaian yang sesuai dengan apa yang diinginkannya. Wanita bertubuh besar tidak hanya dapat menggunakan pakaian pria untuk menutupi bentuk badannya. Sudah saatnya wanita plus size tampil berani dengan pakaian yang memang dirancang untuk wanita. Kehadiran online shop seperti The Fat Doctor dan sejumlah akun OL shop lainnya siap membantu kita, wanita-wanita plus size untuk bisa dress up like barbie!.

And here's my attempt to dress up 



and here's some tweet to remind you to love your body, no matter what size you are


WEEKLY OBSESSION!

Sebetulnya terobsesi sama penyanyi muda ini bukan baru minggu ini, tapi lagu-lagu dari his debut album bener-bener bikin eargasm dan menemani gue selama 2 minggu ujian.


You're 100% right if you're guessing Teza Sumendra! Albumnya bener-bener menunjukkan keseriusan Teza dalam bermusik. Menurut gue, he brings the international music taste to Indonesia. Lagu kesukaan gue adalah: Girlfriend & Tonigth karena beatnya yang lumayan bikin bahagian :p. Sejujurnya, gue sempat kepikiran untuk mau bahas album dia untuk skripsi tahun depan, but let's see

Thursday, February 5, 2015

Not His Story: Ugh! The day-off is almost over!

Sebagian besar pelajar atau mahasiswa rasanya begitu menanti yang namanya liburan. Bahkan para pekerja-pun gak bisa lepas dari liburan. Lucunya, sejak kecil, sekolah adalah salah satu yang gue rindukan..BUKAN RINDU BELAJAR tapi lebih kepada kangen sama temen-temen yang biasa ditemui pada masa-masa sekolah. Yaaa tapi tetep aja ketika liburan mulai mendekati akhir, rasanya gak mau masuk ke masa tersebut dan kembali ke rutinitas lagi: kuliah, nugas, nongkrong, dan kurang tidur.

Gue merasa bersyukur bahwa liburan kali ini gak begitu banyak dihabiskan cuma dengan tidur. Mengingat liburan semester ini bisa dibilang liburan terakhir yang bisa bener-bener liburan (karena liburan semester depan bakalan ada penelitian buat salah satu mata kuliah yang penting di jurusan gue, dan liburan semester depannya lagi ada kemungkinan untuk mulai disibukkan oleh skripsi), jadi gue sangat sangat bersyukur dengan kesempatan berjalan-jalan dalam bentuk apapun itu. Di pertengahan Januari, gue Alhamdulillah bisa pergi ke negara lain..itung-itung menuhin passport sekaligus beribadah. Kemudian di awal Februari ini, berkesempatan buat main ke Doraemon Secret Gadget Expo di wilayah utara Jakarta dan menambah koleksi foto di laptop.

1. Trip to Saudi Arabia
Umroh...suatu kegiatan yang sebetulnya sering luput dari wishlist gue selama dunia perkuliahan. Kenapa? karena sebetulnya ada keinginan ketika bisa menghasilkan uang bulanan sendiri, gue bisa memberangkatkan orang tua gue ke Mekkah untuk beribadah (+jalan-jalan pastinya). Tapi rupanya ada rezeki berlebih yang dikasih ke orang tua gue sehingga pergi Umroh bisa dilaksanakan lebih awal. Sebetulnya gue deg-degan banget sama kegiatan ibadah yang satu ini, secara banyak cerita dari orang-orang lain mengenai Umroh yang bikin gue ngeri sendiri. Penting untuk jaga sikap, jaga omongan, jaga fikrian, dan jaga hati, katanya. Tapi yang sebetulnya bikin gue deg-degan adalah selama perjalanan Jakarta-Jeddah dan ketika pulang dari Madinah-Jakarta yang memakan hampir seharian penuh di pesawat. Kenapa? Agak parno setelah kejadian Air Asia di akhir Desember kemarin plus mengingat nyokab gue pernah mengalami turbulence yang cukup parah sampai harus transit di Singapore ketika pulang dari Dubai (saat Umroh) ke Jakarta tahun 2013 yang lalu. Saking parnonya, gue sampe berencana bawa kaca mata renang di tas dan bawa sarung hp anti air.....oke memang itu berlebihan...

Perjalanan 9 hari di Saudi Arabia itu mendorong gue untuk bisa menjaga kedua orang tua gue. No wonder gue berhasil menaikkan berat badan dari 81 jadi 83 karena terus menerus makan di sana supaya gak gampang sakit, berhubung di Mekkah anginnya kenceng banget dengan suhu 19-20 derajat Celcius dan di Madinah bisa menyentuh angka 9 derajat celcius....suhu yang sama sekali gak familiar buat gue maupun kedua orang tua gue. Alhamdulillah sampai hari terakhir, kondisi fisik gak drop...asma gak kambuh dan bisa nemenin nyokab ke Raudah setelah selama dua tahun mengidam-idamkan masuk ke kawasan itu, bisa bantu bimbing nyokab dan bokap tawaf wada' jam 3 pagi karena memang ga ada bimbingan dari pihak travel-nya. Secara garis besar, gue menyebut umroh yang gue jalani kemarin sebagai proses mendewasakan diri sendiri: belajar gak egois, belajar nahan amarah, belajar sabar, belajar menyusun strategi, dan belajar untuk memasrahkan diri.

Hidup gak jauh-jauh dari yang namanya penyesalan, kan? Setidaknya ada 3 penyesalan yang gue rasakan: Keputusan gue untuk gak bawa instax ke Arab, gak bawa sweater yang tebal, gak banyak ibadah di masjid Nabawi dengan alasan jagain bokap yang lagi sakit. Instax yang pada awalnya ada di list bawaan gue untuk umroh gue rasa gak begitu butuh. Penyesalan muncul ketika gue berkunjung ke Jabal Rahmah dan disana gue liat ada orang-orang yang jadi fotografer dengan pake instax 210 (wide) dan mematok harga 10 SR (sekitar 40.000IDR) sekali foto...MAHAL BOK!! Pengen banget punya foto instant gitu, secara itu salah satu kecanduan gue dari dulu. Nyesel fix! Penyesalan kedua itu yaaaa muncul karena gue gak ngecek suhu di Arab dengan seksama...padahal kalau bawa sweater itu..pasti anget banget :"). Penyesalan terakhir baru berasa di Jakarta sebetulnya. Gue mengunjungi Masjid Nabawi hanya sekali, padahal kunjungan ke Madinah itu sekitar 3-4 hari. Kunjungan itu gue lakukan sambil nemenin nyokab yang memang mau ke Raudah..Alhamdulillah sih bisa dapet sholat Duha, Zuhur, dan Ashar..cuma nyesel aja gak bisa ngerasain i'tikaf dan mengobservasi kehidupan di sekitar sana lebih sering.

My favorite view, ever!
Kata orang, di Tanah Haram kita bakalah 'dibayar tunai' atas doa, fikiran, keinginan, dan perbuatan. Gue merasakan itu meskipun gak se-wow beberapa cerita yang pernah gue denger sendiri. Sebelum berangkat umroh, gue sebetulnya gak punya permintaan spesifik, tapi pada hari H keberangkatan, hal-hal yang gue sukai terwujud, misalnya gue suka banget kalau di bus atau pesawat duduk di dekat kaca dan Alhamdulillah ketika perjalanan Jakarta-Dubai dan Dubai-Jeddah, gue selalu dimudahkan untuk bisa duduk di dekat kaca dan melihat kekuasaan Tuhan di langit. Selain soal duduk dekat jendela, gue memang suka kondisi suatu kota di malam hari karena banyak lampu-lampu dari gedung-gedung yang ada...eeeh Tuhan langsung mengabulkannya dengan memberi kesempatan gue sekeluarga (dan rombongan) untuk menjalankan Tawaf wajib pada jam 3 pagi, dimana Zam-zam Tower dihiasi oleh lampu-lampu yang sesuai dengan kesukaan gue. Meskipun ternyata Tawaf pertama itu dipenuhi dengan beberapa kesalahan yang gue sendiri gak menyadari HAHAHA, tapi jadi menambah ilmu soal ibadah :D

Satu hal yang membuat gue merasa kurang khusyuk: proyek perluasan kawasan Masjidil Haram yang tiada henti


Jabbal Rahmah, tempat bertemu kembali Adam dan Hawa. FYI, katanya monumen yang tinggi itu hanya setinggi kaki Nabi Adam...wew
Kawasan Masjid Nabawi. Meskipun dingin, tetap jatuh cinta dengan langit tanpa awan diatas <3
Tadi gue sempet menyinggung soal bertambahnya berat badan. Nah makanan bisa dibilang jadi my weekly obsession selama di Mekkah dan Madinah, terutama es krim. Meskipun udara dingin, es-krim gak pernah gagal menghangatkan diri gue selama di sana #tsaaah. Selain es krim, gue jatuh cinta sama just buah yang dijual di dalam zam-zam tower. Agak lebih pricey sih..tapi menurut gue mix juice-nya itu gak terlalu manis dan seger banget karena ada buah-buahannya gitu.
The best ice cream in my WHOLE life! 3SR, lokasinya di dekat hotel Saraya Ajyad, must try the mix ice cream!

Another tasty ice cream in Mecca!

Ice cream truck in Jabal Rahmah

Sedikit cerita selama wisata kuliner di Mekkah. please pay attention to the size karena ada beberapa makanan yang kita kira cukup buat satu orang ternyata bisa dihabiskan buat 3 orang. Jadi di hari terakhir sebelum berangkat ke Madinah, gue dan nyokab-bokap iseng-iseng mau cari kebab, akhirnya kita jalan ke sekitaran jalan Ajyad dan menemukan sebuah kios di tengah-tengah taman yang menjual berbagai makanan, seperti kebab, hot dog, dan kawan-kawan. Nah! Gue sebetulnya agak kaget melihat harga kebab yang sampe 15SR satu porsinya, tapi karena penasaran yaaa jadinya beli dan karena kita bertiga, akhirnya beli 3 kebab. RUPANYA kebabnya itu beda sama kebab yang ada di tataran kognisi (halah) kita bertiga...jadi sebetulnya satu kebab di kios itu bisa untuk bertiga. Kenapa? karena rupanya kebabnya itu model-model DIY gitu...jadi dalam satu kotak ada beberapa potongan daging seukuran dua jari manusia gitu ditambah kentang goreng. Kemudian akan dikasih roti yang buat wrapping-nya gitu plus mayonnaise dan saus tomat. Satu porsi itu aja bisa buat makan bertiga dan berkali-kali...alhasil kita makan 2 porsi dan satu porsi lainnya buat keluarga dari Bokap yang memang barengan kita umrohnya.

The menus on that kiosk

Percayalah, ini satu porsi
Soal size tetap harus jadi perhatian di Madinah berhubung memang food container-nya berukuran sama dengan yang di Mekkah. Favorite gue adalah nasi briyani (12SR udah dengan ayam didalam nasinya) yang dijual di sebuah counter makanan dengan Masjid Nabawi (dekat gate 11 kalau gak salah). Pedesnya pas dan  benar-benar berhasil menghangatkan tubuh! Samosa-nya (1SR each) juga mantap banget!!

Makannya komunal aja :p
Masih gak jauh-jauh soal makanan, hidangan yang di sajikan maskapai Emirates selama perjalanan pulang-pergi juga gak kalah seru! Sayangnya ketika perjalanan pulang (Madinah-Dubai), gue gak begitu menikmati sarapan karena kondisi fisik yang mulai melemah karena demam (iya..demam dan naik pesawat 10 jam..bayangin aja deh). Salah satu kesukaan gue adalah dessert yang disajikan pas makan siang di perjalanan Dubai-Jakarta...gingerbread dengan saus jeruk gitu dan cream...maknyus banget!!

Kalau kata bokap gue, perjalanan umroh kemarin itu sama aja kayak wisata kuliner-nya nana :p

2. Enjoying the wave to Doraemon's Pocket
AKHIRNYA keinginan tante gue buat berkunjung ke pameran Doraemon terwujud juga. Tante gue beberapa waktu lalu sempet mention di instagram soal pameran tersebut, bikin pengen memang berhubung museum Doraemon itu jauh di Jepang dan mahal akomodasinya, jadi kehadiran pameran ini cukup membantu. Lokasi pameran adalah di Ancol Beach City Mall, dimana lagi kalau bukan di kawasan Ancol....which is jauh dari rumah. Nah, kebetulan sepupu gue, Dyah emang ngajakin untuk mencoba (kind of) waterpark baru yang ada di Pondok Indah, dan kemudian tante gue ngajakin setelah berenang untuk ke pameran Doraemon itu. Jawaban keponakan-keponakannya? HAYUK!

Sedikit review kali yaa untuk The Wave, waterpark yang ada di kawasan Pondok Indah. Biaya masuk ketika weekdays adalah Rp 100.000 yang gue nilai agak mahal. Dengan biaya segitu kita bisa menikmati semua wahana dan gak perlu lagi bayar untuk peminjaman loker, gak seperti Waterbom Pantai Indah Kapuk. Pas dateng kesana, kolam sebesar itu berasa miliki bertiga (yang kebetulan ikut berenang hanya gue, Dyah, dan sepupu gue lainnya bernama Odi). Wahana pertama yang kita coba adalah kolam arus. Plus side dari kolam arus ini adalah arusnya berasa banget! Beberapa kolam arus yang pernah gue jajaki rasanya gak pernah seasik itu arusnya. Sisi negatifnya? ban yang digunakan punya diameter yang kecil! Gue sendiri mengalami kesulitan buat memanfaatkannya...gak plus-size-visitor friendly lah dan satu hal lagi adalah kolam arus yang kecil. Puas keliling-keliling di kolam arus, kita bertiga nyobain slide-nya yang terbuka (ada juga slide yang tertutup tapi kita bertiga gak suka karena alasan khawatir sesak nafas dan alasan khusus dari gue adalah takut nyangkut). Masalah gue di slide ini selain ukuran ban adalah ukuran slide-nya itu sendiri. Jujur aja, gue selama nyobain slide tersebut ngerasa takut kebanting dan keluar track...secara semakin besar beban jadi semakin kenceng...dan iya itu kenceng banget! Setelah dagdigdugduer main sendiri, gue nyoba bareng dyah dengan ban yang emang khusus berdua. Kemudian ketika mau memulai perjalanan, si mas-mas penjaga slide-nya bilang bahwa kita harus pegangan yang kuat karena khawatir kita bakalan kebalik (posisi ban di atas kita, instead of dibawah kita)...MAMPUS LAH! Tapi karena penasaran yaa kita coba aja dan emang bener di tengah perjalanan, kita memang hampir kebalik di slide dan alhasil berhasil kebalik ketika sampai di ujung slide. Sebagai plus-size-visitor, gak recommend buat yang bertubuh besar kecuali nekat.


Favorite gue di The Wave ya kolam ombaknya itu sendiri. Ombaknya mantap dan gak nanggung-nanggung, bener-bener berasa di pantai! Lucunya, setelah kita bertiga menikmati ombak itu selama sekitar 10-15 menit, wahana tersebut gak dinyalain lagi sampai kita bertiga pulang...kasian sama yang baru dateng :p Well, overall gue kasih nilai The Wave 5.5/10

Setelah bermain di The Wave, kita bertiga dijemput sama tante gue dan pacarnya Odi untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Ancol Beach City (ABC) Mall. Mall-nya sendiri terletak dekat Jimbaran Lounge dan dihiasi pasir putih. Bisa dibilang, ada sedikit bagian dari Bali yang pindah ke utara Jakarta. Sayangnya, pemandangan laut terutup sama masih maraknya kegiatan reklamasi...huff reklamasi aja terus deh mas mbak developer, tapi tanggung jawab kalau banjir rob ya. Sampai di ABC Mall, kita beli tiket dulu..kalau gak salah harganya Rp 65.000 untuk dewasa dan dilanjutkan dengan makan siang. Lokasi tempat makan siang kita punya akses ke pantainya jadi gak boleh lupa foto-foto pastinya!

Di exhibitionnya sendiri, gue cukup terhibur dengan banyaknya patung-patung doraemon dan lokasi buat foto-foto.
Story behind the blue cat robot




Bahkan di pameran ini tersedia photoboothnya loh! Salah satu yang gue suka adalah laci meja belajarnya Nobita.
#OOTD: H&M Mint Long Sweater, Unbranded Shirt, Unbranded Grey Legging, Pink Sandals from Payless, and F21 necklace

Serupa: Yang satu berbadan besar, yang satu berbadan kecil dan keduanya adalah partner in crime. pas!
favorite spot!
My review for this exhibition?

Buat pecinta doraemon, lumayan sih ke exhibition ini sambil nyicil nabung buat ke Jepang dan main ke museum-nya Doraemon. Dengan harga Rp 65.000 yang bisa dikategorikan agak pricey mengingat lokasi pameran yang jauh dari rumah, bisa menghibur dan nambah cerita selama liburan. Yang gue suka dari pameran ini adalah pelaksana pay attention to detail banget sama benda-benda yang ada disini. Menurut gue sih photobooth-nya bisa diperbanyak. Oh ya! Di photobooth ada juru foto-nya yang nantinya foto itu bisa dicetak dengan harga Rp 80.000, mahal memang tapi menurut gue frame yang terbuat dari kartonnya itu lucu. Kalau emang maniak sama doraemon, pastikan bawa uang lebih nih buat belanja pernak pernik doraemon (sayangnya bener-bener hanya berisi doraemon dan gadget-nya aja). Gue kasih nilai exhibition ini 7/10. 

time for WEEKLY OBSESSION!
 Tteokbokki!
Belakangan lagi pengen banget snack korea ini. Di instagram memang ada yang jual paket tteokbokki dan rappoki (tteokbokki+ramen) tapi rasanya kok mahal gitu. Kecintaan gue sama makanan korea ini berawal dari perjalanan ke Bandung saat kegiatan turun lapangan untuk tugas mata kuliah, salah satu temen gue yang emang suka banget sama Korea sengaja bikinin kita rapokki dan rasanya...BIKIN NAGIH! Akhirnya gue iseng-iseng nyari di google tentang tempat di Jakarta yang jual makanan ini. Alhamdulillah bisa nemuin Tteokbokki di Lotte Mart Ratu Plaza. Harganya Rp 27.000 satu porsi, dan itu menurut gue dikit. Plus side-nya yaaa rasanya sesuai yang gue mau: pedas! Karena merasa kurang, akhirnya gue yang instant dengan harga yang lebih gokil...Rp 33.500 di Lotte Mart. Bentuknya seperti pop mie gitu...tapi tanpa mie. Pagi ini gue bereksperimen dengan bikin rapokki sendiri menggunakan mie indomie (tanpa bumbunya) dan bakso sebagai pelengkap. Kekurangannya adalah air sehingga bumbunya gak banyak gitu dan rasanya cenderung tawar-pedas.